
"Nggak usah dibales. Biarkanlah semuanya menjadi urusannya Paman Frank. Kita sudah nggak usah mengusik orang-orang seperti itu. Aku sendiri pengen hidup damai tanpa harus ada kekacauan yang telah terjadi," jelas Aska.
"Yang dikatakan Aska benar. Kalau kita tidak menghentikan dendam ini. Maka dendam ini akan berlanjut sampai kapan? Masalah ini tidak akan pernah selesai sekalipun. Biarkanlah Jamaludin, Jono dan Julia diadili secara hukum. Kalau Benjamin biarkanlah diadili oleh Frank. Kalian fokus saja pada pekerjaan. Dan kamu Romeo dan juga Max, carilah Seorang istri. Agar kalian di masa tuanya ada yang mengurus dan merawat," pesan Adrian.
"Baik ayah," sahut mereka serempak.
"Kapan kalian berangkat?" Tanya Adrian.
"Sebentar lagi. Maria sedang bersama ibu Tanti," jawab Aska.
Adrian tidak bertanya lebih lanjut lagi. Adrian memutuskan untuk pergi dari mereka. Tepat jam 08.00 malam, mereka langsung pergi ke bandara. Di dalam perjalanan Maria memegang tangan Aska. Lalu Aska menoleh dan bertanya, "Ada apa?"
"Kalau sudah sampai Jakarta. Aku ingin ke rumah lamaku. Di sana Aku ingin mengambil beberapa dokumen. Ibu dan bapak sudah memutuskan untuk menjual rumah itu," jawab Maria.
"Kenapa mereka ingin menjual rumah tersebut?"
"Jika dipertahankan maka ibu dan bapak hidupnya tidak tenang. Mereka selalu mengusik keberadaan ibu dan bapak. Maka dari itu, bapak dan Ibu memutuskan untuk menjual rumah tersebut. Aku harap kamu nggak marah."
"Sebenarnya sih sayang. Kalau dijual kenangan masa lalumu itu bagaimana? Suatu Hari Nanti kita bersama anak-anak berkunjung ke Jakarta. Lebih baik rumah itu aku beli saja. Aku akan merenovasinya dan menjadikan rumah itu adalah rumah singgah kita."
"Apakah kamu serius dengan perkataanmu itu?"
"Aku serius. Aku tidak akan membiarkan rumah itu jatuh ke tangan orang lain. Aku paham rumah itu adalah rumah hasil keringat kedua orang tua kamu."
"Kalau mereka masih mengusiknya?"
"Kamu takut sama mereka?"
"Ya nggak sih. tapi mereka sangat mengerikan sekali ketimbang menghadapi klien yang super-super galak."
__ADS_1
"Kamu nggak perlu takut sama mereka. Aku sudah menyelidiki rumah tersebut. Rumah itu murni dari kedua orang tuamu. Mereka tidak tahu bagaimana perjuangan kedua orang tuamu saat memiliki rumah itu? Jika mereka mengusiknya maka harus berhadapan denganku. Tapi kamu nggak usah bilang sama bu Tanti. Kalau rumah itu aku yang membelinya."
'Kenapa nggak boleh bilang sama ibu?"
"Nanti nggak boleh sama ibu. Ujung-ujungnya Ibu nggak mau kalau salah satu dari kita membelinya. Padahal aku sendiri ingin sekali memiliki rumah biasa ketimbang apartemen."
"Kenapa kita nggak bangun seperti istana ya? Terus rumah itu bisa disewa ke orang lain.Abang bisa menentukan berapa biaya sewa rumah tersebut."
"Bener juga apa katamu. Nanti aku akan menyuruh salah satu pengawalku menjaga rumah tersebut. Ditambah lagi dialah yang aku suruh merawat rumah itu."
"Itu ide yang sangat bagus Abang."
"Kalau kamu setuju Kenapa tidak?"
"Makasih ya Bang sudah nolongin keluargaku lagi. Jujur sampai saat ini hatiku sangat lega. Kalau aku tidak hamil... Maka aku putuskan untuk memikirkannya dan mendapatkannya kembali. Kata Ibu aku tidak boleh stres untuk masalah rumah itu. Ibu menyuruhku untuk pasrah dengan keadaan."
"Nggak gitu kali. Kita itu tidak boleh terlalu pasrah juga. Kita juga berbuat sesuatu. Kalau kita sudah berbuat sesuatu dan tidak mendapatkan hasil. Kita boleh pasrah. Kalau kita tidak melakukan apapun dan hanya pasrah saja. Itu juga tidak boleh. Yang penting kita bisa melakukan apapun yang terbaik buat semuanya."
"Makasih neng. Seharusnya hidup manusia itu semakin hari semakin bijak. Nggak seharusnya manusia itu menghadapi masalah dengan penuh emosi. Kita harus bisa membedakan masalah dengan kepala dingin. Kalau nggak ada jawabannya kita akan menunggu sampai Tuhan memberikannya."
"Abang benar. Lama-lama aku jadi bucin deh sama Abang."
"Yang gak begitu kali neng. Kalau bucin ya jangan terlalu bucin. Cintailah seseorang dengan memakai akal pikiran yang sehat. Janganlah kamu mencintai seseorang sampai tergila-gila. Kalau orang itu tidak mencintaimu. Ujung-ujungnya pasti nggak enak."
"Abang cinta nggak sama neng?"
"Kok nanyanya gitu?"
"Kan neng nanya?"
__ADS_1
"Nanya sih nanya neng. Kalau abang tidak cinta sama Eneng. Abang nggak bakalan bertahan bareng neng sampai sekarang ini. Abang tahu kalau neng memanjatkan doa. Agar abang selalu sukses dalam setiap pekerjaan. Ini jangan ditanya gitu lagi ya?"
"Ah si Abang ini. Neng bener kalau bilang. Neng ini sudah bucin sama Abang. Neng nggak pernah melirik pria lain."
"Ya jangan atuh neng. Emangnya Abang nggak ganteng lagi ya?"
"Ganteng sih?"
"Kok malah seperti pertanyaan?"
"Iyalah. Tapi abang orangnya usil. Eneng sama Ayah selalu jadi korbannya Abang."
Tak lama tawa Aska meledak hingga terdengar ke telinga Romeo dan Max. Mereka berdua memang duduk di depan. Setiap obrolan atau pertanyaan dari kedua belah pihak akan terdengar jelas. Sebenarnya sih mereka itu menahan tawanya. Jujur Mereka ingin tertawa karena perkataan Maria yang sangat manja sekali.
Romeo sebagai partnernya dulu, tidak menyangka kalau Maria sangat manja seperti anak kecil. Bahkan manjanya kebangetan. Tapi meskipun begitu Romeo tidak marah dan jijik. Melainkan Romeo sangat menyukainya.
Ketika bekerja di Aska Food, Romeo melihat Maria sangat menderita sekali. Konflik yang dihadapi oleh Maria itu sangat besar. Mulai dari konflik Haryadi dan juga keluarganya itu. Sampai-sampai Maria dulu pernah diusir dari rumah.
Sungguh beruntung nasib Maria sekarang ini. Dirinya tidak menyangka kalau menikah dengan seorang sultan yang benar-benar kaya. Bahkan Aska pun kalau mau bisa membeli pulau pribadi. Namun Aska tidak menginginkan pulau pribadi. Melainkan sebuah rumah kecil dan sangat sederhana sekali.
Max, sekarang mas baru menyadari kalau Aska adalah pria baik hati. Jujur saja dirinya sangat beruntung menjadi teman baiknya kala itu. Ia tidak pernah mengeluh tentang sifat Aska tersebut. Bahkan Mak sendiri tidak mau pisah dari Tuhannya itu.
Sesampainya di bandara, seluruh para pengawal dari Blue Dragon sudah bersiap. Mereka sengaja menutup sebagian bandara tersebut. Kemudian mereka menyambut kedatangan Aska dan mengajaknya ke ruang tunggu. Bahkan ruang tunggu yang ditempati oleh Azka sangat spesial sekali.
Jujur saja Asta kebingungan dengan mereka. Namun mereka sengaja diperintahkan oleh Frank. Karena Frank sengaja membuat kenyamanan Aska maupun Maria.
Selain itu Adrian sengaja menempatkan para sniper di titik tertentu. Berhubungan Aska sudah dinobatkan sebagai ahli waris. Maka Adrian dan Frank harus menjaga Aska.
Frank dan Adrian memiliki insting yang cukup kuat. Mereka memang sudah berkoordinasi untuk melindungi Aska. Meskipun Jamaludin maupun Jono sudah tertangkap. Masih ada musuh dalam selimut.
__ADS_1
Karena banyak sekali dari berbagai pihak, ingin menghabisi Aska maupun Maria. Itulah yang namanya dunia bisnis.