Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Balas Dendam Dengan Indah.


__ADS_3

"Ada semuanya ada di sebuah berkas," jawab Romeo.


"Tapi seharusnya kita memakai cara manual. Kalau cara seperti ini aku pastikan surat itu bisa diubah," ucap Aska yang memiliki firasat. "Tapi nanti saja setelah jam kantor berakhir."


"Oke tuan," balas mereka secara serempak.


Selesai jam makan siang selesai karyawan masuk ke dalam kantor. Mereka langsung memulai aktifitasnya kembali. Sementara Aska memutuskan untuk pergi ke ruangan Romeo. Di sana Aska memutuskan untuk belajar mulai dari nol agar bisa mengenal perusahaannya.


Jam pulang pun tiba. Aska melihat jam di dinding hanya bisa mengulas senyum. Dirinya seakan tidak rela untuk menimba ilmu di perusahaan tersebut. Ingin rasanya Aska belajar lebih lama lagi.


Sang asisten melihat Tuan mudanya itu mengacungkan jempolnya. Bagaimana tidak usia seperti itu memiliki semangat untuk mencari ilmu? Kemudian Romeo menyarankan agar Tuan mudanya itu kuliah melalui online saja. Romeo memintanya agar tidak pergi ke kampus. Namun Aska memikirkan terlebih dahulu.


"Aku tidak rela jika jam kerjaku habis. Aku masih perlu banyak belajar tentang perusahaan ini. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Aska yang melihat Romeo tersenyum.


"Sepertinya tuan muda memiliki semangat yang membara. Kalau begitu kita berhenti saja belajarnya hari ini. Kita lanjutkan saja besok. Karena tuan muda harus mempelajari semuanya. Oh ya... Apakah Tuan Muda mau makan sore?" tanya Romeo.


"Sepertinya aku harus turun ke bawah. Karena aku ingin mencari suasana baru," jawab Aska. "Jam berapa waktu lembur tiba?"


"Jam umumnya adalah setelah maghrib. Tapi terserah tuan muda saja. Kami hanya menuruti keinginan tuan muda."


"Bisakah kamu tidak memanggilku tuan muda di saat seperti ini? Aku sangat jengah ketika mendengar Kamu memanggilku tuan muda," kesal Aska.


"Tapi aku harus melakukannya tuan. Karena anda adalah atasan saya. Saya nggak bisa seenaknya memanggil tuan muda dengan nama Aska," ujar Romeo.


"Kalau aku memberikan perintah, apakah kamu mau menurutinya?" tanya Aska mulai beranjak berdiri.


"Apa itu Tuan? Saya akan menerimanya dengan senang hati," jawab Romeo.


"Tolong jangan panggil aku Tuan Muda jika seperti ini. Anggaplah Aku adalah teman kamu sendiri. Jika kamu melanggarnya aku yang akan memberikan kamu surat peringatan pertama kedua ketiga dan akhirnya keluar dari ruangan ini," kesal Aska yang membuat Romeo terkejut.


"Baiklah. Saya akan belajar memanggil anda dengan sebutan Aska saja," sahut Romeo.


"Begitu juga di muka umum. Aku tidak ingin kamu manggil aku Tuan Muda. Aku akan menutupi jati diriku yang sebenarnya. Karena aku tahu kalau semua orang itu adalah penjilat. Apakah kamu paham semua itu?" perintah Aska.


"Baiklah," balas Romeo.

__ADS_1


Lalu Aska mengajak Romeo keluar dari ruangan itu. Aska memang sengaja akan menutup jati dirinya sebenarnya. Jika semua orang tahu kalau dirinya adalah ahli waris sesungguhnya di Wicaksono Group, maka mereka akan mencari muka untuk mendapat kedudukan tinggi di perusahaan itu. Contohnya saja sudah ketahuan yaitu Sang resepsionis.


Meskipun Aska tidak melihatnya. Namun Aska bisa merasakan kalau Cici akan mendekatinya. Ia akan mencari cara agar si Cici tidak akan mendekatinya dan menjadikannya pacar lagi.


"Maafkanlah aku tuan. Jika saya memakai Aku dan Kamu," ucap Romeo sambil meminta izin untuk memanggil tuannya kamu.


"Nggak apa-apa. Lebih baik begitu. Aku memang sengaja menyuruhmu memanggil seperti itu. Biarkan semua orang tahu jika aku adalah si tukang buah. Cepat atau lambat aku akan menemukan orang-orang yang pernah menindasku ketika berada di desa. Jika mereka tahu mereka menjilat ludahnya dan mendekatiku hanya untuk kepentingan pribadinya sendiri. Aku harap kamu paham semuanya," jelas Aska yang meninggalkan ruangan itu lalu diikuti dengan Romeo.


Setelah Aska meyakinkan Romeo untuk memanggilnya tidak memakai tuan muda. Aska mengajaknya keluar dari gedung. Ia akan mencari ide untuk menjebak para pegawai yang bekerja di perusahaan itu.


Aska merasakan sesuatu ada yang tidak beres dengan perusahaannya itu. Mau tidak mau dirinya akan membersihkan satu persatu orang-orang yang ingin menghancurkan sang ibu. Kemungkinan besar Aska memiliki firasat kalau mereka bekerja sama dengan Benjamin.


Ketika melewati ruang sekretaris, Aska mendengar percakapan telepon dari sang sekretaris itu. Terdengar jelas kalau sang sekretaris berkata tentang surat perjanjian itu. Aska yang mempunyai pendengaran tajam langsung jantungnya berdetak kencang.


Ternyata oh ternyata sang sekretaris itu ternyata bekerja dengan pihak luar. Aska tidak habis pikir dengan sang sekretaris itu. Bukannya membantu pekerjaan Christina malahan sang sekretaris itu berkhianat.


Kemudian mereka memutuskan untuk turun ke dalam perjalanannya Aska sudah mengincar sang sekretaris itu. Tanpa banyak bicara Romeo mengetahui Aska sedang menyusun sebuah rencana. Dirinya tahu kalau sang Tuan mudanya itu akan melakukan hal yang kejam.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Romeo dengan sungkan.


"Siap bro," balas Romeo sambil tersenyum.


Sesampainya di luar Aska dan Romeo melihat orang-orang sedang keluar dari lobi. Memang jam segini adalah jam waktunya pulang. Aska memandangi beberapa orang yang menurutnya adalah seorang penghianat perusahaan.


Sedangkan Romeo bingung dengan kegiatan Aska. Melihat sang Tuan mudanya serius Romeo tidak mengganggunya sama sekali. Malahan Romeo mengalihkan perhatiannya ke arah layar ponsel.


"Apakah kamu tidak bertanya, Kalau aku lagi sedang ngapain?" tanya Aska yang membuat teka-teki untuk Romeo.


"Bentar aku jawab," jawab Romeo. "Kamu sedang menghitung orang-orang yang pergi dari perusahaan ini."


"Itu salah besar. Aku sedang menandai orang-orang yang diam-diam berkhianat dengan cara hanya memandangnya saja. Aku sering melakukan ini ketika berada di kebun. Dan itu semuanya terbukti," bisik Aska.


"Apakah itu benar?" tanya Romeo.


"Ya itu benar. Bahkan kamu sendiri juga tidak tahu. Mana kawan mana lawan di dalam satu perusahaan ini," jawab Aska yang membuat Romeo benar-benar tidak paham soal itu.

__ADS_1


"Dari mana kamu belajar ilmu seperti itu?" tanya Romeo lagi.


"Aku sering mengasah kepekaan dalam diriku ini. Kalau nggak salah aku mau mulainya saat usia sepuluh tahun. Lalu aku mencoba untuk mencari orang-orang yang berkhianat di kebunnya Pak Broto. Dan kamu tahu aku menemukan beberapa orang yang ingin membuat Pak Broto jatuh. Di sisi lain aku sengaja mengumpulkan bukti-bukti yang ada. Itu semuanya terbukti jelas. Mereka tidak bisa mengelak lagi. Terpaksa Pak Broto memasukkannya ke dalam penjara," jelas Aska.


Romeo menganggukkan kepalanya sambil menguji kehebatan atasannya itu. Hanya melihatnya saja sang atasan sudah mengetahui orang-orang yang mana saja berkhianat. Yang lebih parahnya lagi Aska sudah mengelompokkan satu persatu orang itu.


"Jadi bagaimana? Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Romeo.


"Tunggu tanggal mainnya. Kita tidak boleh gegabah untuk menuduhnya jika tidak ada bukti-bukti yang ada. Kalau kita sudah memiliki bukti. Kita bisa melakukan tindakan tegas dan terukur," jawab Aska.


Setelah para karyawan itu pergi, Aska tidak sengaja melihat Maria sedang bertemu dengan pria. Lalu Aska melihatnya sambil bertanya, "Siapa pria itu yang bersama dengan Maria?"


"Oh itu... Namanya Haryadi. Pria itu adalah tunangannya Maria. Tapi pihak keluarganya tidak mau sama Haryadi. Karena Haryadi sering jalan sama wanita lain. Bahkan hampir setiap hari. Yang lebih menyakitkan lagi Haryadi diam-diam tidur bersama mereka. Itulah calon suami Maria," jelas Romeo.


"Mau berkata apa lagi ya aku. Sepertinya orang itu tidak baik untuk Maria. Apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan Maria?" tanya Aska.


"Nyonya sudah memperingatkan Maria untuk tidak bersama pria itu. Nyonya sudah mengetahui semuanya. Yang lebih parahnya lagi calon tunangannya itu adalah simpanan tante-tante girang," jawab Romeo yang membuat Aska bergidik ngeri.


"Apakah kamu serius mengatakan itu semuanya kepadaku?" tanya Aska.


"Itu benar. Aku juga pernah memergokinya. Bahkan yang lebih parahnya lagi calon suaminya itu sering digilir," jawab Romeo sambil menggelengkan kepalanya.


Semakin lama Aska mendengar pertengkaran antara Maria dan calon suaminya itu. Yang lebih parahnya lagi sang calon suaminya itu memaki Maria dengan memakai nama-nama penghuni kebun binatang.


Mata Aska membulat sempurna. Bagaimana tidak pria yang kelihatannya baik-baik ternyata antagonis.


"Lu itu Ya sudah gue bilangin kalau semua berita itu tidak benar!" bentak Haryadi dengan nada meninggi.


"Aku tidak bisa mengecek berita kebenarannya itu. Karena aku sedang sibuk di perusahaan ini. Tolong jangan buat aku seperti ini," ucap Maria dengan nada lemah.


"Gue yakin lo tidur sama pria lain! Lu sering jalan sama pria lain! Semuanya sudah ada buktinya! Dan buktinya itu ada di tangan gue! Ternyata diam-diam lo melakukan penghianatan!" geram Haryadi.


"Jangan katakan seperti itu! Aku nggak pernah melakukannya! Setiap malam aku selalu pulang ke rumah! Jika tidak pulang ke rumah aku tidur di rumah Nyonya Christina! Apakah kamu paham tentang aku?" tanya Maria sambil berteriak frustrasi.


"Gue nggak percaya soal itu! Sudah gue bilangin, Kalau gue punya buktinya. Foto-foto yang dikirimkan oleh seseorang menandakan bahwa Lo adalah cewek dengan harga murah!" bentaknya lagi.

__ADS_1


"Lalu kamu apa?" tanya Maria sambil menahan air matanya keluar.


__ADS_2