
"Memangnya aku belum bilang ya. Ah maaf aku jadi lupa. Mungkin kebanyakan aku berada di kantor dan merupakan hal itu. Ditambah lagi akhir-akhir ini aku bekerja sambil belajar dengan giat," jawab Aska. "Bisakah kamu mengambilkan aku makan siang? Saat kamu mengambil aku akan membersihkan tubuhku. Dari pagi aku tidak mandi sama sekali."
"Idih Abang jorok," ledek Maria.
"Tapi aku masih tampan kan," ucap Aska yang agak narsis dikit.
"Bener juga. Kalau orang tampan pun nggak mandi juga masih tampan," Maria mengakui ketampanan Aska.
Maria melepaskan Aska dan mulai bergeser sedikit. Setelah bergeser Aska segera berdiri dan membuka bajunya. Maria memutuskan untuk pergi ke dapur.
Sesampainya di dapur Maria melihat Christina yang sedang membuat kue. Maria terkejut sebab sang Ibu mertuanya memasak sendiri tanpa pelayan. Sedangkan para pelayan sedang berdiri di belakangnya. Lalu Maria menatap mereka dan bertanya, "Kenapa kalian tidak bantu?"
"Maaf Nyonya muda. Kami tidak bisa membantah perintah Nyonya Christina. Nyonya Christina sangat bersemangat sekali membuat kue," jawab salah satu pelayan dan membuat Maria menganggukkan kepalanya.
Maria mendekati Christina sambil berjalan santai. Lalu Maria melihat Christina yang sangat sibuk sekali. Maria mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Ibu lagi apa?"
"Ibu lagi membuat puding untuk nenek," jawab Christina.
"Bukannya besok saja Bu?" tanya Maria.
"Besok ibu sama ayah pergi ke perusahaan. Di sana ibu akan memerintahkan beberapa pengawal Blue Dragon agar membersihkan barang-barang milik Jamaludin dan Benjamin. Hari ini adalah hari terakhir Jamaludin bekerja. Ibu sudah memerintahkan Aska untuk memberhentikannya," jawab Christina sambil mengaduk bahan makanan.
"Memangnya bisa ya Bu?" tanya Maria.
"Loh kamu belum tahu ya? Perusahaan ayahmu sudah mengambil alih perusahaan Wicaksono Group. Yang di mana Wicaksono Group bernaung di bawah Agard Group. Jadi kekuasaan Wicaksono Group berada di tangan Aska dan Paman Frank. Jadi mereka berhak untuk mengusir Jamaludin dan Benjamin dari perusahaan. Lagian mereka sudah mengesahkan peraturan perusahaan baru yang dibuatkan," jawab Christina.
__ADS_1
Maria menganggukkan kepalanya tanda setuju. Memang sudah seharusnya mereka berdua diusir dari perusahaan. Diam-diam Aska sudah mengecek seluruh pekerjaan Benjamin dan juga Jamaludin. Mereka berdua tidak pernah memberikan kontribusi besar buat Wicaksono Group. Jadi Aska akan memecat mereka berdua.
Bagaimana dengan tanggapan Damian? Damian sudah menyerahkan masalah ini ke tangan Aska. Sudah seharusnya Aska memimpin perusahaan ini. Meskipun usianya masih muda, Aska mampu membawa perusahaan ini menjadi besar.
"Aska sudah bangun?" tanya Christina.
"Sudah Bu. Abang sekarang sedang mandi," jawab Maria.
"Oh ya... Masalah kedua orang tuamu. Aska sudah membuatkan rumah buat mereka. Aska ingin berbakti kepada mertuanya," ucap Christina.
"Masalahnya bukan itu Bu. Masalahnya rumah di Jakarta sedang tidak aman. Ada pamanku yang sangat menginginkan rumah itu. Dia sangat kekeh minta rumah itu dari tangan bapak. Aku nggak habis pikir rumah itu bukan rumah yang diberikan oleh kakek nenekku. Justru rumah tersebut adalah rumah yang dibeli dari hasil dari payah selama mereka masih mengajar. Aku ingin kesana. Tapi abang melarangku. Kata Abang usia kandungan ku masih muda," jelas Maria.
"Abang kamu benar. Kamu harus patuh dengan nasehat Aska. Aska diam-diam sangat mencintaimu. Maka dari itu Aska tidak mau kamu terjadi apa-apa di jalan. Serahkan semuanya ke tangan Aska," tambah Christina.
"Terima kasih Bu. Maafkan aku selama ini telah merepotkanmu," ucap Maria.
"Apakah mereka mau tinggal di sini?" tanya Maria.
"Mau saja. Di rumah barunya ibu akan memberikan satu pelayan untuk mengurusi mereka. Lagian juga Ibu sangat berterima kasih kepada mereka. Sebab mereka sudah menyayangi Aska ketika berada di sekolah," jawab Christina sambil tersenyum dan memandang wajah Maria.
"Terima kasih sekali lagi Bu," ucap Maria yang mendapatkan perlakuan istimewa dari Christina.
"Tidak apa-apa. Kalau begitu kamu santai saja," balas Christina. "Oh ya kamu ngapain di sini?"
"Aku ingin mengambilkan makan siang buat abang," jawab Maria yang menuju ke rak berisikan peralatan makan.
__ADS_1
"Baiklah. Nanti jangan lupa tepat pukul tujuh malam akan ada penobatan ahli waris. Jangan terlambat pergi ke ballroom," ucap Christina yang memperingatkan Maria agar tidak terlambat menuju ke hotel.
"Ibu benar juga. Kalau begitu aku akan bersiap-siap untuk acara tersebut. Semoga saja acaranya bisa menghadirkan suasana baru di perusahaan," sahut Maria yang berdoa dengan tulus agar acara itu berjalan dengan lancar.
"Kamu benar. Maka dari itu dandanlah yang sangat cantik sekali. Karena kamu akan menjadi pusat perhatian bagi para tamu dan kolega di sana," pinta Christina yang memberikan saran untuk Maria.
Maria menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis. Memang benar apa yang dikatakan oleh Christina. Christina ingin agar Maria dihormati oleh para tamu undangan dan kolega. Meskipun tidak berdandan Maria sudah sangat cantik sekali. Bahkan hatinya juga yang membuat orang jatuh cinta kepadanya.
Setelah mengambilkan menu makanan buat Aska, Maria akhirnya berpamitan untuk pergi ke kamar. Ketika masuk ke dalam Maria melihat kemesraan antara nenek dan kakek. Sungguh bahagia hatinya ini. Maria ingin sekali memiliki kisah cinta sejati seperti mereka.
Kemudian Maria memutuskan untuk masuk ke dalam. Ia menaruh nampan yang berisikan makanan itu di atas nakas. Ketika Aska keluar dari toilet dengan berbalutkan handuk, Maria terkejut dan langsung menutup wajahnya. Jujur meskipun sudah menikah dengan usia hampir empat bulan, Maria masih malu untuk melihat tubuh Aska sepenuhnya.
Entah kenapa dirinya ingin berlari menjauhi Aska. Namun Aska dengan cepat menangkap tubuh mungil Maria. Aska yang dulunya kurus berubah memiliki tubuh kekar. Jujur saat ini Maria tidak dapat menolak pelukan Aska yang tanpa memakai baju tersebut.
"Huaha... Abang... Lepasin neng. Neng mau mandi dulu," ucap Maria yang sedang mencari alasan.
"Ngapain juga melepaskan kamu? Kamu sangat menarik perhatianku. Jadinya kamu harus bertanggung jawab atas semua ini," sahut Aska.
Seketika wajah Maria memerah bagai tomat yang baru saja masak dari pohonnya. Jujur wajah Maria tersipu merah dan membuat Aska ingin menghabisinya. Namun Maria memperingatkan Aska agar tidak berbuat macam-macam pada sore ini.
"Abang nggak boleh macam-macam deh," celetuk Maria.
"Kenapa aku tidak boleh macam-macam?" tanya Aska.
"Sebab Abang harus ingat sesuatu," jawab Maria yang bingung menjelaskannya.
__ADS_1
"Sesuatu apa?" tanya Aska yang menatap wajah Maria.