Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Permintaan Christina Untuk Maria.


__ADS_3

"Iya, Tuan Adrian berada di sana. Bahkan Romeo pun yang mengantarkan cincinnya untuk pasangan baru itu. Aku sengaja tidak mendekatinya. Aku tidak ingin Romeo menyapaku terlebih dahulu," jawab Max.


"Kenapa kamu tidak melakukannya? Seharusnya kamu menyapa Romeo habis itu pulang ke sini," tanya Frank yang kesal terhadap Max.


"Bukannya begitu. Aku memang ingin membuat kejutan saja," jawab Max. "Kalau aku bertemu dengan Romeo. Kemungkinan besar dia akan menyekapku dan tidak boleh kembali kepadamu."


Frank pun menganggukkan kepalanya. iya memang tahu bagaimana sifat Romeo sebenarnya. Namun dalam hatinya Frank tertawa terbahak-bahak mendengar curhatan Max. Entah kenapa Frank sangat senang sekali melihat Max menderita karena ulah Romeo.


Tidak sengaja, Max melihat Frank yang sedang menahan tawanya. Dengan kesalnya Max berkata, "Lebih baik Tuan tidak boleh menahan tawanya seperti itu. Tidak baik untuk kesehatan dalam tubuh."


Seketika Frank matanya membulat sempurna. Bisa-bisanya asistennya itu berkata hal yang aneh. Terpaksa tangan kekarnya itu mendarat mulus di pundak Max.


"Augh," teriak Max.


"Kenapa pakai teriak segala sih?" tanya Frank.


"Ternyata Tuan kalau memukul rasanya seperti ditimpa beton seberat lima ton," jawab Max yang membuat Frank tertawa.


"Kapan acara resepsi keponakanku akan dimulai?" tanya Frank.


"Sore ini. Aku sudah mempersiapkan segalanya buat tuan. Siang ini mereka berada di hotel yang berada di kawasan Kuningan," jelas Max.


"Kalau begitu kita akan ke sana nanti sore. Namun sebelumnya turunkan para pengawal untuk menjaga acara resepsi pernikahan di setiap sudut ruangan. Tambahkan berapa orang lagi yang bisa bergabung dalam acara tersebut. Aku nggak mau acara itu rusak karena penyusup!" perintah Frank yang dituruti oleh Max.


Max pun meraih ponselnya dan menghubungi seseorang untuk bertemu. Pria itu akan membuat pengamanan pernikahan Aska.


Tepat sore hari. Aska dan Maria sudah bersiap-siap memakai baju pengantin yang kedua. Mereka dinobatkan sebagai pasangan yang serasi. Bagaimana tidak? Diam-diam Maria dan Aska memiliki wajah yang bisa dikatakan mereka sangat mirip sekali.


Selesai berdandan, Sheila dan Winda berteriak kegirangan. Kedua gadis itu tersenyum sambil memandang wajah Maria. Jujur saja Maria memiliki inner beauty yang tersembunyi.


"Kamu sangat cantik sekali," puji Sheila.


"Sepertinya ini bukan Aku Sheila. Aku tidak pernah berdandan seheboh ini," ucap Maria dengan jujur.

__ADS_1


"Kamu mau tahu kenapa wanita itu sangat cantik sekali ketika berdandan pertama kali saat melangsungkan pernikahan?" tanya Winda.


"Entahlah aku nggak tahu. Apa mungkin karena aku jarang dandan ya? Jujur kalau aku setiap pergi ke kantor tidak memakai apa-apa," jawab Maria.


"Ya itu benar. Kamu sangat berbeda di hari sebelumnya. Rasanya aku ingin menikah untuk kedua kalinya," sahut Winda.


"Bukannya kamu sudah menikah dengan bang Roni?" tanya Maria kepada Winda.


"Iya. Tapi aku ingin memperbaruinya saja. Meskipun sudah tiga tahun berjalan," jawab Winda yang tersenyum manis.


"Kalau begitu aku mendukungmu. Jika kamu melakukan resepsi pernikahan. Jangan lupa undangannya ya," sahut Maria yang mendapatkan jempol dari Winda.


"Apakah kalian sudah selesai?" tanya Christina yang terkejut melihat Maria yang sangat cantik sekali.


"Sudah nyonya," jawab Maria.


"Bisa nggak kalian meninggalkan aku sama Maria di sini!" Perintah Christina kepada Sheila dan Winda.


Kedua wanita itu langsung keluar dari ruangan. Mereka berdoa agar sang Nyonya tidak memarahi Maria.


Seketika Maria merasakan tenggorokannya tercekat. Maria tidak menyangka kalau bosnya itu sekarang menjadi Ibu mertuanya. Ia menunduk sambil meneteskan air matanya.


"Terima kasih Bu yang sudah mempercayakan bang Aska buat aku," ucap Maria sambil menahan rasa harunya.


"Cintailah dia. Aku harap kalian bisa memiliki banyak keturunan," pinta Christina sambil mendoakan Maria.


Maria hanya menganggukkan kepalanya. Lalu Christina mengambil barang di dalam kantongnya. Setelah itu Christina memperlihatkan barang itu ke Maria.


"Aku harap kamu bisa memakainya di acara resepsi ini. Ini adalah sebuah kalung yang memiliki liontin. Liontin itu menandakan kalau kamu adalah seorang anggota baru dari Wicaksono. Jika kamu memiliki menantu perempuan. Kamu harus memberikannya lagi. Aku harap kalung ini bisa turun temurun ke keturunan Aska," pesan Christina ke Maria sambil memakaikan kalung itu di leher Maria.


"Baik bu. Akan aku turuti permintaan ibu," balas Maria.


Kemudian Maria diapit oleh Winda dan Sheila. Mereka mengajaknya ke ballroom hotel. Di sana Aska sudah memakai pakaian formal yang berwarna putih gading sudah menunggu Maria.

__ADS_1


Ruangan yang disewa oleh Maria untuk dijadikan pernikahannya sangat mewah sekali. Maria memang sengaja mengambil tema serba putih. Di setiap ruangan dihiasi oleh bunga mawar putih. Hal itu menandakan Maria menginginkan acara resepsinya menjadi feminim.


Sesampainya di depan Aska, Winda dan Sheila menyerahkan Maria ke Aska. Dengan senyum sumringahnya Aska menerima Maria dan memegang tangannya. Apapun berjalan menuju ke kursi pelaminan. Seketika para undangan terkejut atas mempelai prianya.


Suasana yang di sana sangat sepi berubah menjadi gaduh. Mereka berbisik-bisik dan membicarakan Maria. Mereka tahu kalau Maria berpacaran dengan Haryadi. Akan tetapi mereka terkejut saat Aska muncul.


Tak lama Romeo mendengar bisik-bisik pembicaraan para tamu undangan. Sekilas Romeo mendengar kalau Maria itu adalah perempuan yang tidak baik.


Ingin marah tapi percuma. Karena Romeo sendiri sudah mengenal Maria sejak dulu. Bahkan Romeo sudah menganggap Maria sebagai adiknya.


"Bukannya Maria adalah kekasihnya Haryadi? Tapi kenapa saat menikah Kok beda mempelai prianya. Apakah Maria berselingkuh?" tanya salah satu tamu undangan itu.


"Loh jeng... Bukannya jeng nggak tahu ya? Maria itu bekasnya orang yang gak baik. Setiap hari selalu pulang malam dan jarang sekali bertemu sama kita. Kemungkinan besar habis kerja Maria menyambi sebagai wanita malam," ucap wanita itu sambil menatap wajah Maria yang tersenyum sumringah.


Pertanyaan demi pertanyaan bergulir dari tamu undangan itu. Mereka yang tidak tahu menjadi tahu. Apakah mereka tidak takut jika Aska menuntutnya? Entahlah. Hanya Aska yang tahu.


Di luar sana ada sekelompok orang yang memakai baju serba hitam mencoba masuk ke dalam. Mereka ingin melindungi acara resepsi itu. Salah satu Pengawal yang berjaga di sana langsung memutuskan untuk memanggil Romeo. Sebelum masuk pengawal itu menyuruh pengawal lainnya untuk menjaga mereka.


Beberapa saat kemudian mengawal itu masuk ke dalam dan mencari keberadaan Romeo. Setelah menemukan keberadaannya pengawal tersebut langsung menghadap ke Romeo.


"Tuan Romeo," bisik pengawal itu.


"Ada apa? Apakah ada masalah di luar sana?" tanya Romeo.


"Di luar sana ada sekelompok orang yang memakai baju serba hitam ingin ikut mengawal acara pernikahan Tuan Aska," jawab pengawal itu.


"Apa yang kamu bilang?" tanya Romeo.


"Itu benar tuan. Kami sudah menghalaunya. Namun mereka bersikeras ingin masuk ke dalam," jawab pengawal itu lagi.


"Kalau begitu antara aku keluar dari sini. Biar aku yang mengurusnya!" perintah Romeo.


Romeo mengajak pengawalnya itu keluar dari ballroom. Dengan penasaran Romeo mencari celah agar bisa keluar dari sana.

__ADS_1


Sesampainya di luar Romeo melihat sekelompok orang yang memakai baju serba hitam. Romeo terkejut dengan wajah mereka yang tidak asing. Ditambah lagi ada sebuah tanda di kiri dada mereka. Kalau mereka berasal dari Blue Dragon. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali. Lalu hatinya bertanya, "Apakah Blue Dragon hidup kembali?"


Di belakang ada seorang pria yang sedang menyaksikan Romeo bingung. Dengan senyum khasnya, pria itu datang sambil menyapanya, "Halo Romeo."


__ADS_2