Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Pergi Bersama Romeo.


__ADS_3

"Itu benar nyonya. Tuan Damian berada di bawah," jawab Maria.


"Kalau begitu kamu bersama Aska ke sana. Aku masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini juga. Besok pagi akan ada meeting dengan divisi pemasaran!" perintah Christina.


"Baik nyonya," balas Maria lalu meninggalkan Christina untuk masuk ke dalam ruangan Aska.


Ceklek.


Pintu terbuka.


"Pending dulu ya pekerjaannya," ucap Maria.


"Ada apa memangnya?" tanya Aska yang menaruh pulpennya di atas kertas.


"Di bawah sana ada kakek di Damian untuk bertemu dengan kita," jawab Maria yang membuat Aska terkejut.


"Kamu nggak bercanda kan?" tanya sekali lagi.


"Aku tidak bercanda. Aku serius. Kakek Damian berada di sini," jawab Maria. "Tadi Cici menghubungiku. Lalu menyambungkan teleponnya kepadaku dan aku mendengar suara kakek Damian."


"Ini sangat aneh sekali. Seharusnya kakek berada di Paris," ucap Aska sambil berdiri dan mendekati Maria.


"Aku jujur mengatakannya kepadamu. Aku nggak mau bohong sama kamu," ujar Maria.


"Aku nggak mengatakan Kamu bohong. Tapi ini sangat aneh sekali. Bukannya seminggu yang lalu kakek berada di sini. Lalu tiba-tiba saja kakak ke sini lagi. Sepertinya ada masalah berat?" tanya Aska yang menebak hati Damian.


"Kalau begitu ayo kita temui. Nyonya Christina menyuruh kita untuk menemuinya," ajak Maria keluar dari ruangan itu.


Aska tidak menjawab namun mengikuti Maria dari belakang. Iya langsung mendekatinya dan merangkul Maria sambil berkata, "Aku ingin bilang sesuatu kepada kamu. Tapi kamu harus berjanji kepadaku untuk tidak mengatakan kepada publik soal sesuatu yang akan ku katakan itu."


"Maksud kamu?" tanya Maria yang mencium aroma maskulin dari tubuh Aska.


"Setelah menjemput kakek. Aku ingin kamu merahasiakannya," jawab Aska.


"Baiklah. Aku tunggu kamu mengatakan sebenarnya," ucap Maria yang sebenarnya mengerti perasaan Aska.


Meski baru mengenal Aska, hati Maria langsung tertaut kepadanya. Entah kenapa dirinya merasakan ada suatu beban dari dalam hati Aska. Memang yang dirasakan hatinya benar adanya. Bekerja di sini sebenarnya tidak menjadi beban dalam dirinya. Namun Maria menilai dan menyimpulkan, kalau keluarga Aska memiliki banyak masalah yang rumit. Maria ingin melakukan sesuatu. Namun niatnya diurungkan terlebih dahulu. Karena masalah ini adalah masalah pribadi keluarga Wicaksono.


"Aku boleh cerita nggak?" tanya Maria.


"Cerita apa?" tanya Aska balik sambil menggenggam tangan Maria.

__ADS_1


"Nanti akan aku ceritakan semuanya. Aku nggak mau mencampuri urusan pribadi sama pekerjaan menjadi satu. Aku ingin menjadi karyawan yang profesional dalam menjalani tugas," jawab Maria yang merasakan jantungnya berdebar kencang.


"Tidak apa-apa. Nanti kamu cerita saja. Aku akan mendengarkannya. Bukankah setiap hubungan harus saling terbuka?" tanya Aska sambil melirik wajah Maria yang tiba-tiba saja berubah menjadi memerah.


Sesampainya di lobby, Aska melihat seorang pria berumur senja sedang menunggunya. Aska langsung mendekat dan memeluk pria itu. Kemudian dirinya menyapa sambil berbisik, "Kakek ke sini sama siapa?"


"Aku ke sini sendirian. Aku ingin tinggal bersama kalian," jawab Damian.


Deg.


Jantung Aska berdebar kencang. Hatinya bertanya-tanya, kenapa sangkake ingin tinggal bersamanya? Mungkinkah sang kakek mengetahui, siapa wanita yang berada di rumahnya itu? Namun Aska membuang perasaannya itu agar dirinya tidak panik.


"Kakek sudah makan?" tanya Aska.


"Sudah," jawab Damian sambil melepaskan Aska. "Di mana ibumu?"


"Ibu sedang sibuk memeriksa beberapa dokumen yang sepertinya agak menyimpang," jawab Aska.


"Sudah aku tebak. Perusahaan ini tidak baik-baik saja. Ada apa dengan perusahaan ini?" batin Damian.


"Kalau begitu ayo kita naik ke atas kek," ajak Aska.


"Baiklah," balas Damian.


"Selamat sore tuan," sapa Romeo.


"Sore," sapa Damian dengan tersenyum hangat.


"Sebentar Tuan. Aku ingin berbicara sesuatu sama Tuan Aska," Romeo sengaja meminta izin agar Damian tidak tersinggung.


"Silakan," ucap Damian yang mengizinkan Romeo berbicara sesuatu kepada Aska.


"Kalau begitu... Aku akan menyuruh Maria mengantarkan kakek ke atas," ujar Aska yang memberikan perintah kepada Maria.


"Baik tuan muda. Saya akan mengantarkan tuan Damian dan nyonya Christina," balas Maria.


Aska mengangguk dan membiarkan mereka masuk ke dalam lift. Sedangkan Romeo langsung menarik kemudian mengajaknya ke lobi.


"Ada apa sih Kok serius banget kamu?" tanya Aska yang mulai curiga.


"Ayahmu menyuruhku untuk pergi ke markas sebentar," jawab Romeo sambil menunggu mobilnya datang.

__ADS_1


"Yaelah... Ngomong di sini napa. Kok ribet amat jadi orang," kesal Aska.


"Aku nggak ribet. Tapi ada masalah yang gawat," ujar Romeo.


"Baiklah... baiklah... Aku tidak akan bertanya lagi," bales Aska yang menuruti keinginan Romeo.


Selang beberapa menit kemudian mobil Romeo tiba. Kemudian security keluar dan memberikan kunci mobil itu kepada Romeo.


"Nanti jika ada yang tanya aku. Bilang saja saya keluar terlebih dahulu!" Perintah Romeo kepada satpam itu.


Satpam itu hanya mengangguk dan menjauhi Romeo. Setelah itu Aska masuk ke dalam kursi penumpang. Lalu Romeo memudari mobil dan masuk ke dalam kursi pengemudi.


Setelah itu Romeo menancapkan gasnya menuju ke suatu tempat. Di dalam perjalanannya Romeo memilih untuk bungkam dan tidak berkata apa-apa. Namun hatinya merasakan ada sesuatu yang ganjil.


Namun meo tidak pergi ke markas melainkan di rumah makan. Aska mengerutkan keningnya karena bingung kepada Romeo.


"Bukan Kak ini restoran apung yang terkenal itu?" tanya Aska.


Itu bukan restoran melainkan rumah makan. Kalau begitu ayo kita ke belakang. Kita akan duduk di sebuah pondokan kecil yang dikelilingi danau," jawab Romeo yang keluar dari mobil dengan diikuti Aska.


"Sebenarnya aku sudah kenyang. Sejam yang lalu Maria mengirimkanku makanan. Jujur saja Wanita itu sangat lucu sekali jika bertemu denganku," batin Aska.


Terpaksa Aska mengikuti Romeo untuk menuju ke pondokan kecil yang berada di belakang rumah makan ini. Kemudian kedua pria itu menyusuri rumah makan itu hingga ke belakang. Ketika sampai di belakang, mereka disuguhi dengan pondaakan-pondokan kecil yang sudah berada di tengah-tengah danau. Saat menuju ke sana, mereka merasakan kenikmatan alam yang tiada tandingannya.


"Mau makan di mana bang?" tanya Aska.


"Aku di sini memiliki tempat favorit. Tempat favoritku itu adalah di pondok kecil itu yang berada di bawah pohon," tunjuk Romeo ke arah pondokan yang di mana terdapat pohon besar.


"Ayolah kita ke sana. Aku ingin tahu Sebenarnya ada apa dengan Abang?" Tanya Aska.


Romeo akhirnya berjalan dahulu dan diikuti Aska menuju ke tempat itu. Sepanjang perjalanan Aska melihat ikan-ikan yang bermunculan di dalam danau. Lalu Aska mendapatkan ide untuk membangun sebuah rumah yang di mana memiliki konsep seperti rumah makan ini.


"Aku harus membiarkan kepada Maria saat membangun rumah. Aku ingin ada danau kecil seperti ini dan dipenuhi oleh ikan-ikan hias. Aku harap Maria sangat menyukainya," batin Aska yang sudah sampai di tempat itu.


"Tempatnya asri ya bang. Cocok untuk diskusi dalam segala hal di sini," puji Aska kepada Romeo yang pandai memilih tempat.


"Ini adalah tempat favoritku bersama mantan kekasihku itu. Jujur aku sangat merindukannya," celetuk Romeo.


"Memangnya Abang memiliki mantan kekasih?" Tanya Aska yang meledek Romeo sambil duduk di lesehan.


"Iyalah. Tapi kekasihku saat itu sudah meninggal karena pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang yang tidak aku kenal. Dengan terpaksa aku harus merelakan kepergiannya," jelas Romeo yang mengambil rokok dan korek api.

__ADS_1


"Aku sangka mantan kekasih Abang nikah lagi sama cowok lain?" tanya Aska yang tidak mengetahui kekasih Romeo.


__ADS_2