
"Baik yah... aku paham," jawab Aska.
Memang basic Aska bukan di bidang militer. Tubuhnya sangat kurus sekali dan tidak memiliki otot kekar. Bisa dikatakan Aska kurang menarik.
Namun tidak kemungkinan Adrian akan mengajarkan sang putra untuk menjadi mata-mata yang mumpuni. Meskipun dingin Adrian sangat memperdulikan Aska dan masa depannya.
"Apakah aku boleh mengajak Maria?" tanya Aska.
"Sepertinya itu tidak boleh. Ini adalah misi rahasia. Waktu kamu hanya beberapa hari. Setelah mendapatkan apa yang kamu cari. Kamu harus kembali ke sini secepatnya," jawab Frank yang tidak mengijinkan Aska mengajak Maria.
"Biarkan Maria menjadi teman ibumu. Ayah harap kamu tidak keberatan," sambung Adrian.
Aska menganggukkan kepalanya. Aska terpaksa mengalah dan tidak mengajak Maria ke Paris. Jujur ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan. Jika ia membawa Maria. Cepat atau lambat Jamaludin mengetahui keberadaan Maria.
Seberapa kuatkah Jamaludin di Paris? Jamaludin memang tidak memiliki taring apapun. Namun dirinya selalu pandai bergaul dan mencari kesempatan. Rata-rata orang yang berada di sampingnya memiliki tujuan hampir sama. mereka saling membantu satu sama lain. Jika tidak, Jamaludin akan memporak-porandakan mereka. Bahkan Jamaludin tidak segan-segan membunuh mereka.
Maka dari itu, aparat setempat sangat geram sekali kepada Jamaludin. mau tidak mau aparat di sana membuat pasukan khusus untuk membasmi kroni-kroninya Jamaludin. pasukan khusus itu sengaja di kepalaku oleh Adrian.
Namun bukannya habis, mereka semakin menjamur. Adrian semakin pusing untuk membasmi mereka. Diam-diam Adrian meminta Frank untuk membantu membasminya. Dengan senang hati Frank juga ikut bergabung dengan pihak aparat.
Baru tua kali tugas, Jamaludin mengetahui kalau Frank membantu bekerja sama dengan aparat kepolisian. Jamaludin sangat geram dan memburunya. Hingga Jamaludin membuat rencana untuk membunuh Frank.
Setelah mendapatkan rencana itu, Jamaludin meminta gangster musuh Blue Dragon bergabung. Mereka akhirnya mau dan menjalankan misi tersebut dan Frank mengalami kecelakaan yang sangat parah sekali.
Untungnya Frank saat itu masih disayang oleh Tuhan. Tuhan membiarkan Frank hidup dan menghirup udara bebas.
Begitulah Jamaludin yang memiliki kelicikan yang paripurna. Sampai sekarang Jamaludin masih membunuh orang yang tidak sama dengan satu misi dan visi.
Malam pun tiba. Aska mendapatkan pesan dari Nenek Stephanie. Ia mendapatkan alamat rumah milik neneknya secara tersembunyi. Ia harus ke sana dan mencari beberapa dokumen yang berhubungan dengan Wicaksono Groups di sana.
"Neng," panggil Aska.
"Apa bang?" tanya Maria yang mengangkat wajahnya.
"Besok aku akan pergi ke Paris sebentar. Aku akan mencari beberapa dokumen yang sengaja disembunyikan sang nenek," jawab Aska yang mendekati Maria.
"Kapan Abang pulang?" tanya Maria dengan gelisah.
"Aku akan pulang hari itu juga setelah selesai mendapatkan dokumen tersebut," jawab Aska yang memeluk Maria yang memeluk Maria dari belakang.
__ADS_1
"Jangan lama-lama. Kita kan belum belah duren," celetuk Maria yang mulai nakal.
"Sepertinya kamu sangat menginginkan belah duren?" tanya Aska yang mulai bersorak kegirangan di dalam hatinya.
"Memangnya Abang tidak mau belah duren?" tanya Maria balik.
Tiba-tiba saja Aska merasa tertantang dengan Maria. Dengan cepat Aska langsung melepaskan Maria. Ia memegang tangan Maria sambil berkata, "Kalau menantang aku."
"Ma-maksudnya?" tanya Maria yang menelan salivanya dengan susah payah.
"Kamu yang menantangku untuk melakukan belah duren. Sepertinya kamu harus merasakan olahraga malam di atas ranjang?" ucap Aska yang membuat wajah Maria semakin pucat.
Tidak sengaja Aska melihat wajah Maria pucat. Ia mulai menahan tawanya dan pura-pura tegas. Lalu Aska mendorong Maria ke ranjang itu dan membuka dua kancing kemejanya bagian atas. Rambutnya sengaja diacak-acak sampai terlihat keren.
Aska mulai mendekati ranjang dan naik ke atas. Lalu ia mulai menaiki tubuh mungil Maria sambil tersenyum smirk. Ia mulai menindih tubuh mungil itu sambil menatap beberapa dokumen yang berada di nakas.
"Abang," teriak Maria yang belum siap melakukan belah duren.
"Ada apa sih?" tanya Aska meraih dokumen itu.
"Abang... aku belum selesai," jawab Maria yang mulai berontak.
"Aku tidak bisa diam bang. Lagian Abang berada di atas begini," ucap Maria yang terus saja bergerak.
Tanpa disadari oleh Maria, aset kebanggan Aska mulai bergesekan dengan paha Aska. Sang aset itu pun mulai keluar dari tempat persembunyiannya.
"Kamu jangan banyak bergerak begitu" ucap Aska yang mulai merasakan sesuatu di bawah.
Maria mengerti dan mulai diam mengembangkan diri. Kemudian Aska mengambil dokumen tersebut dan menaruhnya di atas ranjang.
"Aish... aset kebanggaanku mulai bangun dari tidur panjangnya," ucap Aska secara blak-blakan kemudian duduk.
"Maksud kamu apa?" tanya Maria yang tidak paham apa dimaksud oleh sang suami.
"Kamu harus tanggung jawab dengan aset kebanggaanku," jawab Aska lalu menunjuk ke arah bawah.
Maria melihat apa yang ditunjuk oleh Aska. Kemudian Aska berdiri dan masuk ke dalam toilet untuk menetralisir sang aset kebanggannya.
Lalu Maria, Maria sangat malu dan menutup wajahnya dengan bantal. Ia tidak menyangka kejadian itu membuat dirinya panas dingin. Kemudian Maria memutuskan untuk menunggu Aska keluar.
__ADS_1
"Rasanya aku malu sekali," ucap Maria dalam hati.
Sejam berlalu. Aska keluar dari kamar dalam keadaan menggigil. Ia benar-benar kedinginan. Karena Aska berendam di bathtub memakai air dingin.
"Dingin," ucap Aska yang mulai berbaring di atas ranjang.
"Abang," panggil Maria yang tidak tega melihat Aska kedinginan.
"Apa neng?" tanya Aska yang menarik selimutnya.
"Abang tadi mandi memakai air dingin?' tanya Maria balik.
"Iya neng," jawab Aska. "Neng."
"Iya bang," sahut Maria.
"Lain kali jangan begitu ya neng. Kami sebagai pria sangat tersiksa sekali ketika aset kami sudah berdiri," ucap Aska yang memberikan nasehat kepada Maria.
"Aku kira Abang nggak tahu soal itu," ujar Maria sambil membuang wajahnya karena masih menahan malu.
"Dih si Eneng. Meskipun Abang masih usia dua puluh dua tahun, Abang paham soal itu," sahut Aska yang tidak sengaja melihat Maria sedang menyembunyikan kepalanya.
"Ternyata Abang nggak sepolos yang aku kira," sindir Maria.
Aska meledakkan tawanya lalu melihat wajah Maria. Memang yang dikatakan Maria benar. Maria kira sang suami masih polos seperti pria di usianya. Namun Aska tidak sepolos yang dikira.
"Sudah dibilangin. Kalau pria sudah menikah berarti tidak polos lagi. Lagian si Eneng nggak mau tanggung jawab," ledek Aska. "Neng itu dokumen perusahaan Aska Food ya?"
"Iya Bang. Aku disuruh Ibu menyimpannya. Ibu berencana ingin membuka cabang di Kuala Lumpur. Tapi entah kapan. Karena Ibu masih sangat takut jika Jamaludin menggagalkan rencana itu," jawab Maria yang mengerti perasaan Christina.
"Tenang saja neng. Aku bersama Blue Dragon akan menutup akses Jamaludin ke sini. Tadi sore aku membicarakan soal ini kepada ayah dan Paman Frank. Blue Dragon akan berkibar sebentar lagi. Cepat atau lambat Paman Frank ingin merebut kekuasaan Blue Dragon di kota Paris dan Eropa. Maka dari itu aku bekerja sama dengan mereka. Tapi kamu nggak boleh takut sama dunia bawah tanah. Cepat atau lambat kamu harus mengenal dunia bawah tanah. Begitu juga dengan ibu. Ibu juga akan dikenalkan oleh ayah. Ayah berharap Ibu tidak akan pernah takut untuk menghadapi Jamaluddin di bawah bendera Blue Dragon. Aku harap masalah ini cepat selesai. Dan tidak berlarut-larut hingga masa tuaku nanti,'' jelas Aska yang mendapat anggukan dari Maria.
"Lalu kenapa Abang ke Paris?" tanya Maria.
"Apakah kamu masih ingat tentang nenek Stefani?" tanya Aska balik.
"Ya aku tahu itu Bang. Aku masih bertukar pesan sama nenek Stefani," jawab Maria. "Memangnya ada apa?"
"Nenek menyembunyikan beberapa dokumen tentang Wicaksono. Di sana ada banyak bukti tentang pendirian Wicaksono Group. Nenek memintaku untuk mengambilnya dan mengamankannya. Cepat atau lambat Jamaludin akan mencari dokumen itu. Jamaludin akan bekerja sama dengan para pengacara sialan untuk mengganti dokumen itu menjadi miliknya. Kata nenek, di dokumen itu tertulis jelas kalau Wicaksono Group harus jatuh ke generasi selanjutnya. Surat itu sudah ditulis oleh kakek buyutku. Mau tidak mau akulah yang akan memegang perusahaan itu setelah kakek Damian," jelas Aska.
__ADS_1
"Jika Jamaludin belum sadar dari kesalahannya. Kemungkinan besar nyawa Abang dalam bahaya. Lalu aku harus bagaimana?" tanya Maria yang gundah gulana karena takdir Aska yang sebentar lagi menjadi ahli waris sesungguhnya.