
"Apakah aku boleh mengajak Aska masuk ke dalam Blue Dragon?" tanya Romeo dengan serius.
"Ya. Kamu harus mengajaknya. Karena Blue Dragon nanti akan jatuh ke tangan Aska. Di sisi lain Aska harus belajar mengenai dunia bawah tanah. Jika tidak Aska bisa diserang oleh orang-orang yang tidak dikenal. Bisa saja musuh atau seseorang yang tidak suka keberhasilannya," jawab Adrian dengan jujur.
"Kalau tidak mau gimana?" tanya Romeo ragu yang tidak sengaja mendengarkan ponselnya berdering. "Sebentar."
Lalu Romeo menghentikan sejenak untuk mengangkat ponselnya itu. Di sana Aska meminta Romeo untuk datang. Namun Romeo menolaknya karena ada sesuatu yang dibicarakan dengan Adrian. Setelah menolaknya Romeo mendapatkan telepon lagi dari orang lain. Di sinilah Romeo terkejut karena orang itu memberitahukan kalau Haryadi sudah keluar dari penjara. Ia langsung mematikan ponselnya dan menggeram. Jujur Romeo harus mencari Haryadi agar tidak menyakiti Maria.
"Ada apa Kamu sepertinya ingin marah?" tanya Adrian yang menatap wajah Romeo berubah.
"Ada masalah gawat. Haryadi mantan pacar Maria sudah keluar dari penjara. Aku tidak tahu siapa yang mengeluarkannya. Jika dia berkeliaran di kota ini, bisa dipastikan Haryadi akan merusak pernikahan Aska dan Maria. Jujur aku tidak mau itu," jawab Romeo dengan jujur.
"Apakah Haryadi berbahaya?" tanya Adrian lagi sambil menyandarkan punggungnya di kursi besar milik Christina.
"Iya… pria itu sangat berbahaya sekali. Dia memang ingin melihat Maria hancur. Dia juga hampir membunuh bapaknya Maria," jawab Romeo.
"Mau tidak mau kita harus mempercepat pembuatan Blue Dragon. Jika tidak mereka akan menyerang kapan saja," ucap Adrian.
"Mereka itu siapa saja? Perasaan Haryadi sendirian deh," tanya Romeo dengan serius.
"Kamu tahu nggak, siapa yang melepaskan Haryadi?" tanya Adrian yang membuat teka-teki soal Haryadi lepas.
"Maksud Tuan apa?" tanya Romeo yang tidak paham dengan pertanyaan Adrian.
"Apakah kamu nggak tahu siapa aku sebenarnya?" tanya Adrian.
__ADS_1
"Aku nggak tahu maksud Tuan apa? Jujur Tuhan memberikan aku teka-teki yang sangat rumit sekali. Yang aku tahu Tuhan adalah seorang pasukan khusus dari negara Perancis sana," jawab Romeo.
"Okelah aku ceritakan siapa diriku sebenarnya. Kalau aku sebagai pasukan khusus itu benar. Tapi aku adalah pemilik kelompok detektif swasta yang berada di Eropa. Aku sudah membangunnya ketika sepuluh tahun yang lalu," ucap Adrian.
"Kenapa tuan tidak cerita soal itu?" tanya Romeo.
"Itu sangat rahasia sekali. Aku harap kamu memahaminya. Setelah kamu tahu, kamu tidak boleh bercerita dengan siapapun kecuali Aska. Di depan Christina maupun Maria kamu tidak boleh bercerita. Jika sampai mereka tahu kamu adalah orang pertama yang aku penggal," jelas Adrian dengan serius.
Romeo menganggukan kepalanya sambil menyetujui permintaan Adrian. Lalu dirinya memandang wajah pria paruh baya itu dengan lekat. Setelah itu Romeo bertanya, "Memangnya Haryadi bekerja sama dengan siapa?"
"Benjamin dan Sony," jawab Adrian yang membaca email dari seseorang sedang memata-matai kegiatan Benjamin.
"Jadi, selama ini Tuhan tahu dengan gerak-gerik kami?" Romeo mulai mencurigai Adrian yang sangat cerdik sekali.
"Ya tahulah namanya juga pasukan khusus. Mau tidak mau aku harus membangun pekerjaan itu demi mengumpulkan informasi tentang Putraku. Meski berada di Paris sana, aku selalu memata-matai kalian termasuk kamu. Kamu sering sekali pergi ke kebun hanya untuk menengok Aska dan memberikan laporan itu kepada istriku. Iya kan?" tanya Adrian yang membuat Romeo gelagapan.
Jujur Baru kali ini Romeo sangat bingung sekali. Karena dirinya adalah mata-mata yang ditugaskan oleh Damian untuk membuat laporan Bagaimana Aska berada di Karawang? Akan tetapi dirinya juga dimata-matai oleh Adrian. Menurutnya ini sangat aneh sekali. Bisa-bisanya mata-mata malah di mata-matai oleh orang. Seketika Adrian yang memiliki sosok dingin itu tertawa terbahak-bahak melihat wajah Romeo pucat. Mau tidak mau Romeo mengangkat tangannya sambil berkata, "Habis gini Aku mundur dari dunia detektif. Baru kali ini pekerjaanku di mata-matai oleh orang. Aku harus bagaimana ini?"
"Kamu tidak boleh menyerah seperti itu. Kamu tahu saat aku belum mengenalmu, aku terpaksa melakukan hal itu. Pengawalku tidak ingin Aska terluka karenamu. Setelah diselidiki kamu itu orangnya aman dan tidak melakukan hal apapun. Begitu juga dengan Roni dan Winda. Mereka juga adalah kaki tangan istriku. Istriku sengaja menempatkan mereka di desa itu hanya untuk melindungi Aska. Rumah yang berada di samping Minah itu adalah rumah milikku yang sengaja tidak aku tempati. Kamu mengerti soal itu?" tanya Adrian.
"Ternyata anda sangat licik sekali tuan. Aku sangat menyukainya.kalau begitu ajarkanlah aku menjadi seorang yang licik agar bisa berkamuflase dengan baik," pinta Romeo yang membuat Adrian menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak perlu belajar sudah pintar. Tidak usah belajar dari pakarnya. Sedari dulu bukankah Kamu adalah seseorang yang bengis terhadap lawanmu. Dan kamu adalah anak emas milik almarhum kakakku," jelas Adrian sambil menahan tawanya.
"Baiklah. Tuan benar seratus persen. Sepertinya aku harus melakukannya. Kalau begitu lebih baik kita akan pergi ke butik untuk menemui Aska dan Nyonya Christina," ajak Romeo dengan ramah.
__ADS_1
Adrian menganggukkan kepalanya karena dari tadi sudah dihubungi Christina. Ia seharusnya sudah berada di dalam butik bersama Aska. Demi membuat struktur organisasi itu, Adrian tidak jadi ikut dengan Christina.
"Aku melupakan sesuatu?" kesal Adrian.
"Apa itu?" tanya Romeo.
"Aku sudah harus bersama Christina pada jam segini. Karena Christina sedang memilih gaun untuk penyambutan tamu," jawab Adrian yang membuat Romeo tersenyum sumringah.
"Ternyata Tuhan sangat takut sekali kepada Nyonya Christina?" tanya Romeo sambil berdiri dan mengambil kunci mobil di meja.
"Iya aku memang takut sama istriku. Gara-gara istriku aku menjadi ayam yang di mana disiram air. Atau menjadi kucing yang baru saja dimandikan. Itulah aku. Suatu hari nanti kamu seperti sama aku. Kamu tidak akan bisa menjadi pemegang kekuasaan di dalam rumah. Aku pastikan kamu kalah telak dari istrimu itu," jelas Adrian sambil tersenyum dan beranjak berdiri.
"Kenapa kaum wanita itu sangat menyeramkan sekali? Kalau seperti ini aku tidak akan menikah sama sekali," tanya Romeo sambil mengeluhkan sifat wanita satu itu.
"Wanita itu selalu menang di dalam rumah. Begitu juga dengan di luar rumah. Kamu tidak akan bisa berkutik apapun. Jika kamu bisa melakukannya, aku pastikan kamu adalah pria hebat yang berani menentang istrimu sendiri," ucap Adrian dengan serius.
Yang dikatakan oleh Adrian benar. Wanita selalu menang di atas pria. Semuanya akan dikendalikan oleh istri ketika sudah menikah. Meskipun demikian Adrian membebaskan Christina untuk mengaturnya. Selain itu juga Adrian dari dulu ingin sekali mendapat perlakuan istimewa terhadap wanitanya itu. Ia sangat terobsesi sekali pada Christina dan tidak akan melepaskannya sedikitpun. Lalu bagaimana dengan Aska? Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Azka selanjutnya setelah menikah. Adrian harap Aska bisa menjadi seperti dirinya.
"Wanita itu tidak mengerikan sekali. Kamu belum tahu kenapa dia marah? Kenapa dia cerewet? Itu pasti ada sebabnya sendiri. Makanya kamu harus mencari tahu soal itu. Di sisi lain wanita telah berjuang merawat rumah anak-anakmu dan kamu. Kamu pasti akan bahagia mendapatkan wanita seperti itu. Jangan pernah menyesali atas omongan kamu itu. Siapa tahu nanti kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari wanitamu itu,' jelas Adrian yang membuat Romeo tidak trauma lagi dengan namanya wanita.
Ya begitulah percakapan antara dua pria berbeda mereka memang tidak memiliki darah yang sama. Namun memiliki visi dan misi yang sama. Yaitu menyelamatkan keluarga masing-masing.
Setelah sampai di butik, Aska masih duduk sendiri di ruang tunggu. Pria muda itu pun masih saja menunggu kedatangan Maria. Entah gaun apa yang dipakai oleh Maria sehingga lama memakainya. Terpaksa Aska bermain game online dan membuat strategi jitu di game tersebut.
"Aska," panggil Adrian.
__ADS_1
Sontak saja Aska terkejut. Aska mengangkat kepalanya dan menatap wajah Adrian bersama Romeo. Lalu Azka berdiri dan mempersilakan sang ayah duduk. Melihat perlakuan Aska terhadap Adrian, seluruh karyawan yang tidak sengaja lewat menatap haru Aska. Mereka tidak menyangka kalau Aska memperlakukan Adrian sangat baik sekali. Memang sedari dulu Aska tidak pernah belajar soal tata krama. Namun dirinya paham akan hal itu. Iya akan menghormati orang yang lebih tua hingga akhir hayatnya.
"Duduklah kalian dengan santai. Aku akan meminta pegawai di sini untuk menyiapkan minuman untuk kalian," pinta Aska sambil memanggil pelayan tersebut.