Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Mencoba Mengelak.


__ADS_3

Romeo hanya bisa menahan tawanya. Entah kenapa sang Tuan mudanya itu sangat lucu sekali. Bukannya bahagia malah bingung soal uang yang didapatnya itu.


Aska yang melihat Romeo menahan tawanya hanya bisa menghela nafasnya. Bagaimana tidak harusnya Romeo memberikan solusi? Malah membiarkan hidupnya menderita seperti ini.


"Kalau ketawa-ketawa aja nggak usah ditahan seperti itu!" geram Aska.


"Aku tidak mengerti dengan tuan muda," ucap yang akhirnya tawanya meledak.


Baru kali ini Romeo menemukan seseorang yang sangat unik. Seharusnya Aska itu menerima uang dari kedua orang tuanya. Namun justru kebalikannya, Aska malah bingung dengan uangnya itu.


Romeo akhirnya terdiam dan menatap wajah sang Tuan mudanya. Lalu Romeo akhirnya mengeluarkan suaranya. Dirinya ingin bertanya sesuatu yang sangat penting tersebut.


"Menurut saya tuan muda itu sangat aneh sekali. Seharusnya tuan muda itu sangat bahagia ketika mendapatkan uang dari berbagai pihak. Banyak sekali orang menginginkan uang seperti itu. Tapi tuan muda malah bingung menaruh di mana?" jelas Romeo.


"Aku lebih suka hidup sederhana ketimbang menghambur-hamburkan uang. Karena Aku bukan tipe membuang uang seenaknya saja," ujar Aska.


"Sebaiknya tuan muda simpan saja. Siapa tahu nanti tuan muda bisa membangun pabrik lagi. Atau kantor untuk cabang baru di berbagai negara. Apakah Tuan Muda ingin memperbesar Aska food dan Wicaksono Group?Tiga tuan muda ingin membangunnya lagi dan menjadi besar. Saya dan Maria bersedia membantu anda," jelas Mario.


"Baiknya sih gitu. Biar aku tidak kesusahan membangunnya yang lebih besar lagi," tambah Aska. "Kalau begitu kita balik lagi ke perusahaan. Siangnya Aku ingin menemui Maria di rumah sakit."


"Baiklah," balas Romeo yang langsung menandakan gasnya menuju ke kantor.


Seorang wanita paruh baya sedang duduk di kursi kebesarannya. Lalu wanita itu meraih panjangnya dan membaca sebuah pesan. Matanya membelalak sempurna ketika membaca pesan tersebut.


Wanita itu langsung tersenyum bahagia. Ternyata yang mengirim pesan itu adalah orang yang penting dalam hidupnya. Wanita itu merasakan jantungnya berdetak dengan kencang. Entah bagaimana dirinya ingin beruforia di dalam kantornya itu.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Aska dan Romeo telah berdiri di hadapan wanita itu. Lalu Aska melihat wanita itu sangat bahagia sekali. Kemudian Aska memanggilnya berkali-kali namun tidak ditanggapi.


"Ibu," panggil Aska berulang kali.

__ADS_1


Setelah euforia dalam hati, wanita itu melihat Sang putra sudah berdiri di hadapannya. Sambil mengulas senyum wanita itu menyuruh Aska duduk di hadapannya.


"Ibu kenapa? Tiba-tiba saja Ibu kok merasa aneh seperti ini? Apakah ibu sedang jatuh cinta? Lalu siapa pria yang berani mencuri hati ibu? Bilang pada Aska Bu. Apakah pria itu adalah calon ayah Aska yang baru?" tanya Aska bertubi-tubi hingga membuat wanita itu menganga sempurna.


"Ayolah Bu beritahu aku! Apakah pria itu adalah ayah baru Aska?" tanya Aska kembali.


"Baiklah ibu akan mengatakannya sekarang. Dia adalah ayahmu sendiri. Memangnya Ibu memiliki kekasih baru apa?" jawab Christina nama wanita itu. "Bagaimana dengan Maria?"


"Aku tidak bisa mengikutinya sampai ke rumah sakit. Karena jam kantor sudah mulai. Bapaknya Maria masuk dalam rumah sakit. Sepertinya bapaknya sedang sakit parah. Nanti dia makan siang aku akan ke sana bersama Mario," jawab Aska.


"Sedari dulu Ibu tidak menyukai Haryadi. Ibu sudah menyelidikinya Haryadi seperti apa? Ibu selalu memperingatkannya tapi tidak digubrisnya. Semoga pak Antoni cepat sehat kembali," ucap Christina yang mendoakan bapaknya Maria.


"Apakah ibu sudah memanggil Erna?" tanya Aska.


"Belum sama sekali," jawab Christina. "Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"


"Semua bukti tentang Erna sudah terlihat jelas. Mau tidak mau kita akan memecatnya dan blacklist nama itu ke seluruh perusahaan luar maupun dalam. Karena Erna sudah melakukan kesalahan yang fatal sekali. Aku tidak bisa membayangkan jika perusahaan lainnya seperti nasib kita," jelas Aska dengan damai.


"Kalau begitu ibu akan memanggilnya. Kita harus mencairkan masalah ini agar tidak menjadi polemik dalam tubuh perusahaan kita," balas Christina.


Sembari menunggu Aska mengambil roti di atas meja Christina. Ia mau makan roti itu mendekati kaca bening yang terhubung keluar. Matanya sedang menyusuri jalanan ibukota yang macet itu. Untung saja setelah dari rumah Maria menuju ke sini jalanan tidak begitu macet. Dalam hati Aska berkata, "Untung saja tadi berangkat tidak macet. Jika macet habislah aku. Bagaimana kabar Pak Broto dan Bu Siti ya? Aku sangat merindukannya."


Sambil makan Aska masih memperhatikan jalanan tersebut. Dirinya sedang terusik dengan keputusan yang kemarin. Lalu ia mulai mencerna dan mengambil hikmahnya. Dengan penuh tekad Aska akan menikahi Maria.


Sedangkan Romeo sedang duduk di sofa sudut ruangan. Ia mewakili Maria menunggu kedatangan Erna. Romeo adalah seorang asisten terkejam di perusahaan itu. Jika ada yang melakukan kesalahan fatal, maka Romeo tidak segan-segan memecatnya. Namun urusan ini berada di tangan Tuan mudanya itu.


"Oh... Iya nyonya. Aku akan memberikan cuti kepada Maria dua hari kedepan. Agar Maria bisa menjaga bapaknya," ucap Romeo.


"Untung kamu sudah memberikan perintah. jika tidak Mari akan ke sini dan melanjutkan pekerjaannya. Lalu bagaimana dengan Hariadi?" tanya Christina.


"Terpaksa Aska memasukkan Haryadi ke dalam penjara. Jika tidak kemungkinan besar pria itu selalu membuat ulah di mana saja," jawab Romeo yang dibarengi oleh kedatangan Erna sambil membawa berkas-berkas penting dan menaruhnya di atas meja Christina.


"Selamat pagi nyonya," sapa Erna dengan sopan.

__ADS_1


"Selamat pagi Erna. Apa kabarmu?" tanya Christina.


"Baik nyonya," jawab Erna.


"Apakah kamu yang membuat surat perjanjian kerjasama?" tanya Christina.


"Iya Bu," jawab Erna dengan wajah santai.


"Saya ingin tanya sesuatu tentang beberapa poin yang kamu tulis tentang sistem bagi hasil. Seharusnya di sini mendapatkan enam puluh dan pihak b empat puluh. Lalu kenapa anda mengganti menjadi tujuh puluh persen buat pihak B. Sedangkan pihak A mendapatkan tiga puluh persen? Ini maksudnya apa?" tanya Christina.


Deg.


Jantung Erna serasa berhenti dan menatap wajah Christina. Erna terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. Lalu dirinya mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk bisa mengelak dari tuduhan itu.


"Ah Ibu... Rasanya Ibu salah deh," ucap Erna dengan santai.


"Salah apanya? Jelas-jelas poin-poin itu saling berkaitan tapi kamu ubah seenaknya. Dalam surat perjanjian itu perusahaan sudah menerapkan bahwa akan ada sistem bagi hasil enam puluh buat perusahaan empat puluh buat klien. Lalu kenapa kamu mengubah dan menguntungkan buat klien kita?" ucap Aska yang masih berada dalam posisi yang sama.


Erna seketika membeku karena suara yang dikenalnya. Otaknya mulai bekerja dan mencari siapa pemilik suara itu? Tiba-tiba saja Erna mengenal suara itu dan bertanya dalam hati, "Apakah itu anaknya orang miskin?"


"Cepatlah jawab! Jangan kamu diam seperti itu! Apa untungnya bagimu ketika melakukan kecurangan seperti ini!" tegas Aska yang mulai menekan Erna untuk berkata jujur.


"Apa maksudnya?" tanya Erna yang mulai mengelak.


"Apakah kamu tidak mengerti tentang surat perjanjian itu? Harusnya kamu tahu, kenapa surat perjanjian itu berubah? Terutama dalam beberapa poin yang menjadi kejanggalan saat diperiksa?" tanya Aska.


"Saya tidak mengubah beberapa poin itu. Saya bersumpah beberapa poin itu masih sama seperti yang dulu," ucap Erna yang wajahnya mulai berubah memerah.


"Tidak mungkin. Saya sudah memeriksanya semua dari beberapa poin itu. Anda ini sekretaris profesional atau tidak profesional? Anda seharusnya tahu, saat Nyonya Christina meminta surat itu, anda hanya bisa menyalinnya dari berkas yang lama. Lalu Kenapa Anda mengganti beberapa poin itu?" tanya Aska.


"Saya tegaskan sekali lagi! Saya tidak pernah mengganti beberapa poin itu," jawab Erna dengan tegas.


"Bohong!" bentak Aska dengan suara meninggi.

__ADS_1


"Saya tidak pernah bohong dengan siapapun apalagi melakukan kecurangan dalam perusahaan ini! Anda pasti tahu kan kalau itu ulah dari seseorang yang ingin menghancurkan karirku sendiri," ujar Erna yang masih mengelak.


''Begitu ya? Kata demi kata kamu rangkai menjadi satu kalimat. Lalu kamu berusaha untuk meyakinkan saya dan Nyonya Christina agar percaya bahwa ada seseorang yang merubah surat perjanjian itu. Lalu menuduh orang itu dengan mudahnya. Karena orang itu akan menghancurkan karir anda. Sedari dulu kamu tidak pernah berubah ya? Selalu mengelak saat kamu membuat kasus dan melemparkannya ke orang yang tidak bersalah. Hingga orang itu di DO dari sekolah. Apakah kamu tahu soal itu?"


__ADS_2