
"Aku tidak memiliki makanan favorit. Yang Bu Siti masak itulah yang aku makan," jawab Aska dengan jujur.
Memangnya Minah tidak memasak buat kamu?" tanya Christina.
"Boro-boro masak. Belanja pun enggak pernah," jawab Aska yang kesal dengan Minah.
"Sungguh terlalu itu Minah! Sudah menculikku anakku! Menghancurkan rumah tanggaku! Membuat anakku menderita seperti ini! Aku tidak akan membiarkan diri kamu hidup! Tunggu saja kematian kamu Minah!" geram Christina dalam hati.
"Kalau ibu masak apapun. Aku akan memakannya," ucap Aska yang membuat Christina tidak jadi marah.
"Kalau begitu ibu akan membuat kue terlebih dahulu," pinta Christina.
"Ikut Bu. Ajarin aku membuat kue!" seru Aska yang semangat.
"Ayo!" ajak Christina yang menatap wajah sang putra sedang bahagia.
Akhirnya mereka menuju ke dapur. Christina meminta sang putra duduk manis sambil menungguinya. lalu Aska tersenyum menurutinya.
Christina mengambil bahan-bahan untuk membuat kue favorit Adrian. Ia masih ingat bahan-bahan apa yang dibutuhkan.
Sedangkan Aska melihatnya saja sambil menatap sang ibu sibuk. Ada rasa bahagia terpancar di dalam hati Aska. Ia sangat menikmati momen seperti ini.
Andaikan dulu dirinya tidak terpisah. Kemungkinan besar hidupnya tidak menjadi suram. Tiba-tiba saja Aska teringat sapa yang telah terjadi di masa lalunya.
Aska sering sekali diejek sama anak seusianya. Karena Aska tidak memiliki baju bagus. Bahkan sering dijauhi oleh mereka.
Untung saja Pak Broto dan Bu Siti segera memanggilnya. Mereka sering mengajak Aska pergi ke pasar. Di sana mereka membelikan beberapa pasang pakaian. Bahkan mainan untuk menemaninya setelah pulang sekolah.
Lalu bagaimana dengan Minah? Minah tidak perduli lagi dengan keadaan Aska. Wanita tua itu hanya diam dan tidak memperdulikannya.
"Aska," panggil Christina yang sedang memecahkan telur.
"Iya Bu," sahut Aska.
"Kamu kenapa? Kok sedari diam saja?" tanya Aska.
"Aku sedang," jawab Aska menggantung.
"Maafkan ibu nak," sahut Christina yang menahan sesak di dada.
"Aku tidak apa-apa Bu," kata Aska.
"Terus?" tanya Christina.
"Kenapa hidup ini tidak adil buatku?" tanya Aska.
__ADS_1
"Ibu paham akan hal itu. Kamu pasti kecewa soal itu?' tanya Christina.
"Enggak sih Bu. Jika aku anak ini, kenapa Minah tidak mengantarkan aku ke ibu?" tanya Aska yang membuat Christina bingung.
"Ibu tidak pernah tahu soal itu. Jika diceritakan sangat ribet. Kalau kamu mau ceritanya... oke ibu akan bercerita. Setelah ini kamu harus bangkit melupakan masa lalu. Ibu ingin kamu belajar menempuh pendidikan lebih tinggi lagi," pinta Christina dengan lembut.
"Baiklah Bu. Aku harus tahu semuanya," ucap Aska.
Ketika Christina ingin bercerita tentang masa lalunya. Ada suara orang yang menekan bel. Christina segera menghentikan pekerjaannya sambil melihat Aska.
"Pending saja dulu ya ceritanya," pinta Christina.
"Baik Bu," balas Aska tersenyum manis sambil mendengar suara bel.
"Apakah ada orang di luar bu?" tanya Aska.
"Entahlah. Ibu enggak tahu itu," jawab Christina yang mencuci tangannya.
"Biar aku yang buka Bu," pinta Aska.
"Baiklah," balas Christina.
Aska segera keluar dari dapur lalu menuju ke pintu utama. Ia membuka pintu itu dan melihat sepasang suami istri yang berusia paruh baya.
"Tuan Damian," sapa Aska.
"Hey... Anak muda! Apakah kamu membiarkan kakek nenekmu ini berdiri di depan pintu?" tanya Damian.
"Apakah kalian kakek nenekku?" tanya Aska balik.
Jederrrrrrr.
Pasangan suami istri itu pun kaget. Bisa-bisanya Aska melupakan nenek kakeknya. Bukan melupakan, namun Aska tidak tahu siapa mereka sebenarnya.
"Aska," panggil Christina.
"Iya Bu," sahut Aska.
"Siapa yang datang?" tanya Christina sambil menuju ke depan.
"Ada yang mengaku nenek kakekku Bu," jawab Aska yang membuat Christina terkejut.
Seketika Christina berhenti di depan Aska. Lalu matanya membelalak seakan tidak percaya bahwa di depannya itu adalah orang tuanya.
"Mama, papa," panggil Christina dengan lembut.
__ADS_1
"Suruh anakmu minggir sana! Sudah tahu kakek neneknya datang Bukannya nggak disambut. Malah dibiarkan seperti ini!" Geram Damian yang membuat sang istri tertawa.
"Mereka siapa ya Bu?" tanya Aska.
"Mereka adalah nenek kakekmu. Kamu minggir dikit sana terlebih dahulu. Kakek nenekmu mau lewat," jawab Christina yang sedang memegang sang ibu.
Terpaksa Aska minggir dan menyuruhnya masuk. Jujur Aska sangat terkejut sekali dengan kehadiran Damian.
"Ayo pa, kita masuk terlebih dahulu," aja Christina dengan ramah.
Mereka akhirnya masuk ke dalam dan duduk di sofa. Sedangkan Aska masih terdiam di posisi yang sama. Christina yang melihat Sang putra masih berdiri langsung mendekatinya. Ia memegang tangan kekar Aska sambil berkata, "Mereka adalah kakek nenekmu. Mereka juga adalah orang tua Ibu."
"Bukan bu. Aku mengenalnya sebagai temannya Pak Broto. Seringkali aku dipanggil dan diberinya uang," ucap Aska yang membuat Christina melotot sempurna ke arah sang papa.
"Apakah itu benar? Jadi, selama ini papa sering berkunjung ke Indonesia? Lalu, papa sering mengajak Putraku bermain?" tanya Christina.
"Yang dikatakan Aska itu benar. Aku memang sering main ke kebun. Aku juga sering mengajak Aska berjalan-jalan," jawab Damian yang tersenyum kemenangan.
"Papa kok begitu ya. Nggak bilang keadaan Aska bagaimana?" tanya Christina yang kecewa.
"Suatu hari nanti papa akan cerita semuanya. Jika kamu tahu saat itu, kemungkinan besar nyawa kamu juga terancam," jawab Damian yang membuat Christina lega.
"Kemarilah Aska... Christina," suruh Julia sambil melambaikan tangannya.
Mereka bergegas mendekati Julia dan Damian. Mereka menghamparkan bokongnya di hadapan pasangan suami istri itu. Sebelum menjelaskan lebih detail, Damian menatap wajah Christina. Kemudian matanya beralih ke arah Aska.
"Sekarang Papa ingin menjelaskan semuanya. Terkait papa sering bertemu dengan Aska di kebun," ucap Damian dengan serius.
"Bagaimana kalian bisa bertemu? Sementara aku tidak pernah bertemu sama sekali," tanya Christina.
"Sebelum Papa berbicara, ada kalanya berikan papa minum terlebih dahulu!" Kesal Damian melihat wajah Christina yang santai sekali.
"Oh.. papa ingin minum?" tanya Christina yang membuat Aska bertanya-tanya.
"Iyalah, Bukannya kamu sudah tahu, kalau Jakarta sangat panas sekali seperti ini? Lalu membiarkan papa tidak meminum air sama sekali. Sungguh keterlaluan kamu Christina!" geram Damian yang membuat Christina tertawa terpingkal-pingkal.
"Biar Aska yang mengambilkan," ucap Aska beranjak berdiri lalu menuju ke dapur.
"Apakah kamu tahu di mana airnya?" tanya Christina.
"Tenang Bu. Biar Aska cari sendiri," teriak Aska.
Kemudian Aska mencari air mineral di dapur. Aska baru menyadari kalau dapur sang Ibu sangat besar sekali. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Bagaimana sang ibu bisa memiliki dapur sebesar ini? Sedangkan dirinya tidak memiliki ruangan sebesar ini. Kamar yang ditempati Aska hanyalah berukuran dua kali dua meter. Baginya kamarnya itu sudah termasuk besar.
"Kenapa ibuku memiliki dapur sebesar ini? Sementara kamarku sangat kecil sekali. Ternyata ibuku adalah sultan alias crazy rich yang seperti di tv-tv itu," keluh Aska yang menemukan satu kardus yang berisi air mineral.
__ADS_1