
"Itu sudah dekat restorannya," jawab Romeo yang membuat Aska menganga sempurna.
Aska tidak menyangka kalau Romeo mengajaknya ke restoran mewah itu. Baginya seumur hidupnya Aska tidak pernah masuk ke dalam restoran tersebut. Jangankan masuk restoran, masuk ke dalam pusat perbelanjaan biasa pun tidak pernah sama sekali.
"Bang," panggil Aska yang membuat Romeo terkejut.
"Ada apa?" tanya Romeo.
"Apa nggak salah, Abang mengajakku ke sini?" tanya Aska balik.
"Aku tidak pernah salah. Karena temanku menyuruh ke sini," jawab Romeo.
"Apakah abang punya uang banyak?" tanya Aska yang tidak mengetahui kalau Romeo itu sebenarnya orang kaya.
"Jangan khawatir soal itu. Soal biaya biar temanku yang menanggungnya. Kalau begitu kita masuk dulu sambil menunggu kedatangan temanku itu!" ajak Romeo.
Sebenarnya Aska menolak untuk makan di restoran ini. Karena dirinya tahu seluruh makanan yang disediakan di sini harganya sangat mahal. Empat kali gajian dalam sebulan tidak bisa membayar makanan tersebut. Kalau boleh memilih Aska akan makan di restoran biasa. Ia memutuskan untuk makan di restoran Padang.
"Jangan kaget. Aku harap kamu tidak akan menyesal berteman denganku. Karena kamu sangat polos dan lugu sekali. Jujur aku tidak mau kamu dipermainkan orang. Kalau kamu sampai dipermainkan orang, akulah orang pertama yang menghajar mereka," ucap Romeo dengan tulus.
"Memangnya Abang mau berteman dengan orang miskin seperti ini? Sedangkan aku tidak memiliki apa-apa di dunia ini. Suatu Hari nanti jika kita sudah bersama dan sukses bersama. Maka ingatkanlah aku pada momen-momen susah nanti. Biar aku tidak lupa pada kacang kulitnya," pinta Aska dengan jujur.
"Baiklah," balas Romeo.
Romeo bersyukur mendapatkan seorang tuan muda tidak sombong. Dalam hatinya Romeo langsung diberikan tugas secara lisan oleh Aska. Bayangkan saja tugas pertama sangat ringan sekali. Tuan mudanya itu hanya meminta untuk mengingatkan ketika menjadi miskin. Jujur bagi Romeo, ini adalah suatu kehormatan dan bisa mengajaknya sekaligus mengawalnya.
"Sungguh kehormatan buat saya tuan. Saya akan melakukannya dengan serius. Saya sangat berterima kasih kepada Tuan mendapatkan tugas untuk mengingatkan ketika masih miskin," udah premium yang secara tidak sengaja memanggil Aska dengan sebutan Tuhan.
Sontak saja Aska terkejut. Bisa-bisanya Romeo memanggil dengan sebutan tuan. Dari mana dirinya mendapatkan julukan sebagai tuan muda. Ini sangat aneh sekali bagi hatinya. Jujur Aska tidak bisa menerima ini sambil menatap Romeo.
"Kenapa tiba-tiba saja Kamu memanggilku tuan?" tanya Aska.
__ADS_1
"Aku sedang belajar akting karena sebentar lagi ada syuting. Tapi aku bukan seorang artis profesional. Aku hanyalah seorang karyawan biasa sekaligus menjadi artis di salah satu media sosial, "
"Wah hebat sekali kamu. Bolehlah aku ikut denganmu? Sekalinya membuat konten bisa mendapatkan uang," ucap Aska dengan jujur.
.
"Baiklah," balas Romeo sambil tersenyum manis.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Romeo.
"Di sini tidak ada es teh manis. Karena tenggorokanku mulai kering. Kalau tidak ada aku memilih air mineral saja," jawab Aska.
"Tidak ada es teh manis bro. Yang ada hanya minuman seperti ini," ucap Romeo yang membuat Aska menghembuskan nafasnya secara kasar.
Bagaimana tidak Romeo yang mengajaknya ke restoran mewah seperti ini? Romeo memutuskan untuk memanggil pelayan. Isi sangat bingung ketika menjelaskan daftar menu di buku menu itu
Beberapa saat kemudian salah satu dari karyawan memutuskan untuk mendekati Romeo. Kemudian pelayan itu mendekati dan memberikan salam terlebih dahulu. Kemudian Aska bertanya tentang minuman di sini. Akhirnya pelayan itu menjelaskan isi menu tersebut.
Tak lama ponsel Romeo berdering. Ia melihat nama yang tertera pada layar itu. Hatinya bersorak kegirangan karena Maria bersama Christina datang bersama-sama.
"Oh ya, aku ingin mengangkat telepon sebentar. Aku tinggal sebentar," pinta Romeo sambil berdiri.
"Baiklah. Jangan lama-lama ya. Karena aku tidak membawa uang sama sekali," jawab Aska dengan jujur.
"Semuanya beres bro. Nanti aku kembali," balas Romeo segera meninggalkan tempat itu.
Sementara Maria dan Christina menuju ke restoran yang sudah ditentukan. Akan tetapi Christina merasakan jantungnya berdetak kencang. Lalu hatinya mengingat nama Aska. Ia bingung, saat dirinya berjalan ke restoran itu, Christina merasakan Aska sepertinya sangat dekat. Bahkan dirinya bisa menjangkau Sang putra tersebut.
"Kak," panggil Maria.
"Ada apa kak?" tanya Christina yang sudah sampai di depan restoran.
__ADS_1
"Tumben restorannya kok sepi ya?" tanya Maria yang berpura-pura akting di depan Christina.
"Iya tumben sekali ya. Biasanya jam segini masih banyak orang makan," jawab Christina yang bingung.
"Mungkin saja hari ini restoran itu tutup," celetuk Maria.
"Tapi benar kita makan di sini?" tanya Christina.
"Benar kak. Aku tidak berbohong," jawab Maria dalam hatinya bersorak kegirangan.
"Kalau begitu aku masuk dulu ya," pinta Christina.
"Silakan kak," balas Maria yang mempersilakan Christina masuk ke dalam restoran itu.
Kemudian Christina masuk ke dalam dan melihat restoran memang terlihat sepi. Tanpa disadari oleh dirinya, Maria sudah memboking restoran itu selama dua jam. Maria memang sengaja memesan restoran itu setelah mengadakan pertemuan dengan Winda dan Roni. Agar sang atasan bisa bertemu dengan putranya tanpa diekspos oleh siapapun.
Tanpa sengaja harinya menuntun ke arah meja yang sudah terisi. Ia memutuskan untuk mengikutinya. Lalu Christina menemukan seorang pria muda yang sangat mirip dengannya. Ia merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Bulir-bulir air matanya menetes dari pelupuk matanya. Ia tidak menyangka kalau dirinya bertemu dengan putranya itu.
"Apakah bayiku sudah menjelma pria tampan seperti ini?" tanya Christina yang menahan sesak di dada sambil menatap wajah sang putra.
Sedangkan Aska yang sedari tadi diam tidak sengaja mengangkat kepalanya. Ia merasakan ada seseorang menatapnya sedari tadi. Matanya menyipit sambil melihat wanita paruh baya itu masih sangat cantik sekali.
Tanpa disadari olehnya, Aska mendapatkan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan. Hatinya berdetak kencang dan tidak sengaja memutuskan untuk berdiri. Pria muda itu segera mendekati Christina sambil mengulurkan tangannya. Lalu ia menatap wajah Christina yang sangat mirip dengannya. Kepalanya menggeleng dan mulai kebingungan.
"Siapakah wanita ini yang sangat mirip dengan aku? Apakah dia saudara kembarku? Tapi kalau saudara kembarku, tidak mungkin wajahnya setua ini. Jujur... wajah wanita itu cantik sekali. Kemungkinan besar wanita ini mendapatkan perawatan dari salon ternama," ucap Aska yang menganalisis keadaan.
"Apakah kamu benar Aska August Wicaksono?" tanya Christina dengan nada bergetar.
"Iya nyonya. Aku adalah Aska," jawab Aska yang mengerutkan keningnya sambil kebingungan.
"Apakah kamu tidak mengenalku?" tanya Christina yang mulai tersenyum mulai Aska kebingungan.
__ADS_1
"Anda siapa?" tanya Aska dengan jujur.