
Aska sangat kesal dengan mimpi itu. Mimpi itu selalu berlanjut dan menakut-nakutinya. Ia mulai menetralisir jiwanya agar tidak hanyut dalam mimpi itu. Aska menarik nafasnya dan membuangnya dengan-pelan.
Pria muda itu memutuskan untuk terjaga beberapa jam. Ia keluar dari kamar dan mencari keberadaan Adrian. Lalu Aska masuk ke dalam ruangan kerja Adrian. Di sana Aska melihat Adrian sedang mengobrol bersama Luke. Dengan cepat Aska mengembalikan badan dan membuka pintu.
Sebelum keluar Adrian memanggilnya dan menyuruhnya ke sini. Aska menurutinya dan melihat wajah Adrian yang sedang sibuk.
“Kukira di sini hanya ada ayah saja,” ucap Aska.
“Duduklah, di samping Luke!” perintah Adrian.
Aska menghempaskan bokongnya di samping Luke. Ia duduk sambil menatap Adrian dengan tidak tenang. Melihat sang putra tidak tenang, Adrian mulai menebak ada yang tidak beres dengan sang putra. Lalu Adrian menyelidikinya sambil berkata, “Sepertinya ada yang tidak beres?”
“Ya... itu benar,” sahut Aska yang paham dengan Adrian.
“Ada apa?” tanya Adrian yang membuat Luke segan dan berdiri.
“Paman Luke,” panggil Aska yang membuat Luke terkejut.
“Tuan muda memanggilku Paman?” tanya Luke sambil memandang wajah Aska.
“Iya,” jawab Aska yang tersenyum manis.
“Ada apa dengan kamu Luke? Sepertinya kamu tidak menerima Putraku memanggilmu paman. Apakah ada yang salah dengan kamu?” tanya Adrian yang membuat Luke membungkukkan badannya.
“Tidak ada yang salah Tuan Adrian. Saya baru saja mendengar tuan muda Aska memanggilku seorang paman. Sungguh, panggilan Paman ini membuat saya menjadi orang terhormat” jawab Luke.
“Kalau di negaraku sana. Jika bertemu dengan orang yang lebih tua, aku sering memanggilnya bapak atau paman. Jika aku tidak mengenal orang itu, aku pasti memanggilnya paman,” jelas Aska yang membuat Luke terharu.
“Duduklah. Aku tidak ingin kamu meninggalkan ruangan ini. Meskipun ada putraku sendiri. Biasakanlah kamu hidup normal dan berkumpul sama kami hingga tidak ada jarak sedikitpun. Karena aku sudah tidak menganggapmu lagi sebagai pengawal. Aku akan menganggapmu sebagai keluargaku sendiri. Aku harap kamu mengerti dengan semuanya ini,” jelas Adrian.
Luke akhirnya duduk di samping Aska. Luke berusaha mencoba untuk menjadi orang biasa. Tak lama Adrian menatap lagi wajah sang anak. Lalu Adrian bertanya, “Ada apa dengan kamu? Apakah kamu pernah bermimpi yang membuatmu terbangun dan tidak bisa tidur lagi?”
__ADS_1
“Di saat usiaku menginjak dua puluh tahun. Aku sering bermimpi tentang kejadian masa laluku. Yang dimana masa laluku mengingatkan kalau Minah pernah memukulku dengan rotan hingga berdarah. Mimpi itu selalu muncul ketika Aku sedang mengalami depresi,” jelas Aska.
“Cobalah sedikit rileks untuk menjalani hidupmu. Jangan memikirkan masa lalumu itu. Aku tahu masa lalumu banyak sekali penderitaan. Terutama pada Minah yang membuatmu trauma itu. Jika kamu tidak membuangnya, bisa jadi mimpi burukmu akan menghalangi untuk maju ke depan. Jangan sampai kamu dikendalikan oleh mimpi burukmu itu. Kelak kamu akan menjadikan hidupmu ini menjadi beban berat,” perintah Adrian yang membuat Aska terkejut dan menganggukkan kepalanya.
“Seberapa jahatkah seorang Minah itu? Diam-diam aku sangat penasaran sekali?” tanya Luke kepada Aska.
“Kalau Paman tinggal bersamaku pada zaman dulu. Paman akan mendapatkan drama panci terbang. Hampir setiap hari aku selalu mendapatkannya. Yang lebih parahnya lagi drama panci terbang itu para warga di sana sangat lekat sekali dengan ibu Minah,” the last Aska.
“Sepertinya kamu mengenal Minah?’ tanya Adrian yang menatap wajah Luke jujur.
“Saya mengenalnya. Dulu dia adalah adik kelasku yang sangat cantik sekali di sekolah itu. Namanya Alena. Seluruh pria di sekolah itu mengejar-ngejarnya dan memintanya untuk menjadi kekasih. Tidak ada angin ataupun badai di sekolah itu. Alena hamil diluar nikah oleh Benjamin. Aku masih ingat dengan kronologi itu. Aku juga mengetahui masalah itu. Kalau nggak salah sahabatnya yang menceritakan kronologi itu kepadaku. Selesai ujian semester, Alena pergi meninggalkan sekolah. Menurut kabar terakhir yang aku dengar, Alena mengidap penyakit kejiwaan. Putranya diangkat oleh seorang keluarga yang tidak memiliki anak sama sekali. Karena Alina sendiri tidak bisa merawat putranya itu,” jelas Luke yang membuat Aska terkejut.
“Jadi selama ini?’ tanya Aska.
Adrian menganggukkan kepalanya sambil menatap Aska. Dalam hatinya Adrian sangat bersyukur sekali. Minah tidak membunuhnya. Lalu Adrian bertanya, “Apakah Minah dirawat di rumah sakit jiwa?”
“Iya ayah. Aku nggak pernah ke sana sama sekali. Yang ke sana hanyalah Bu Siti maupun Pak Broto. Meskipun mereka membencinya, mereka masih memperdulikan keadaan Minah. Aku harap Minah baik-baik saja dan kembali ke keluarganya itu. Aku yakin Minah tidak bersalah sama sekali. Kemungkinan Minah adalah boneka dari Benjamin dan Jamaludin,” jelas Aska.
“Kamu adalah putraku memiliki jiwa yang besar. Meskipun berat kamu tetap memaafkannya,” ucap Adrian.
“Lebih baik kamu berikan alamat rumah sakit jiwa itu ke aku. Aku bisa membantumu dengan cara menghubungi kedua orang tuanya. Mereka sudah mencarinya bertahun-tahun dan sampai sekarang belum menemukannya,” pinta Luke.
“Baiklah. Aku akan memberikan alamat itu supaya kedua orang tuanya bisa menemukannya. Aku tidak berhak untuk membencinya. Aku juga berterima kasih kepada Minah yang telah merawatku hingga saat ini. Jika tidak ada maka aku sudah tidak ada di bumi ini,” ungkap Aska yang membuat Adrian bersedih.
Memang tidak seharusnya Aska membenci Minah. Dirinya bersyukur sekali karena bisa hidup hingga sekarang. Bagaimana jika dirinya dilemparkan ke orang lain? Kemungkinan besar Aska akan menjadi nama saja.
“Seharusnya Minah membunuhmu. Tapi dia tidak membunuhmu. Sepertinya aku merasakan ada sesuatu di dalam diri Minah. Diam-diam Minah sengaja membiarkanmu hidup untuk balas dendam ke Benjamin,” jelas Adrian.
“Memangnya Minah itu orang mana sih? Apakah dia orang Perancis asli?” tanya Aska.
“Minah berasal dari Indonesia. Dia bersama orang tuanya hijrah ke Paris untuk melanjutkan hidupnya setelah di daerahnya mengalami bencana. Aku mengenalnya ketika masih SMP. Dia memiliki kepribadian sangat baik sekali. Setelah menginjak SMA, entah kenapa Minah menjadi sosok yang dingin. Aku tidak memperdulikannya. Kejadian terakhir kalinya dia diculik oleh Benjamin. Aku nggak tahu masalah apa pastinya,” jelas Luke.
__ADS_1
“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Adrian.
“Sepertinya aku harus menolong Minah,” jawab Aska.
“Ayah nggak jadi masalah soal itu. Kita akan membereskan Jamaludin terlebih dahulu,” sahut Adrian. “Tidurlah. Setelah mengambil dokumen itu, kita akan pergi ke departemen ayah. Ayah akan memperkenalkan kepada seseorang.”
“Siapa itu ayah?” tanya Aska yang penasaran dengan Adrian.
“Nanti kamu tahu semuanya,” jawab Adrian menyuruh Aska tidur.
Aska memegang hujan kepalanya. Ia beranjak berdiri dan meninggalkan ruangan itu dan menuju ke kamarnya.
Sementara Adrian terdiam dan melihat Luke. Ia tersenyum manis setelah dirinya terbuka dengan sang putra. Kemudian Adrian melihat Luke sambil bertanya, “Bagaimana dengan putraku itu?”
“Putra Anda sangat cerdas sekali. Dia bisa membaca situasi yang sedang terjadi,” jelas Luke.
“Ajari dia belajar ilmu bela diri dan menembak. Aku ingin Aska menguasai beberapa senjata. Cepat atau lambat kita akan melakukan penyerangan!” perintah Adrian.
“Siap komandan!” seru Luke.
“Lalu bagaimana dengan Minah? Apakah kamu serius ingin membantunya?” tanya Adrian.
“Saya mau membantunya tuan. Karena saya mengenal orang tuanya. Saya selalu berhubungan dengan mereka,” jawab Luke.
“Apakah Minah dulu adalah kekasihmu?” tanya Adrian lagi.
“Tidak tuan. Dia bukan kekasih saya. Dituju kamu sangat akrab sekali dikarenakan Minah adalah tetangga saya,” jawab Luke dengan jujur.
“Ya... kamu benar. Aska juga ingin membantunya. Walau Minah selalu berbuat kejam. Sepertinya aku memiliki aku memiliki satu alasan. Kenapa Minah melakukan itu?” tanya Adrian yang dibenarkan oleh Luke.
“Apakah aku akan ke Indonesia untuk membawanya ke sini?” tanya Luke.
__ADS_1
“Pergilah ke Indonesia! Ambil Minah. Selanjutnya biar Minah dirawat di sini. Jika sudah sembuh dari kejiwaannya, kita bisa mengajaknya bekerja sama,” jawab Adrian.
“Apakah tuan yakin dengan keputusan anda?” tanya Luke.