
“Iya... ya... aku kok merasa aneh begini?” tanya Aska yang melihat Maria.
“Kalau begitu ayo kita keluar,” ajak Maria yang bersemangat.
“Semangat sekali kamu ingin bertemu dengan dokter,” ledek Aska yang membuka pintu.
“Abang ah... Aku sedang bahagia,” rengek Maria.
“Hmmpp... sepertinya kamu akan menjadi seorang ibu ya,” goda Aska lagi yang membuat Maria menutup wajahnya karena malu.
Betapa bahagianya hati Aska untuk hari ini. Sebab siang-siang begini menggoda Maria.
“Ayolah... kita menemui dokter sekarang juga. Aku ingin tahu, apakah calon bayiku sudah ada di dalam perutmu itu,” ajak Aska yang keluar dari mobil dan memutari mobil.
Maria segera membuka pintu tersebut. Ia turun dari mobil dan merasakan kepalanya sangat pusing. Hingga akhirnya Aska menggandengnya dan mengajak Maria menuju ke lobi.
“Kamu ingin bertemu dengan dokter apa?” tanya Aska yang menata wajah Maria.
“Aku sudah diberitahu sama ibu. Jika aku harus bertemu dengan Dr. Markas,” jawab Maria.
“Apakah kamu sudah membuat janji?” tanya Aska.
“Aku sudah membuat janji kepadanya tepat malam nanti,” jawab Maria.
Aska menganggukan kepalanya dan memutar otak agar bisa bertemu dengan Dr. Timothy. Berhubung ia datang pada siang ini, jadi memutuskan untuk bertemu dengan Dr. Timothy.
Aska terpaksa menuju ke resepsionis untuk bertemu dengan Dr. Timothy. Ia bertanya kepada salah satu resepsionis yang sedang bertugas. Untungnya saat itu sang dokter baru saja datang. Jadi Aska bersama Maria diantarkan oleh suster menuju ke ruangan Dr. Timothy.
Sesampainya disana mereka bertemu dengan Dr. Timothy. Mereka langsung masuk dan melihat keberadaan Dr. Timothy.
“Dok,” panggil suster.
“Iya, ada apa?” tanya Dr. Timothy.
“Calon pasien yang bernama Nyonya Maria sudah berada di hadapan Anda,” ucap suster.
“Terima kasih,” ujar Dr. Timothy sambil mengangkat wajahnya dan menatap wajah Aska dan Maria.
Lalu Dr. Timothy menyambut atas kedatangan kami. Ia sangat ramah dan hangat dan menyuruh kami duduk. Memang benar apa yang dikatakan sang ibu mertua kalau Dr. Timothy sangat humble dan baik.
Aska akhirnya berkonsultasi atas keluhan sang istri. Lalu Dr. Timothy tersenyum dan mengucapkan selamat.
__ADS_1
Sebelum diperiksa lebih lanjut, Dr. Timothy merekomendasikan seorang dokter kandungan yang sangat bagus. Mereka pun menurutinya dan suster yang tadi mengantarkannya ke sana.
Sesampainya di sana Maria diperiksa oleh Dr. Gerald. Waktu itu Aska sempat menolak menginginkan dokter perempuan. Namun Dr. Timothy menceritakan riwayat Dr. Gerald dan Aska menyetujuinya.
“Apa kamu yakin diperiksa sama Dr. Gerald?” tanya Aska yang sebenarnya tidak suka.
“Kamu kenapa sih? Lagian juga dia seumuran dengan kakek. Lalu?” tanya Maria yang memandang wajah Aska.
“Aku?” ucap Aska yang menggantung.
Sang suster itu hanya tersenyum manis mendengar Aska sedang berdebat dengan Maria. Sang suster itu tahu kalau Aska cemburu. Akhirnya Aska memutuskan untuk masuk ke dalam bersama Maria.
Meskipun wajahnya agak marah, Aska akhirnya menahan amarahnya. Ia mulai mendekati Dr. Gerald.
Dr. Gerald yang mengetahui kedatangan Aska dan Maria tersenyum dan menyambut kedatangan Aska. Ia menyuruh mereka duduk. Memang, apa yang dikatakan oleh Dr. Timothy benar. Bahwa Dr. Gerald adalah senior dan memiliki nama di negara Perancis itu sendiri.
Mereka memutuskan untuk berdiskusi seputar kehamilan. Aska juga tidak segan-segan bertanya secara mendetail apa yang telah terjadi.
Di sisi lain Maria sangat bahagia dan mendapat dukungan penuh dari Aska. Maria tidak menyangka kalau dirinya sekarang memiliki seorang suami yang penyabar.
Hampir sejam mereka melakukan diskusi. Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah utama.
Di dalam perjalanan Maria tidak henti-henti menyunggingkan senyumnya. Ia sangat bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Ia berharap kelak anak-anaknya bisa menjadi anak yang baik.
“Nek,” panggil Aska.
“Ada apa?” tanya Stefanie.
“Nenek lagi apa?” tanya Aska balik.
“Nenek sedang merajut baju hangat untuk anggota baru yang akan hadir di dalam keluarga Wicaksono Group,” jawab Stefanie.
Lalu Maria memutuskan untuk duduk di sofa single. Ia menatap rajutan Stefanie sangat bagus sekali. Ia hanya diam dan tidak mengeluarkan suaranya.
Sementara itu Aska terdiam dan masih mencerna apa kata Stefanie? Lantas apa yang dimaksud oleh sang nenek? Tanpa pikir panjang Aska bertanya, “Memangnya siapa nek?”
“Aish... ini bocah,” kesal Stefanie yang menghentikan rajutannya.
“Kamu nggak tahu siapa yang akan hadir sekarang?” tanya Stefanie yang menatap wajah Aska dengan hangat.
“Tidak tahu nek,” jawab Aska. “Memangnya siapa itu?”
Stefanie menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh Aska. Lalu wanita berusia senja itu tersenyum simpul sambil menjawab, “Dia adalah anggota baru kita. Dia sedang tumbuh di dalam perut cucu menantuku yang cantik ini.”
__ADS_1
“Maksud nenek?” tanya Aska yang tersenyum manis.
“Ya... dia adalah calon anakmu, Aska. Masa kamu enggak tahu sih?” tanya Stefanie yang berhasil membuat Maria tersenyum.
“Kalau begitu aku sangat beruntung sekali. Putraku mendapat hak yang istimewa?” tanya Aska.
“Hmmmp... Kalau dia perempuan bagaimana?” tanya Maria.
“Tidak apa-apa. Yang penting dia sehat dan selamat,” jawab Aska yang tidak memperdulikan jenis kelamin anaknya itu.
“Seharusnya kamu protes, jika anakmu perempuan,” goda Maria.
“Ngapain juga protes? Apakah anak pertama seorang perempuan itu salah?” tanya Aska sambil memandang wajah Maria.
“Nenek nggak peduli kalau kalian memiliki anak pertama berjenis kelamin perempuan. Yang penting anakmu itu sehat beserta ibunya,” jelas sang nenek. “Jadi orang banyakin bersyukur. Kelak rasa syukur itu bisa membuat kamu hidup damai selamanya. Dan jangan sekali-sekali mengibarkan bendera peperangan kepada siapapun. Kelak kalian bisa hidup tentram dan bahagia,” tambah Stefanie yang memberikan wejangan untuk mereka.
“Baik kek,” balas Maria.
Aska menganggukan kepalanya tanda paham. Ia tidak akan membuat masalah besar di dalam hidupnya. Ia juga ingin menjadi pria yang bijaksana dan baik.
“Kemana ibu nek?” tanya Aska yang tiba-tiba saja rindu kepada Christina.
“Ibumu berada di halaman belakang bersama ayahmu. Mereka sedang berpacaran seperti anak muda yang sedang dimabuk asmara,” jawab Stefanie yang membuat Aska bahagia.
“Nenek nggak kesana?” tanya Aska.
“Nenek ingin merajut saja. Nenek nggak ingin mengganggu kebahagiaan mereka,” jawab Stefanie yang memiliki sifat bijaksana.
“Kalau begitu aku akan kesana,” pamit Aska yang beranjak berdiri.
“Ya... ajak Maria!” seru Stefanie.
“Apakah kita nggak mengganggu mereka berpacaran?” tanya Maria.
“Tidak. Justru kita harus membubarkan mereka agar tidak melakukan hal-hal yang akan terjadi,” celetuk Aska.
“Apa?’ pekik Maria yang membuat Aska tersenyum manis.
“Hey... janganlah kamu membubarkan mereka berpacaran!” seru Damian yang datang membawa biskuit.
“Tapi,” ucap Aska yang menggantung.
“Tapi apa?” tanya Damian.
__ADS_1