Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Mulai Penyelidikan Tentang Julia.


__ADS_3

"Maafkan aku Bu. Aku harus berkata dengan jujur. Tapi Ibu jangan ngomong ke ayah. Karena jika sampai ketahuan, aku Yang akan dimarahin. Apakah ibu mau berjanji denganku?" tanya Aska kepada Christina.


"Lebih baik kamu pindah saja tempat duduknya di sofa. Kalau begini mana bisa ibu duduk," Christina menyuruh Aska berpindah tempat duduk.


"Baik bu," balas Aska.


Aska akhirnya beranjak berdiri lalu menuju sofa. Pria muda itu pun mau tidak mau menceritakan keluh kesannya kepada sang ibu. Lalu Christina mendekati sang anak sambil berkata, "Ibu tahu. Kamu pasti ada masalah."


"Aku belum cerita Bu. Aku sebenarnya ingin berdiskusi dengan ibu. Tapi aku tidak mau berdiskusi dengan ayah," ucap Aska yang menghempaskan bokongnya di sofa dengan diikuti Christina.


"Memangnya ada apa?" tanya Christina.


"Sebenarnya aku masih bertanya-tanya tentang nenek. Sebelumnya aku sudah bertanya pada ibu tentang nenek," jawab Aska.


"Ya Ibu tahu itu. Lalu masalahnya apa sekarang?" tanya Christina.


"Begini bu. Aku rasa nenek Julia yang berada di samping kakek itu bukan ibunya Ibu deh. Aku rasa orang itu memiliki rencana untuk menghancurkan kita. Akhir-akhir ini otakku sering terpecah belah karena orang itu," jawab Aska.


"Ibu rasa kamu harus menyelidikinya. Ibu memberikan wewenang kepadamu untuk melakukannya. Tapi kamu diam-diam saja dan nggak usah ngomong kepada siapapun," ucap Christina yang memiliki perasaan yang sama dengan Aska.


"Sebenarnya aku sudah bilang. Tapi abang dan ayah melarangku. Hari ini aku mengabaikan pekerjaanku sebentar. Aku harus menyelidikinya terlebih dahulu. Maafkan aku Bu. Jika aku lancang seperti ini," jelas Aska.


"Tidak apa-apa. Lebih baik kamu harus melakukannya. Ini demi kepentingan kita bersama. Meskipun kamu tidak direstui oleh ayah. Ibu yang akan merestuimu. Sedari dulu Ibu juga merasa curiga. Kalau wanita tua itu yang berada di rumah bukan ibuku. Kemungkinan besar nenek aslimu itu masih hidup," tambah Christina.


"Terima kasih Bu telah merestuiku," ucap Aska.


"Sama-sama. Semangatlah untuk mencari informasi yang penting," balas Christina sambil memberikan semangat.


Lalu Aska mulai berdiri dan meninggalkan Christina. Akhirnya Aska menuju ke mejanya sambil berdoa agar diberi kelancaran. Ia segera duduk dan membuka laptopnya untuk mencari informasi tentang Julia.

__ADS_1


Paris Prancis.


wanita berumur senja itu sedang mencari keberadaan Damian. Ia mengelilingi rumah dan tidak menemukannya. Hatinya mulai berdetak kencang. Karena wanita itu bingung dengan sendirinya.


"Aku harus menemukan Damian. Aku harus memberinya obat agar dia disampingku. Tapi kenapa aku tidak menemukannya. Kemana Damian? Mana Damian? Kemana Damian?" teriak Julia sambil memegang rambutnya seperti orang gila.


Berulang kali Julia menanyakan hal yang sama kepada para pengawal dan pelayan. Entah kenapa dirinya tiba-tiba saja panik. Lalu ia memutuskan masuk ke dalam kamar. Di sana Julia mulai berteriak-teriak tidak jelas. Para pelayan maupun pengawal yang lewat di depan kamarnya Sudah tidak terkejut lagi. Mereka tidak mau mengganggu Julia. Mereka membiarkannya Dan menganggap orang itu adalah orang gila.


"Aku nggak mau Damian pergi ke Indonesia sendirian. Aku nggak mau Demian menemui Christina. Jika sampai ketemu maka seluruh aset Wicaksono akan jatuh ke tangan Aska. Aku harus melakukan sesuatu. Ya... Aku harus melakukannya.aku akan mencegahnya agar Damian yang tidak bertemu lagi dengan Christina!" teriak Julia.


Semakin lama Julia semakin gila. Iya mulai berguling-guling di atas lantai. Wanita senja itu sepertinya tidak ikhlas jika Damian berkumpul dengan putrinya. Julia melakukan hal itu selama sejam lebih. Kemudian dirinya bangun dan menuju ke ranjang. Lalu dirinya segera meraih obat sambil menggenggamnya.


"Jika sampai berkumpul dengan Christina. Aku pastikan hidupnya akan menderita selamanya. Begitu juga dengan Christina dan anaknya. Aku bersumpah akan membuat mereka menderita selamanya. Camkan itu Damian... Christina... Aska!" teriak Julia dengan histeris.


Jakarta Indonesia.


Setelah melewati jalur VVIP, Damian tidak dikawal oleh pengawal. Dirinya memang sengaja ke sini sendirian. Lalu bagaimana dengan nasib Julia? Damian sudah memberikannya pesan agar tidak menyusulnya ke sini.


Sementara itu ada taksi sedang terparkir di pintu keluar. Kemudian Damian melambaikan tangannya ke arah sopir tersebut. Lalu sopir itu mendekatinya sambil bertanya, "Mau ke mana Tuan?"


"Antarkan aku pergi ke perusahaan Aska food internasional yang berada pinggiran kota Jakarta," jawab Damian dengan ramah.


Sopir itu menganggukkan dan membukakan pintu mobil. Lalu Damian masuk ke dalam mobil tersebut. Ia sengaja tidak membawa apa-apa. Karena ia hanya memberikan sebuah kejutan untuk anak dan cucunya itu.


Sedangkan Aska sudah menemukan data-data Julia. Matanya membelalak sempurna dan dirinya mengerutkan keningnya.


"Apakah aku nggak salah menemukan data-data nenek Julia seperti ini? Kok bisa nenek bergaul dengan Jamaludin yang notabennya adalah ketua mafia yang berasal dari Italia sana. Tapi kenapa ketua mafia itu bernama Jamaludin? Bukankah nama-nama di sana adalah Fabio, Lione, Alessandro ataupun Gustavo. Ini sangat aneh sekali bagiku. Aku harus mencari siapa itu Jamaludin. Memang ini nggak bisa masuk di akal," batin Aska.


Tangan kekarnya mulai menekan-menekan tombol keyboard yang berada di laptop itu. Ia mulai mencari informasi tentang Jamaludin. Jujur baginya nama Jamaludin itu sering dipakai di daerah Indonesia. Akan tetapi nama itu bisa menjadi nama ketua mafia.

__ADS_1


"Sepertinya sudah tidak beres lagi. Memang terdengar lucu. Pasti ada konspirasi di belakang semua ini," ucap Aska di dalam hati.


Beberapa saat kemudian datang Maria sambil membawakan makan siang. Maria segera mendekat lalu menatap wajah Aska yang sedang sibuk.


"Apakah aku ganggu?" tanya Maria.


"Tidak. Aku tidak mengganggumu," jawab Aska yang memulai candaannya.


"Salah," ucap Maria.


"Salahnya bagaimana?" Tanya Aska.


"Harusnya aku yang bilang, aku tidak mengganggumu," jawab Maria sambil menaruh tempat makan itu.


Kemudian Aska tertawa kecil untuk menutupi kekonyolannya. Ia segera menatap Maria sambil bertanya, "Kamu masak apa?"


"Aku tidak masak. Tapi aku membeli di masakan Padang," jawab Maria sambil membuka tempat makan itu.


"Oh iya... Sedari siang aku belum makan. Kalau begini kapan tubuhku akan gemuk?" kesal Aska.


"Bukannya Bu Siti tadi sudah menawarkan makan siang? Tapi kamu menolaknya karena memburu waktu untuk mengerjakan sesuatu," ujar Maria.


"Kamu benar. Ya udah deh aku mau makan dulu," sahut Aska sambil melihat ayam goreng dan sayur singkong. "Kamu tahu saja. Makanan favoritku apa?"


"Aku tadi sempat bertanya sama Bu Siti. Apa yang menjadi makanan favoritmu aku mencatatnya? Jangan mengejekku untuk mencari perhatian. Aku memang sengaja melakukannya. Agar aku bisa melayanimu dengan baik," jawab Maria yang tidak ingin menjadi perhatian.


"Aku nggak meledekmu. Bukankah seharusnya calon istri mengetahui, makanan favorit calon suamimu itu apa?" Jelas Aska sambil melemparkan senyum.


"Kita belum mengenal lebih jauh. Kita saja enggak pacaran. Lalu bagaimana aku mengenalmu?" tanya Maria dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2