
Milan Italia.
Ada yang sudah bersiap-siap untuk menemui Jamaludin segera keluar dari kamar. Ia menuju ke ruang tamu dan melihat Adrian memainkan sebuah bolpoin bolpoin. Lalu Aska melihat jam di tangan yang menunjukkan pukul 07.00 malam.
“Pertemuannya jam berapa?” tanya Aska.
“Pertemuan yang tepat jam delapan. Dari sini menuju ke hotel tempat pertemuan itu hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja,” jawab Luke.
“Sebelum kita berangkat, ayah mau memberikan sebuah pulpen yang dilapisi emas. Kamu taruh saja di kantong kemejamu itu,” jawab Adrian sambil menyodorkan pulpen itu.
Aska mengerutkan keningnya sambil melihat Adrian dan meraih pulpen itu, “Aku tidak membutuhkan bolpoin ayah.”
“Kamu tahu bolpoin itu bukan bolpoin biasa. Itu bolpoin ada alat pengintainya. Kalau dilihat dari jauh benda itu hanyalah bolpoin biasa. Tapi kalau dilihat dari dekat ada kamera yang sangat kecil sekali telah diselipkan di sana. Ketika kamu bertemu dengan Jamaludin, bolpoin itu otomatis bisa merekam kegiatan Jamaludin. Jujur ayah ingin tahu seberapa brengseknya Jamaludin ketika bertemu dengan kamu. Yang di mana dia bertemu dengan bayi yang telah dibuangnya dan sekarang masih hidup,” ucap Adrian.
“Sepertinya ini sangat menarik sekali. Aku ingin sekali melihat raut wajahnya itu,” sahut Aska yang menaruh bolpoin itu di kantong kemejanya.
“Ayah akan menunggumu di mobil. Di sana akan ada beberapa orang yang memakai baju serba hitam duduk di kursi pengunjung. Ayah sudah memberikan uang kepada mereka. Mereka akan melakukan makan malam di sana. Namun mereka sedang bertugas untuk melindungi kamu dari Jamaludin,” ucap Adrian.
“Baiklah ayah,” sahut Aska.
“Kamu jangan tegang dan menunjukkan amarahmu ke Jamaludin. Kamu juga jangan terlalu terbawa emosi oleh perkataan Jamaludin. Anggap saja kamu bertemu dengan orang gila. Kalau dia mulai marah berikan dia senyum manis,” saran Luke untuk Aska.
“Memangnya dia kekasihku apa paman?” tanya Aska yang membuat Adrian tertawa.
“Anggap saja seperti itu. Dia hanya membutuhkan kasih sayang dari seseorang,” jawab Adrian yang menghentikan tawanya.
Tanpa menjawab Aska berdiri dan membalikkan badannya. Ia sudah memasang wajah tegasnya. Yang di mana wajah tegasnya itu membuat pengawal lewat menjadi ketakutan. Diam-diam Aska mengeluarkan aura kematian.
Sementara kedua pria paruh baya itu segera menyusul Aska. Mereka bergegas mendekati acara dan mengajaknya ke depan. Ada sebuah mobil mewah yang sudah dipersiapkan oleh kakek Lione. Pada waktu itu juga mereka berangkat ke hotel, di mana Jamaludin menginap.
Tidak membutuhkan waktu 15 menit, mobil itu memasuki area VVIP. Di sana beberapa orang yang memakai baju serba hitam langsung mendekati Aska. Salah satu pengawal memberikan arahan untuk menuju ke restoran. Aska hanya diam saja namun mendengarkan Apa kata pengawal itu.
__ADS_1
Ketika memasuki lift, Aska melihat para pengawal itu. Sebelum keluar dari lift ada memberikan kode agar berjaga di depan area restoran itu. Mereka pun menganggukkan kepalanya dan menuruti apa kata Aska. Setelah keluar dari lift, mereka langsung menuju ke restoran itu. Sesampainya di sana restoran hanya dihadiri oleh beberapa orang saja. Dengan gagahnya Aska berjalan menuju ke meja yang berada di sudut ruangan.
Di meja itu seorang pria paruh baya sedang duduk dengan santai. Namun wajahnya bisa ditebak oleh Aska. Pria itu sedang memasang alarm amarahnya. Aska mulai berpikir untuk mengerjainya habis-habisan.
“Saya perwakilan dari tuan Fabio untuk menemui anda,” sapa Aska dengan ramah.
“Silakan duduk,” sahut Jamaludin dengan ramah.
Aska langsung menghempaskan bokongnya di hadapan Jamaludin. Ia langsung mengeluarkan suaranya dan menatapnya tajam. Diam-diam Aska mulai mengibarkan bendera peperangan. Ia tidak akan membiarkan Jamaludin merebut Wicaksono Group sedikit pun.
“Apakah kamu bawa semua dokumen tentang Wicaksono?” tanya Jamaludin yang mulai menatap wajah Aska.
“Setiap pertemuan kamu menanyakan dokumen tersebut? Memangnya ada apa dengan dokumen itu?” tanya Aska yang berpura-pura tidak tahu.
“Seluruh dokumen itu isinya tentang kepemilikan sah Wicaksono Group,” jawab Jamaludin yang memajukan tubuhnya dan menatap mata Aska.
“Oh... seperti itu? Kenapa kamu sangat ambisi sekali mendapatkan dokumen itu Tuan Jamaludin?” tanya Aska yang tersenyum manis sambil mengintimidasi Jamaludin.
“Kok Anda sangat yakin sekali?” tanya Aska.
“Karena sang pemilik sudah tidak ada alias mati,” jawab Jamaludin.
“Amin kalau begitu. Kamu tahu... orang yang kamu doakan mati sekarang berada di hadapanmu,” ucap Aska yang tersenyum smirk.
“Jadi, maksud kamu?” tanya Jamaludin yang sangat terkejut dan tubuhnya mulai bergetar.
“Sang Ahli Waris Sesungguhnya sekarang sudah berada di hadapanmu. Aku adalah Aska Wicaksono. Putra dari Tuan Adrian Agard dan Nyonya Christina Wicaksono. Aku juga cucu Damian Wicaksono. Yang di mana kamu hancurkan keluarganya hanya demi ambisi semata. Oh... ya satu lagi... aku hampir melupakan sesuatu. Aku adalah keponakan Frank Agard. Frank Agard yang pernah kamu singkirkan dengan cara kamu menyabotase mobilnya. Kamu membuat pamanku kecelakaan di jalan tol. Tapi untunglah pamanku sekarang masih hidup. Sekarang beliau masih hidup,” jelas Aska yang membuat Jamaludin tidak percaya.
“Kamu bohong!” bentak Jamaludin dengan nada meninggi.
“Aku enggak bohong. Aku serius. Aku memang Aska Wicaksono. Bayi yang baru beberapa hari dilahirkan ke dunia ini, sekarang berada di hadapanmu. Bayu itu menjelma sebagai pria yang penuh dendam,” tambah Aska yang membuat Jamaludin semakin gusar.
__ADS_1
“Kamu bohong! Kamu seharusnya sudah mati!” bentak Jamaludin yang semakin meninggi.
Beberapa pengunjung yang memakai baju serba hitam langsung berdiri. Namun dengan cepat Aska memberikan kode agar duduk terlebih dahulu. Mereka menyetujui dan duduk kembali sambil mengamati keadaan.
“Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan apa yang bukan milikmu!” tegas Aska yang mulai mengancam Jamaludin.
“Aku akan membunuh kamu!” bentak Jamaludin.
“Aku sudah bosan dengan ancaman kamu itu pak tua. Sudahlah lepaskan Wicaksono Group. Hiduplah dengan damai bersama putraku itu yang mengidap penyakit kelainan itu. Aku akan berjanji memberikan kamu saham sebanyak sepuluh persen. Setelah itu kamu tidak boleh mengganggu kedamaian keluarga Wicaksono beserta kerabatnya. Jika kamu mengganggu kembali. Aku tidak segan-segan menghancurkan organisasi hitam yang telah kamu bangun itu,” ucap Aska dengan datar.
“Aku peringatkan sekali lagi. Jika kamu mengancamku seperti itu. Aku yang akan membunuhmu!” geram Jamaludin.
Aska tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman dari Jamaludin. Jujur ia tidak takut mendengar ancaman tersebut. Ia malah menanggapinya dengan santai. Lalu Aska berkata, “Aku beritahu sama kamu. Seluruh bukti-bukti kejahatan yang kamu buat selama ini sudah berada di tangan polisi. Cepat atau lambat pihak kepolisian akan memburu kamu. Satu lagi jangan buat putramu itu sebagai senjata untuk merebut Wicaksono. Seharusnya kamu menjaganya dan juga melindunginya, Bukan berarti kamu mengajarkan menjadi iblis seperti kamu. Jika penyakit putramu kambuh, itu sangat merepotkan. Aku takutnya pihak publik dan seluruh media mengetahui lalu mencibir putramu itu,” tambah Aska yang membuat Jamaludin melupakan sang anak.
“Jika kamu tidak mau saham itu. Aku bisa menariknya lagi,” balas sambung Aska.
Tangan Jamaludin mulai mengepal dan menggebrak meja. Ia tidak terima dengan ancaman Aska. Ia tidak menyangka seumur hidupnya ada yang mengancam seperti ini. Ia mulai berdiri dan mendekati Aska. Jamaludin melayangkan tangannya ke arah Aska. Namun dengan cepat Aska menangkisnya dengan setengah tenaganya. Jamaludin langsung jatuh tersungkur.
Duakkkkkk.
Untung saja restoran itu sudah di booking oleh Fabio sang asisten Kakek Lione. Jadi jika mereka ribut tidak akan ada menimbulkan keributan. Para pengawal yang sedang menyamar sebagai pengunjung tetap diam. Mereka terhubung selalu dengan Adrian. Hanya Adrianlah yang bisa memberikan perintah, kapan mereka menyerang.
Saat jatuh tersungkur Aska jongkok sambil menarik rambut Jamaludin. Lalu Aska berkata, “Jangan pernah bermain-main dengan aku! Camkan itu!”
Aska segera berdiri dan meninggalkan Jamaludin yang masih jatuh tersungkur. Ia memberikan kode kepada mereka untuk meninggalkan ruangan restoran itu. Jujur ia sudah geram dengan kelakuan Jamaludin.
Aska memutuskan untuk kembali ke area parkir VVIP dengan dikawal banyak pengawal. Lalu Aska masuk ke dalam mobil dan melihat Adrian dan Luke yang menahan tawa. Aska bingung dengan mereka berdua. Alhasil tangan kekar Aska memukul pundak Adrian sambil bertanya, “Kenapa ayah dan Paman Luke tertawa?”
“Kami tidak tertawa,” seru mereka dengan serempak.
“Lalu?” tanya Aska yang mulai curiga.
__ADS_1