
"Itu memang benar. Aku sendiri saja nggak mau dekat-dekat sama Aska kalau lagi jalan," jawab Cici dengan jujur sampai terdengar ke telinga Sheila.
"Ternyata Anda kurang beruntung ya," ejek Lia.
"Beruntung sih beruntung. Kalau soal duit Dia memang care. Tapi lagi nggak punya duit. Nggak bisa dibuat jalan," kesal Cici yang tidak sengaja melihat Aska duduk kursi pelaminan.
Begitu juga dengan Lia, Lia juga terkejut melihat Aska sedang duduk di pelaminan.
"Bukannya itu Aska pacarmu dulu?" tanya Lia.
"Nggak mungkin ah. Yang nikahkan Maria. Kenapa Aska yang duduk di sana?" tanya Cici yang mengerutkan keningnya.
"Mungkin saja. Itu buktinya Aska sedang duduk di kursi pelaminan," jawab Lia yang memandangi Aska. "Memang tampan wajahnya. Beruntung sekali ya Maria mendapatkan Aska."
"Beruntung sih beruntung. Kamu tahu nggak kalau Aska itu seorang pengangguran berat? Nanti Maria mau dikasih makan apa kalau dia pengangguran seperti itu? Ditambah lagi ibunya Yang gemuk itu selalu meminta uang setiap hari. Maria bakalan menderita karena ulah Aska."
"Bener juga ya Kenapa juga Maria mau nikah sama Aska? Lagian Aska anak kampung yang nggak pernah mengenyam pendidikan lebih tinggi. Sementara Maria pendidikan terakhirnya adalah S2 bisnis manajemen. Dia hanya lulusan SMA. Kalau aku jadi Maria nggak akan pernah mau menikah dengan pria yang lulusan SMA. Bener-bener malu aku," ucap Cici yang sengaja berteriak agar orang-orang menoleh ke arahnya.
Namun semua orang tidak menoleh ke arahnya. Mereka tidak peduli dengan perkataan Cici. Soal pendidikan para tamu undangan itu tidak penting. Karena yang datang adalah koleganya Christina dan teman-temannya Maria beserta keluarga besarnya.
Waktu bergulir sangat cepat. Sudah tiga jam acara resepsi itu sudah berjalan. Mau tidak mau Maria dan Aska harus berdiri hingga acara selesai.
Dengan wajah lelahnya, mereka masih menyambut para tamu dengan mimik bahagia. Mereka memang sengaja menebarkan kebahagiaan. Senyumnya pun tidak dibuat-buat khususnya Aska. Setiap tamu undangan yang ingin bersalaman merasakan kebahagiaan.
__ADS_1
"Kamu sudah capek ya sayang?" tanya Aska yang tidak dibuat-buat memanggil Maria dengan kata sayang.
"Capek sih. Tapi mau bagaimana lagi? Tamu undangan semakin malam banyak yang datang. Masa kamu saja yang menyambutnya," jawab Maria sambil menatap wajah Aska.
"Kalau begitu tahan ya. Kalau kamu nggak bisa tahan mending duduk saja," suruh Aska.
"Aku sih berdiri selama berjam-jam masih kuat. Tapi kakiku sekarang terasa linu dan sakit. Karena aku memakai sepatu high heels dengan tinggi lima belas sentimeter," jawab Maria yang menahan rasa linunya dari tadi.
"Kenapa kamu nggak bilang dari tadi? Seharusnya kamu bilang kalau kamu memakai sepatu high heels itu. Kalau begitu aku akan turun untuk meminta sendal agar kakimu nyaman," ucap Aska yang segera turun dari kursi pelaminan.
Ketika turun Aska melihat Romeo dan Max sedang menjadi patung. Aska memukul Romeo sambil memanggilnya, "Bang Romi."
Romeo yang menjadi patung itu terkejut. Matanya menatap Aska sambil bertanya, "Ada apa?"
"Kakinya Maria sakit karena pakai high heels. Katanya kalau sakit ibu Christina sudah mempersiapkan sandal yang nyaman buat Maria. Bisakah Abang mengambilkannya?" tanya Aska.
Selang beberapa menit kemudian, Romeo datang dengan membawa sandal yang berwarna putih senada dengan gaun Maria. Romeo segera memberikan sendal itu ke Aska.
Aska kembali lagi ke pelaminannya. Lalu Aska mendekati Maria dan menyuruhnya untuk duduk. Maria akhirnya duduk sambil menatap Aska. Setelah Maria duduk, Aska jongkok dan memegang kaki Maria. Kemudian ia melepaskan sepatunya itu sambil melihat kaki Maria lecet. Pelan-pelan Aska membuka sepatu itu dan memakaikan sendalnya ke kaki Maria. Kemudian Maria menatap wajah Aska sambil bertanya-tanya, "Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa. Kakimu lecet seperti itu. Setelah acara pernikahan ini selesai. Aku akan mengompres kakimu yang lecet itu. Jika kamu tidak kuat berdiri.nggak usah berdiri biar aku saja yang menyambut mereka," jawab Aska sambil berdiri.
Tidak sengaja Cici melihat adegan itu. Hatinya mulai terbakar api cinta yang panas itu. Jujur ia sangat terkejut sekali atas perlakuan Aska ke Maria. Ia tidak menyangka kalau Aska memperlakukan Maria dengan sangat baik.
__ADS_1
Cemburu...
Pastinya...
Kenapa juga Cici berada di sana? Kekasih yang dulu dibuang sekarang menjadi milik orang lain. Ia tidak sengaja melihat kelembutan Aska. Satu kata buat dirinya yaitu menyesal.
Tak lama MC naik ke atas panggung. MC tersebut memberikan sambutan kepada Aska dan Maria. Bahwa malam ini adalah puncak acara resepsinya yaitu memotong kue. Sebelum acara memotong kue tersebut, MC itu memanggil orang tua kedua belah pihak. Yang pertama datang adalah orang tua Maria. Semua orang menyambut kedatangan Pak Budi dan bu Tanti. Setelah itu MC menyebutkan nama orang tua Azka yang sesungguhnya.
"Mari kita panggilkan orang tua dari pihak mempelai pria yaitu Nyonya Christina Wicaksono dan Tuan Adrian Agard. Kita beri tepuk tangan untuk mereka yang akan naik ke atas panggung ini," seru MC itu yang memanggil kedua orang tua Aska.
Saat MC menyebutkan nama orang tua Aska, seluruh tamu undangan yang masih berada di sana sangat terkejut sekali. Mereka saling memandang dan saling melihat. Mereka tidak menyangka kalau Maria menikahi putra sang pemilik perusahaan itu.
Mereka menyebutnya ini adalah konspirasi. Bagaimana bisa Christina menyebut Aska adalah putranya? Mereka berbisik-bisik dan terjadi keriuhan di dalam acara tersebut. Namun Christina tidak memperdulikannya. Dirinya bangga memiliki seorang putra laki-laki yang sangat tampan dan wibawa.
Beberapa saat kemudian Bu Tanti dan Christina memberikan sepatah dua kata. Begitu juga dengan Bu Tanti. Kebahagiaan terpancar pada wajah mereka. Sebagian ada yang menyambut dengan bahagia. Sisanya menyambut mereka dengan cibiran. Orang-orang yang melontarkan cibiran itu ternyata keluarga besar dan teman-temannya Maria. Mereka menuduh Maria bekerja di sana mengambil keuntungan. Namun mereka tidak tahu masalah apa yang sebenarnya terjadi.
Mereka sungguh terlalu membuat mental Maria lemah. Akan tetapi akan sebagai sang suami menguatkan hati istrinya itu. Ia tidak mungkin melawan mereka di saat acara yang sakral ini.
Lalu bagaimana dengan reaksi Cici? Otomatis Cici mencak-mencak nggak karuan. Cici tidak rela Aska menikah dengan Maria. Dirinya akan merebut Aska dari pelukan Maria. Karena Cici sekarang sudah tahu siapa Aska sebenarnya?
Dengan geramnya Cici naik ke atas pelaminan lalu menampar Aska.
Plaaaaakkkk.
__ADS_1
"Mana janjimu yang dulu pernah kamu ucapkan padaku!" seru Cici.
Mereka sangat terkejut sekali dengan kehadiran Cici. Aska yang tidak memiliki janji apa-apa langsung mengerutkan keningnya. Semenjak pacaran dengan Cici, Aska tidak pernah memberikan janji apapun. Matanya menatap tajam sambil bertanya, "Maksud kamu apa?"