Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Maafkan Aku Bu.


__ADS_3

Pak Broto memberikan kode untuk Bu Siti, Romeo dan Maria segera meninggalkan tempat itu. Mereka akhirnya menyetujui perintah Pak Broto.


Pak Broto akan memberikan waktu untuk Aska mengobrol. Di dalam sana Aska memegang tangan lembut sang ibu.


"Maafkan aku Bu, jika tanganku ini sangat kasar sekali. Pekerjaanku di luar adalah seorang kuli pengangkut buah. Aska mohon Ibu tidak akan kecewa," jelas Aska.


Christina menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis. Entah kenapa Christina merasa sedih ketika anaknya berkata seperti itu. Jujur saja ibu yang mana jika melihat sang anak di luar menderita akan bahagia? Tidak ada yang bahagia sama sekali. Ketika mengetahui bahwa Sang putra menderita dan mau mendapat musibah besar.


"Ibu tidak akan marah asal kamu berjanji," ucap Christina.


"Janji apa Bu?" tanya Aska.


"Tinggallah bersama ibu," jawab Christina yang penuh harap.


"Baiklah ibu. Tapi aku memiliki satu permintaan," ujar Aska yang menatap mata ibunya sayu.


"Pasti kamu minta ingin bertemu dengan ayah."


"Itu benar Bu. Aku harap Ibu setuju menemui ayah terlebih dahulu."


"Dengan senang hati ibu menyetujui bertemu dengan ayah. Biar bagaimanapun pria itulah yang membuat kamu menjadi besar begini."


"Okelah Bu."


"Bolehkah ibu bertanya sesuatu?"


"Apa itu Bu?"


"Ibu harap kamu jangan marah."


"Tidak akan pernah marah."


"Selama kamu tinggal sama Minah, Apakah dia memperlakukanmu dengan baik?"


"Maaf Bu. Aku belum bisa cerita apapun sama ibu."


"Baiklah. Ibu akan menunggumu untuk cerita semuanya."


"Bolehkah Aska bertanya sesuatu?"


"Boleh."


"Apakah Ibu masih mencintai ayah?"


"Selamanya. Nama pria itu tidak akan terganti oleh siapapun."


"Aku harap ayah juga mencintai ibu. Setelah Aska berhasil menemui ayah. Aska akan mencari jawaban atas hancurnya keluarga kita."


"Sepertinya kamu tahu itu?"


"Aku hanya menarik kesimpulan. Awal pertemuan kita hari ini adalah Ibu memiliki masalah yang banyak. Dan Aska bisa merasakan itu."

__ADS_1


"Sebenarnya Ibu ingin sekali menyembunyikannya. Jujur Ibu ingin membawa beban ini sendiri."


"Jangan pernah membawa bahan ini sendiri. Kalau bisa berbagilah dengan orang yang tepat."


"Ibu tidak pernah membagi beban ke siapapun. Jujur Ibu tidak mau membuat semua orang kesusahan."


"Jangan bicara seperti itu. Aku anakmu Bu. Tanpa harus tes DNA wajah kita sangat mirip sekali."


"Kamu benar. Karena kamu adalah Christina versi pria."


Seketika Aska tertawa mendengar pernyataan sang ibu. Memang benar apa yang dikatakan oleh sang ibu, kalau dirinya adalah Christina versi pria. Melihat Aska tertawa, hati Christina menjadi hangat. Entah kenapa beban di hati seakan akan berkurang sedikit.


"Ternyata kamu sangat lucu sekali.Syukurlah kamu tidak memiliki sifat ayahmu yang dingin itu," puji Christina.


"Apa itu benar kalau ayah seperti es batu?" tanya Aska yang membuat Christina tertawa terbahak-bahak.


Christina sangat geli sekali karena pernyataan Sang putra. Bisa-bisanya Sang putra menjelek-jelekan ayahnya di depannya. Akan tetapi Christina tidak akan marah sama sekali. Justru Christina merasa terhibur sekali.


Benar apa yang dikatakan oleh Pak Broto. Kalau Aska adalah sosok pria yang hangat. Tidak pernah menuntut apapun atau sebaliknya. Bahkan Aska menjadi sosok yang kuat dan tangguh ketika menghadapi masalah. Wataknya yang dewasa sering sekali diminta untuk memecahkan masalah.


"Apakah kamu bisa menyetir mobil?" tanya Christina.


"Aku belum bisa menyetir mobil Bu," jawab Aska jujur.


"Kalau begitu belajarlah."


"Baik bu. Kemungkinan besar aku meminta Abang untuk mengajariku."


"Terima kasih."


"Jam sudah sore. Kalau begitu ayo pulang."


"Lalu bagaimana dengan pakaianku yang di desa?"


"Sepertinya aku akan menyuruh pengawal memberikan pakaian itu kepada orang yang membutuhkan."


"Lalu, kapan aku ke sana?"


"Kamu tidak bisa ke sana lagi. Mengingat Minah yang memiliki rencana untuk menghabisimu."


"Aish... Kenapa orang tua itu ingin menghancurkanku?"


"Kapan-kapan ibu akan cerita semuanya."


Askep tersenyum sambil mengangguk dan menyetujui janji Christina. Setelah itu Aska memutuskan untuk hidup bersama sang ibu.


Sore ini Christina tidak akan kembali ke kantor. Wanita cantik itu mengajak Aska pulang ke apartemennya. Ia sangat senang sekali bisa dekat dengan Sang putra. Namun ada perasaan bersalah bersarang di dalam hatinya. Perasaan inilah yang membuat Christina tidak tenang. Ia berharap Sang putra mau memaafkannya.


Paris Prancis.


Seorang pria paruh baya yang penuh dengan karismatik sedang duduk menikmati kopi. Tak sengaja ponsel pria itu berdering. Lalu pria itu melihat nama yang tertera di layarnya. Matanya memicing dan menebak siapa yang menghubunginya. Kemudian pria itu menggeser ikon hijau dan menyapa orang di seberang sana.

__ADS_1


"Selamat pagi," siapa pria itu.


"Adrian," panggil orang berada di seberang sana.


"Iya ayah. Ayah Damian bagaimana kabarnya?" tanya Adrian


"Kabar ayah baik-baik saja. Ayah sedang berada di atas awan," jawab Damian nama orang yang berada di seberang sana.


"Ayah mau ke mana?" tanya Adrian.


"Ayah ingin bertemu dengan Aska di Indonesia."


Mendengar nama Aska, Adrian sangat terkejut sekali. Hatinya sangat teriris ketika sang ayah mertua menyebutnya.


"Apakah putraku masih hidup?" tanya Adrian penuh dengan kecemasan.


"Putramu masih hidup dan memiliki wajah tampan. Namun sayang, wajah tampannya itu didominasi oleh Christina. Jadi kamu tidak boleh mengklaim seenaknya saja."


"Aish... Ayah ini ada-ada saja. Meskipun aku telah meninggalkannya tapi Aska tetap putraku."


"Pergilah ke Indonesia. Jangan kamu menundanya lagi. Bantulah kami memecahkan masalah demi masalah. Karena masalah itu menyangkut kebahagiaan kalian. Aku harap Aska dan Christina mengerti akan hal itu."


"Baik ayah. Dan masalah itu juga menyangkut dengan keluarga besarku. Aku akan mengajak Azka untuk memecahkan masalah demi masalah."


"Kapan kamu akan pergi ke Indonesia?"


"Secepatnya. Aku tidak akan menundanya lebih lama lagi. Karena pekerjaanku di sini sudah selesai semua. Tinggal menerima surat pensiun dari negara."


"Kamu pensiun dini?"


"Terpaksa aku melakukannya. Jika tidak makan nasi keluarga kita semakin hancur berantakan."


"Maafkanlah ayah yang telah mengusik karir kamu."


"Tidak apa-apa ayah. Saatnya aku mulai berbakti kepada ayah."


"Bolehkah ayah meminta sesuatu?"


"Apa itu?"


"Ayah meminta kamu berkumpul lagi bersama Christina. Itu hanya permintaan sederhana dari ayah."


"Apakah ayah merestui hubungan kami lagi?"


"Kamu tahu Christina sangat mencintaimu. Bahkan detik ini Christina tidak akan pernah berpacaran dengan pria lain."


Adrian tersenyum sumringah tanda menunjukkan hatinya sedang bahagia. Jujur saja hatinya masih menyimpan nama Christina dengan baik. Ia tidak menyangka kalau sang mantan istri masih mencintainya. Begitu juga dengan sebaliknya. Dirinya juga sangat mencintainya.


Hampir setiap hari Adrian mendapatkan laporan tentang Christina. Ia memang sengaja memberikan satu pengawal untuk melindungi mantan istrinya itu. Di saat dirinya tersenyum Damian berteriak-teriak agar agar menyahut.


"Adrian, kamu berada di mana?" tanya ayah mertuanya itu.

__ADS_1


__ADS_2