
Aska tidak menjawab pertanyaan dari Adrian. Lalu ia memilih untuk membaca pesan dari sang nenek. Ia melihat ke sebuah map seperti tas berisikan beberapa map yang tersusun rapi,
“Mungkinkah ini Yah?” tanya Aska yang mengambil map berupa tas tersebut.
“Lebih baik kamu periksa semuanya!” titah Adrian.
“”Baiklah,” balas Aska yang membawa map tersebut dan menuju ke meja.
Di sana Aska mulai memeriksa beberapa map yang sudah tersusun rapi. Ia melihat membaca seluruh isi map itu sambil tersenyum. Ia melihat sang papa lalu berkata, “Benar dokumennya.”
“Bereskan... dan bawa semuanya. Setelah ini kita temui Andrew Anderson!” perintah Adrian.
Aska menganggukan kepalanya kamu membereskan dokumen itu dan memasukkannya ke dalam map besar Selesai membereskan dokumen itu, Aska membereskan lemari itu dan mengajak Adrian keluar.
Saat keluar Aska langsung mengunci ruangan itu sambil mencari keberadaan Ivan. Aska menatap beberapa foto milik Christina di sepanjang dinding. Bibirnya sangat manis tersenyum. Ia menunjuk foto itu sambil berkata, “Aku sangat mirip sekali sama ibu ketika muda.
Tak sengaja Adrian mendengarnya lalu mendekatinya. Ia juga tidak lupa tersenyum manis sambil menatap Aska.
“Ya... bahkan kamu adalah seorang Christina versi cowok,” puji Adrian.
“Iya... ayah... saya kan anaknya,” ledek Aska ke Adrian.
Plakkk!
Sebuah tangan kekar mendarat tepat di pundak Azka. Adapun menahan kesakitan karena tangan itu sangat berat sekali. Aska mencari keberadaan Ivan yang sedang membersihkan perabotan milik Julia.
“Pak Ivan,” panggil Aska.
Sontak saja Ivan terkejut dan membalikkan badan sambil melihat Aska. Lalu Ivan menunggingkan senyumnya sambil berkata, “Maaf Tuan.”
“Tidak apa-apa. Kami ke sini hanya mengambil sebuah dokumen disuruh oleh Nyonya Julia. Saya sudah menemukannya dan akan mengembalikan kunci kamar ini,” jelas Adrian sambil menyerahkan kunci itu ke arah Ivan.
__ADS_1
Ivan segera mengambilnya dan pergi meninggalkan mereka untuk menyimpannya. Setelah itu Ivan kembali dan melihat kedua pria yang berbeda generasi itu.
“Saya akan meninggalkan nomor telepon di sini. Jika ada apa-apa maka hubungi saya. Saya akan stay di sini dengan jangka waktu yang lama,” jelas Adrian Kak Ivan.
Ivan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ia tidak menyangka kalau Tuan Adrian adalah orang yang sangat baik sekali. Ditambah lagi Adrian piawai membumihanguskan musuh dengan cepat
“Jangan sungkan ,jika perlu bantuan. Kami akan siap membantu kamu,” ucap Aska.
“Maaf tuan. Saya ini adalah agen rahasia dari Blue Dragon. Saya ditugaskan untuk menjaga tempat ini dari Jamaludin,” ujar Ivan yang membuat mereka terkejut.
“Apa-apaan ini. Lama-lama aku dikerjain oleh Frank sialan itu! Aku kira kamu adalah penjaga biasa. Tapi nyatanya Kamu adalah penjaga rumah ini yang sangat spesial sekali,” kesal Adrian.
Untung saja Adrian tidak menghajar Ivan. Mereka berpamitan dan langsung meninggalkan rumah itu. Sepanjang perjalanan Adrian sangat kesal terhadap Frank. Adrian mulai menganalisis Blue Dragon.
“Jadi selama ini Blue Dragon masih aktif. Kok aku baru tahu ya sekarang?” tanya Adrian yang kesal pada Frank.
“Kalau menurutku sih, Blue Dragon masih ada dan tidak pernah mati. Kemungkinan besar Paman ketika bersembunyi masih mengendalikan Blue Dragon dari jauh. Tapi ayah tidak pernah memiliki informasi Blue Dragon sedikitpun,” sambung Aska.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah kita akan diam seperti ini? Atau menunggu kedatangan Paman Frank?” tanya Aska.
“Kamu benar. Cepat atau lambat Frank akan membantu pihak kepolisian Untuk menumpas Jamaluddin. Dan kamu, kamu akan berada di perusahaan Wicaksono Group. Aku tidak akan membicarakan tugas baru kamu sebelum Frank datang,” jelas Adrian yang mulai menyalakan mobilnya dan meninggalkan rumah itu.
Di dalam perjalanan menuju ke kantor Andrew Anderson, Adrian masih memiliki pertanyaan. Pertanyaan ini seputaran tentang Blue Dragon. Entah kenapa hatinya seakan terusik dengan Blue Dragon. Bukankah sedari dulu ketika Frank menghilang, Blue Dragon juga menghilang? Jujur Adrian akan menanyakan semua ini ke Frank.
Sesampainya di kantor Andrew, Adrian memakirkan mobilnya dan melihat ke sekelilingnya. Untung saja dirinya tidak melihat ada orang yang mengikutinya. Saat masuk ke dalam, mereka disambut oleh banyaknya pelayan. Baru kali ini Adrian menginjakkan kakinya ke rumah Andrew.
“Dia juga adalah anggota Blue Dragon. Dia memiliki sifat kejam. Jika sudah menyenggol Frank atau Agard Group, dialah orang yang pertama maju dan menghajar orang tersebut hingga ke titik penghabisan,” jelas Adrian.
Beberapa saat kemudian mereka memutuskan untuk keluar dari mobil. Mereka saling memandang dan melihat rumah Adrian. Tiba-tiba saja ada seorang pria bertubuh kekar mendekatinya. Pria itu membungkukkan badannya sambil menyapa, “Selamat siang tuan Adrian dan Tuan muda Aska.”
“Jangan-jangan Kamu adalah pengawal dari Blue Dragon?” tanya Aska.
__ADS_1
“Itu benar tuan. Saya adalah anggota Blue Dragon sekaligus yang menjaga rumah ini,” jelas pria itu. “Kalian sedang ditunggu oleh Tuan Andrew di dalam.”
Aska tidak terkejut lagi dengan keberadaan mereka. Aska juga tidak bertanya kepada sang ayah. Karena dirinya tahu pekerjaan mafia seperti apa begitu juga dengan pengamalannya. Setelah itu mereka masuk ke dalam dan melihat seorang pria paruh baya berambut panjang. Adrian pun terkejut dengan sosok Andrew sedang membaca buku hukum. Kemudian Adrian berseru, “Apakah kamu tidak menyambutku?”
Sang pengacara tidak muda lagi mengangkat wajahnya. Pria itu tersenyum simpul sambil menaruh bukunya di atas meja. Kemudian pria itu berkata, “Aku sudah tahu kedatangan kalian ke sini. Frank sudah menceritakan semuanya tentang Wicaksono Group ke aku. Jadinya aku tidak perlu menyambutmu.”
“Apakah kamu mengenaliku?” tanya Adrian sekali lagi.
“Siapa yang nggak kenal namanya Adrian Agard? Seorang polisi yang ditugaskan untuk membasmi para mafia yang berada di sini maupun Eropa diam-diam memiliki prestasi yang sangat bagus sekali. Seluruh jajaran kepolisian sangat mendukung dan menghormati kamu. Ditambah lagi kamu sedang mencari Jamaludin dan ingin menghabisinya. Aku sudah tahu kamu semuanya,” jelas Andrew.
“Aku nggak ingin menghabisinya. Kamu tahu kan kalau Jamaludin itu sudah sangat meresahkan di kota Paris ini. Jangankan rakyat, pemerintah pun sudah angkat tangan dan ingin menyerahkan kasus ini kepolisian,” tambah Andrew.
“Itu terserah kamu. Bisa nggak kamu mengurus dokumen-dokumen ini menjadi legal kembali. Aku ingin dokumen ini diperkuat oleh hukum. Aku tidak mau jika Jamaludin terus menyerang keluargaku,” pinta Adrian sambil memberikan dokumen itu ke Andrew.
Andrew menerima dokumen itu sambil tersenyum. Ia paham dengan permintaan Adrian. Ia juga sudah tahu tentang kasus Wicaksono Group. Selama dirinya tidak ada yang meminta mengurus Wicaksono Group, Andrew memutuskan untuk diam dan menunggu perintah dari Frank untuk mengurus semuanya.
“Konflik rumah ini sangat banyak sekali. Aku sudah mengetahuinya semua. Tapi aku belum boleh bergerak oleh Frank. Karena aku harus menunggu kedatangan sang tuan muda Wicaksono Group,” jelas Andrew.
“Jadi selama ini kamu masih menunggu keputusan dari Frank?” tanya Aska.
“Ya... Aku memang menunggu akan hal ini. Frank tahu semuanya tentang kejadian di masa lalu. Jangan salahkan Frank yang terlalu cerdik. Dia hanya ingin melindungi kalian dari Jamaludin,” Andrew membeberkan satu fakta yang penting dari Frank.
“Jika ahli waris sudah muncul, apa yang harus aku lakukan?” tanya Adrian.
“Aku akan meresmikan ahli waris sesungguhnya ke badan hukum. Jadi jika Jamaludin mengobrak-abrik Wicaksono Group, sudah dipastikan dia tidak akan mampu melakukannya. Seluruh kejahatan sudah berada di tangan kamu. Kamu bisa saja memberikan berkas-berkas itu ke pengadilan. Maka Jamaludin tidak bisa berkutik sama sekali. Apalagi dia membuat obat-obatan terlarang dan bekerja sama dengan anggota mafia organ tubuh. Dia tidak akan bisa berkutik lagi. Hukuman mati pun sudah menunggunya. Banyak sekali korban-korban yang ingin menuntut keadilan,” jelas Andrew yang sudah mendapatkan jawabannya.
“Jadi, cepat atau lambat Jamaludin akan dihukum mati?” tanya Aska sekali lagi.
“Itu benar. Sebentar lagi Frank akan ke sini untuk menduduki kota Paris lalu membantu para kepolisian mengejar Jamaludin dan Benjamin,” jawab Andrew yang membuat kedua pria berbeda generasi itu lega.
“Apakah aku boleh bergabung dalam kepolisian?” tanya Aska yang sudah sangat kesal sekali pada Jamaludin.
__ADS_1