
"Booking restoran milik Paman Frank di Timur Kota Paris ini," jawab Aska sambil memberikan perintah kepada mereka.
"Kamu mau ngapain Memangnya membooking restoran Paman Frank?" tanya Max.
"Aku ingin memberikan kejutan kepada Maria. Sudah beberapa bulan aku menikah. Aku ingin memberikan sesuatu yang berkesan untuknya," jawab Aska yang menatap langit biru yang cerah.
"Apakah kamu sedang jatuh cinta kepada Maria?" tanya Romeo yang tersenyum melihat Aska sedang bahagia.
"Ya… aku memang sedang jatuh cinta kepadanya. Aku tidak bisa menolak perasaan ini dan membuangnya jauh-jauh," jawab Aska sambil memandang wajah Romeo.
"Syukurlah kalau begitu. Aku kira kamu nggak yakin mencintai Maria. Aku tahu kalau pernikahanmu adalah pernikahan dadakan," ucap Romeo.
"Yang namanya hidup bersama pasti ada cinta. Yang namanya hidup satu atap pasti ada cinta juga. Banyak yang bilang kalau aku tidak mencintai Maria. Karena mereka melihatku dari sisi luarnya saja. Mungkin mereka melihat emosiku yang labil. Atau juga aku mempermainkan Maria begitu saja. Semuanya itu tidak benar. Setiap manusia diberikan kelebihan dan kekurangan. Kamu tahu sendiri kelebihannya Maria itu apa? Kekurangannya juga Kamu tahu kan seperti apa? Begitu juga dengan diriku. Tapi mereka hanya bisa mencibirku tidak bisa mengarungi rumah tangga ini," jawab Aska yang menjelaskan perasaannya.
"Yang kamu katakan benar. Aku juga merasakan seperti itu. Banyak sekali orang yang mengatakan kalau kamu memiliki wajah brengsek. Nyatanya Kamu adalah pria yang memiliki kebaikan sejati," puji Max.
"Don't judge a book cover. Itulah kata-kata yang tepat buatmu. Tapi nggak semuanya orang memiliki wajah brengsek hatinya juga brengsek. Itu menandakan Kamu orangnya nggak bisa ditebak oleh siapapun," puji Romeo.
"Beberapa hari lagi persiapkan diri kalian untuk pergi ke Jakarta. Aku ingin mengambil berkas-berkas Aska Food. Cepat atau lambat perusahaan itu harus dibersihkan dari orang-orangnya Benjamin maupun Jamaludin. Bantu aku untuk mengungkap semuanya. Agar mereka bisa mendekam dalam penjara. Oh ya… aku akan mengajak Maria ke Jakarta," perintah Aska.
"Siap bos," tahun mereka dengan serempak.
Flashback off.
Selesai mencoba gaun hijau tosca itu, Maria keluar dan menuju ke arah Aska. Maria mendekati Aska sambil bertanya, "Bagaimana menurutmu baju ini?"
Aska yang sedang memeriksa saham di ponselnya itu mengangkat kepalanya. Ia tercengang dan tidak bisa bicara. Ternyata selama ini Maria memendam kecantikannya itu. Namun Aska mengacungkan jempolnya sambil berkata, "Itu sangat cocok sekali denganmu."
__ADS_1
"Aku akan mengambil gaun ini," ucap Maria.
Aska menganggukkan kepalanya sambil berdiri. Lalu Aska mendekatinya sambil berbisik, "Jangan kamu lepas gaun itu."
"Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Maria.
"Aku akan mengajakmu ke restoran. Setelah itu kita pergi ke hotel untuk menghabiskan malam minggu bersama-sama," jawab Aska yang membuat Maria tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan mereka?" tanya Maria.
"Nggak usah memikirkan mereka. Apakah kamu ingin setiap hari tidak meluangkan waktumu untukku? Kita harus memiliki waktu sebaik mungkin. Kita sudah menjadi pasangan suami istri. Ada kalanya kita harus memiliki waktu bersama," jawab Aska.
Beberapa saat kemudian datang pelayan. Pelayan itu menyerahkan tas yang berisikan baju Maria tadi. Maria segara meraihnya dan mengucapkan terima kasih.
"Kamu tunggu disini dulu. Aku akan membayarnya," pinta Aska yang memandang pelayan itu. "Di mana aku harus membayar gaun ini?"
Sesampainya di kasir, Aska membayar gaun itu. Setelah selesai Aska langsung menuju ke Maria.
"Apakah kamu siap untuk menghabiskan waktu bersamaku malam ini?" tanya Aska.
"Aku sudah siap," jawab Maria.
Kemudian pasangan suami istri muda itu pun langsung meninggalkan butik. Di dalam perjalanan Romeo bersama Max mengikutinya. Mereka berdua ingin memastikan kalau Aska dan Maria baik-baik saja. Meskipun mereka adalah kaki tangan Aska, mereka juga merangkap sebagai pengawal pribadinya.
Markas Blue Dragon.
Benjamin yang dari kemarin tertidur terlelap. Pria paruh baya itu pun tidak merasakan kalau dirinya berada di sel milik Blue Dragon. Hawa dingin yang mencekam dan lembab. Hawa tersebut mengusik dirinya untuk bangun dari tidurnya.
__ADS_1
Benjamin membuka matanya dan melihat ruangan yang sangat gelap sekali. Tangannya terikat dengan rantai begitu juga dengan kakinya. Tiba-tiba saja dirinya ingin kabur dari sel itu. Ketika ingin menarik tangannya, ia merasakan tangannya sangat berat sekali. Matanya melihat rantai seberat dua puluh kilo. Begitu juga dengan kakinya. Rasa sesak di dada tidak bisa digambarkan begitu saja. Ingin marah namun semuanya sia-sia. Karena apa yang dilakukannya dulu sekarang dirasakannya.
Dulu Benjamin memang kejam terhadap orang. Banyak sekali tawanan-tawanan Black Crossover dibunuhnya secara mengenaskan. Padahal mereka orang-orang yang tidak berdosa sama sekali. Ditambah lagi Benjamin sering menyakiti banyak orang.
Kenapa Benjamin berada di Blue Dragon? Karena Frank telah menebus Benjamin. Entah kenapa Frank ingin menghukum Benjamin secara sadis.
Sementara itu Minah berada di markas Blue Dragon bersama Luke. Mereka sengaja ingin menemui Benjamin untuk terakhir kalinya. Frank pun mengizinkannya dan membiarkan mereka menyiksanya.
Minah bersama Luke masuk ke dalam ruangan bawah tanah. Ketika masuk aroma darah menyeruak ke dalam hidungnya. Entah sudah berapa orang yang telah dihabisinya. Namun mereka tidak memperdulikannya asalkan bisa bertemu dengan Benjamin.
Saat sampai di sel milik Benjamin, wajah Minah tidak kasihan sama sekali. Meskipun mereka terikat dalam pernikahan selama dua puluh dua tahun, Minah tidak pernah merasakan jatuh cinta kepada Benjamin.
Ketika kakinya melangkah, Minah menatap wajah Benjamin yang sudah tidak garang lagi. Jujur saja dirinya sudah tidak ketakutan seperti dulu. Bahkan Minah sendiri tertawa mengejeknya.
"Hai Benjamin," panggil Minah.
Benjamin yang sudah sadar itu pun menatap wajah Minah dengan nanar. Wanita yang terikat pernikahannya selama dua puluh dua tahun ternyata sudah berubah. Jujur dalam hatinya. Ada perasaan bersalah di dalam hatinya. Kenapa dirinya tidak bisa membuat Minah bahagia?
Selalu saja penyesalan itu datang terakhir. Kalau saja penyesalan itu datang lebih awal, tidak mungkin Benjamin menyia-nyiakan Minah begitu saja. Memang, pria paling bodoh sedunia.
"Mulai sekarang kita bercerai. Aku dan kamu tidak memiliki hubungan sama sekali. Jangan pernah mencariku lagi. Oh ya soal anakku. Sampai saat ini aku belum menemukannya. Suatu saat nanti aku pasti menemukannya dan hidup bersamanya. Luka yang kamu torehkan tidak bisa membuatku kembali kepadamu. Ditambah lagi aku tidak pernah mencintaimu sama sekali. Kamu tahu pria yang selama ini aku cintai itu siapa? Yaitu Luke. Teman sebangkuku, teman sekelasku dan juga tetanggaku sendiri. Kamu telah menghancurkan impianku bersamanya. Seharusnya aku hidup bersama Luke bukan bersama kamu," ucap Minah dengan penuh kekesalan.
Benjamin hanya menganggukkan kepalanya. Iya ingin mengutarakan isi hatinya. Namun Minah sudah mengatakan sebenarnya. Akhirnya Benjamin menyerah pada keadaan.
"Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Ini untuk terakhir kalinya bertemu denganmu. Putramu sekarang bersama Aska. Mereka adalah teman akrab. Aku nggak tahu di mana putramu sekarang keberadaannya? Sesudah kamu melahirkan, putramu aku beri nama Fabian. Tanyakan semua pada Aska," ucap Benjamin dengan jujur.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Minah.
__ADS_1