Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Benjamin Kabur.


__ADS_3

"Kenapa kamu sangat kesal sama aku? Bukankah sangat jelas kalau kamu ketahuan sedang membuat laporan dengan seseorang bahwa gudang yang berada di Karawang itu digerebek oleh polisi?" tanya Aska sambil menatap tajam Sony.


"Apakah itu benar Aska? Ceritakanlah pada Ibu soal itu," perintah Christina.


"Ya itu benar Bu. Kami memergoki Sony membuat laporan kepada seseorang di telepon kalau gudang sedang digerebek oleh polisi," ucap Aska dengan jujur.


"Oh cerita yang kemarin. Ya Ibu tahu. Terima kasih kamu sudah cerita. Jika kamu tidak cerita apa-apa terhadap ibu. Kemungkinan besar Ibu tidak akan tahu tentang pegawai satu ini," tegas Christina.


"Biarkanlah aku yang memutuskannya. Sony... Kita dulu memang berteman. Tapi tidak pernah akrab sama sekali. Kamu sering mengejek aku di sekolah maupun di kampung. Aku memakluminya sebab status kita berbeda. Tapi sekarang status kita sama. Kamu adalah anak juragan sapi dan aku adalah anak pemilik perusahaan ini," ucap Aska dengan jujur yang membuat Sony terkejut.


Jujur saja Sony baru mengetahui kalau Aska adalah putra dari Christina. Tubuhnya tiba-tiba saja lemas. Keringat dingin tiba-tiba saja mengucur deras dari kulitnya dirinya tidak menyangka bahwa taman sekolahnya dulu yang miskin adalah putra dari anak bosnya itu. Ia tidak tahu apalagi untuk saat ini. Karena ia tahu jika ketahuan melakukan kecurangan di Aska akan mendapatkan tiket masuk ke hotel prodeo dalam jangka waktu yang lama.


Dulu memang sering sekali ada yang melakukan kecurangan-keterangan seperti ini. Dengan adanya Romeo, kecurangan seperti ini bisa diatasinya. Akan tetapi Aska juga melakukan jejak Romeo. Dirinya juga tidak segan-sekian memasukkan orang yang melakukan kecurangan ke dalam penjara.


"Bukankah kamu sudah mengetahui kalau orang melakukan kecurangan di suatu perusahaan akan mendapatkan hukuman yang setimpal?" tanya Romeo yang baru saja datang dengan membawa sekelompok polisi.


Sore itu Sony pikir hanya gertakan saja. Aksi untuk menghubungi seseorang tidak akan dilaporkan ke kepemimpinan perusahaan ini. Namun Romeo dan Aska sudah melaporkannya ke Christina. Sony berharap itu tidak akan terjadi.


"Kamu pikir hanya kerjakan saja pada sore itu ya? Kamu pikir kita nggak bisa lapor kepada sang pemilik perusahaan ini? Mentang-mentang kamu seorang divisi dua pemasaran yang fokus pada makanan kaleng, seenaknya saja bisa menjual makanan kaleng itu ke luar negeri tanpa seizin Nyonya Christina. Dengan kata lain kamu menjualnya keluar uangnya tidak masuk ke dalam kas perusahaan. Semua bukti sudah mengarah kepadamu. Ditambah lagi dengan siapa kamu bekerja sama? Orang yang sudah kamu anggap kerjasama itu adalah buronan interpol. Sebentar lagi aku yang mengejar buronan itu dan menyerahkannya ke polisi negara Italia. Apakah kamu mengerti akan hal itu Sony?" tanya Aska lagi sambil menjelaskan siapa Benjamin sebenarnya.


"Kamu nggak usah ngomong aja sudah ketahuan. Meskipun aku anak desa yang tidak mengerti teknologi, aku bisa mengetahui apa yang berada di ponselmu itu. Jika kamu ingin menuntutku terserah. Tapi aku harus melakukannya karena untuk mengambil banyak bukti dalam dirimu. Kamu resmi dipecat dari perusahaan ini tanpa pesangon apapun. Karena uang pasangan itu untuk membayar kerugian perusahaan. Bahkan uang itu tidak cukup membayar sisanya. Sebagai gantinya kamu mendekam dalam penjara. Oh iya... Aku lupa sesuatu. Jika orang tuamu tidak terima dan masuk penjara. Suruh datang ke perusahaan ini. Aku tahu nanti kamu akan memutar balikan fakta di depan kedua orang tuamu. Aku tunggu kedatangan mereka," tambah Aska.

__ADS_1


"Apakah Tuan sudah selesai?" tanya Romeo dengan hormat.


"Sudah selesai semuanya. Bawa tikus ini ke dalam penjara!" perintah Aska.


"Baiklah," balas Romeo sambil menatap ke arah polisi. "Pak! Bahwa segera ke dalam penjara."


beberapa orang dari kepolisian itu menganggukkan kepalanya sambil mendekati Sony. Mereka langsung menangkap Sony untuk dimasukkan ke dalam penjara.


Para polisi itu berpamitan undur diri dari hadapan Aska dan lainnya. Setelah mereka pergi, Aska mengaku lega. Langkah selanjutnya adalah menangkap Benjamin. Pria muda itu menatap wajah sang ayah dengan serius. Merasa ditatap seperti itu Adrian melihat Aska dan menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu kita berangkat ke tempat di mana Benjamin berada. Setelah itu ayah akan pergi ke Italia untuk menyerahkan Benjamin," ucap Adrian.


"Ya. Kamu di sini saja karena hari pernikahanmu tinggal seminggu lagi," jawab Adrian dengan jujur.


"Mau tidak mau aku harus ikut yah. Kemungkinan besar Benjamin akan melakukan hal yang gila terhadap ayah," ucap Aska yang memiliki firasat tidak enak pada Adrian.


"Lalu, bagaimana dengan pernikahanmu itu?" tanya Adrian.


"Aku hanya mengawal ayah saja. Aku sudah mengetahui sepak terjang Benjamin. Benjamin adalah sosok pria yang sangat kejam sekali," jawab Aska yang paham dengan sepak terjang Benjamin.


Beberapa saat kemudian ponsel Romeo berdering. Romeo segera mengangkat ponselnya dengan wajah terkejut. Kemudian Romeo mematikan ponselnya sambil menatap wajah Aska, "Kita tidak bisa menangkap Benjamin. Benjamin telah kabur ke negara Amerika. Para kepolisian dari Italia sudah sampai di sini. Mereka memburu Benjamin dua bulan yang lalu."

__ADS_1


"Apa itu benar?" tanya Adrian.


"Ya tuan. Beberapa mata-mata yang sudah aku terjunkan mengatakan seperti itu. Benjamin sudah pergi dari negara ini dini hari. Jadi kita tidak bisa menangkapnya begitu saja," jawab dong yang membuat Aska menganggukkan kepalanya.


"Apakah Benjamin adalah mafioso?" tanya Aska.


"Ya itu benar. Benjamin adalah seorang mafia yang menjual para gadis di bawah umur. Organisasinya cukup terkenal di daerah Eropa. Setiap orang yang ingin gadis dibawah umur dan masih segel. Mereka memintanya ke sana. Bisa dikatakan mereka adalah jual beli gadis di bawah umur yang disebut dengan human trafficking," jawab Adrian dengan jelas.


"Sungguh ini sangat parah sekali. Bisa-bisa gadis di negara ini dijual ke Eropa. Sungguh ini sangat miris sekali," ucap Christina yang dari tadi hanya diam saja.


"Di sini Benjamin tidak melakukan apa-apa. Malahan Benjamin serius bekerja sama dengan para karyawan perusahaan Aska. Sepertinya Benjamin memiliki bos yang melobinya. Bisa dikatakan Benjamin itu sangat bersih melakukan pekerjaannya. Tapi yang perlu diingat kita harus berhati-hati untuk menjalani hari selanjutnya. Ada musuh utama kita yang belum ketahuan," imbuh Romeo.


"Setelah menikah aku tidak akan duduk di kursi itu," tunjuk Aska ke kursi milik Christina.


"Kenapa kamu tidak ingin duduk di kursi itu?" tanya Christina.


"Karena aku ingin merombak beberapa manajer yang berhubungan dengan Benjamin. Bisa dikatakan Aku adalah seorang pemegang saham terbesar di sini," jawab Aska.


"Jadi kamu masih ingin memencat mereka?" tanya Adrian dengan sungguh-sungguh.


"Iya," jawab Aska dengan serius. "Aku harus melakukannya. Karena ini sangat penting bagi perusahaan untuk masa depan. Oh iya Bu. Ibu masih duduk di kursi itu untuk sementara. Kapan rapat pemegang saham akan dilakukan?"

__ADS_1


__ADS_2