Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Kebingungan Aska.


__ADS_3

“Ya...


Itu benar,” jawab Romeo yang mulai meyakinkan Aska supaya bisa diajak ke pusat


perbelanjaan.


“Lalu


barang ini?” tanya Aska.


“Enggak


perlu dipikirkan. Kita akan bongkar muat nanti sore atau malam,” jawab Romeo


yang menarik tangan Aska.


Terpaksa


Aska menuruti keinginan Romeo itu. Mereka akhirnya pergi dari area tersebut.


Sementara Romeo sudah memerintahkan para pengawalnya untuk membongkar


buah-buahan tersebut. Karena Romeo akan mengalihkan perhatian Aska ke tempat


lain.


“Kita


mau ke mana?’ tanya Aska.


“Tiba-tiba


saja kakak aku mengirimkan uang untuk membeli beberapa pakaian di mall. Tapi


aku tidak tahu berapa ukurannya?” tanya Romeo  yang pura-pura tidak tahu.


“Coba


saja abang kira-kira berapa ukuran tubuhnya?’ tanya Aska.


Tak lama


ada mobil hitam sedang melintas di hadapan mereka. Lalu mobil itu berhenti di


hadapan mereka. Sang sopir membuka pintunya lalu keluar sambil melambaikan


tangannya ke arah mereka. Sontak saja Aska terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Kenapa ada orang yang melambaikan tangannya ke arahnya?


“Apakah


orang itu sedang memanggil kita?” tanya Aska.


“Ya...


orang itu sedang memanggil kita,” jawab Romeo.


“Menurutku


orang itu salah lihat kali,” ucap Aska.


“Salah


bagaimana? Di belakang kita sudah enggak ada orang sama sekali,” sahut Romeo.


“Ayolah kita ke sana.”


Mereka


segera menuju ke sana dan menyapa sang sopir. Namun sang sopir itu yang


biasanya memnaggil Romeo memakai Tuan. Akan tetapi sang sopir sengaja memanggil


Romeo dengan abang.Sopir itu langsung menancapkan gasnya menuju ke pusat


perbelanjaan yang berada di kawasan pusat kota Jakarta.


Dalam


perjalanan wajah Aska sudah mulai pucat pasi. Dirinya semakin bingung dengan


apa yang dirasakannya. Kenapa dirinya ikut dengan Romeo? Bukankah hari ini


dirinya akan bongkar muat barangnya itu? Lalu bagaimana jika Pak Broto marah


kepadaku?


Sejumlah


pertanyaan demi pertanyaan hinggap dalam jiwanya. Namun Aska tidak berani


bertanya apapun. Ia melihat Romeo sedang berbalas dengan seseorang. Ia hanya


bisa menghela nafasnya. Ia harus mencari jawaban jika Pak Broto bertanya.


“Aska,”


panggil Romeo.


“Iya


bang,” sahut Aska.


“Setelah


kita membeli baju, kamu harus ikut lagi ya!” ajak Romeo.


“Ikut ke


mana bang?” tanya Aska.

__ADS_1


“Temanku


yang bernama Maria mengajak ketemuan di restoran bintang lima,” jawab Romeo


yang membuat mata Aska terbelalak sempurna.


“Apakah


itu benar?” tanya Aska yang seakan tidak percaya. “Berarti teman abang kaya.”


“Iya.


Temanku itu pekerjaannya adalah seorang asisten CEO dari perusahaan Aska Food


International,” jawab Romeo yang membuat Aska takjub.


Jujur


baru kali ini Aska mendapatkan seorang teman yang bisa dikatakan penghubung


orang-orang berkelas seperti Maria. Namun dirinya juga minder di hadapan Romeo.


Ia merasa hidupnya dibuat mainan oleh takdir. Bagaimana tidak baru sehari


berkenalan dengan Romeo langsung diajak membeli baju dan bertemu seseorang.


Bagi Aska hidupnya sangat lucu sekali.


Sesanpainya


di pusat perbelanjaan Romeo mengajak ke toko pakaian yang menjual baju khusus


kantoran. Di sana Romeo memintanya memilihkan pakaian untuk kakaknya dengan


ukuran tubuh dirinya. Terpaksa Aska menurutinya dan mengambil beberapa pakaian


dengan harga mahal. Tanpa diketahui dirinya, ia memiliki selera sangat bagus.


“Apakah


sudah selesai?” tanya Romeo.


“Ya...


aku sudah memilihnya. Maaf aku hanya memilih beberapa pakaian saja. Karena satu


pakaian itu harganya sangat mahal. Lebih baik uamgnya aku buat modal untuk


membuka usaha,” jawab Aska yang menahan tawanya.


“Tidak


perlu. Jika kamu membutuhkan modal untuk usaha, kemungkinan besar kakakku bisa


memberikannya tanpa membalikkannya,” tolak Romeo.


“Apakah


kakak abang orang kaya?’ tanya Aska.


“Sepertinya


membelikan kamu satu baju itu. Kamu pakai gih sekarang!”


“Aku tidak


bisa memakainya,” tolak Aska.


“Buruan


gih pakai! Kamu bisa memilih salah satunya. Karena Maria sudah menunggu kita di


restoran. Masa kamu memakai baju seperti ini?” ujar Romeo yang pura-pura kesal.


“Baiklah,”


balas Aska yang sekarang mengalah.


Mau tak


mau Aska memilih satu stel pakaian itu lalu mengganti pakaiannya di ruang


ganti. Sedamgkan di kantor Maria mendapatkan pesan dari Romeo. Bahwa target


sudah dapat dikendalikan. Maria tersenyum puas sambil berkata dalam hati,


“Saatnya kita mempertemukan nyonya dengan Tuan muda. Ah... rasanya aku sudah


tidak sabar melihat pertemuan mereka.”


Kemudian


Maria masuk ke dalam dan melihat Christina sedang sibuk. Sebelum mengeluarkan


suaranya, Christina membereskan tumpukan berkas itu sambil bertanya, “Kita


makan di mana sekaramg?”


“Kita


makan di tempat biasa,” jawab Maria.


“Enggak


bosan kamu makan di sana?” tanya Christina sambil  beranjak duduknya.


“”Tadi


Koh Johan ada menu baru. Kita disuruh mencobanya,” jawab Maria sekenanya.


“Ayo

__ADS_1


kita ke sana!” ajak Christina.


Maria


tersenyum manis sambil bersorak kegirangan. Ia sudah tidak sabar bisa bertemu


dengan tuan mudanya itu. Menurut dirinya tuan mudanya memiliki wajah yang


sangat tampan. Matanya memiliki ketegasan dan seperti elang sedang menangkap


mangsa.


“Sepertinya


kamu senang?” tanya Christina.


“Ya...


aku sedang senang nyonya. Ada menu kesukaan saya di sana,” jawab Maria


sekenanya.


Maria


sengaja tidak mengatakan, kenapa dirinya sangat senang sekali. Namun Maria


sengaja merahasiakan rencana besarnya. Rencana yang bisa membuat hidup sang


nyonya kembali ceria. Ia sangat bersedih ketika sang nyonya kehilangan tuan


mudanya semenjak bayi.


Tiga


puluh menit berlalu, setelah membayar pembelian beberapa potong pakaian. Romeo


segera menggiringnya ke restoran yang berada lantai atas. Sepanjang perjalanan


Romeo bertukar pesan sama Maria. Romeo ingin memastikan sang atasannya datang.


Sementara itu Aska hanya memutar bolanya dengan malas. Karena sedari tadi


dirinya sedang dicueki oleh Romeo.


Merasa


dicuekin Aska menegurnya. Jujur saja Aska tidak mengerti apa yang membuat Romeo


serius memegang ponsel itu dan memijat layarnya berkali-kali.


“Bang,”


panggil Aska.


“Apa?”


sahut Romeo.


“Bisakah


abang melemparkan ponselnya ke tong sampah sebentar?” protes Aska yang membuat


Romeo matanya membulat sempurna.


“Jangnlah


dilempar. Aku membelinya dengan harga mahal,” jawab Romeo yang membuat hatinya


tertawa konyol.


“Berapa


abang membelinya?” tanya Aska yang mengerutkan keningnya.


“Aku


hanya membelinya dengan harga empat belas juta rupiah,” jawab Romeo jujur yang


membuat Aska terkejut.


“Apa


bang?” pekik Aska. “Harganya empat belas juta rupiah?”


“Iya...


sampai-sampai ibuku memarahiku saat membeli ponsel ini,” jawab Romeo asal.


“Kenapa


bang?’ tanya Aska yang penasaran.


“Aku


telah menjual sawahnya satu hektar bersama padinya yang baru menguning,” jawab


Aska yang menepuk jidatnya.


Aska


hanya menghela nafasnya mendengar jawaban Romeo yang absurd itu. Hanya karena


ponsel Romeo nekat menjual sawah satu hektar bersama padinya yang menguning.


Dalam hati Aska berkata, pantas saja ibunya mengamuk. Lagian membeli ponsel


dengan harga mahal nekat jual sawah. Andaikan berita ini menjadi viral bisa


membuat seluruh warganet heboh. Kemungkinan Romeo akan dimaki oleh mereka.


Sungguh nian apes sekali dirimu Romeo.

__ADS_1


“Bang...


di mana restorannya?” tanya Aska.


__ADS_2