Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Silent Man.


__ADS_3

"Aku selalu ada waktu buat ibu," jawab Aska sambil tersenyum manis. "Memangnya ada apa bu?"


"Nanti ibu beritahu kapan kita berkumpul?" jawab Christina.


"Oke... nanti hubungi aku," ucap Aska. "Bu."


"Ada apa?" tanya Christina sambil melihat Aska.


"Aku akan memecat pegawai ibu yang bernama Sony. Aku akan mengirimkan dia ke penjara."


"Percuma kamu mengirimkan ke penjara," seru Romeo yang baru saja datang.


"Memangnya kenapa aku tidak boleh mengirimkan Sony ke penjara?" tanya Aska.


"Biar bagaimanapun kamu mengirimkan ke sana, yang namanya Benjamin akan melepaskannya," jawab Romeo sambil membawakan yang diminta oleh Aska semalam.


"Kalau begitu aku harus bagaimana? Jika diteruskan, mereka akan menyerang kita secara habis-habisan," ujar Aska yang mulai serius.


"Kalau begitu biarkan saja Sony menghirup udara bebas terlebih dahulu. Kita tidak boleh gegabah melakukannya. Jika kita gegabah kemungkinan besar Benjamin akan menyerang kita secara langsung. Kita belum memiliki rencana matang untuk membalas mereka. Yang jadi masalahnya adalah siapa dalang dibalik itu semuanya? Inilah yang menjadi acuan kita saat ini," jelas Romeo.


"Bukankah kita pernah membicarakan soal ini?" tanya Adrian yang baru saja keluar dari kamar. "Kenapa kamu menyuruh Sony menghirup udara bebas?"


Adrian sangat kesal terhadap Romeo. Bisa-bisanya Romeo ingin melepaskan Sony begitu saja. Dengan nada geramnya geramnya, Adrian berkata, "Jika kamu memberikan hati maka orang itu akan meminta jantungmu. Mudah-mudahan Kamu paham dengan istilah ini."


"Jadi kita harus bagaimana?" tanya Romeo.


"Mau tidak mau kita harus menangkapnya dan menjebloskannya ke dalam penjara. Setelah ini kita akan memburu Benjamin," jawab Adrian. "Kalau bisa kita membuang Benjamin ke negaranya sana yaitu Italia."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Ayo kita pergi ke kantor hari ini juga," ajak Aska yang membuat mata mereka mendelik.


Aska tidak sengaja melihat Romeo dan sang ayah dengan mata yang mendelik. Diam-diam Aska tertawa sambil menepuk bahu sang ayah, "Kenapa ayah tertawa seperti itu?"


"Kamu tahu nggak? Lihatlah dengan jelas jam di dinding itu!" geram Adrian sambil menunjuk jam di dinding.


"Kenapa memangnya? Bukankah ini sudah jam tujuh pagi? Kita berangkat ke kantor jam segini?" Tanya Aska sambil menggarukkan kepalanya yang tidak gatal itu.


"Ini masih jam lima tahu! Apakah kamu nggak tahu! Kalau jam segini itu orang-orang masih terlelap dalam mimpinya!" teriak Adrian hingga membuat Aska berlari ke kamar.


Adrian hanya menggelengkan kepalanya melihat Sang putra kabur dari hadapannya. Yang dikatakan Adrian adalah benar. Jam masih menunjukkan lima pagi. Malah Aska mengajaknya ke kantor pada pagi buta ini. Sungguh sangat meresahkan.


"Sepertinya putramu itu giat sekali bekerja. Lihat saja jam segini sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Kalau begitu aku akan masak terlebih dahulu," pamit Christina sambil meninggalkan mereka berdua.


"Kamu juga! Masih pagi udah ke sini!" tegas Adrian yang meninggalkan Romeo sendirian.


"Maaf tuan... Aku memang sedang mencari gratisan untuk sarapan pagi," seru Romeo sambil menyusul Christina di dapur.


"Yupz," sahut Romeo yang masih membilas piring. "Ada apa?"


"Surat pemecatan yang aku minta sudah dipersiapkan?" tanya Aska.


"Sudah. Bahkan aku ingin memecat manajer hrd-nya sekalian," jawab Romeo yang selesai mencuci piring.


"Kenapa kamu memecat manager HRD nya juga?" tanya Christina yang masih menggoreng ikan.


"Setahuku para pemegang saham lah yang bisa memecat manajer HRD. Kita tidak bisa melakukannya begitu saja," jawab Aska yang membuat Romeo sangat malas berhubungan dengan manajer HRD nya itu.

__ADS_1


"Hanya askalah yang bisa memecat Manager HRD-nya itu. Karena Aska sendiri adalah pemegang saham terbesar di Azka food maupun Wicaksono Group," jelas Christina yang mengangkat ikannya dari wajan.


"Apakah aku sekaya itu? Berapa uang yang kumiliki sekarang? Jujur aku bingung dengan uang yang aku dapatkan saat ini. Padahal aku sendiri tidak bekerja dan menguras keringat seperti dulu. Ini sangat aneh sekali bagiku," Aska sangat bingung dengan pendapatan uang yang dimilikinya itu.


"Nggak usah bingung. Itu masih di Aska Food. Belum lagi kebunnya Pak Broto itu. Setiap panen bisa menghasilkan miliaran rupiah. Belum lagi beberapa kebun di Kalimantan maupun Sulawesi. Dan itu masih banyak lagi. Ditambah lagi dengan hasil kekayaan dari ayahmu," jelas Christina dengan jujur.


"Kalau begitu aku ingin membeli mobil sport dua. Yang satu buat aku yang satu buat Maria. Apakah itu wajar jika aku memiliki mobil sport?" tanya Aska sambil meminta pendapat dari mereka.


"Kamu nggak salah. Itu hak kamu sendiri. Ibu tahu kalau kamu adalah tipe pria yang sangat setia sekali. Barang yang kamu pakai jika belum rusak tidak akan melepaskannya begitu saja," ucap Christina yang mengetahui sifat anaknya itu.


"Ternyata Ibu tahu saja sifatku yang satu ini," sahut Aska sambil malu-malu.


"Belilah sana. Jangan ngomong saja," ledek Romeo.


"Bawa mobil saja nggak bisa. Ngapain juga beli mobil sport?" Kesel Aska yang membuat Romeo memutar bola matanya dengan malas.


"Belajar sana. Apa susahnya belajar mobil? Kalau kamu nggak bisa, tanya sama Maria," ujar Christina.


Selesai memasak Christina langsung pergi dari dapur. Sementara itu Aska dan Romeo sedang duduk dan menikmati kopi panas. Ketika sedang membaca headline di ponsel masing-masing. Aska mulai mengeluarkan suaranya sambil fokus pada ponselnya, "Abang."


"Ada apa memangnya?" tanya Romeo.


"Apakah ayah masih marah soal nenek Julia?" tanya Aska balik.


"Ya marah lah. Yang bener saja kamu menyelidiki nenekmu sendiri. Kamu pikir nenekmu itu sudah renta dan tidak bisa ngapa-ngapain. Jalan saja memakai tongkat. Gitu kamu mau menyelidikinya," jawab Romeo.


"Aku merasa ada yang aneh dengan nenek Julia. Sepertinya ada seseorang yang ingin menghancurkan kedua perusahaan raksasa. Saat ke sini kakak bercerita kalau di rumahnya itu hanya ada dirinya dan nenek Julia. Tapi feelingkuh mengatakan, mengatakan kalau aku merasakan ada sesuatu yang janggal dengan kakek dan nenek. Jujur saja aku tidak mencurigai kakek. Soalnya Kakak sendiri lah pendiri Wicaksono. Yang Aku curigai adalah nenek Julia. Diam-diam aku merasakan orang ini sangat bahaya sekali ketika berada di dekatnya," jelas Aska.

__ADS_1


"Jangan mengada-ada ah. Nggak baik kamu mencurigai nenek-nenek yang sudah tua dan renta itu. Coba kamu pikir nenek-nenek nggak bisa apa-apa malah dicurigai!" kesel Romeo yang mengetahui kondisi Julia.


Terpaksa Aska memilih diam saja. Di dalam hatinya Aska hanya bisa memendam rasa ini. Mau tidak mau dirinya akan mencari jawabannya sendiri. Hanya ada satu kata yaitu percuma jika berdebat dengan Romeo maupun Adrian. Lalu, bagaimana dengan Christina? Christina sudah mengizinkan Aska untuk menyelidiki Julia. Malam ini Aska akan begadang untuk mencari informasi itu sendirian.


__ADS_2