
"Tenang saja nyonya. Nanti aku suruh pada pengawal membagikannya ke alamat yang dituju," ucap Romeo.
"Bisakah aku request sekarang?" tanya Aska.
"Bisa," jawab Romeo.
"Suruh salah satu pengawal untuk mengambilnya dan ditaruh di rumah Maria. Habis gini aku akan ke sana dan mengambil beberapa undangan. Setelah itu aku langsung ke Karawang untuk membagikan surat undangan itu ke Pak Broto," ucap Aska.
"Lebih baik kamu bagikan saja sekarang. Ibu tahu kalau surat undangan itu sangat banyak sekali!'' perintah Christina.
Romeo menganggukkan kepalanya karena benar. Jujur waktunya sangat sedikit sekali. Tidak mungkin mereka akan menunda-nundanya lagi untuk memberikannya ke seluruh para undangan yang datang.
Romeo langsung memerintahkan pengawalnya untuk mengambilkan undangan tersebut. Kemudian Romeo mengajak Maria dan Aska pergi ke rumah Bu Tanti.
"Sepertinya ibu harus stand by di perusahaan selama kamu pergi," ucap Christina.
"Tenang Bu ada ayah di samping. Aku tidak akan mengganggu kalian untuk merasakan momen-momen pacaran di dalam perusahaan. Tapi Bu Jangan membuat skandal yang aneh-aneh. Nanti viral aku bisa jadi terkenal," ujar Aska yang membuat Christina menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu berharap ingin menjadi orang terkenal?" Tanya Christina.
"Aku tidak ingin menjadi orang terkenal bu. Jika aku terkenal semua musuh bisa memburuku dengan cepat. Rasanya aku tidak bisa hidup dengan tenang," keluh Aska.
"Kapan berangkat?" tanya Romeo.
"Sekarang saja," jawab Aska.
Lalu mereka akhirnya memutuskan berangkat ke rumah Maria. Sepanjang perjalanan menuju ke lobi banyak orang-orang yang memandang Aska. Jujur saja mereka baru tahu kalau ada pria tampan di lantai atas. Namun mereka tidak tahu siapa Aska sebenarnya.
Karawang Jawa Barat.
Pak Broto yang sedang menikmati kopi terkejut atas kedatangan Pak Ahmad. Ia langsung memandang Pak Ahmad sambil berkata, "Pak Ahmad datang datang membuat jantungku berdebar seperti ini."
__ADS_1
Pak Ahmad hanya terkekeh mendengar perkataan Pak Broto. Kemudian Pak Ahmad menghempaskan bokongnya di hadapan Pak Broto.
"Aku kemarin sedang berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan.Entah kenapa aku tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita berusia senja. Wanita itu sangat mirip sekali dengan Nyonya Julia," ucap Pak Ahmad.
"Memangnya Nyonya Julia bersama Tuan Damian?" Tanya Pak Broto.
"Tidak. Nyonya Julia berjalan sendirian bersama wanita paruh baya. Kemungkinan besar wanita itu adalah asistennya," jawab Pak Ahmad.
"Nggak mungkin kalau Nyonya Julia sendirian ke Indonesia. Ngapain juga Nyonya ke sini kalau nggak penting-penting amat."
"Tapi ini serius. Nyonya Julia kemarin memilih baju-baju perempuan keluaran sekarang."
"Lalu?"
"Jujur saja Nyonya Julia orangnya sangat ramah dan baik hati."
"Kok aku jadi aneh ya dengan ucapanmu itu?" tanya Pak Broto.
"Kemungkinan sekali Kamu kebanyakan begadang malam. Nggak mungkin Nyonya Julia memasang wajah muram ketika berdekatan dengan cucunya itu," udah Pak Broto yang merasakan ada kejanggalan.
Mereka terdiam sambil memikirkan tentang Julia. Lama-lama mereka merasakan ada yang janggal. Selama ini Pak Broto memperhatikan mimik wajah Julia ketika bertemu dengan Aska. Wanita tua itu seakan-akan ingin menyakiti Aska. Namun Pak Broto langsung mengajaknya menjauhi Julia.
"Kamu benar. Setiap Nyonya Julia bertemu dengan Aska. Nyonya Julia langsung memasang wajah muram. Seakan-akan Nyonya Julia ingin memukul Aska dan mengusirnya dari hadapannya. Aku rasa ada yang aneh sekali," sahut Pak Broto yang baru sadar.
"Sudah sudah di kecil Aska diperlakukan seperti itu. Meskipun tidak terkena fisiknya. Tapi Aska merasakan guncangan kejiwaan. Tapi itu tidak parah sama sekali," ujar Pak Ahmad.
"Apakah kita harus menyelidikinya?" tanya Pak Broto.
"Aku katakan sejujurnya. Masalah keluarga Wicaksono kita tidak boleh mengganggunya. Biarkan saja mereka mencari jawabannya sendiri. Tidak enak kalau kita mengganggunya begitu saja," jawab Pak Ahmad sambil memberikan usulan.
"Kamu benar. Kita di sini hanya untuk mengurus perkebunan dan menyediakan banyak buah-buahan untuk Aska food internasional," jelas Pak Broto.
__ADS_1
Jakarta Indonesia.
Aska yang baru saja sampai di rumah ibu Tanti sangat bahagia sekali. Selepas dirinya menamatkan sekolahnya, Aska tidak pernah bertemu dengan ibu Tanti maupun Pak Budi. Yang ia dengar mereka sudah pindah ke Jakarta karena pensiun. Tapi Aska tidak mengetahui di mana tempat tinggalnya itu. Jujur Tuhan sangat menyayanginya dan diberikan kemudahan untuk meraih apa yang diinginkannya. Seperti sekarang ini, dirinya tidak perlu susah-susah apa mencari keberadaan Sang guru tercintanya itu. Sesampainya di sana Aska langsung masuk ke dalam dengan membawa oleh-oleh.
"Ibu," panggil Aska.
Bu Tanti yang sedang memasak terkejut atas kedatangan Aska. Wanita paruh baya itu pun menghentikan kegiatannya terlebih dahulu. Setelah itu Bu Tanti keluar dari dapur dan menuju ke ruang tamu. Di sana Bu Tanti melihat Aska sambil menyambutnya dengan hangat.
"Masuklah ke sini," ajak Bu Tanti.
Aska masuk ke dalam hingga melihat Bu Tanti. Setelah itu Aska mendekati Bu Tanti dan memberikan oleh-oleh buah segar yang baru saja dibelinya. Kemudian Bu Tanti menerima oleh-oleh itu dengan bahagia.
"Terima kasih nak. Kamu tidak lupa dengan ibu," ucap Bu Tanti.
"Aku tidak pernah lupa dengan ibu. Apalagi ilmu-ilmu yang telah Ibu berikan kepadaku. Tidak ada Ibu aku tidak mungkin seperti ini," jelas Aska.
"Kalau begitu duduklah. Sebentar lagi Ibu akan membuatkan minuman buatmu," ujar Bu Tanti.
"Nggak usah Bu. Aku sudah membawa air mineral sendiri. Ibu nggak usah repot-repot jika aku ke sini. Aku ke sini hanya ingin melihat ibu dan bapak sekalian menunggu kedatangan surat undangan pernikahanku," tolak Aska yang menjelaskan agar tidak sang Ibu mertuanya itu sakit hati.
"Surat undangannya sudah tiba dari tadi. Kapan dibagikan surat undangan itu?" tanya Bu Tanti yang masih bingung dengan hari pernikahan Maria.
"Kemungkinan hari ini semuanya akan tersebar ke alamat yang dituju," jawab Romeo yang masuk ke dalam sambil melihat Bu Tanti.
"Kamu jangan gila Romi. Surat undangan itu sebanyak dua ratus lima puluh orang. Mana ada waktu banyak untuk membagikannya," kesal Bu Tanti.
"Maaf Bu. Surat undangan itu sengaja aku stop terlebih dahulu. Aku ingin mengganti nama Haryadi menjadi Aska. Biar orang-orang tidak bingung soal pernikahan ini," ujar Romeo.
"Tapi nggak gini kali. Pernikahan Maria tiga hari lagi. Kita nggak bisa berburu dengan waktu. Kalau begitu bagikan saja kepada teman-teman Maria saja," pinta Bu Tanti.
"Tenang saja Bu. Nanti Aska akan menyuruh para pengawal mengirimkannya ke alamat yang dituju. Semuanya akan menjadi beres dan tidak akan terlewat sama sekali. Sekarang ibu duduk sini bersamaku," ajak Aska yang sengaja menghibur Bu Tanti agar tenang.
__ADS_1