
"Ini bang aku berikan semua orang-orang yang ingin menghancurkan Aska Food dari dalam. Mereka masih ada hubungannya dengan Benjamin."
Jawab Maria yang menyerahkan dokumen itu kepada Aska.
"Banyak sekali berkasnya?"
Tanya Aska benar-benar terkejut dengan apa yang diterimanya.
"Mereka adalah komplotan yang ditunjuk oleh Pak Gilang untuk menghancurkan perusahaan. Pak Gilang sendiri juga dibawah pengaruh sama Benjamin."
Jawab Maria yang menjelaskan apa yang selama ini terjadi di dalam perusahaan.
"Aku yakin Romeo juga sedang mencari keberadaan surat itu."
Tambah Maria yang membuat Aska.
"Bukannya Paman Frank sudah membereskan semuanya?"
Tanya Aska yang duduk di tepi ranjang sambil membuka dokumen tersebut.
"Ada yang belum terdeteksi kata Helena. Mereka terselubung dan tersembunyi. Bisa dikatakan kalau merekalah yang mengendalikan semuanya."
Jawab Maria.
"Ibu tidak tahu?"
Aska mengerutkan keningnya karena menanyakan tentang sang ibu.
"Sebenarnya ibu sudah tahu semua. Ibu takut mengungkapkan semuanya. Jika itu terjadi kemungkinan besar nyawa Kakek Damian dan Abang dalam bahaya."
Jelas Maria.
"Oh. Baiklah. Merekalah yang sekarang hidupnya dalam bahaya."
Ucap Aska yang mengancam mereka.
"Itu benar Bang. Tapi hati-hati ya bang."
Ujar Maria yang sangat ketakutan jika Aska dikeroyok.
"Kamu enggak perlu cemas seperti itu. Perusahaan itu harus kepada sang pemilik aslinya. Mereka sekarang sudah tidak berhak memiliki apa-apa."
Jelas Aska yang tersenyum smirk.
"Lalu rencana Abang bagaimana?"
Tanya Maria yang sangat penasaran sekali.
"Tenanglah. Jangan pernah panik seperti itu. Kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku yakin mereka akan masuk ke dalam penjara dalam beberapa hari ke depan."
Maria menganggukan kepalanya. Ia sendiri mengaku dendam kepada mereka. Maria sering diancam ketika sedang menyelidiki kasus bersama Romeo.
"Aku setuju Bang."
Ujar Maria.
Setelah itu Aska menaruh dokumen itu di tas ranjang. Ia segera memakai baju yang telah disediakan oleh Maria.
Selesai memakai baju, Aska melihat Maria sedang membuka bajunya. Ia menggelengkan kepalanya dan mengenyahkan semua pikirannya di dalam otaknya itu.
"Ya sudah dech aku keluar. Aku ingin menyambut kedatangan Paman Frank."
Pamit Aska.
"Apakah Paman Frank berada di sini?"
"Ya... mereka membawanya kesini."
Jawab Aska yang mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu sambil membawa dokumen tersebut.
Aska keluar dari kamar lalu menuju ke ruang tamu. Aska tidak sengaja mendengar suara sang ayah sedang mengobrol bersama Max dan Romeo.
"Katanya Paman Frank yang datang. Tapi kok yang datang adalah ayah."
Ucap Aska dalam hati.
"Aska."
Panggil Christina dari arah berlawanan.
"Ibu."
__ADS_1
Pekik Aska dengan terkejut.
"Aku disini."
Sahut Christina yang semakin mendekati Aska.
"Bukannya Paman Frank yang datang kesini?"
Tanya Aska yang memegang daun pintu.
"Aku datang kesini karena rindu pada Maria."
Jawab Christina membuat Aska matanya membulat sempurna.
"Sebenarnya ada masalah lain lagi."
"Masalah apa Bu?"
Tanya Aska yang mengerutkan keningnya.
Jujur Aska tidak paham apa yang dikatakan oleh sang ibu. Yang Aska tahu sebenarnya masalah perusahaan itu hanya memperbaiki perusahaan. Tapi kenapa ibu dan ayah datang?
kalau Aska membuka pintunya dan melihat sang ayah dan pamannya sedang mengobrol. Ia menaruh berkas-berkas itu di atas meja. Ia duduk di samping Adrian sambil bertanya, "Ada acara apa ini? Kok kalian pada datang kesini?"
"Maafkan aku Aska."
Ucap Frank dengan lemah.
"Ada apa Paman?"
Tanya Aska.
"Helena ternyata berpihak kepada mereka."
Jawab Frank yang sedari tadi tidak tenang.
"Apa?"
Pekik Aska.
"Iya. Ternyata dia adalah mata-mata Benjamin."
Aska menundukkan wajahnya karena tidak percaya apa yang dikatakan oleh Frank. Ia memegang keningnya sambil memijit keningnya sambil menggeram. Ia memilih untuk diam dan mulai mencerna apa yang dikatakan oleh Frank.
"Sebelum aku membunuhnya, Benjamin mengakui kalau wanita di sisiku adalah wanita ular. Yang dimana diam-diam wanita itu sudah merencanakan ini semuanya dengan matang bersamanya."
Jelas Frank.
"Ini gawat. Ini tidak bisa dibiarkan sama sekali. Kita harus mencari cara untuk menghentikan semuanya!"
Tegas Aska.
"Makanya kami kesini untuk menemui kamu. Ibumu akan menjaga Maria dari serangan Helena."
Sambung Adrian.
"Hmmp... ini tidak baik. lalu apakah ibu dan Maria akan berada di Singapura?"
Tanya Aska.
"Ibu dan Maria akan pergi ke Shanghai. Mereka tidak bisa menempati lagi markas yang berada di Singapura. Karena Helena bisa melacak keberadaan dan membunuh mereka. Aku baru mendapatkan info dari Luke. Helena lebih berbahaya dari Benjamin."
Jawab Adrian menjelaskan Aska.
"Hmmp... baiklah. Aku sudah tidak sabar menghabisi musuh."
Jelas Aska.
"Jadi selama ini Helena tahu masalah ini?"
Tanya Romeo yang sedari tadi hanya menyimak obrolan mereka.
"Iya... Selama ini rencana yang kita diskusikan ini menjadi bocor. Aku menyesal sekarang."
Jawab Frank yang mulai frustasi.
"Lalu bagaimana dengan nenek dan kakek?"
Tanya Aska yang peduli dengan Damian dan Stefani.
"Luke bersama pihak aparat kepolisian di sana sudah melindunginya."
__ADS_1
Jelas Adrian.
"Makanya Paman tidak memberikan Benjamin ke Kakek Lione."
Sahut Max.
"Memang sengaja aku tidak memberikan ke Kakek Lione. Aku merasakan ada kejanggalan dari dalam diri Benjamin."
Jawab Frank yang menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Terima kasih Paman. Yang sudah memberikan aku informasi yang rumit ini."
Kesal Aska yang ingin meringis.
"Jalan satu-satunya adalah melakukan penyamaran. Kita tidak bisa menyergapnya. Yang aku tahu Helena itu sangat licik sekali. Kita akan menunggunya lengah dan menangkapnya."
Jelas Frank.
"Baiklah aku setuju akan hal itu."
Jawab Aska.
"Bagaimana dengan kabar Wicaksono Group?"
Tanya Aska.
"Untuk sementara kakek dan nenek kamu turun terlebih dahulu."
Jawab Adrian.
"Apakah ayah mempekerjakan mereka?"
Tanya Aska yang bingung dengan Adrian.
"Kami sudah mendiskusikan dengan jelas. Kakekmu sudah enggak kaget lagi tentang perusahaan Aska Food International. Saat mendirikan perusahaan tersebut campur tangan Benjamin dan Jamaludin."
Jawab Adrian yang mengusap wajahnya dengan frustasi.
Selang beberapa menit kemudian datanglah Maria dan Christina. mereka masuk dan duduk di sofa panjang. Sebelum menceritakan semuanya, Aska dan Maria saling berpandangan.
"Maaf."
Ucap Aska dengan lirih.
"Ada apa bang?'
Tanya Maria yang mengerutkan keningnya.
"Kenapa kamu meminta maaf?"
"Aku meminta maaf karena aku sendiri bersalah sama kamu."
Jawab Aska yang memegang tangan Maria.
"Ada apa sedih Abang?"
Tanya Maria.
Aska tidak kuasa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. mereka yang berada di ruangan itu hanya bisa menghela nafasnya dengan berat.
Adrian dengan berat hati menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak ingin salah sama menantunya itu. ia berharap bisa mengerti apa yang terjadi sekarang.
"Apa?"
Pekik Maria yang membuat Aska menganggukan kepalanya.
"Jadi selama ini?"
Tanya Maria.
"Iya... masalah ini belum selesai. Benjamin sudah dieksekusi oleh Paman."
Jawab Aska yang membuat Maria menggelengkan kepalanya.
"Kita harus berpisah terlebih dahulu. Kita tidak bisa bersama untuk sementara waktu."
Ucap Aska dengan berat.
"Abang."
Panggil Maria yang menahan air matanya sambil meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1