
"Memangnya kamu mau kuliah di mana?" tanya Bu Siti yang sedang meraih ponselnya di meja.
"Mau kuliah di Harvard university Amerika," jawab Mala dengan semangat.
Bu Siti terperanjat kaget dan melihat Mala. Namun Bu Siti tersenyum kembali sambil berkata, "Jauh amat kamu ke sana. Ya sudah nggak apa-apa. Ibu nggak melarang kamu kok mau kuliah di mana saja. Asalkan kamu kuliah mengambil jurusan yang tepat. Cari infonya sana yang banyak. Agar kamu tidak kehilangan berita sedikitpun."
"Baik bu," balas Mala.
Paris Prancis.
Sesampainya di kantor Adrian, Aska sangat bersyukur sekali. Karena hari ini sudah kembali ke Paris. Tiba-tiba saja datang Frank dan mendekatinya.
"Aska," panggil Frank.
"Ada apa paman?" tanya Aska.
"Ikut bangun sebentar! Kita harus bicara empat mata saja tanpa harus ada ayahmu!" ajak Frank keluar dari gedung itu.
Aska mengagukan kepalanya lalu mengikuti friend keluar. Setelah sampai area parkir, Frank menyuruh Aska untuk masuk ke dalam.
"Ada apa paman? Tiba-tiba saja paman mengajakku keluar dari gedung itu," tanya Aska sambil memandang wajah Adrian.
Frank tidak menjawab apapun. Lalu ia nyalakan mobilnya sambil menancapkan gasnya. Ia mengajak Azka pergi ke suatu tempat. Yang di mana tempat itu tidak ada orang yang tahu.
Selama dua jam, Frank akhirnya berhenti di kaki bukit. Ia sengaja membuka kaca mobilnya sambil meraih ponselnya.
"Ada yang harus aku katakan kepadamu. Ini sangat penting sekali. Aku harap kamu mengerti akan satu hal ini," ucap Frank dengan serius.
"Apa itu Paman?" tanya Aska.
__ADS_1
"Akhir-akhir ini saham Aska jatuh ke angka lima persen. Di balik itu semuanya ada permainan politik antara Benjamin dan para pemegang saham. Aku harap kamu tidak akan pernah melepaskan saham itu dari tanganmu," jawab Frank sambil melihat pemandangan di kaki bukit.
"Dia mulai bermain rupanya. Sepertinya aku harus mencari informasi tentang dia sebanyak-banyaknya," ucap Aska yang sedang serius memikirkan rencana baru.
"Ditambah lagi dengan seluruh produk yang ada di Amerika semuanya ditarik. Produkmu mengandung zat yang bisa membunuh manusia secara perlahan," ujar Frank.
"Berita ini sudah aku dengar jauh-jauh hari ini. Aku ingin mengurusnya tapi banyak kendala. Tapi tapi aku harus menghubungi seseorang yang berada di perusahaan Aska," sahut Aska menghubungi seseorang yang berada di seberang sana.
Aska menghubungi seorang pria yang berada di Aska Food. Aska menyuruhnya untuk memberikan semua laporan melalui email. Setelah menghubungi orang tersebut, Aska akhirnya menatap wajah Frank.
"Aku yakin ini semuanya adalah permainan. Yang di mana permainan itu ingin menjatuhkan keluarga Wicaksono beserta keturunannya. Sepertinya Frank tidak sendiri bermain penjualan saham dan menghembuskan fitnah," tambah Aska yang tersenyum smirk.
"Aku tahu itu. Langkah selanjutnya apa?" tanya Frank.
"Aku masih memegang saham sebesar delapan puluh persen. Setelah membumihanguskan Jamaludin, Aku akan kembali ke Indonesia. Setelah Jamaludin sudah tamat riwayatnya. Aku yakin mereka tidak bisa berkutik apa-apa. Aku sudah mengumpulkan banyak bukti. Semuanya itu akan aku serahkan kepolisian setempat. Setelah itu aku merombak habis-habisan dewan direksi bersama struktur organisasi yang sudah dibangun oleh ibu sejak lama," jawab Aska.
"Aku tidak akan melupakan hal itu. Aku sudah memiliki rencana. Aku tahu orang itu sedang dicari oleh ketua mafia Black Knight. Cepat atau lambat aku akan menyerahkannya ke sang ketua dengan cara licik," ucap Aska.
Frank menganggukkan kepalanya dan menyetujui permintaan Aska. Memang cara inilah yang sangat tepat untuk melawan mereka semua. Setelah itu Frank memutuskan untuk kembali ke kantor.
Di dalam perjalanan tidak ada kejanggalan apapun. Namun Aska sempat terkejut dengan banyaknya mobil yang beriring-iringan di belakangnya. Untung saja Frank yang sedang menyetir mengatakan semuanya. Mereka adalah pengawal dari Blue Dragon. Frank sengaja membawa boneka agar tidak terjadi apa-apa.
Ketika sampai kantor, Aska langsung dipanggil oleh Adrian. Saat masuk ke dalam ruangan itu, Aska sedang melihat Adrian bermesraan dengan Christina. Aska keluar dan membanting pintunya sambil memajukan mulutnya beberapa senti.
Maria yang sedang lewat tidak sengaja melihat Aska. Wanita berparas cantik itu menatap wajah Aska. Tak sengaja Maria melihat mulut Aska yang maju beberapa senti meter. Maria akhirnya tertawa lucu.
"Abang kenapa? Datang-datang kok manyun seperti itu," tanya Maria.
"Lihatlah! Dua insan sedang bercinta di dalam kantor. Yang punya kantor ini memanggilku untuk bertemu. Setelah aku melihatnya ada yang horor di sana. Makanya aku coba-coba ingin keluar dan tidak ingin melihat kemesraan mereka," jawab Aska yang masih kesal terhadap sang ayah.
__ADS_1
Maria akhirnya meledakkan tawanya. Entah kenapa sang suami hari ini benar-benar sangat lucu sekali. Ditambah dalam mode ngambeknya itu Aska menjadi perhatian lebih dari Maria.
"Syukurlah... Abang keluarga dari zona yang tidak aman itu. Jika Abang berada di sana, otomatis Abang akan menjadi obat nyamuk," Maria malah tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
Tanpa hitungan detik, Aska menarik tubuh mungil Maria dan menggendongnya seperti beras. Aska memang kesal hari ini karena ulah Adrian. Namun dirinya akan melampiaskan gagasannya itu kepada Maria.
Sedangkan Maria, Maria berteriak-teriak dan memukuli punggung Aska. Sepanjang perjalanan menuju ke kamar pribadinya, terjadilah kehebohan di mana-mana. Setiap orang yang lewat hanya bisa tertegun melihat Aska menggendong Maria seperti karung beras. Tidak bisa dipungkiri, Aska sangat menyayangi istri kecilnya itu. Maksudnya bertubuh kecil bukan berusia muda.
Kemudian Aska membuka pintu dan masuk ke dalam. Sebelum memberikan Maria, Aska mengunci pintunya dengan rapat. Setelah itu ia menuju keranjangnya dan melemparkan Maria di atas ranjang.
"Kemungkinan siang ini hingga malam nanti aku tidak akan keluar dari kamar. Aku akan mematikan seluruh ponsel. Agar tidak dilacak oleh mereka," ucap Aska membuka pelan kancing bajunya.
Seketika Maria matanya membulat sempurna. Karena dirinya melihat Aska membuka kancing bajunya. Maria mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Kenapa Abang membuka baju di sini?"
"Abang akan melaksanakan ritual malam pertama," jawab Aska dengan jujur.
"Apa!" pekik Maria. "Ini bukan malam abang."
Sungguh Maria sekarang memprotes Aska. Bukan karena pekerjaan. Namun karena akan mengatakan siang menjadi malam.
Maria cepat-cepat berdiri dan mendekati Aska. Lalu Maria mengancing baju Aska sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa? Aku ingin membuka bajuku ini," tanya Aska yang bingung dengan kelakuan sang istri.
"Ini bukan malam. Tapi siang hari. Jika Abang ingin melakukannya. Lebih baik kita pergi ke hotel dan besoknya kembali," ucap Maria yang membuat Aska tersenyum.
"Kamu benar juga. Di sini sungguh tidak aman sama sekali. Aku takut ada suara yang aneh dari kamar ini," celetuk Aska yang membuat Maria paham.
"Suara aneh apa?" tanya Maria.
__ADS_1