
Aska langsung memegang perutnya dan meledakkan tawanya. Melihat sang istri kesal, Aska sangat bahagia sekali. Jujur baru kali ini Aska menggoda perempuan dengan over. Dahulu dirinya tidak pernah menggoda perempuan sekalipun. Jika ada wanita cantik lewat, Aska memilih diam dan membuang wajahnya. Padahal saat itu Aska bersama teman-temannya sedang berjaga di poskamling.
Cup.
Sebuah bibir mungil menancap di bibir Aska. Aska yang tertawa menjadi linglung seketika. Namun hatinya bersorak kegirangan.
Sedangkan Maria wajahnya bersama memerah. Bagaimana tidak dirinya mencuri kesempatan lebih dahulu ketimbang Aska. Jujur Maria sangat malu dan ingin menguburkan wajahnya itu ke dalam tanah.
Setelah dicium dengan mendadak, Aska menarik tubuh mungil Maria dan memeluknya. Ada rasa bahagia di dalam hatinya. Ia sangat bersyukur memiliki seorang Istri yang baik.
"Aku mohon... Jangan pernah meninggalkanku. Aku butuh kamu di saat lelah menderaku. Jadilah wanitaku yang setia di sisiku," pinta Aska.
"Kamu juga jangan mengingkari janjimu. Jika kamu sudah berhasil membawa Wicaksono ke atas lagi. Jangan pernah sekali-sekali tertarik pada wanita lain. Karena akulah perempuan yang selalu berada di sisimu di saat susah payah seperti ini," sahut Maria yang meminta Aska untuk menjadi pria setia.
"Kita harus menanam pohon kesetiaan hingga tinggi. Ditambah lagi pohon kepercayaan. Kedua tembok inilah yang bisa membuat kita menjadi pasangan yang setia hingga akhir hayat," ucap Aska yang mendapatkan persetujuan dari Maria.
Selama satu jam mereka berpelukan dan tidak merubah posisinya. Ada kesan yang hangat di dalam hatinya.
"Lepaskan aku," pinta Maria jangan memberontak agar Aska melepaskannya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Aska.
"Lihatlah kamarku masih berantakan seperti ini. Aku harus membereskan semuanya. Agar kamu nyaman untuk menyambut mimpimu itu," jawab Maria yang akhirnya Aska melepaskannya.
__ADS_1
Melihat kamarnya berantakan, Aska membantu Maria untuk membereskannya. Pekerjaan ini membuat Aska sudah terbiasa. Bahkan pekerjaan seperti ini Aska sering melakukannya.
"Kamu sama Ibu ngapain saja?" Tanya Aska yang masih membantu membersihkan pakaian itu.
"Kami bercerita satu sama lain. Ternyata Ibu sangat hangat menjadi wanita biasa. Di dalam perusahaan Ibu adalah wanita yang sangat tegas. Namun hatinya sangat rapuh sekali," jawab Maria yang menilai Christina dengan jujur.
"Kamu benar. Banyak sekali orang-orang yang ingin melemahkan hati ibu. Bahkan mereka berusaha menjilat agar mendapatkan kedudukan mentereng di perusahaan tersebut. Cepat atau lambat aku akan merubah sistem di perusahaan itu. Jika ada orang yang menolaknya. Boleh keluar dari perusahaan Itu," ucap Aska yang mengambil keputusan.
"Aku pun mereka rata-rata pernah melakukan kesalahan fatal di perusahaan tersebut. Aku sama Mario sudah mengetahuinya. Tapi kami tidak berhak memecat mereka. Karena kekuasaan tertinggi adalah para pemegang saham," ujar Maria yang menyetujui keputusan Aska.
"Jadi akulah orang yang memegang saham terbesar di perusahaan itu. Sebelum aku duduk di kursi CEO. Aku akan merombak besar-besaran," sahut Aska.
Jujur Maria sangat terkejut sekali mendengar pernyataan Aska. Memang benar apa yang dikatakan oleh Christina sebelum menemukan Aska. Christina berbicara secara blak-blakan akan memberikan saham sebesar enam puluh persen kepadanya. Namun Maria sempat mencoba menghentikannya.
"Kalau dijual berapa ya sahamnya aku punya? Kemungkinan besar aku bisa memiliki pulau pribadi dan jet pribadi," ucap Aska yang sedikit bercanda.
"Kamu sudah memiliki semuanya. Jet pribadimu saja sangat mewah sekali. Aku belum melihatnya secara langsung. Tapi ibu membelikannya untukmu ketika kamu kembali di dalam pelukannya," ujar Maria.
"Ternyata aku Sultan. Rasanya aku bingung menjadi Sultan dadakan seperti ini," keluh Aska.
Maria terkekeh mendengar keluhan Aska. Memang benar apa yang dikatakan oleh Maria. Sang Ibu sudah mengaturnya sedemikian rupa. Diam-diam sang Ibu ingin memanjakannya dengan aset yang dimilikinya. Namun Aska tidak ingin gelap mata. Aska ingin menjadi pribadi yang baik. Yang tidak sombong dan mau bergaul dengan siapapun tanpa harus mengenal kasta.
"Kamu itu dikasih yang enak kok malah mengeluh. Abang ini sangat lucu sekali," kata Maria sambil menumpuk bajunya itu.
__ADS_1
"Bukannya aku nggak mau. Kamu tahu kan kalau diriku ini terkejut dengan apa yang kamu katakan. Sebenarnya aku tidak memerlukan barang-barang mewah seperti itu. Aku bisa pergi ke negara lain dengan pesawat komersil," jawab Aska.
"Tidak. Sepertinya Ibu ingin mempermudah urusan kamu di sini. Jika kamu tidak memiliki jet pribadi. Kamu susah ke mana-mana. Apalagi para kolega kita berasal dari luar negeri. Kita bisa mengadakan rapat di negaranya. Jika Abang memakai pesawat komersil. Akan membuang waktu dengan percuma," Maria menjelaskan apa maksud sang ibu kepada Aska.
"Benar juga apa yang kamu katakan. Sepertinya aku harus menerimanya. Tapi tak apa Kita juga bisa memakainya untuk liburan," sahut Aska.
"Itu semuanya terserah kamu," balas Maria.
Setelah selesai membereskan pakaian Maria, sepasang suami istri muda itu keluar dari kamar. Lalu mereka melihat Adrian dan Christina yang masih beradegan mesra. Dengan cepat akan menarik sang istri keluar dari zona aman mereka.
"Sepertinya kita tidak perlu melihat hal-hal itu," bisik Azka yang mengajak Maria pergi ke outdoor.
Maria tersenyum manis melihat ibu mertuanya sangat mencintai Ayah mertuanya itu. Maria berterima kasih kepada Tuhan karena telah menyatukan mereka berdua. Setelah sampai di outdoor, Maria menatap matahari yang akan terbenam.
"Aku ingin pergi ke pantai untuk melihat matahari terbit dan terbenam. Rasanya itu sangat indah sekali," ucap Maria.
"Tunggulah berapa bulan kemudian. Aku akan merebut Wicaksono dari tangan Jamaludin. Setelah berhasil kita akan pergi ke pantai. Maafkan Aku. Karena aku telah membuat rencana ini secara mendadak. Sungguh aku tidak mau membuat kamu kecewa. Tapi mau bagaimana lagi. Nyawa kamu juga terancam," jelas ada yang memberitahukan rencana rahasianya itu.
"Kenapa nyawaku terancam seperti ini?" tanya Maria yang tidak paham.
"Karena kamu sudah menjadi bagian keluarga Wicaksono. Aku tidak mau Rumah tanggaku seperti ibuku. Mereka sengaja memisahkan aku dengan kedua orang tuaku. Agar aku tidak menjadi ahli waris di Wicaksono. Itulah kenapa aku harus melakukannya. Aku harap kamu mengerti apa yang telah terjadi selama ini," jelas Aska sambil mendekati Maria dan memeluknya dengan erat.
Teringat cerita masa lalu Christina, jantung Maria berdetak dengan kencang. Maria pun sama dan tidak mau merasakan hal pahit itu terjadi. Ia memejamkan matanya sambil menikmati hembusan nafas Aska. Setelah itu Maria berkata, "Kalau kamu ingin menyelesaikan masalah itu. Aku akan mendukungmu dengan sepenuh hati. Aku juga tidak mau jika keluargaku berantakan seperti keluarga ibu. Aku akan berada di sisimu.''
__ADS_1
''Benarkah itu?" tanya Aska yang tiba-tiba saja mendapatkan dukungan dari sang istri.