
"Bang," panggil Maria.
"Ada apa neng?" tanya Aska.
"Terima kasih ya sudah dipesankan makan malam," jawab Maria.
'Iya neng," balas Aska. "Neng makan yang banyak ya? Agar adik bayinya sehat-sehat selalu."
"Iya Bang. Loh, bukannya abang tadi sudah memesan makanan?"
Tanya Maria yang mencari pesanan Aska.
"Iya neng. Tapi abang pesannya sama Abang Romeo. Katanya nanti dibawain. Kalau neng mau makan... makan saja. Lagian di dalam pesawat, Abang sudah makan."
Aska sengaja menyuruh Maria makan terlebih dahulu.
Maria menganggukkan kepalanya lalu menghempaskan bokongnya di kursi. Sedangkan Aska memilih untuk mencuci muka terlebih dahulu. Selesai mencuci muka, Aska mengambil ponselnya lalu mengirim pesan buat Max dan Romeo.
Aska memintanya untuk datang ke sini. Karena ada hal yang penting yang harus dibicarakan. Setelah itu ia memutuskan untuk menemani Maria makan. Ia duduk di hadapannya sambil menatap sang istri menikmati makan nasi ayam.
Saat dirinya melihat nasi ayam, Maria mengambil satu sendok lalu mengarahkan ke mulut Aska. Dengan senyumnya yang tulus, Maria berkata, "Makanlah terlebih dahulu."
Lalu Aska melahapnya sambil mengucapkan kata enak. Syukurlah malam ini Maria bisa makan dengan banyak. Mungkinkah Maria sedang merindukan makanan favoritnya di sini? Mungkin saja. Kebetulan Maria di Jakarta ingin berkeliling dan berburu kuliner favoritnya.
"Abang," panggil Maria.
"Ada apa?" tanya Aska dengan lembut.
"Sebelum aku menikah, aku sering sekali membuat vlog di beberapa akun media sosial. Terus aku bagikan setiap orang. Aku ingin bertanya, bolehkah aku menjadi seorang artis dadakan?"
Tanya Maria sambil meminta izin kepada Aska.
"Lebih baik kamu hentikan saja. Nggak ada bagusnya buat kamu. Buatlah hidupmu seolah-olah misteri buat mereka. Nanti kamu tahu efeknya bagaimana."
Jawab Aska yang tidak mau melihat sang istri menderita kedepannya.
Apa yang dikatakan oleh Aska benar. Bukan karena mulut pedas dari masyarakat. Bukan itu.
Aska menghindari serangan dari musuh secara mendadak. Hal ini dikarenakan, jika semakin terkenal dirinya di media sosial. Hidupnya di bayang-bayangi oleh pihak lawan.
Memang Aska ingin sekali bermain media sosial. Tapi Aska sendiri sadar. Cepat atau lambat nyawanya juga terancam.
Aska sebenarnya tidak melarang Maria untuk menjadi seorang artis dadakan di media sosial. Tapi setelah itu, Aska berpikir ulang agar mendapatkan sebuah Jawaban.
Lalu Maria kecewa? Justru itu Maria mendapatkan peringatan dari suaminya sendiri. Jujur dirinya juga tidak mau nyawanya terancam. Maria memutuskan untuk tidak melanjutkan untuk menjadi artis dadakan.
"Abang ada benarnya juga. Kalau begitu neng tidak akan melanjutkannya lagi. Nanti kalau ke mana-mana ada bahaya. Anak dan Eneng tidak bisa bebas ke mana-mana."
Ucap Maria yang mendapatkan acungan jempol dari Aska.
__ADS_1
"Sebenarnya sih Abang mengizinkan kamu bermain sosmed. Berhubung situasinya sulit untuk melakukannya. Terus nyawamu dalam bahaya. Maka kamu nggak perlu melakukannya. Kamu sudah mendapatkan uang dariku."
Saran dari Aska yang membuat Maria mengerti.
"Iya Bang. Neng ngerti kok. Neng nggak marah sama Abang."
"Ya sudah neng. Lebih baik habiskan makanannya itu. Setelah itu neng tidur."
"Abang nggak mau lagi?"
"Buat adik bayinya saja."
Maria akhirnya memakan makanan tersebut. Sementara itu Aska mendapatkan telepon dari Romeo. Ia segera mengangkat ponselnya lalu menatap wajah sang istri. Setelah berbicara dengan singkat, Aska mematikan ponselnya. Kemudian Aska tersenyum sambil berkata, "Abang tinggal dulu ya. Anak-anak sudah berada di luar. Setelah ini Abang mengajaknya untuk berkumpul di area kolam renang ya?"
Maria menganggukkan kepalanya sambil mengacungkan jempolnya. ia sengaja mengijinkan Aska membawa mereka ke dalam apartemen.
Selesai berpamitan, Aska menuju ke depan untuk membuka pintu. Di sana sudah ada Max juga Romeo sambil membawa makanan yang sudah dibelinya. Ia menyuruhnya masuk sambil memberitahukan, dimana tempat berkumpulnya.
Mereka pun menuju ke sana dengan dibarengi Aska. Kemudian mereka melihat pemandangan awan bertaburkan banyak bintang.
"Untung kalian belum makan di sana?"
Tanya Aska sambil menatap wajah kedua sahabatnya itu.
"Aku ke sana sudah banyak orang. Lagian juga di sana tidak ada tempat yang kosong."
"Sebelum makan aku minta sesuatu."
Pinta Aska yang mengambil sendoknya.
"Apa itu?"
Tanya Max dengan serius.
"Tolong selidiki rumahnya Maria. Aku ingin tahu ada apa dengan rumahnya itu. Diam-diam ibu dan bapak mertuaku diusir dari sana."
Jawab Aska.
"Oh itu... Rumah itu memang sudah menjadi masalah sedari dulu. Padahal rumah itu Bu Tanti dan Pak Budi membelinya dengan hasil keringatnya itu. Aku sendiri nggak habis pikir. Kenapa keluarga besar Bu Tanti ingin merebut rumah tersebut. Jadi ya... Bu Tanti sendiri terusik dari rumah itu."
Ucap Romeo yang sudah mengetahui tentang kisah tersebut.
"Kalau begitu ya sudahlah. Segera urus semua surat-suratnya. Aku akan membeli rumah itu. Agar Maria tidak lupa dengan masa lalunya."
Ujar Aska sambil memberikan perintah.
"Besok aku urus saja."
Sahur Romeo.
__ADS_1
"Apakah Bu Tanti tidak keberatan?"
Sahut Max sambil bertanya kepada Aska.
"Enggaklah. Buat apa keberatan? Bu Tanti memang sengaja untuk menjual rumah itu. Dikarenakan Bu Tanti sendiri ingin hidup nyaman dan tidak ada gangguan."
Jawab Aska yang mengerti tentang semua ini.
"Menurutku sih itu ide yang bagus. Jika rumah itu sudah berpindah tangan. Maka orang itu tidak akan bisa mengusik rumah tersebut. Apalagi rumah itu berpindah ke tanganmu. Semoga saja mereka akan berhenti untuk mengusik keluarga Maria."
Ucap Romeo dengan jujur.
"Jika rumah itu menjadi masalah. Sebagai pihak yang diutus oleh Bu Tanti. Harusnya kamu sudah memiliki jawaban yang tepat. Jika mereka mulai mengusik keberadaanmu."
Usul Max dengan serius.
"Oh iya kamu bener juga. Bilang saja kalau Bu Tanti memiliki hutan kepadaku."
Ujar Aska yang sedang mencari alasan yang tepat.
"Tapi kamu belum tahu sebenarnya. Kalau Bu Tanti sendiri tidak memiliki hutang kepada siapapun. Begitu juga dengan Pak Budi."
"Apakah aku harus bilang kalau Budi ingin membeli promax empat belas yang baru saja keluar?"
Tanya Aska yang membuat mereka tertawa.
"Nggak masuk akal itu. Coba bayangkan kalau menantunya adalah orang yang sangat tajir. Bisa saja Bu Tanti sama Pak Budi minta langsung tanpa harus menjual rumah."
Jawab Romeo sambil menahan tawanya.
"Memang benar. Aku akan memberikannya secara cuma-cuma. Terus jawabannya apa?"
Tanya Aska sambil memberikan teka-teki kepada mereka.
"Ya sudah bilang saja memiliki hutang sama kamu. Mereka belum bisa membayarnya. Lalu kamu sita rumah tersebut. Itu adalah jawaban yang relevan sekali. Setelah terjadi penyitaan rumah. Mereka tidak akan mengusiknya lagi."
Sahut Max yang memberikan solusi utamanya.
"Oke deh bro. Aku setuju dengan pendapatmu itu. Lagian juga mereka tidak akan bisa mengambil rumah tersebut."
Jawab Aska yang tidak habis pikir dengan keluarga Maria itu.
"Kalau kamu ke sana. Aku saranin kamu nggak usah memakai baju-baju yang mahal. Nanti mereka ada maunya. Mereka sangat ingin menghancurkan Maria. Oh ya ada satu fakta tentang mantan pacarnya Maria."
Sahut Romeo yang membuat Aska terkejut.
"Apa itu?"
Tanya Aska yang mengingat Haryadi.
__ADS_1