Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Kejujuran Aska.


__ADS_3

"Nanti aku ceritakan bagaimana kekasihku meninggalkan aku sendirian di sini," jawab Romeo.


"Maafkan Aska bang. Aska tidak bermaksud menyinggung perasaan abang," ucap Aska.


"Tidak apa-apa. Aku tidak jadi masalah soal itu. Lagian kisah Itu sudah berlalu sejak lama," ujar Romeo yang tidak mau melihat Aska bersedih.


Beberapa saat kemudian datang satu pelayan yang menghampiri mereka. Pelayan itu membawa menu dan menyodorkannya kepada mereka.


"Mau pesan apa kak?" tanya pelayan itu.


Kedua pria itu langsung meraih buku menu tersebut. Mereka membuka dan memilih menu makanan yang sangat sederhana sekali. Romeo memilih makanan berat karena tadi siang belum makan. Sedangkan Aska memilih makanan ringan dan kopi susu.


Selesai memilih pelayan itu pergi dan meninggalkan mereka. Seketika Romeo menatap pohon besar itu, "Sebenarnya sih, kejadian itu tidak berada di sini. Kejadian itu aku alami ketika berada di Paris saat kekasihku berkunjung ke sana."


"Pasti Abang sedih jika mengingat momen-momen indah itu," ucap Aska.


"Dialah wanita yang berkesan untukku. Kalau lainnya mah lewat saja. Aku tidak pernah merasakan jatuh cinta sekonyol itu," sahut Romeo.


"Kenapa Abang mengajakku ke sini? Ada apa memangnya?"


"Tiba-tiba saja aku mendapat ancaman dari seseorang. Orang itu akan membunuhku jika terus-terusan melindungimu."


"Apa itu benar bang? Siapa yang menyuruh membunuh Abang?"


"Aku sendiri masih melacak keberadaan orang itu."


"Berikan nomor itu nanti aku lacak di mana keberadaannya."


"Kamu bisa meng-hack orang dengan memakai nomor telepon?"


"Iya bang. Sewaktu tinggal di kampung aku memang sengaja meminjam laptop Pak Broto untuk belajar menghacking. Di saat Pak Broto tahu aku belajar itu. Pak Broto sengaja mendukungku dengan penuh. Kalau nggak salah kira-kira SMP aku sudah mempelajarinya. Namun ilmu itu tidak pernah aku tonjolkan. Aku sengaja menyimpannya agar tidak menjadi bahan kunjungan dari orang-orang sekitarku."


"Ya aku tahu maksud kamu. Di kampung itu banyak orang yang nggak suka dengan kamu. Mereka sengaja ingin menjatuhkan kamu melalui media apa saja. Menurutku mereka adalah orang yang seusia denganmu. Aku dulu pernah menyelidikinya dan bertanya. Mereka hanya mengatakan sesuatu hingga membuat hatiku sakit sekali."

__ADS_1


"Biarkan saja bang. Aku memang sering menjadi bahan gunjingan oleh mereka. Padahal aku makan tidak meminta mereka. Aku membiarkannya saja."


"Aku yakin itu. Jika kamu berhasil membawa perusahaan ini hingga go internasional dan melebar sayapnya. Aku yakin mereka akan tunduk ke kamu."


"Aku tidak ingin semena-mena dengan jabatanku ini. Jujur aku lebih baik dikenal sebagai orang biasa ketimbang menjadi orang sukses. Aku harap Abang mengerti apa maksudku."


"Ngertilah. Aku sama kamu nggak jauh beda. Aku dulu juga dari orang miskin. Makan pun juga susah karena tidak memiliki uang sepeser pun. Ayahku sudah meninggal ketika aku sekolah. Ibuku bekerja serabutan dan uangnya juga tidak cukup untuk makan. Lalu aku memutuskan untuk ikut bergabung dalam Wicaksono Group. Itulah kisahku."


"Banyak orang yang nggak tahu kisah Abang bagaimana? Mereka hanya melihat Abang dari kesuksesannya."


"Itu hal yang wajar. Aku nggak mengambil pusing tentang masalah ini. Biarkan saja mereka berkata apa-apa. Aku sendiri nggak peduli tentang mereka."


"Abang mau ngomong apa tadi?"


"Orang yang membunuhku. Rasanya orang itu sepertinya dekat dengan kita."


"Kok aku merasakan firasat yang sama ya?"


"Firasat apa?''


"Aku juga sama."


"Setelah dipikir-pikir orang itu sangat dekat sekali dengan kakek."


"Kamu jangan menuduh nenek ya.''


"Kenapa Abang tidak mencurigai nenek? Abang tahu nggak selama ini nenek ngapain saja?"


"Kamu itu. Jika ayahmu dengar kamu pasti akan digantung di atap gedung."


"Loh bang.. Aku serius. Aku nggak bercanda sama sekali. Selama ini Abang tidak tahu apa yang dilakukan oleh nenek. Jangankan Abang. Kakek juga nggak tahu."


"Untung saja kamu berbicara denganku. Coba saja kamu berbicara dengan orang lain. Kamu tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini hingga selanjutnya."

__ADS_1


Kenapa bang?"


"Jika kamu mengusik keluarga Wicaksono dan mempublishkan ke sosial media. Seluruh pengawal yang dimiliki oleh kakek akan mengejarmu. Kakekmu itu orangnya nggak suka jika privasinya di beritahukan ke publik. Gara-gara kamu aku jadi pengen tahu kegiatan nenek Julia itu apa?"


"Tapi Abang harus berjanji dulu. Aku sedang mengumpulkan banyak bukti yang berkaitan dengan nenek. Jika aku bisa mengumpulkannya dalam waktu sebentar. Kemungkinan besar Aku akan pergi ke Paris dan menyelidikinya satu persatu. Ini nggak akan bisa aku biarkan berlarut-larut. Sampai kapan masalah ini cepat selesai? Sampai aku memiliki seorang anak atau anak lainnya?"


Melihat Aska yang sudah bangkit kembali, Romeo kembali tersenyum. Ternyata sifat Aska lebih dominan ke Adrian. Romeo langsung memberikan kode agar tidak berbicara terlebih dahulu. Sebab di belakang ada beberapa pelayan Untuk mengantarkan menu yang dipesan tadi.


Sembari menunggu Aska mengambil ponselnya dan melihat sebuah pesan. Pesan tersebut berisikan tentang ancaman. Jika dirinya tidak menjauh dari Christina. Cepat atau lambat nyawanya akan melayang begitu saja. Aska mengepalkan tangannya sambil mengumpat orang yang mengirim pesan itu.


Beberapa saat kemudian para perayaan itu mendekatinya. Para pelayan itu menata menu yang sudah dipesannya tadi. Kemudian mereka berpamitan untuk pergi dari sana.


Melihat kepergian pelayan tersebut, Romeo mengambil gelas yang berisikan teh manis itu. Kemudian Romeo menyeruput minumannya tersebut.


"Kamu kenapa?" tanya Romeo yang tiba-tiba saja tidak sengaja melihat Aska berubah.


"Coba Abang pikir. Baru saja aku mendapatkan sebuah pesan. Pesan itu berisikan ancaman jika aku tidak menjauhi ibuku dan ayahku. Orang itu akan membunuhku," jawab Aska.


"Sepertinya kita dalam masalah yang besar."


"Mau tidak mau kita harus membongkarnya. Aku ingin menangkap ketuanya terlebih dahulu lalu bawahannya satu persatu."


"Kamu benar. Jika kita tangkap bawahannya. Sang ketua itu pun dengan mudah mengeluarkan mereka untuk diajak bekerja sama lagi."


"Sepertinya masalah ini sangat rumit sekali."


"Bahkan sangat rumit sekali ketimbang drama ikan terbang."


"Biarkanlah saja bang. Pasti Tuhan akan membantu kita untuk menemukan sebuah masalah ini. Apakah Abang pernah penasaran dengan nenek?"


"Aku nggak berhak karena masalah ini adalah ranah dari keluarga Wicaksono. Jika ada masalah besar aku tidak pernah ikut-ikutan."


Aska mengangguk paham lalu mengambil cangkir itu. Kemudian Aska mencium aroma kopi. Setelah itu Aska berkata, "Ternyata selama ini si nenek ingin berusaha menyingkirkan ahli waris sesungguhnya."

__ADS_1


Saat Romeo minum air mineral. Dirinya hampir saja tersedak. Iya tidak bisa membayangkan jika akan mengobrak-abrik keluarga Wicaksono itu. Siap-siap saja Romeo pasang badan untuk melindungi Aska.


"Kamu itu ada-ada saja. Untung air itu tidak menyembur ke arahmu. Lain kali jika berbicara tentang nenek. Tunggu aku selesai minum," kesal Romeo.


__ADS_2