Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Mencari Bukti.


__ADS_3

Mendengar kata orang tuanya, mata Minah berbinar tanda bahagia. Minah mulai meneteskan air matanya. Ia mulai menunduk dan memanggil ayahnya dan ibunya. Ia sangat menyesal bahwa usia setua ini  tidak bisa membahagiakan mereka. 


“Aku ingin bertemu ayah ibuku. Aku ingin meminta maaf. Karena aku telah berbuat salah,” ucap Minah sambil sesenggukan.


“Sekarang kamu bersiap-siap terlebih dahulu. Agar kita bisa menemui mereka,” suruh Luke sambil berdiri dan tersenyum dan mengusap rambut Minah.


Luke segera melangkahkan kakinya dan meninggalkan Minah. Luke mempersilakan Minah berganti pakaian. Saat keluar dari kamar itu, Luke melihat keberadaan Pak Broto dan Pak Ahmad.


“Selamat pagi Tuan Luke,” sapa Pak Broto.


“Selamat pagi Pak,” sapa Luke segan ramah. 


“Maafkan saya... Saya harus melaksanakan tugas dari Tuan Adrian,” ucap Luke.


“Tidak apa-apa. Tuan,” sahut Pak Broto. “Kapan berangkat?”


“Hari ini juga saya berangkat. Aku meminta pengawal untuk mengawal ku hingga ke bandara,” pinta Luke.”


“Baiklah. Saya yang akan mengawal anda ke tempat tujuan,” sahut Pak Ahmad.


Siang menjelang, Luke dan Minah bersiap-siap menuju ke bandara. Sejumlah orang yang memakai baju serba hitam sudah dipersiapkan. Luke memutuskan untuk pergi meninggalkan kebun itu menuju ke bandara. Perjalanan menuju kesana mulus tanpa kendala. Luke yang sedang menyetir matanya selalu awas dan memastikan kalau di sekitarnya tidak mengalami kendala. 


Paris Perancis. 


“Ayah,” seru Aska yang mendekati Adrian.


“Ada apa?” tanya Adrian.


“Apakah Paman Luke berhasil membawa Minah ke sini?” tanya Aska.


“Mereka sedang menuduh perjalanan ke sini. Aku harap mereka berhasil sampai ke sini dengan aman dan selamat,” jawab Adrian. “Apakah kamu memaafkan Minah?”


“Entahlah... Aku tidak tahu lagi,” jawab Aska yang menghempaskan bokongnya di sofa.


“Setelah kembali kita lihat Apa alasannya Minah melakukan itu padamu. Ayah yakin Minah melakukan itu pasti ada alasannya,” jelas Adrian. “Sudah siang. Lebih baik kita menuju ke tempat Nyonya Julia asli. Katanya kamu ingin mengambil dokumen itu?” 

__ADS_1


Aska menganggukkan kepalanya sambil berdiri, “Itu bener ayah. Aku ingin mengambil dokumen itu dan ingin melihat Apa isinya?”


Adrian berdiri sambil membawa kunci mobil. Adrian ngajak Azka keluar dari gedung ini. Untung saja Hari ini adalah hari Minggu di kota Paris. Tak banyak orang yang datang ke gedung ini. Kecuali mereka yang sedang bertugas di posisi masing-masing.


Lalu Aska mengajak Adrian ke suatu tempat. Di dalam perjalanan Paris di siang hari sangat aman. Mereka tidak ada melakukan kejahatan di siang hari. Suasana di Paris sangat langgeng tanpa ada kemacetan sama sekali.


“Di siang hari kota Paris sangat sepi sekali. Aku lihat tidak ada kejahatan di mana-mana,” ucap Aska sambil melihat Adrian sedang menyetir mobil.


“Kamu bilang aman. Memang aman kalau siang hari. Kalau kamu berkeliling di malam hari. Kamu bisa melihatnya dengan jelas. Bahwa kejahatan ada di mana-mana. Ditambah lagi dengan kelompoknya Jamaludin yang menyebar ke mana-mana. Mereka sangat tidak memiliki rasa kemanusiaan sedikitpun,” jelas Adrian.


“Berarti sangat sulit sekali tinggal di sini. Tidak ada motif sedikitpun bagi Jamaludin membunuh. Tapi ini sangat aneh sekali. Ambil setiap hari mereka melakukan kejahatan dengan kelompok yang sama,” ucap Aska.


“Kamunya kurang pandai untuk mendeteksi para musuh di sekitar. Rata-rata dari mereka itu menyamar menjadi rakyat biasa. Mereka selalu pergi ke rumah mewah dan merampok beberapa aset dari sang pemilik rumah. Setelah itu mereka kembali. Jika ada yang lawan atau melaporkannya kepolisian, akibatnya sangat fatal sekali. Jika mereka melakukannya, Jamaludin menyuruh pengawalnya untuk membunuh orang tersebut,” jelas Adrian. “Makanya masyarakat disini sangat ketakutan sekali bila malam menjelang.”


“Sangat menyedihkan bagi mereka. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kapan terjadi penyerangan besar-besaran? Aku sudah tidak sabar lagi untuk melakukan penyerangan itu,” tanya Aska. 


“Bersabarlah. Kemarin ayah selesai meeting bersama mereka. Mereka mengangkat tangannya dan bilang sudah tidak sanggup lagi untuk mengurus kasus Jamaludin. Semakin hari semakin banyak kasusnya. Aku masih memancing Jamaludin keluar,” jawab Adrian.


Kemudian Adrian berhenti tepat berada di sebuah rumah dengan pagar hitam tinggi menjulang. Adrian melihat rumah itu sangat asri dan bersih. Lalu Adrian bertanya, “Apakah ini rumahnya?”


Selesai menyembunyikan klakson, ada salah satu penjaga di rumah itu keluar. Penjaga itu mendekati pagar dan membukanya. Aska yang melihatnya langsung keluar dari mobil. Kemudian ia mendekati pintu gerbang itu sambil menyapa sang penjaga rumah tersebut.


“Selamat pagi. Apakah di sini rumah Nyonya Julia Mayer?” tanya Aska. 


“Itu benar. Ini rumah Julia Mayer,” jawab sang penjaga rumah. “Apakah anda Aska Wicaksono?” 


*Iya,” jawab Aska. “Kalau boleh tahu nama anda siapa?” 


“Nama saya adalah Ivan. Saya disuruh menjaga rumah ini ketika Nyonya pergi,” jawab Ivan nama penjaga itu. 


Aska tersenyum dan meminta izin untuk memanggil Adrian. Ivan pun mengizinkan dan memintanya untuk masuk ke dalam. Setelah mengajak Adrian, Aska langsung masuk ke dalam dan duduk di sofa. Beberapa saat kemudian Ivan datang sambil membawa minuman hangat dan menaruhnya di meja.


“Silakan diminum,” ucap Ivan sambil membersihkan mereka minum. 


Tidak sengaja Ivan melihat wajah Adrian. Ia menunduk sambil memberikan hormat kepada Adriani. Adrian hanya menganggukkan kepalanya .

__ADS_1


“Duduklah di sini. Kita akan mengobrol sebentar,” Aska mengajak Ivan duduk di sini bersama.


“Tapi Tuan?’ tanya Ivan yang tidak mau duduk bersama Aska.


“Tak apa. Kita ngobrol sedikit disini,” pinta Aska yang sengaja mencari informasi tentang neneknya.


Disaat mengobrol ringan, Aska mengaku lega. Ternyata sang nenek ketika berada di sini sangat aman sekali. Bahkan Jamaludin tidak mengetahui keberadaan Julia. Ia sangat bersyukur karena Tuhan melindungi sang nenek dari kejaran Jamaludin. 


“Begini, saya kesini untuk mengambil beberapa dokumen penting,” ucap Aska mengatakan tujuan kesini sebenarnya.


“Iya... saya tahu dari nyonya Julia. Nyonya sendiri sudah mengkonfirmasi tentang kedatangan Anda kesini. Kalau begitu saya antarkan ke ruangan itu,” sahut Ivan dengan senang hati membantu mengantarkan Aska.


“Ayah,” panggil Aska.


Ketika Aska memanggilnya ayah kepada Adrian, Ivan terkejut. Ia memandang wajah Aska dan juga Adrian.


“Maaf... kalau boleh tahu, kalian?” tanya Ivan yang ketakutan bertanya.


“Beliau adalah ayah saya,” jawab Aska yang mengakui Adrian adalah ayahnya.


Adrian tersenyum dalam hati. Ia sangat bersyukur ketika Aska mengaku dirinya adalah seorang ayah. Jujur Adrian sangat taat sekali. Jika Aska  tidak mengakui dirinya sebagai ayah. Ia takut kalau Aska dendam kepadanya karena ditinggalkan olehnya. Namun Aska tidak dendam sama sekali. Bahkan Aska sangat menghormati Adrian dan. Menyayanginya. 


Setelah mengetahui fakta yang sebenarnya, Ivan sangat bahagia. Ivan tidak menyangka kalau sang nyonya memiliki menantu dari kepolisian. Ditambah lagi Adrian adalah pria yang memiliki kharisma yang tinggi. Prestasinya jangan ditanya sangat membanggakan. Nama Adrian sangat terkenal di Perancis maupun di Eropa.. 


Ivan berhenti di suatu ruangan yang jarang sekali dibuka. Ia menyerahkan kunci itu ke arah Aska. Lalu, Aska menerima kunci itu sambil membuka pintu tersebut.


“Maaf tuan Aska... saya tidak berani membersihkan ruangan itu,” ucap Aska.


“Tidak apa-apa. Saya tahu kalau anda sangat patuh sekali dengan perintah nyonya Julia. Saya sangat kagum sekali dengan Anda,” puji Aska kepada Ivan.


“Kalau begitu saya pamit terlebih dahulu. Saya akan membersihkan dapur,” pamit Ivan.


Aska mengizinkan Ivan pergi dari sana. Kemudian Aska masuk ke dalam sambil melihat pesan dari sang nenek. Kemudian Aska menuju ke lemari besar. Yang di mana lemari itu masih terkunci. Aska mencoba mencari kunci tersebut. Ia menemukan kunci itu di samping lemari.


“Aku rasa ini kuncinya,” ucap Aska dalam hati sambil membuka lemari itu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian datang Adrian dengan wajah tegasnya. Ia mendekati Aska sambil bertanya, “Apakah kamu sudah menemukannya?”


__ADS_2