
"Maria belum balik dari tadi," jawab Romeo.
"Sebentar lagi jam kerja akan selesai. Aku harap Maria mau ikut bersamaku nanti malam," ucap Aska
"Apakah kamu jadi ke kantor polisi untuk mengecek keberadaan Jontor?" tanya Romeo.
"Ya jadilah. Aku hanya mengecek di mana keberadaan jontor. Jika jontor berada di dalam kepolisian, aku bisa tenang. Maria harus melaporkan tentang kejadian yang di mana Wahyu dipukul kepalanya oleh Jontor," jawab Aska.
Romeo pun mengangguk tanda setuju. Maria harus menjadi saksi dalam kasus ini. Karena Romeo tahu kalau Jontor sudah melakukan kekerasan dalam pekerjaannya.
"Yang namanya kekerasan tetap kekerasan. Aku nggak bisa memaafkan seluruh kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang tersebut. Rasanya aku sudah capek menghadapi ini semuanya. Padahal aku baru terjun di dunia bisnis seperti ini. Jika aku belum memilih, aku akan memilih untuk mengurusi kebun ketimbang perusahaan seperti ini. Setiap laporan yang aku dapatkan semuanya nihil. Mereka membuat laporan tidak berdasarkan hati. Mereka membuat laporan seperti bocah kecil yang baru saja belajar menulis," kesal Aska yang membuat Romeo terkekeh.
"Jangankan kamu. Aku sendiri saja angkat tangan. Ingin rasanya aku merombak habis-habisan perusahaan ini. Tapi aku tidak memiliki wewenang apapun. Ini yang membuat aku kesal sekali," jawab Romeo.
Beberapa saat kemudian Maria datang. Maria membawa seluruh berkas-berkas seluruh divisi yang didatanginya itu. Maria mulai mencurigai beberapa divisi yang melakukan kecurangan.
"Kayaknya calon suamiku harus bekerja keras untuk mengurusi ini semuanya," ledek Maria yang membuat Aska mendekatinya dan membisiki sesuatu.
"Begitu juga di rumah. Aku akan bekerja keras untuk bercocok tanam pada malam hari," bisik Aska yang membuat Maria terkejut.
Pletakkkkk.
Tangan mungil telah mendarat sempurna di pundak Aska. Maria sangat kesal sekali dengan pernyataan sang calon suami. Bisa-bisanya sang suami mengatakan yang sangat aneh bagi dirinya. Ia langsung menginjak kaki Aska dan pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Bagaimana dengan tanggapan Aska? Aska malah tertawa terbahak-bahak melihat Maria yang kesal. Ia sendiri tidak menyangka mengatakan seperti itu. Namun itu kenyataannya. Bukankah setelah menikah dirinya akan selalu melakukan olahraga malam bersama Maria?
"Kenapa kamu tertawa terbahak-bahak seperti itu?" tanya Romeo yang mulai curiga terhadap Aska.
"Aku hanya menggodanya saja. Dia sangat marah sekali denganku. Menurutku wajah Maria sangat menggemaskan sekali dan lucu. Ingin rasanya aku membawanya pulang dan mengurungnya di dalam kamar," jawab Aska yang meraih ponselnya di dalam kantong jas dan menghubungi Maria untuk segera ke sini.
"Kamu itu ada-ada saja. Untung saja itu calon istrimu. Bagaimana kalau Maria milik orang lain?" tanya Romeo yang menaruh semua berkas-berkas di tangannya di atas meja.
"Jujur aku nggak memiliki nyali besar untuk itu. Aku pernah ketahuan menggoda istri orang. Lalu ketahuan suaminya dan dibawakan parang olehnya. Jujur aku kabur mengelilingi kebunnya Pak Broto. Pak Broto menyelamatkanku dan mengatakan maklum saja kalau Aska masih kecil dan tidak mengerti tentang hal begituan," jelas Aska yang membuat Romeo terkejut sekaligus tertawa terbahak-bahak.
"Pak Broto bisa-bisanya mengatakan seperti itu. Aku tahu saat itu usiamu menginjak lima belas tahun. Dan aku melihatnya pada awal mula kamu menggoda dia sampai terkena apes," ujar Romeo yang membuat Aska terkejut.
"Apa itu benar? Ternyata selama ini kamu sudah memata-mataiku. Jadi hidupku merasa ada yang mengawasi. Dan apakah kamu bilang soal masalah itu ke ibu?" tanya Aska.
"Setiap yang kamu lakukan dari yang kecil hingga besar Nyonya Christina semuanya sudah tahu. Bahkan kamu dikejar-kejar oleh orang itu. Bukannya Nyonya Christina menanggapinya malah menertawaimu dengan tertawa terbahak-bahak. Jujur ulah konyolmu itu bisa membuat orang tersenyum kembali. Apakah kamu tidak merubah sifat konyolmu itu menjadi sifat dingin saat menjabat sebagai CEO?" tanya Romeo.
Tidak pernah terbayangkan oleh Romeo. Dirinya sangat menyetujui kebijakan dari Aska. Jujur saja Romeo sangat menginginkan perubahan dalam perusahaan ini secara besar-besaran. Andai saja jika Aska datang dua tahun yang lalu. Kemungkinan besar keadaan perusahaan tidak separah ini.
Saat melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Maria. Akan melihat Maria yang sedang berdandan. Ia langsung mendekati Maria dan duduk di hadapannya.
"Apakah kamu sibuk nanti malam?" tanya Aska yang menatap wajah Maria.
"Kalau malam biasanya aku beristirahat dan tidur," jawab Maria sambil membereskan alat-alat make up nya dan dimasukkan ke dalam tas kecilnya itu.
__ADS_1
"Kalau begitu ikutlah denganku malam ini!" ajak Aska.
"Kita mau ke mana?" tanya Maria.
"Ada seseorang yang ingin bertemu denganku. Dia sepertinya berusia tujuh puluh tahunan. Aku harap kamu tidak cemburu denganku. Karena wanita yang aku temui adalah seorang perempuan," jawab Romeo yang menjelaskan agar Maria tetap ikut.
"Kenapa kamu tidak berangkat sendirian ke sana? Aku akan mengganggumu jika bertemu dengan orang itu," tanya Maria yang membuat Romeo bersorak kegirangan di dalam hatinya.
"Aku hanya izin sama kamu saja. Aku nggak ingin kamu berpikiran macam-macam. Lagian aku juga ingin bertemu dengannya bersamamu," jawab Aska yang membuat Maria menganggukkan kepalanya.
"Okelah kalau begitu. Aku akan pulang ke rumah terlebih dahulu dan menyusul kamu ke penthouse," ucap Maria.
"Tidak perlu ke sana. Lagian pertemuanku dimulai sekitar jam enam. Aku hanya ingin kamu mengikutiku," jelas Aska. "Bersiaplah kita akan pulang sekarang! Aku ingin mengganti pakaianku terlebih dahulu. Mana mungkin aku memakai pakaian formal seperti ini ketika bertemu dengan seseorang."
"Memangnya sudah jam berapa?" tanya Maria sambil merayu pacarnya dan melihat jam.
"Jam sudah menunjukkan waktu kerja selesai. Aku ingin mengobrol denganmu untuk para pegawai. Aku tidak ingin membahas di sini. Bisa dikatakan di sini banyak mata-mata yang mengincarku," jawab Aska yang membuat Maria paham akan hal itu.
"Tidak apa-apa. Aku setuju dengan pernyataanmu. Aku sendiri merasakan jika dirimu dalam bahaya besar. Dan orang-orang yang berada di jabatan tertinggi akan menentang keras ketika kamu menjabat sebagai CEO," jelas Maria.
"Ya aku paham itu. Mereka memang sengaja melakukannya. Agar aku tertangkap dan diserahkan kepada seseorang yang di mana ingin menghancurkan keluarga kakek Damian," tambah Aska.
Sontak saja Maria terkejut. Jadi selama ini prahara dalam perusahaannya itu berkaitan dengan keluarga besarnya.
__ADS_1
"Apakah masalah prahara perusahaan ini berkaitan dengan keluarga besarmu?" tanya Maria.
"Apakah kamu bisa merahasiakan hal ini? Soalnya aku sedang menyelidiki semuanya? Aku tidak akan mungkin berbicara ke publik tentang masalah ini," tanya Aska.