
"Kemungkinan aku tidak akan melakukannya. Yang aku pikirkan sekarang adalah mendidik anak-anakmu menjadi orang sukses. Tapi kamu harus ikut mendidiknya juga," jawab Maria.
"Wah... Kamu adalah calon ibu yang baik. Aku harap kita bisa mendidiknya bersama-sama. Okelah aku yang akan membikin planning buat kamu," ujar Aska.
Maria pun tersenyum melihat Aska. Entah kenapa dirinya tiba-tiba menjadi wanita dewasa. Aska juga sama. Aska sudah membayangkan bagaimana masa depan putra-putrinya itu.
"Sebelum kita memiliki anak. Lebih baik kita pacaran terlebih dahulu. Aku belum merasakan pacaran sama sekali," ucap Aska yang membuka pintu lalu keluar dari kamar.
Blush.
Wajah Maria memerah kembali. Bagaimana bisa dirinya terbuai dengan ucapan Aska? Ingin rasanya Maria menghilang dari hadapan Aska.
"Neng," panggil Aska.
"Iya bang," sahut Maria.
"Kamu di sini saja apa ikut sama aku? Aku ingin belanja," tanya Aska.
"Aku ikut," jawab Maria.
"Ayolah... Jangan lama-lama di dalam kamar," ajak Aska.
Di dalam basement, Frank dan Max masih berada di dalam mobil. Sebelum keluar mereka mendapatkan informasi, kalau pengawal Jamaludin sudah menyebar di apartemen yang ditempati oleh Aska. Untung saja pagi ini sudah ke sini. Jika tidak Frank akan sangat bersalah sekali. Lalu Frank menatap Max.
"Apakah kamu sudah meretas CCTV di apartemen ini?" tanya Frank.
"Aku sudah meretasnya. Kelompoknya Jamaludin sudah menyebar dan sebagian dari mereka tinggal di apartemen ini. Mereka hanya menunggu perintah untuk mengeksekusi Tuan Aska," jawab Max.
"Baiklah. Siapkan heli agar mendarat di gedung ini. Aku tidak bisa membiarkan mereka hidup di sini lebih lama. Cepat atau lambat mereka akan menghabisi Aska. Berapa pengawal yang kita punya?" tanya Frank.
"Maksud Tuan apa?" tanya Max balik.
__ADS_1
"Maksudku berapa pengawal yang kita bawa?" tanya Frank lagi.
"Kita hanya membawa pengawal dua ratus orang," jawab Max.
"Kalau begitu hubungi beberapa orang untuk menetralisir daerah ini. Aku ingin mengambil Aska dan Maria!" perintah Frank.
Dengan cepat Max menghubungi seseorang untuk menetralisir tempat ini. Frank tidak mau ada baku hantam di apartemen ini. Jika ada Frank tidak mau masalah ini terekspos hingga keluar. Jujur Frank sangat kesal sekali kepada mereka.
Setelah selesai menghubungi para pengawalnya, Frank mengajak Max pergi ke unit apartemen milik Christina. Dengan santainya Frank berjalan dan mengetahui pengawal Jamaludin yang sedang menyamar.
"Angka jam satu. Orang yang sedang bersih-bersih itu bukan office boy di hotel ini," ucap Frank dengan serius.
Max sangat terkejut sekali dengan pengakuan Frank. Bisa-bisanya pria tua itu mendeteksi para musuh hanya dengan melihat. Jujur baru kali ini Max turun mengikuti tuannya mengamankan Aska.
Dulu Max sering berada di markas maupun di kantor. Pria itu hanya mengamankan teknologi untuk perusahaan dan markas. Sekarang dirinya benar-benar terjun bersama Frank.
"Sepertinya kamu harus mengasah kemampuan untuk bisa membedakan mana musuh mana orang biasa. Aku mempelajari ilmu itu berasal dari Adrian ketika masuk ke dalam pasukan khusus. Makanya aku tidak pernah salah jika menebak musuh. Aku harap kamu mengerti dengan saranku ini!" perintah Frank.
Ketika membuka pintu Aska terkejut dengan kedatangan Frank dan Max. Aska menyuruhnya masuk dan menutup pintu.
"Ada apa kalian ke sini? Ini masih pagi," tanya Aska.
"Kemasi barangmu! Bawa baju secukupnya! Aku akan mengajak kalian ke Singapura!" perintah Frank.
"Ngapain kita ke sana? Bagaimana dengan perusahaan Aska?" tanya Aska dengan serius.
"kamu harus meninggalkan negara ini siang ini juga! Seluruh pengawal Jamaluddin sudah menyebar ke apartemen ini. Cepat atau lambat mereka akan menyerangmu. Firasat ku mengatakan hari ini mereka akan menyerangmu!" perintah Frank yang membuat Aska terkejut.
"Apa-apaan ini! Kenapa mereka ingin menyerangku?" tanya Aska dengan tegas.
"Beresin saja bajumu. Oh ya... Beberapa pengawalku sudah mengawal ibu mertuamu. Mereka tidak akan menyentuhnya. Sekarang bereskan semua pakaianmu!" perintah Frank yang tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi tegas.
__ADS_1
Mau tidak mau Aska mengalah. Lalu Aska masuk dan memberitahukan kepada Maria untuk segera mengepak pakaian. Sontak saja Maria terkejut. Gadis berparas cantik itu akhirnya menuruti Aska. Ia segera mengambil beberapa potong pakaian dan dimasukkan ke dalam koper kecil.
"Memangnya ada apa sih?" tanya Maria.
"Maaf... Aku harus mengatakan ini semuanya. Hidupku berada di ambang kematian. Jamaludin sudah menyebarkan pengawalnya dan untuk memburuku. Jika aku tidak melepaskan Wicaksono group. Jamaludin akan membunuhku," jawab Aska dengan jujur.
"Apakah itu benar?" tanya Maria yang merasakan perasaan tidak enak.
"Itu benar. Jamaludin akan melakukan segala cara agar aku mati. Sekarang sudah jelaskan apa yang aku minta?" ungkap Aska dengan penuh kesedihan.
"Aku sudah mulai geram sama yang namanya Jamaludin. Sebelum menikah denganmu Jamaludin sudah meneror ibu. Dia memang sengaja melakukannya agar ibu mundur dari kursi Wicaksono," ucap Maria.
"Berarti kamu tahu semua tentang masalah keluargaku ini?" tanya Aska.
"Ya aku sudah mengetahuinya. Ibu sudah menceritakan itu semuanya kepadaku. Aku sangat terkejut dan membayangkan bagaimana nasibmu di kebun saat itu. Tapi aku bersyukur. Karena kamu bisa selamat. Dan sekarang mereka mengejarmu," jawab Maria. "Kalau kita pergi dari sini. Bagaimana dengan perusahaan Aska?"
"Kemungkinan besar ibu akan menyusul ke sana. Nanti aku tanya sama paman," jawab Aska yang membantu Maria mengepak barang.
Selesainya mengepak barang mereka akhirnya pergi keluar dan menemui Frank. Frank pun tersenyum dan mengajak mereka ke atas gedung ini. Maria bingung dengan pria paruh baya itu. Siapakah dia sebenarnya? Lalu apa tujuannya? Maria sudah berpikiran macam-macam. Maria tidak nyaman dekat dengan pria itu.
Aska yang mengetahui istrinya tidak nyaman lalu mendekatinya. Dengan cepat Aska memegang lengan Maria sambil berkata, "Tenangkanlah dirimu. Pria itu adalah pria baik. Beliau tidak akan membunuhku."
Mendengar kata beliau, Maria mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa Aska memanggil pria itu dengan sebutan beliau? Seharusnya Aska memanggil pria itu dengan sebutan nama. Lalu Aska paham dengan perubahan istrinya itu. Ingin bercerita namun niatnya itu diurungkan. Hingga akhirnya mereka sampai di atas dan melihat heli sudah mendarat.
"Masuklah ke dalam!" teriak Frank.
Dengan terpaksa Aska dan Maria masuk ke dalam. Hari itu juga mereka terbang ke bandara dan meninggalkan Indonesia. Mereka tidak tahu akan terbang ke mana. Setelah mereka terbang apartemen Christina diserang. Para pengawal Jamaludin masuk dengan paksa dan menghancurkan isi apartemen itu.
Kuala Lumpur Malaysia.
Ketika sedang check in, Adrian mendapatkan berita kalau apartemennya diserang oleh orang tidak dikenal. Adrian mendapatkan berita itu dari Max melalui email. Wajahnya mulai memerah karena marah. Namun di samping itu Adrian mendapatkan berita bagus. Sang putra selamat dari serangan itu.
__ADS_1
"Apakah sudah selesai semuanya?" tanya Adrian.