
“Idih... bapak mah... diminta tolong kalau minggat. Jadi Mala harus bagaimana?” tanya Mala yang kesal dengan Pak Broto.
Sementara itu Pak Broto langsung menemui Ibu Siti. Di sana Pak B foto tertawa mendengar curhatan Mala. Diam-diam Mala ada hati bersama Romeo.
Tak lama Bu Siti menoleh dan melihat Pak Broto sedang tertawa. Kemudian Bu Siti bertanya, “Ada apa?”
“Mala suka banget sama yang namanya Romeo,” jawab Pak Broto.
Bu Siti pun terkejut mendengar apa yang didengarkan oleh Pak Broto. Sambil menggelengkan kepalanya Bu Siti hanya menghembuskan nafasnya secara kasar, “Aya-aya wae.”
Beberapa saat kemudian datang Pak Ahmad. Pria paruh baya itupun segera mendekat dan menatap wajah Pak Broto sambil memberikan sebuah kode. Pak Broto pun menatap wajah Bu Siti dan berpamitan sebentar, “Bu... aku pergi ke kebun sebelah Timur. Sekalian mau mengecek anggurnya sudah matang apa belum? Soalnya Aska Food sedang membutuhkan buah anggur dalam waktu dekat.”
“Iya pak... hati-hati. Jangan lupa membawakan apel buat Tuan Damian,” ucap Bu Siti sambil memperingatkan Pak Broto.
“Siap,” balas Pak Broto sambil meninggalkan Bu Siti sambil mendekati Pak Ahmad.
Pak Ahmad memberikan sebuah helm ke Pak Broto. Di saat memakai helm itu Pak Ahmad berkata, “Ada misi rahasia dari seseorang.”
“Berangkat ke tempat biasa!” titah Pak Broto.
Pak Ahmad segera meninggalkan kebunnya ke tempat biasa. Mereka menuju ke tempat rahasia yang dibangun oleh Frank. Sepanjang perjalanan menuju ke sana mereka hanya diam.
Di tempat itu sudah berkumpul beberapa orang yang memakai baju serba hitam dan rapi. Mereka sedang menunggu kedatangan Pak Broto dan Pak Ahmad.
Sesampainya di sana Pak Ahmad memarkirkan motornya. Lalu Pak Broto mengerutkan keningnya. Setelah itu Pak Broto turun dari sana dan masuk ke dalam tempat itu.
Mereka sengaja tidak menyambut kedatangan Pak Broto dan Pak Ahmad. Seperti biasanya mereka dilarang oleh Pak Broto. Supaya warga di sana tidak curiga sama sekali.
“Masuklah ke dalam,” perintah Pak Broto dengan nada rendah.
Salah satu dari mereka membuka pintu itu. Lalu mereka mempersilakan pak Broto masuk ke dalam. Kemudian mereka mengikuti Pak Broto masuk ke dalam sana.
Setelah itu Pak Ahmad datang dengan membawa ponsel dan melihat mereka yang sudah duduk. Ia mendekati Pak Broto sambil mengajaknya ke ruangan khusus.
“Ada pak?” tanya Pak Broto.
“Ada tugas dari Tuan Adrian,” jawab Pak Ahmad.
“Tugas apa?” tanya Pak Broto sambil mengerutkan keningnya.
“Nanti malam kita pergi ke rumah sakit di mana Minah dirawat. Setelah itu kita membawanya pulang ke sini sebentar. Keesokan harinya Tuan Luke kesini akan membawa Minah ke Paris,” jawab Pak Ahmad.
__ADS_1
“Apakah Aska sudah tahu?” tanya Pak Broto.
“Justru Aska memerintahkan Tuan Adrian mengambilnya ke sini. Cepat atau lambat Benjamin ke sini untuk membunuhnya,” jawab Pak Ahmad.
“Maksudnya?” tanya Pak Broto.
“Minah kan tidak berhasil membunuh Aska. Berarti Benjamin akan membunuhnya. Apakah Pak Broto lupa dengan kejadian dua puluh dua tahun silam? Yang dimana Minah diberikan sebuah misi untuk membunuh Aska,” jelas Pak Ahmad.
“Oh,” ucap Pak Broto sambil menganggukan kepalanya. “Saya ingat. Padahal waktu itu saya yang bertugas menjadi kaki tangan Jamaluddin.”
“Malam ini... apa nanti sore?” tanya Pak Ahmad.
“Mending hari ini saja pak. Saya yakin kalau pengawal milik Benjamin pasti mencarinya. Karena misi yang dilaksanakan gagal total,” jawab Pak Broto. “Lalu kenapa mereka disuruh ke sini?”
“Mereka aku ditugaskan untuk melindungi Minah dari Benjamin,” jawab pak Ahmad membuat Pak Broto setuju.
“Baiklah Pak,” balas Pak Broto.
Sore itu juga mereka pergi ke rumah sakit jiwa. Mereka akan mengambil Minah dan mengajaknya tinggal di tempat ini untuk sementara waktu. Sesampainya di sana mereka langsung membayar segala administrasinya. Sang dokter mengajak Pak Broto dan Pak Ahmad menuju ke kamar Minah.
Sebelum masuk ke sana dokter itu menceritakan Bagaimana keadaan Minah sesungguhnya. Mereka terkejut atas cerita sang dokter tersebut. Akhirnya mereka mengambil Minah dan mengajaknya pergi dari rumah sakit itu.
Pagi menjelang, seorang pria paruh baya baru turun dari pesawat. Mereka disambut oleh beberapa orang memakai baju serba hitam. Di sana pria itu langsung pergi meninggalkan bandara.
Beberapa orang dari mereka laporan jika Minah masih hidup. Pria paruh baya itu pun tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Di dalam perjalanan pria itu menghubungi Adrian dan melaporkan bahwa dirinya sudah sampai Indonesia. Untung saja ketika menuju suatu tempat, pria itu tidak merasakan kemacetan yang parah.
Ketika sampai di suatu tempat yang dipenuhi oleh pohon-pohon besar, pria itu mencari para penghuni di sana. Namun pria itu tidak menemukannya. Malahan para pekerja sedang memetik buah yang masak.
“Tuan Luke,” panggil sang sopir.
“Ada apa? Apakah kita sudah sampai?” tanya Luke nama pria itu.
“Iya tuan. Kita sudah sampai. Di sanalah Minah disembunyikan,” jelas sopir.
Luke membuka pintu dan keluar dari mobil. Pria bertubuh tegap itu melihat di sekelilingnya tidak ada orang sama sekali. Ketika melangkahkan kakinya, Pak Ahmad mendekatinya sambil mengucapkan salam, “Selamat pagi tuan Luke.”
Tidak sengaja Luke melihat wajah Pak Ahmad. Tiba-tiba saja Luke menyunggingkan senyumnya sambil merentangkan kedua tangannya, “Ahmad Andriano.”
“Oh Luke,” sahut Pak Ahmad sambil membalas pelukan Luke.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Luke yang memukul punggung Pak Ahmad tiga kali.
__ADS_1
“Aku baik-baik saja,” jawab Pak Ahmad sambil melepaskan Luke.
“Bagaimana kabar di Paris?” tanya Pak Ahmad sambil memukul dada Luke untuk memberikan kode ikut bersamanya.
“Parah di sana. Jamaludin sudah menggila. Hampir setiap hari kelompoknya Jamaludin membuat keonaran di kota Paris. Ditambah lagi Jamaludin melebarkan sayapnya untuk menguasai Eropa. Tuan Adrian memintamu untuk bersiap-siap. Begitu juga dengan Pak Broto. Cepat atau lambat kalian akan pulang ke Paris untuk membasmi Jamaludin bersama Tuan Aska,” jelas Luke.
Pak Ahmad menganggukkan kepalanya. Meskipun Luke tidak cerita Pak Ahmad sudah mengetahuinya. Maka dari itu Pak Ahmad sekarang sering berlatih untuk menambah skill bertarungnya.
“Di mana Minah berada?” tanya Luke.
“Dia berada di dalam kamar. Jujur aku lihat dia bukan korban depresi. Dia normal dan masih mengingat siapa kami sebenarnya. Dia meminta agar Aska diselamatkan. Cepat atau lambat Benjamin akan membunuhnya,” jawab Pak Ahmad yang membuat Luke terkejut.
“Apakah kamu sudah mempersiapkan segalanya? Soalnya siang ini aku harus kembali ke Paris,” tanya Luke yang menghempaskan bokongnya di kursi.
“Semuanya sudah siap. Tinggal kamu bawa saja. Kami sempat membelikan beberapa baju agar bisa dipakai,” jawab Pak Ahmad.
Luke akhirnya menganggukkan kepalanya dan berdiri menuju ke kamar Minah. Entah kenapa hati kecilnya merasakan kesedihan yang mendalam. Tiba-tiba saja ia mengingat kejadian di masa lalunya. Yang di mana masa lalunya bersama Minah sangat indah dan penuh canda tawa.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Luke masuk ke dalam dan melihat Minah yang sedang duduk di tepi ranjang. Ia tidak lupa juga melihat wajah Minah terlihat tua. Kemudian Luke mendekatinya sambil jongkok di hadapan Minah.
“Apakah kamu mengenalku?” tanya Luke.
Minah mengangkat wajahnya lalu melihat Luke. Bola matanya memandang wajah Luke dengan serius. Tak lama di sudut matanya mengeluarkan kristal bening yang mengalir di pipinya. Minah memegang tangan Luke sambil berkata, “Aku masih mengenalmu.”
“Syukurlah... Kenapa kamu seperti ini? Bagaimana pernikahanmu dengan Benjamin?” tanya Luke.
“Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Kamu harus menolongku sekarang,” jawab Minah yang meminta bantuan kepada Luke.
“Bantuan apa? Ada apa dengan kamu?” tanya Luke sekali lagi.
“Aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Pokoknya kamu harus membantuku untuk menyelamatkan Aska. Sebentar lagi Benjamin akan memburu Aska dan membunuhnya,” jawab Minah.
“Kamu tenang saja. Aska sudah berada di orang yang tepat. Sekarang bersiaplah. Ikutlah denganku pulang ke Paris. Kedua orang tuamu masih mencari keberadaan kamu. Mereka selalu menghubungiku dan meminta untuk membawamu pulang,” pinta Luke dengan lembut.
__ADS_1