Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Bertemu Dengan Guru Kesayangan.


__ADS_3

Paris Prancis.


Adrian yang sedang bersantai di taman dikejutkan dengan kedatangan Luke. Dengan wajah pucatnya pria bertubuh kekar itu membungkukkan badannya sambil memberi hormat, "Tuan besar Maaf mengganggu sebentar."


"Ada apa Luke?" tanya Adrian.


"Maaf Tuan besar. Perusahaan Aska food internasional sedang mengalami gonjang-ganjing. Banyak orang-orang dalam sedang melakukan blunder. Beberapa orang dari mereka bekerja sama dengan pihak lawan untuk menjatuhkan perusahaan itu. Sekarang tuan muda akan terjun untuk menyelidiki orang-orang yang melakukan blunder," jawab Luke.


"Baguslah kalau begitu. Siapkan chat pribadiku untuk menuju ke Indonesia. Aku tidak akan membiarkan putraku!" perintah Adrian.


"Lalu bagaimana dengan surat pensiun itu?" tanya Luke.


"Aish... Kamu itu selalu saja mengingatkan soal itu. Oh ya Luke, bilang sama komandan, peresmian pensiunku bisa ditunda tidak?"


"Maaf Tuan besar tidak bisa. Anda harus membatalkan perjalanan ke Indonesia beberapa hari ke depan."


"Kapan itu?"


"Dua hari ke depan."


"Baiklah akan aku tunggu."


Terpaksa Adrian tidak bisa pergi ke Indonesia dalam waktu dekat. Ia harus menunggu peresmian pensiunan tiba. Lalu Adrian memandang Luke sambil bertanya, "Apakah kamu memiliki nomor telepon Aska? Aku ingin membimbingnya agar menemukan sang pelaku."


"Baik Tuan saya akan mengirimkannya."


"Jangan lupa berikan nama kandidat kandidat yang melakukan blunder dalam perusahaan!" titah Adrian.


Jakarta Indonesia.


Maria sangat gelisah menatap Sang bapak sedang terbaring di brangkar. Wajah ayunya berubah menjadi pucat. Jujur Maria sangat bersalah kepada orang tuanya itu.


"Maria," panggil ibu Tanti.


"Iya Bu," rambut Maria dengan suara lirih.


"Kemarilah. Janganlah kamu menjauh dari ibu," suruh Bu Tanti sambil melambaikan tangannya ke arah Maria.


Dengan sungkan Maria melangkahkan kakinya menuju ke arah ibu kandungnya itu. Ia bingung Mau mengatakan apa. Dirinya tidak ingin semuanya terjadi. Namun di luar dugaan akhirnya terjadi juga.

__ADS_1


Maria akhirnya menghempaskan bokongnya di samping Bu Tanti. Wajahnya menunduk tidak berani menatap wajah sang ibu. Seharusnya pagi ini menjadi pagi yang bahagia. Akan tetapi semuanya berubah karena Haryadi.


"Ibu tahu perasaanmu nak. Masalah ini di luar kendali kita. Ibu dan bapak tidak bisa menyalakan kamu. Sekarang apa yang akan kamu lakukan? Pernikahanmu akan berlangsung dua minggu ke depan. Seluruh tamu undangan sudah tersebar," udah Bu Tanti.


Deg.


Jantung Maria berdetak kencang. Bagaimana bisa dirinya mengalami hal ini? Jujur kisah Maria seperti kisah drama yang ada di tv-tv sekarang. Ia bingung mau menjawab apa.


"Bisakah aku membedakan semua ini Bu?" tanya Maria dengan sendu sambil menatap wajah sang ibu.


"Kamu sudah mengeluarkan uang banyak untuk melakukan persiapan pernikahan ini. Kalau dibatalkan tidak apa-apa. Kami akan berusaha menanggung cibiran dari masyarakat," jawab Bu Tanti dengan lembut.


"Jika ada penggantinya, Apakah ibu mau?" tanya Maria dengan ragu.


"Siapa itu?" tanya Bu Tanti sambil merasakan sang putri yang ragu.


Maria menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu. Dirinya sangat bingung untuk mencari pengganti sang calon mempelai pria. Namun wajahnya menunduk lagi sambil menghembuskan nafasnya secara kasar.


"Kalau tidak ada calon penggantinya ya sudah. Jangan terlalu dipikir. Suatu saat nanti kamu akan mendapatkan jodoh yang baik," pesan Bu Tanti.


"Aku tidak mau Ibu menahan malu karena cibiran masyarakat," ujar Maria sambil menahan tangis.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Christina, Aska dan Romeo masuk ke dalam ruangan itu sambil melihat Maria dan kedua orang tuanya. Mereka mendekati Maria sambil memandang wajahnya yang pucat itu.


"Bagaimana kabarnya Pak Budi?" tanya Christina dengan lembut.


Seketika Bu Tanti dan Maria terkejut melihat kedatangan Christina. Lalu Bu Tanti berdiri sambil mengeluarkan tangannya, "Pak Budi baik-baik saja."


Dengan lembut Christina menjabat tangan Bu Tanti sambil mencium pipi kanan dan pipi kiri. Setiap pertemuan Christina selalu memperlakukan Bu Tanti dengan istimewa.


Bu Tanti pun sangat terharu mendapat perlakuan istimewa dari bos putrinya sendiri. Dengan senyumnya yang merekah Bu Tanti menjawab, "Pak Budi baik-baik saja Bu. Syukurlah bapak sudah melewati masa kritisnya. Jika tidak dibawa ke sini kemungkinan besar."


Ucapan Bu Tanti menggantung. Ia tidak sanggup melakukan jawaban itu lagi. Christina dan Aska paham akan hal itu. Karena menurut Christina, mereka adalah dua insan saling mencintai.


"Syukurlah kalau begitu Bu. Ibu yang sabar saja menghadapi cobaan ini. Dengan cobaan ini kita belajar sabar dan menerima kenyataan. Topi Tuhan tidak tidur Bu. Setelah ini Tuhan akan memberikan pelangi sehabis badai," hibur Christina yang membuat Bu Tanti hatinya adem.

__ADS_1


"Terima kasih Bu," ucap Bu Tanti.


"Kalau begitu pengobatannya biar saya yang tanggung. Ibu tidak usah mikir yang macam-macam," pinta Christina. "Bagaimana Bu tentang rencana pernikahan itu?"


"Terpaksa kami batalkan. Sebagai gantinya kami akan mengundang anak-anak jalanan, beberapa panti asuhan dan orang-orang kurang mampu untuk memeriahkan pesta Maria," jawab Bu Tanti.


"Bagaimana pernikahan itu tetap berjalan?" tanya Christina dengan serius.


"Dengan siapa putri saya menikah Bu? Haryadi sudah masuk dalam penjara. Kami tidak akan bisa mencari pengganti calon suami Maria," tanya Bu Tanti dengan sendu.


"Putra saya yang akan menggantikannya," jawab Christina sambil menunjuk Aska.


Bu Tanti terkejut karena mendengar pernyataan dari Christina. Ia tidak sengaja melihat Aska memakai kemeja putih dan celana bahan. Jujur Bu Tanti sangat mengenali sosok Aska tersebut.


"Bukankah dia adalah sosok murid prestasi?" tanya Bu Tanti sambil menunjuk Aska.


"Apakah ibu mengenalnya?" tanya Christina dengan mata berbinar.


"Iya Bu. Aska adalah sosok murid yang pintar dan berbakat dalam segala bidang. Kami para guru sangat menyayanginya. Tapi kehidupan Aska sangat buruk sekali. Kami tidak bisa membantu Aska karena mendapat ancaman dari ibunya itu," jawab Bu Tanti sambil memandang wajah tampan Aska.


Aska tersenyum sambil mendekati Bu Tanti. Pria itu memeluk Bu Tanti sambil mengelus punggungnya. Ada kebahagiaan yang terpancar dari dalam dirinya. Ia tidak menyangka kalau bertemu dengan guru sekaligus wali muridnya.


"Ternyata kamu baik-baik saja. Syukurlah kalau begitu nak. Kamu memang anak yang kuat dan hebat," puji Bu Tanti kepada Aska sambil melepaskannya.


"Jadi ibu?" tanya Maria.


"Ya.... Aska adalah murid ibu yang sangat pandai tapi agak sedikit konyol," jawab Bu Tanti sambil tersenyum dan memukul pundak Aska.


Dari tadi Aska tetap diam. Ia malu untuk mengakui kecerdasannya itu. Jujur dirinya tidak mau semua orang tahu. Akan tetapi Bu Tanti sudah membuka kedok Aska.


Ternyata dunia ini sempit bagaikan daun kelor. Bagaimana tidak dirinya dipertemukan kembali dengan sosok guru yang telah membimbingnya menjadi orang sukses seperti ini. Iya... Aska memang murid kesayangan Bu Tanti. Bahkan saking sayangnya Bu Tanti sering membantunya.


"Memang... Dunia ini sangat sempit sekali. Aku sangka tidak bisa bertemu lagi dengan ibu. Rasanya hari ini aku terharu sekali," ucap Aska sambil tersenyum manis.


"Kamu sekarang menjelma menjadi pria tampan. Wajahmu sangat mirip dengan Nyonya Christina. Aku sangka ibumu itu adalah ibu kandung. Ternyata aku salah," ujar Bu Tanti dengan serius.


"Kapan-kapan aku ceritakan Bu Bagaimana bisa seperti ini?" terang Aska.


"Apakah yang berbaring itu adalah guru bahasa Inggris saya?" tanya Aska sambil menunjuk Pak Budi sedang diam memperhatikannya.

__ADS_1


__ADS_2