
"Sebelumnya saya minta maaf apa yang anda dengar," jawab pengawal itu.
"Memangnya ada apa?" tanya Julia.
"Sony sudah ketahuan oleh Romeo," jawab pengawal itu yang tidak berani menatap wajah Julia.
Pengawal itu tertunduk lesu. Ia tidak membayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Jika ia tidak mengatakan akan murka. Jika ia mengatakannya soal gudang tersembunyi itu maka semakin murka. Beginilah nasib pengawal nenek tua itu. Hidupnya berada di ujung tanduk.
"Kenapa kamu diam saja!" bentak Jamal yang sudah tidak sabar menunggu jawabannya.
Terpaksa pengawal itu harus mengatakannya. Walau bagi dirinya sangat menyakitkan. Kemungkinan besar hari ini adalah hari terakhir bagi dirinya. Karena yang ia tahu jika mendengar kabar buruk Julia tidak-tidak segan membunuh orang berada di depannya. Jujur banyak yang mengatakan kalau nenek tua itu sangat mengerikan.
"Pabrik yang berada di Karawang digerebek polisi. Mereka menemukan barang asli yang sisa sedikit dan barang palsu masih menumpuk di sana," jawab pengawal itu.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Julia dengan nada dingin dan membuat pengawal itu sangat ketakutan sekali.
"Itu benar. nyonya. Gudang kita sudah diamankan oleh pihak aparat setempat," jawab pengawal itu.
"Sebelum membunuh kamu… maka keluarlah dari sini!" bentak Jamal yang tidak terima dengan berita buruk tersebut.
Dengan perasaan lega pengawal itu keluar. Saat memegang daun pintu Julia meraih pistol yang berada di atas meja. Dirinya langsung mengarahkan ke arah pengawal dan menarik pelatuknya. Hingga terdengar suara…
Dorrrr!
Pengawal itu jatuh tersungkur dan menghembuskan nafasnya untuk terakhir kalinya. Julia menggeram dan menghubungi seseorang berada di Indonesia.
Jakarta Indonesia.
Siang yang panas di kota Jakarta. Aska membuka matanya dan melihat kamarnya sudah terang. Perasaan Aska baru beberapa jam masih malam sekarang sudah siang saja.
"Ugh…. kenapa sudah siang saja! Aku masih ingin tidur," keluh Aska dengan suara paraunya.
Mata Aska melihat jam di dinding sambil menghembuskan nafasnya sambil berkata, "Ternyata sudah siang. Sudah jam dua."
Tak lama ada seseorang yang mengetuk pintu. Mau tidak mau Aska melemparkan selimutnya dan berdiri. Ia menahan kantuknya sambil membuka pintu dan melihat Maria.
"Siang," sapa Maria dengan lembut.
__ADS_1
Mendengar nada lembut Maria, Aska menunduk tidak berani menatap calon istrinya. Jantungnya berdetak kencang dan merasakan gejolak muda yang tidak bisa tertahankan. Akhirnya Aska menutup pintu dan pergi ke toilet. Sementara Maria bingung apa yang dilakukan oleh Aska. Ia memutuskan untuk kembali lagi ke bawah dan menatap wajah Christina sambil berkata, "Tuan muda sudah bangun nyonya."
"Aska sangat kecapekan sekali," kata Christina yang masih memilih gaun untuk dijadikan hari pernikahannya.
"Maaf nyonya," ucap Maria menyesal.
"Tidak apa-apa. Sudah sewajarnya kamu merawat Aska. Karena Aska sendiri adalah calon suamimu," ujar Christina.
"Aku akan menyiapkan makan siangnya terlebih dahulu," Maria meminta izin pergi ke dapur.
Baru saja melangkahkan kakinya Christina memanggilnya, "Tidak perlu kamu membuatkan makanannya. Bu Inem sudah mempersiapkan makan siang buat Aska."
Maria menganggukan kepalanya dan kembali lagi duduk di hadapan calon ibu mertuanya itu. Sambil menunggu kedatangan Aska, Maria meraih ponselnya sambil menatap wajah Christina.
"Kenapa kamu memandang wajahku seperti itu?' tanya Christina yang tersenyum manis atas kelakuan sang calon menantunya.
"Tidak nyonya," jawab Maria cepat sambil menghela nafasnya sambil ketakutan.
"Bukannya hari ini kamu akan fitting baju pernikahan?" tanya Christina.
"Ajaklah," suruh Christina sambil menaruh majalahnya dan menatap wajah Maria. "Mintalah pendapat gaun yang akan dikenakan di hari pernikahan kalian."
"Sebelum saya meminta maaf nyonya. Aku tidak ingin membawa tuan muda di dalam masalahku," Maria ketakutan sekali jika berhadapan dengan Christina.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Apakah kamu tidak menyukai Aska?" tanya Christina.
"Bukan itu nyonya," jawab Maria.
"Maria," panggil Christina dengan suara lembut.
"Iya nyonya," sahut Maria.
"Sekarang aku tanya, apakah kamu ingin membatalkan pernikahan ini? Apakah kamu tidak takut dengan cibiran keluarga besarmu?" tanya Christina yang meyakinkan Maria.
"Aku masih bingung. Apakah nyonya serius menerimaku sebagai calon menantu? Sedangkan aku, aku lahir dari keluarga biasa saja. Kedua orang tuaku adalah seorang guru," jawab Maria dengan jujur atas status sosialnya.
"Kalau bapak dan ibu mertuaku seorang guru kenapa? Apakah ada yang salah dengan mereka?" tanya Aska yang memakai celana bahan dan T-shirt hitam yang baru saja turun.
__ADS_1
"Bukan itu. Mereka akan mencibirku karena status sosial berbeda. Seharusnya tuan muda mencari seorang wanita yang setara dengan kalian," ucap Maria.
"Setara enggak setara aku yang memilih kamu menjadi istriku. Apakah ada yang salah denganku? Aku tidak mengusik akan hal itu. Biarkan saja mereka mencibirmu sampai puas. Buatlah mereka iri! Buatlah mereka kejang-kejang! Setelah itu bungkam mereka dengan prestasi kamu miliki!" perintah Aska yang mendapat acungan jempol dari Christina.
"Apa yang kamu katakan benar. Nggak perlu takut dengan apa yang kamu jalankan. Istilahnya kamu makan nggak minta mereka. Kamu akan diberikan makan oleh suamimu. Jadi tetaplah happy dan jalani hidupmu dengan penuh kebahagiaan. Jangan pernah tahu lagi akan keputusan kamu itu. Jika kalian saling mencintai satu sama lain. Bukankah hal itu sangat bagus sekali? Kamu bisa memberikan ibu banyak cucu?" jawab Christina dengan tersenyum sumringah.
"Sepertinya cita-cita ibu akan terealisasikan. Ah… sekarang aku harus menjaga kesehatan agar bisa memberikan ibu cucu yang banyak," celetuk Aska tanpa disaring terlebih dahulu.
"Lima saja sudah cukup. Aku nggak mau rumah ini sepi," ujar Christina yang sengaja menghibur Maria supaya tersenyum.
"Ayah kemana?" tanya Aska yang tidak melihat keberadaan Adrian.
"Ayah berada di kantor. Untuk sementara waktu ibu dilarang ke kantor," jawab Christina.
"Memangnya ada apa Bu?" tanya Aska penasaran.
"Entahlah… Ibu tanya masih belum menjawab," jawab Christina.
"Kalau begitu aku akan menyusul ayah," kesal Aska terhadap Adrian.
"Sekarang kamu pergi ke butik bersama Maria," pinta Christina.
"Apakah aku harus perlu kesana?" tanya Aska yang tidak paham dengan apa maksudnya.
"Iya… kamu harus melihat gaun pengantin milik Maria," jawab Christina.
"Oh… baiklah," balas Aska yang tidak mengerti kenapa dirinya harus ikut memilih gaun pengantin.
"Sepertinya kamu tidak bersemangat untuk ikut bersama Maria?" Christina mulai curiga terhadap Sang putra tiba-tiba saja berubah.
"Bukan itu maksud aku bu. Aku bukan seorang yang bisa menilai baju atau gaun seseorang dipakainya itu," jawab Aska yang membuat Christina dan Maria paham.
Kedua wanita itu baru sadar karena Aska baru saja memulai hidup baru di kalangan atas. Jujur saja mereka bingung untuk mengarahkannya ke sana. Mau tidak mau Christina meminta ikut mencari gaun di sana.
"Kalau begitu aku ikut dengan kalian. Jujur Ibu tidak mau mencampuri urusan kalian. Tapi kamu harus sadar Mar… bahwa calon suami kamu itu tidak mengenal yang namanya gaun," ledek Christina terhadap Aska.
Waduh.
__ADS_1