
“Ya...
Itu benar,” jawab Romeo yang mulai meyakinkan Aska supaya bisa diajak ke pusat
perbelanjaan.
“Lalu
barang ini?” tanya Aska.
“Enggak
perlu dipikirkan. Kita akan bongkar muat nanti sore atau malam,” jawab Romeo
yang menarik tangan Aska.
Terpaksa
Aska menuruti keinginan Romeo itu. Mereka akhirnya pergi dari area tersebut.
Sementara Romeo sudah memerintahkan para pengawalnya untuk membongkar
buah-buahan tersebut. Karena Romeo akan mengalihkan perhatian Aska ke tempat
lain.
“Kita
mau ke mana?’ tanya Aska.
“Tiba-tiba
saja kakak aku mengirimkan uang untuk membeli beberapa pakaian di mall. Tapi
aku tidak tahu berapa ukurannya?” tanya Romeo yang pura-pura tidak tahu.
“Coba
saja abang kira-kira berapa ukuran tubuhnya?’ tanya Aska.
Tak lama
ada mobil hitam sedang melintas di hadapan mereka. Lalu mobil itu berhenti di
hadapan mereka. Sang sopir membuka pintunya lalu keluar sambil melambaikan
tangannya ke arah mereka. Sontak saja Aska terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Kenapa ada orang yang melambaikan tangannya ke arahnya?
“Apakah
orang itu sedang memanggil kita?” tanya Aska.
“Ya...
orang itu sedang memanggil kita,” jawab Romeo.
“Menurutku
orang itu salah lihat kali,” ucap Aska.
“Salah
bagaimana? Di belakang kita sudah enggak ada orang sama sekali,” sahut Romeo.
“Ayolah kita ke sana.”
Mereka
segera menuju ke sana dan menyapa sang sopir. Namun sang sopir itu yang
biasanya memnaggil Romeo memakai Tuan. Akan tetapi sang sopir sengaja memanggil
Romeo dengan abang.Sopir itu langsung menancapkan gasnya menuju ke pusat
perbelanjaan yang berada di kawasan pusat kota Jakarta.
Dalam
perjalanan wajah Aska sudah mulai pucat pasi. Dirinya semakin bingung dengan
apa yang dirasakannya. Kenapa dirinya ikut dengan Romeo? Bukankah hari ini
dirinya akan bongkar muat barangnya itu? Lalu bagaimana jika Pak Broto marah
kepadaku?
Sejumlah
pertanyaan demi pertanyaan hinggap dalam jiwanya. Namun Aska tidak berani
bertanya apapun. Ia melihat Romeo sedang berbalas dengan seseorang. Ia hanya
bisa menghela nafasnya. Ia harus mencari jawaban jika Pak Broto bertanya.
“Aska,”
panggil Romeo.
“Iya
bang,” sahut Aska.
“Setelah
kita membeli baju, kamu harus ikut lagi ya!” ajak Romeo.
“Ikut ke
mana bang?” tanya Aska.
__ADS_1
“Temanku
yang bernama Maria mengajak ketemuan di restoran bintang lima,” jawab Romeo
yang membuat mata Aska terbelalak sempurna.
“Apakah
itu benar?” tanya Aska yang seakan tidak percaya. “Berarti teman abang kaya.”
“Iya.
Temanku itu pekerjaannya adalah seorang asisten CEO dari perusahaan Aska Food
International,” jawab Romeo yang membuat Aska takjub.
Jujur
baru kali ini Aska mendapatkan seorang teman yang bisa dikatakan penghubung
orang-orang berkelas seperti Maria. Namun dirinya juga minder di hadapan Romeo.
Ia merasa hidupnya dibuat mainan oleh takdir. Bagaimana tidak baru sehari
berkenalan dengan Romeo langsung diajak membeli baju dan bertemu seseorang.
Bagi Aska hidupnya sangat lucu sekali.
Sesanpainya
di pusat perbelanjaan Romeo mengajak ke toko pakaian yang menjual baju khusus
kantoran. Di sana Romeo memintanya memilihkan pakaian untuk kakaknya dengan
ukuran tubuh dirinya. Terpaksa Aska menurutinya dan mengambil beberapa pakaian
dengan harga mahal. Tanpa diketahui dirinya, ia memiliki selera sangat bagus.
“Apakah
sudah selesai?” tanya Romeo.
“Ya...
aku sudah memilihnya. Maaf aku hanya memilih beberapa pakaian saja. Karena satu
pakaian itu harganya sangat mahal. Lebih baik uamgnya aku buat modal untuk
membuka usaha,” jawab Aska yang menahan tawanya.
“Tidak
perlu. Jika kamu membutuhkan modal untuk usaha, kemungkinan besar kakakku bisa
memberikannya tanpa membalikkannya,” tolak Romeo.
“Apakah
kakak abang orang kaya?’ tanya Aska.
“Sepertinya
membelikan kamu satu baju itu. Kamu pakai gih sekarang!”
“Aku tidak
bisa memakainya,” tolak Aska.
“Buruan
gih pakai! Kamu bisa memilih salah satunya. Karena Maria sudah menunggu kita di
restoran. Masa kamu memakai baju seperti ini?” ujar Romeo yang pura-pura kesal.
“Baiklah,”
balas Aska yang sekarang mengalah.
Mau tak
mau Aska memilih satu stel pakaian itu lalu mengganti pakaiannya di ruang
ganti. Sedamgkan di kantor Maria mendapatkan pesan dari Romeo. Bahwa target
sudah dapat dikendalikan. Maria tersenyum puas sambil berkata dalam hati,
“Saatnya kita mempertemukan nyonya dengan Tuan muda. Ah... rasanya aku sudah
tidak sabar melihat pertemuan mereka.”
Kemudian
Maria masuk ke dalam dan melihat Christina sedang sibuk. Sebelum mengeluarkan
suaranya, Christina membereskan tumpukan berkas itu sambil bertanya, “Kita
makan di mana sekaramg?”
“Kita
makan di tempat biasa,” jawab Maria.
“Enggak
bosan kamu makan di sana?” tanya Christina sambil beranjak duduknya.
“”Tadi
Koh Johan ada menu baru. Kita disuruh mencobanya,” jawab Maria sekenanya.
“Ayo
__ADS_1
kita ke sana!” ajak Christina.
Maria
tersenyum manis sambil bersorak kegirangan. Ia sudah tidak sabar bisa bertemu
dengan tuan mudanya itu. Menurut dirinya tuan mudanya memiliki wajah yang
sangat tampan. Matanya memiliki ketegasan dan seperti elang sedang menangkap
mangsa.
“Sepertinya
kamu senang?” tanya Christina.
“Ya...
aku sedang senang nyonya. Ada menu kesukaan saya di sana,” jawab Maria
sekenanya.
Maria
sengaja tidak mengatakan, kenapa dirinya sangat senang sekali. Namun Maria
sengaja merahasiakan rencana besarnya. Rencana yang bisa membuat hidup sang
nyonya kembali ceria. Ia sangat bersedih ketika sang nyonya kehilangan tuan
mudanya semenjak bayi.
Tiga
puluh menit berlalu, setelah membayar pembelian beberapa potong pakaian. Romeo
segera menggiringnya ke restoran yang berada lantai atas. Sepanjang perjalanan
Romeo bertukar pesan sama Maria. Romeo ingin memastikan sang atasannya datang.
Sementara itu Aska hanya memutar bolanya dengan malas. Karena sedari tadi
dirinya sedang dicueki oleh Romeo.
Merasa
dicuekin Aska menegurnya. Jujur saja Aska tidak mengerti apa yang membuat Romeo
serius memegang ponsel itu dan memijat layarnya berkali-kali.
“Bang,”
panggil Aska.
“Apa?”
sahut Romeo.
“Bisakah
abang melemparkan ponselnya ke tong sampah sebentar?” protes Aska yang membuat
Romeo matanya membulat sempurna.
“Jangnlah
dilempar. Aku membelinya dengan harga mahal,” jawab Romeo yang membuat hatinya
tertawa konyol.
“Berapa
abang membelinya?” tanya Aska yang mengerutkan keningnya.
“Aku
hanya membelinya dengan harga empat belas juta rupiah,” jawab Romeo jujur yang
membuat Aska terkejut.
“Apa
bang?” pekik Aska. “Harganya empat belas juta rupiah?”
“Iya...
sampai-sampai ibuku memarahiku saat membeli ponsel ini,” jawab Romeo asal.
“Kenapa
bang?’ tanya Aska yang penasaran.
“Aku
telah menjual sawahnya satu hektar bersama padinya yang baru menguning,” jawab
Aska yang menepuk jidatnya.
Aska
hanya menghela nafasnya mendengar jawaban Romeo yang absurd itu. Hanya karena
ponsel Romeo nekat menjual sawah satu hektar bersama padinya yang menguning.
Dalam hati Aska berkata, pantas saja ibunya mengamuk. Lagian membeli ponsel
dengan harga mahal nekat jual sawah. Andaikan berita ini menjadi viral bisa
membuat seluruh warganet heboh. Kemungkinan Romeo akan dimaki oleh mereka.
Sungguh nian apes sekali dirimu Romeo.
__ADS_1
“Bang...
di mana restorannya?” tanya Aska.