
“Tanyakan saja pada ayahmu itu. Aku hanya seorang pengacara. Bukan kepolisian yang bisa memutuskan bisa tidaknya masuk dalam grup pembasmian mafia itu,” jelas Andrew.
“Kamu itu... Ada tamu datang tapi nggak disambut. Nggak disuruh duduk dan diberikan minuman,” kesal Adrian yang menghempaskan bokongnya di sofa single.
“Duduk-duduk saja. Minum tinggal ngambil. Kenapa kamu protes seperti itu? Bukankah dulu kamu sering ke sini tanpa harus bertanya dan meminta sambutan dariku?” tanya Andrew yang membuat Adrian kesal.
“Memangnya ayah sudah mengenal Paman Andrew ini?” tanya Aska.
“Ayahnya ayahmu itu dan ayahnya ayahku adalah seorang sahabat baik. Mereka sudah menjadi saudara. Begitu juga dengan kami. Kami juga menjadi saudara sejak bayi. Jadi aku tahu sifat Paman kamu itu dan juga ayahmu yang super dingin. Makanya kalau dia ke sini aku sudah tidak kaget lagi,” jawab Andrew.
“Jadi, kapan masalah ini bisa diurus?” tanya Adrian.
“Hari ini aku bisa mengurusnya,” jawab Andrew.
“Cepat sekali,” celetuk Aska.
“Semakin cepat semakin baik. Jika terus ditunda, Jamaludin akan semakin menggila. Sekarang Jamaludin pergi ke New York. Jamaludin akan mengambil Benjamin dan merencanakan rencana yang baru. Jika tidak dilakukan sekarang. Maka tamatlah riwayat Wicaksono Group. Kalau kalian ingin disini terserah. Aku ingin pergi ke pengadilan untuk memisahkan ahli waris sesungguhnya Wicaksono Group. Dan melegalkan surat itu,” jelas Andrew yang beranjak berdiri dan meninggalkan Aska begitu juga dengan Adrian.
“Aku tidak akan bisa di sini. Aku harus mencari komandanku untuk berkoordinasi tentang Jamaludin,” pamit Adrian.
Andrew menganggukkan kepalanya. Ia mempersilahkan mereka pergi. Setelah Adrian dan Aska pergi, Andrew meninggalkan rumahnya untuk menuju ke pengadilan.
Satu langkah telah dilalui. Masih ada beberapa langkah lagi yang harus mereka lalui. Mereka bisa menggenggam Wicaksono Group dan membangunnya kembali.
Adrian mengajak Aska menuju ke kantor Adrian. Di dalam perjalanan Aska bertukar pesan dengan Maria. Baru ditinggal beberapa hari, Aska mulai merindukan sang kekasih. Pria itu ingin mengajak Maria ke sini. Namun hal itu tidak memungkinkan. Karena di sini masih belum aman buat keluarga kecilnya itu.
“Ayah tahu kamu sangat merindukan Maria. Tunggulah sebulan... Biarkanlah mereka belajar menembak. Agar Maria aman dari serangan Jamaludin. Ayah akan berkoordinasi dengan pamanmu untuk melakukan pengawalan ketat ketika kamu berada di Wicaksono Group,” jelas Adrian yang paham akan hati sang putra.
“Masalahnya bukan itu ayah. Aku memang rindu sama Maria. Tapi bagaimana dengan keluarga Maria di sana? Apakah mereka aman? Apakah mereka bisa hidup tenang? Sementara Maria hidup dalam bahaya. Sebenarnya aku tidak ingin mengajak Maria hidup seperti ini. Seharusnya aku bisa membuatnya bahagia. Ada rasa penyesalan ketika aku menikah di usia ini. Kenapa nggak aku berpikirkan terlebih dahulu? Kalau istriku hidup dalam bahaya seperti ini,” jelas Aska.
__ADS_1
“Kamu nggak hidup dalam bahaya. Tapi Jamaludin lah yang membuat ulah terus-terusan. Harusnya dia puas mendapatkan bagiannya dari kakekmu. Karena orang tua Jamaludin telah membangun perusahaan ini semakin besar. Sudah sepantasnya Jamaludin mendapatkan bagian seperti itu. Tapi dengan keserakahannya Jamaludin ingin menguasai perusahaan itu,” ungkap Adrian yang selama ini telah mengetahui gelagat dari Jamaludin. “Syukurlah... Kita belum terlambat sama sekali. Sekarang Minah sudah berada di tangan kita. Ayah sudah memiliki firasat. Cepat atau lambat Jamaludin menyuruh Benjamin akan membunuhnya. Itulah kenapa ayah cepat-cepat menyuruh Luke mengambil Minah.”
New York Amerika.
Jamaludin menghempaskan bokongnya dan melihat Benjamin sedang menghisap obat-obatan terlarang. Ia tersenyum sambil berkata, “aku sudah mempersiapkan paspor barumu. Paspormu ini tidak akan bisa dilacak oleh pihak interpol maupun polisi manapun. Pergilah ke Indonesia. Cari Minah dan bunuhlah. Aku nggak mau tahu lagi kabar mengenai wanita itu! Seharusnya dia membunuh Aska! Kenapa dia membiarkan Aska hidup? Hingga Aska sendiri telah menerorku berkali-kali!” perintah Jamaludin.
“Apakah itu benar?” tanya Benjamin yang sangat penasaran sekali dengan pesan itu.
“Itu benar. Kamu tidak perlu tahu soal itu. Kamu harus melakukan misi ini!” perintah Jamaludin.
Paris Prancis.
Sesampainya di kantor polisi, Adrian dan Aska disambut oleh para petinggi kepolisian. Mereka bahagia dan saling bertegur sapa. Kemudian para petinggi kepolisian itu mengajak Adrian dan Aska.masuk ke dalam ruangan meeting. Di sana mereka membicarakan tentang Jamaludin.
Meskipun dalam kondisi santai, namun topik yang diobrolin sangat berat. Mereka menyerah di hadapan Adrian ketika kasus Jamaludin bergulir. Adrian pun paham dan meminta agar bisa bekerja sama dengan Blue Dragon.
Awalnya mereka menolak. Namun Adrian menjelaskan tentang Blue Dragon sesungguhnya. Mereka menyetujui dengan visi dan misi Adrian bersama Blue Dragon. Akhirnya Adrian meminta waktu untuk tidak menyerang Jamaludin terlebih dahulu. Dikarenakan Adrian maupun Aska sedang membuat rencana besar.
Sebulan tidak ada pergerakan sama sekali. Aska yang mendengar Minah sudah sembuh ingin menemuinya. Aska menuju ke ruangan sang ayah sambil melihat para pengawal. Setelah itu Aska masuk ke dalam lalu menghempaskan bokongnya di sofa panjang.
“Ayah,” panggil Aska.
“Ada apa memangnya?” tanya Adrian sambil memeriksa berkas-berkas Jamaludin yang baru.
“Bolehkah aku menemui Minah?” tanya Aska.
“Jangan sekarang kamu memenuhi Minah. Sebentar lagi Frank bersama Christina akan ke sini,” jawab Adrian.
“Maksud ayah bagaimana? Kok aku tiba-tiba saja tidak boleh bertemu dengan Minah?” tanya Aska yang bingung dengan Adrian.
__ADS_1
“Apakah kamu tidak mau menyambut kedatangan istrimu itu? Kamu hampir setiap hari bilang rindu ketika menghubungi Maria,” tanya Adrian.
“Rindu sih rindu. Tapi kita kan sedang tugas. Nggak bisa kita lepas dari tugas ini. Jika belum selesai total. Lalu jika mereka ke sini tidak ada hubungannya kan jika aku bertemu dengan Minah?” tanya Aska lagi.
“Kamu tahu Minah berada di mana?” tanya Adrian.
“Bukannya Paman Luke yang melindunginya? Bukankah Minah berada di kota ini?” tanya Aska balik.
“Minah tidak berada di sini. Minah berada di kota Milan. Luke sengaja meminta bantuan kepada kakeknya untuk menyembunyikan Minah di sana,” jawab Adrian.
“Kenapa Minah tinggal di Milan?” tanya Aska yang bingung dengan Adrian.
“Ayah harap kamu ingat sesuatu. Andrew pernah mengatakan kalau Benjamin akan mencari Minah. Untung di waktu yang cepat kita sudah mengambilnya. Tanpa sepengetahuan kamu, ayah menyuruh Luke untuk menyembunyikan di tempat yang aman. Tempat amannya itu adalah tempat tinggalnya kakek Luke. Yang di mana kakek Luke ini memiliki dendam kepada Benjamin. Kamu tahu apa dendamnya?”
“Aku nggak tahu ayah.”
“Dendamnya adalah Benjamin memiliki hutang sebesar lima juta euro kepada kakeknya Luke. Kamu pasti belum tahu kakeknya Luke itu siapa? Dia adalah seorang mafia yang cukup tersohor di negara Eropa. Jadi jika Benjamin membunuh Minah, otomatis Benjamin yang akan dibunuh oleh kakeknya Luke itu. Itulah kenapa kamu tidak boleh menemuinya terlebih dahulu. Si kakeknya ini sedang memburu keberadaan Benjamin. Jika Benjamin tertangkap oleh kakeknya, kemungkinan besar Jamaludin akan merosot total dalam pergaulan manapun. Itulah kenapa ayah menyuruh Luke untuk menyimpan Minah di sana. Kalau di sini kemungkinan besar mereka bisa menemukan Minah.Apakah kamu paham tentang penjelasan ayat ini?” tanya Adrian.
“Iya aku paham ayah. Semakin lama aku semakin bodoh hanya karena Jamaludin. Jujur sampai saat ini Jamaludin sengaja membuat keonaran. Apa yang dilakukan oleh Paman Frank di sini?” tanya Aska.
“Nanti kamu lihat saja kabarnya bagaimana. Kamu hanya duduk manis dan belajar mengendalikan perusahaan besar. Soal urusan Jamaludin itu dan organisasi bawah tanah adalah milik ayah semuanya,” sahut Adrian.
“Aska boleh memohon nggak yah?” tanya Aska.
“Permohonan apa? Apakah permohonan kamu itu berat?”
“Permohonan yang di mana janganlah ayah membunuh Jamaludin. Aku ingin menyiksanya terlebih dahulu. Sebab dia harus mendapatkan ganjarannya,” jelas Aska.
“Serahkan saja kepada kepolisian. Tanganmu tidak boleh dilumuri oleh darah Jamaludin. Masa depanmu masih panjang. Jangan sampai kamu berurusan dengan kami,” jelas Adrian.
__ADS_1
“Tapi izinkanlah Jamaludin hidup. Apakah dia tidak ingin menyaksikan penobatan ahli waris?” tanya Aska yang menantang Adrian untuk tidak membunuhnya ketika terjadi penangkapan besar-besaran.