Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Jamaludin Mulai Menyerang.


__ADS_3

"Aku tidak tahu soal itu. Aku juga tidak paham dan tidak mengenal Jamaluddin sebenarnya. Apa yang kamu katakan itu benar. Jangankan aku. Kamu juga dalam bahaya besar. Maafkanlah Aku jika kamu masuk ke dalam lingkaran ini," Aska sangat menyesal mengajak Maria dalam bahaya.


"Tidak apa-apa. Bukankah manusia ditakdirkan untuk menerjang badai? Anggap saja Jamaludin adalah badai kita. Badai yang besar dan harus dilewati. Kita bisa meminta bantuan kepada ayah dan Paman. Aku juga akan bersiap-siap mempelajari dokumen-dokumen tentang Wicaksono Group," jelas Maria.


"Apakah kamu tidak belajar melayani aku dengan baik?" tanya Aska yang mulai usil.


"Rasanya itu sangat aneh sekali. Bagaimana ya caranya menghilangkan kekonyolan kamu dan merubah dirimu menjadi pria tegas?" tanya Maria.


"Apakah itu harus?" tanya Aska balik.


"Sepertinya itu tidak perlu. Aku ingin kamu menjadi diri sendiri. Tidak perlu mencontoh yang lain dan bikin passion sendiri," jawab Maria.


"Lebih baik seperti itu. Aku juga tidak akan merubah diriku dari orang biasa hingga orang mampu. Jika aku sudah mulai mengeluarkan arogansiku. Kamu berhak untuk menegurku. Biarkanlah aku menjadi orang dengan sifat rendah hati," pesan Aska yang mengingatkan Maria agar menegur dirinya jika sudah kelewat batas.


Maria tersenyum sambil menatap wajah Aska. Lalu Maria bertanya, "Kamu nggak kedinginan lagi?"


"Enggak. Aku sudah nggak kedinginan lagi," jawab Aska yang membuat Maria terkekeh.


Bagi Maria Aska itu sangat lucu sekali. Maria sangat menyukai wajah polos Aska dan juga tengil. Akan tetapi dirinya takut jika wajahnya berubah menjadi tegas dan tidak bisa diajak bercanda. Maria memilih untuk diam. Lalu mencari pekerjaan lain.


"Sudah malam. Tidurlah," ucap Maria yang menyuruh Aska tidur.


"Aku masih belum mengantuk. Aku ingin mempelajari berkas-berkas itu," sahut Aska yang duduk sambil meraih berkas-berkas itu di atas nakas.


"Kalau kamu besok berangkat. Jangan lupa bilang ke aku," ujar Maria.


"Kenapa?" tanya Aska.


"Biarkanlah aku menyiapkan keperluanmu untuk pergi ke Paris," jawab Maria yang ingin melayani Aska dengan sepenuh hati.


"Pastinya," sahut Aska sambil melemparkan senyum manisnya itu.


"Kamu berangkat sama Romeo?" tanya Maria.


"Aku tidak berangkat sama Abang Romeo. Aku akan berangkat sama Max," jawab Aska yang membuat Maria terkejut.


"Kenapa Abang tidak berangkat sama Romeo? Bukankah Romeo sendiri adalah asisten Abang yang baru?" tanya Maria lagi.


"Aku tidak bisa menceritakan secara gamblang kepadamu. Suatu hari nanti aku akan menceritakan semuanya. Kumohon untuk saat ini jangan bertanya apa-apa tentang Romeo. Karena aku sendiri masih mencerna yang sedang terjadi untuk saat ini," jawab Aska yang meminta Maria agar tidak bertanya tentang Romeo.

__ADS_1


"Baik bang," balas Maria.


Maria memutuskan untuk tidur terlebih dahulu. Sedangkan Aska memeriksa beberapa poin tentang perjanjian bersama investor luar. Sedangkan Frank dan Adrian sedang berlatih menembak di ruangan tembak. Mereka di sana sedang beradu skill menembak target dengan cepat dan tepat.


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


Sungguh di luar dugaan, Adrian kalah cepat dari Frank. Mengapa bisa demikian? Karena Frank lebih lincah ketimbang Adrian. Dan kekuatannya pun semakin oke walau usia sudah menua.


"Tuan Frank sedari dulu memang sudah hebat," puji Romeo yang melihat Frank selesai latihan menembak.


"Sangat cepat sekali. Bahkan sang peluru pun tidak kelihatan sama sekali," puji Max. "Kenapa Tuan Adrian tidak bisa mengalahkan Tuan Frank?"


"Itu beda bro," sahut Adrian yang mendekati mereka sambil memberikan pistol itu ke arah Romeo.


"Apa bedanya? Sedangkan kalian berada di kesatuan militer?" tanya Max.


Hampir saja Max teringat kalau Adrian adalah seorang polisi. Ia tidak perlu membedakan perasaan Frank maupun Adrian, "Maaf tuan. Aku hampir lupa dengan pekerjaan kalian berdua."


Frank pun terkekeh dan memaklumi Max. Lalu Frank mendekati Max sambil memberikan pistolnya, "Kalau aku adalah seorang mafia paling kejam di kota Paris. Seorang mafia harus memiliki jiwa tegas dan tidak boleh lembek seperti itu. Beda dengan Adrian. Adrian harus bisa membedakan antara musuh dan orang tidak bersalah."


"Itu benar. Aku nggak sehebat Frank menembak. Jadi wajarlah kalau aku sangat kaku sekali menembak," ucap Adrian. "Kalian harus belajar menembak dengan rutin. Karena skill kalian sangat dibutuhkan di Blue Dragon."


"Kalau kemampuan Max itu sudah bisa diandalkan untuk melindungi seseorang dari baku tembak. Kalau Romeo aku belum lihat kemampuannya," jelas Frank.


"Romeo sudah aku latih sedemikian rupa. Bahkan Romeo sendiri sudah sangat ahli untuk menjadi seorang sniper," tambah Adrian.


"Sekarang tugas kita adalah mengajarkan Aska, Maria dan Christina belajar menembak. Aku nggak mau jika mereka tidak bisa memegang senjata!" titah Frank.


"Tapi, Aku tidak akan membiarkan kamu mengajarkan Christina menembak. Biar aku saja yang mengajarinya," kesal Adrian terhadap Frank.


"Tuan Adrian sudah mengalami sindrom bucin akut," ledek Romeo yang membuat Frank tertawa terbahak-bahak.


"Apa itu bucin akut?" tanya Adrian yang tidak paham dengan bahasa gaul anak-anak sekarang.

__ADS_1


"Bucin akut adalah budak cinta yang lebih parah lagi ketimbang orang normal. Semoga saja Tuan Aska tidak bucin aku seperti ayahnya," jawab Max.


Setelah mendapatkan penjelasan dari Max, Frank semakin tertawa terbahak-bahak. Namun tanpa disadari oleh Adrian, Frank secara halus menyindir Adrian habis-habisan.


Keesokan harinya, Aska meminta Maria untuk menyiapkan beberapa pakaian saja. Maria Bun memilihkan bagian itu dan memasukkannya ke dalam koper.


"Kapan Abang berangkat?" tanya Maria.


"Hari ini. Ayah sudah memberitahukan kondisi di sana. Ayah sudah menurunkan mata-mata untuk memantau Jamaludin. Seandainya aku datang ke sana pagi. Kemungkinan sore Aku akan kembali. Aku juga tidak mau lama-lama. Soalnya setelah ini kita akan mengadakan meeting besar untuk mengeksekusi Jamaludin," jawab Aska yang melihat Maria menata bajunya di dalam koper kecil.


Selesai menata baju, Aska mengajak Maria keluar. Lalu mereka memutuskan untuk sarapan pagi. Mereka tidak mengeluarkan suara apapun kecuali dentingan sendok. Setelah sarapan, mereka berpindah ke ruangan kerja. Mereka berdiskusi lagi dan memantapkan rencana Aska untuk mengambil dokumen.


"Kok perasaanku nggak enak ya Bu?" tanya Maria kepada Christina.


"Perasaan Ibu juga nggak enak. Ibu baru tahu dari ayahmu. Kalau Jamaludin sudah memblokade seluruh bandara yang berada di Prancis. Seandainya mereka masuk, mereka tidak akan bisa mengurusi semuanya. Jujur aku sangat gelisah sekali," jawab Christina yang membuat Maria sendu.


"Bagaimana Bang Aska mengambil dokumen itu? Dokumen itu sangat penting bagi kelangsungan Wicaksono Group," tanya Maria sambil menatap wajah Christina.


"Kita tunggu keputusan dari ayahmu. Jamaludin tidak boleh melakukan hal ini kepada para penumpang pesawat. Kemungkinan besar ayahmu akan menghentikan perjalanan Aska untuk sementara waktu," jawab Christina.


Kedua wanita berbeda generasi itu sangat bingung menghadapi Jamaludin. Semakin lama Jamaludin tingkahnya semakin kurang ajar. Dengan memakai kekuasaan sebagai mafia, Jamaludin seenaknya memblokade seluruh pintu masuk bandara.


Sedangkan Frank Adrian dan Aska sedang berdiskusi dengan serius. Aska sangat terkejut sekali mendengar Jamaludin memblokade bandara. Ia tidak habis pikir kenapa Jamaludin semakin tak tentu arah.


"Aku tidak bisa ke sana yah," celetuk Aska.


"Ayah juga berpikiran seperti itu. Namamu sudah di blacklist sama Jamaludin. Jadi kamu nggak bisa masuk seenaknya ke sana," jelas Adrian.


"Aku harus bagaimana? Biar bisa mengambil dokumen itu," tanya Aska.


"Untuk sementara mata-mataku masih memantau keberadaan Jamaludin. Semoga saja mata-mataku bisa mendapatkan jawaban baik," jawab Adrian sambil menghibur Aska.


"Saranku adalah lebih baik kalian terbang ke Berlin Jerman. Lalu kalian memakai kereta cepat untuk menuju ke Paris. Jarak tempuh Berlin ke Paris kurang lebih tujug jam. Aku yakin kalian bisa masuk ke sana tanpa harus melakukan perlawanan dari Jamaludin," saran Frank untuk Aska.


"Kalau begitu biar aku saja yang ke sana. Aku akan melaporkan Jamaludin ke atasanku. Ini tidak bisa dibiarkan. Atasanku harus tahu. Kalau Jamaludin sudah bertindak di luar batasan!" kesal Adrian yang tidak mengizinkan Jamaludin memblokade bandara.


"Itu ide sangat bagus. Kalau begitu kalian pergilah ke sana. Biar kami yang menjaga para wanita di sini," ucap Frank.


"Apakah kamu tidak memiliki pekerjaan lain?" tanya Adrian sambil menatap wajah Frank.

__ADS_1


__ADS_2