Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Ada Apa Sebenarnya?


__ADS_3

“Apakah kakak sudah membaca pesanku melalui email?” tanya Luke.


“Pesan apa ya kira-kira? Sepertinya kakek lupa dengan pesan tersebut,” tanya kakek Lione.


Luke menceritakan kisah masa lalu Aska dan Adrian dengan singkat. Setelah menceritakan pesan itu secara singkat, kakek Lione sangat terkejut sekali. Mereka adalah korban keserakahan Jamaludin. Akhirnya kakek Lione menganggukkan kepalanya dan menatap wajah Adrian.


“Sial sekali diri kamu Adrian,” ucap kakek Lione.


“Itu benar kek. Saya terlalu siang dalam kisah percintaan maupun kehidupan sesungguhnya,” ucap Adrian dengan jujur meskipun perkataannya itu didengarkan oleh Aska.


“Aku sudah mengenal keluarga Wicaksono ketika istrimu masih kecil. Kami memang bersahabat baik dengan Damian. Sudah dari dulu Jamaludin sudah bermasalah dengan keluarga Wicaksono. Yang aku tahu itu adalah masalah perusahaan pusat. Yang di mana perusahaan pusat itu memang milik Damian sesungguhnya. Sedangkan orang tua Jamaludin hanya membangun dan mendapatkan bagiannya di negara Belgia dan Argentina. Kalau di uangkan kedua perusahaan itu sangat banyak sekali. Apalagi kalau dikelola dengan baik bisa jadi perusahaan itu semakin besar. Di dalam perjanjian itu kedua perusahaan itu bisa berdiri di kaki sendiri. Dengan kata lain perusahaan itu berpisah dari Wicaksono. Tapi sayangnya Jamaludin telah menghancurkan kedua perusahaan itu hingga bangkrut. Kedua perusahaan itu sekarang berada di tanganku,” jelaskan kakek Lione yang mengetahui tentang Wicaksono Group.


“Jadi selama ini kakek tahu?” tanya Adrian.


“Aku tahu semuanya. Kamu tahu kenapa Jamaludin ke sini? Jamaludin memang ke sini untuk mengambil kedua perusahaan itu setelah aku bangun menjadi besar. Jujur aku tidak akan memberikan perusahaan itu kepadanya. Jika sampai perusahaan itu berada di tangannya, kemungkinan besar Jamaludin akan menghancurkannya lagi,” jelas kakek Lione.


“Permisi kakek,” Aska menyala pembicaraannya sebentar.


“Ada apa anak muda? Kamu sangat sopan sekali kepada orang yang lebih tua. Aku sangat menyukaimu,” ucap kakek Lione yang mengagumi Aska memiliki sopan santun.


“Itu karena apa ya bangkrutnya kakek?” tanya Aska.


“Biasa. Sedari dulu Jamaludin sering menghambur-hamburkan uangnya. Sering sekali Jamaludin memanggil para perempuan untuk menghiburnya hampir setiap hari. Jamaludin tidak bisa mengatur keuangan perusahaan hingga banyak utang di banyak bank. Itulah kenapa perusahaan itu bangkrut. Setelah tahu bangkrut Aku sengaja membelinya. Aku ingin membuka lapangan pekerjaan buat orang-orang yang masih menganggur. Hanya dua tahun aku membangunnya hingga besar sampai saat ini. Aku tidak akan membiarkan siapapun untuk menyentuh kedua perusahaan itu,” tegas kakek Lione.


“Terus kenapa perusahaan pusat ingin direbutnya?” tanya Aska lagi.


“Kamu tidak menyimak apa yang aku katakan tadi? Aku katakan sekali lagi, Jamaludin sengaja merebut perusahaan itu demi mengambil aset kalian. Terutama dia ingin pesta pora bersama para mafia yang berada di Prancis,” jawab kakek Lione.

__ADS_1


“Hanya demi itu? Itu jawaban yang sangat buruk sekali buat aku kek. Memangnya tidak ada jawaban lain?” tanya Aska.


“Pertanyaanmu itu sangat bagus sekali.kamu nggak tahu saja siapa Jamaludin sebenarnya. Jamaludin itu suka menghambur-hamburkan uang. Ditambah lagi bisnis yang dilakukannya selalu gagal. Memang dia nggak terlalu bakat untuk mengurusi perusahaan,” kakek Lionel mengejek Jamaludin.


“Bagaimana kalau kita menjebak Jamaludin?” tanya Aska sambil menatap Adrian.


“Sebelum kita melanjutkan pembicaraan lebih lanjut. Lebih baik kalian istirahat terlebih dahulu. Aku akan menunggu kedatangan asistenku. Setelah asistenku datang, aku akan memanggil kalian,” jawab Kakek Lione sambil memandang wajah Luke. “Luke! Antar mereka ke dalam. Biarkanlah mereka istirahat terlebih dahulu!”


“Baik kek,” sahut Luke yang mendekati mereka dan mengajaknya ke kamar atas.


Kemudian mereka pergi menuju ke lantai atas. Mereka tidak mengerti apa yang dilakukan oleh sang kakek. Kedua pria berbeda generasi itu pun masih bertanya-tanya ada apakah ini? Jujur mereka ragu ingin mengajak kerja sama sang ketua mafia tersebut. Bagaimana dengan Luke? Pria itu paham akan Apa yang dilakukan oleh Lione. Sepertinya Lione yang akan memberikan petunjuk untuk mereka berdua.


Sesampainya di kamar Adrian dan Aska menariknya hingga masuk ke kamar. Mereka berdua menatap tajam ke arah Luke. Salah satu dari mereka langsung bertanya, “Ada apa?”


“Maksud Tuan Adrian apa ya?” tanya Luke.  


“Kenapa kakekmu sangat misterius sekali seperti ini?” tanya Adrian.


“Jelaskan apa maksudnya ini? Apakah kalian ingin menjebak kami?” tanya Aska dengan tegas.


“Jika Kakek sangat serius seperti itu. Pasti ada satu masalah yang disembunyikan oleh Tuan Damian. Kalian harus siap-siap mendengarnya,” jelas Luke yang tidak main-main dengan perkataannya.


Mereka semakin tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Luke. Mereka menghempaskan bokongnya di sofa dan menahan pria paruh baya itu di kamarnya. Ketiga pria itu sangat bingung dengan pernyataan kakek Lione. Luke hanya menelan salivanya dengan susah payah. Hingga akhirnya Luke sangat frustasi sekali.


“Kenapa kalian menghukumku seperti ini?” tanya Luke.


“Aku tidak menghukummu. Aku bingung dengan kakekmu itu. Bisa-bisanya kakekmu membuat pernyataan yang sangat aneh sekali,” jawab Adrian.

__ADS_1


“Astaga Tuan Adrian,” ucap Luke.


“Kalau kita nggak sedang tugas atau dinas. Jangan pernah memanggilku memakai tuan. Aku adalah Adrian Agard. Jika kamu masih memanggilku tuan. Aku akan menggantungmu di tiang bendera di kantor!” geram Adrian.


“Baiklah,” sahut Luke.


“Kalau begitu keluarlah. Kami ingin beristirahat terlebih dahulu,” pinta Adrian.


Luke menganggukkan kepalanya dan berdiri meninggalkan mereka berdua. Luke keluar dari kamar itu dan mencari keberadaan Lione. Saat menuju ke ruangan kerjanya, Luke melihat sang asisten Lione sedang berjalan sambil membawa berkas-berkas yang ada di tangannya. Kemudian Luke menyuruh sang asistennya masuk ke dalam ruangan tersebut. Dengan terpaksa Luke berjaga di depan pintu sampai dipanggil oleh sang kakek.


Ketika Kakek Lione yang sedang membaca koran, sang asisten membungkukkan badannya sambil memberi hormat, “Selamat sore tuan.”


“Hnmp... Sore,” sahut kakek Lione.


“Ini tuan berkas-berkas yang sudah saya ambil di perpustakaan milik Dark Knight,” ucap sang asisten itu sambil menyodorkan beberapa berkas ke arah kakek Lione.


“Apakah berkas-berkas ini sudah lengkap?” tanya kakek Lione.


“Semuanya sudah lengkap Tuan. Seluruh berkas-berkas ini sudah saya tata dengan rapi,” jawab asisten tersebut.


“Kamu nanti malam tidak usah bertemu dengan Jamaludin!” perintah kakek Lione.


“Ada apa saya tidak boleh menemui Jamaludin?” tanya sang asisten itu.


“Kamu tahu berkas-berkas ini adalah surat resmi yang sah. Berkas ini berisikan tentang kepemilikan yang berhak memegang Wicaksono Group. Sang ahli waris tunggalnya berada di sini. Sebelum mereka ke sini, Damian sudah menghubungiku. Dia meminta untuk menyerahkan berkas-berkas ini ke ahli waris tunggal yaitu cucu kandungnya sendiri bernama Aska Wicaksono,” jawab kakek Lione.


Sang asisten itu menganggukkan kepalanya tanda paham. Setelah itu sang asisten membungkukkan badannya untuk berpamitan. Namun sebelumnya keluar dari ruangan itu, kakek Lione meminta Luke untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


“Suruh masuk ke dalam si Luke itu!" perintah Lione.


 


__ADS_2