
"Nasib kamu memang berada di tanganku. Dan enggak kamu saja. Seluruh orang yang berada di perusahaan ini maupun pabrik nasibnya berada di tanganku," jawab Aska.
"Itu mah Aska Food International akan berganti bos. Rasanya aku sudah tidak sabar melihat kamu menjadi pemimpin yang epic dalam perusahaan ini," kesal Maria yang merasa dipermainkan.
"Kemungkinan besar aku akan menjabat CEO enam bulan ke depan. Karena aku akan merombak habis-habisan para petinggi perusahaan disini," ujar Aska.
"Maksud kamu memecat beberapa para petinggi?" tanya Romeo.
"Semuanya. Termasuk Pak Gilang. Aku akan memutar balikkan nasibnya habis ini," jawab Aska yang sedang melihat Maria sibuk dengan berkas-berkas itu.
"Kamu kenapa sedari tadi bingung dengan berkas-berkas itu?' tanya Aska.
"Aku bingung dengan laporan keuangan bulan ini. Coba kamu cek semuanya," jawab Maria yang memberikan semua berkas-berkas itu.
Aska meraih berkas-berkas itu dan memerintahkan untuk Maria, "Suruh divisi menyerahkan seluruh laporan bulan ini sama bulan kemarin! Jangan ada yang terlewat!"
"Baiklah," balas Maria yang segera meninggalkan Aska untuk pergi ke bawah.
Sedangkan Aska, jujur Aska mulai muak. Seenaknya saja mereka membuat laporan dengan cara amburadul. Kalau begini terus perusahaan akan bangkrut. Aska tidak akan membiarkan itu. Bahkan Aska akan menandai orang-orang yang terlibat dalam kecurangan dalam perusahaan.
"Aku sudah muak disini!" geram Aska.
"Aku tahu itu. Tapi kamu adalah ahli waris sesungguhnya. Kamu harus memegang perusahaan ini. Jika tidak perusahaan ini akan berakhir dengan sendirinya. Lalu bagaimana dengan nasib perusahaan ini?" tanya Romeo.
"Ibu tidak akan memperbaiki semuanya. Ibu hanya diam saja dan membiarkan mereka berjalan seenaknya," kesal Aska.
"Nyonya dipengaruhi oleh mereka. Nyonya tunduk sama mereka. Dikarenakan nyonya terlalu lemah dalam hal ini. Aku tidak bisa mencegahnya. Aku berharap kamu bisa memperbaikinya," ucap Romeo.
"Kamu harus membantuku. Aku tidak bisa bekerja sendirian!" perintah Aska.
"Aku siap kapan saja. Kita panggil bang Roni sama Mbak Winda. Mereka juga ahli dalam bisnis dan manajemen. Kita bisa berembuk satu sesama lain," usul Romeo
"Panggil mereka kesini besok! Aku akan membicarakan ini semuanya dan membutuhkan bantuan mereka," perintah Aska.
Romeo langsung menganggukan kepalanya tanda setuju. Ia memang mengetahui kalau pasangan suami istri pun sangat jago dalam bidang bisnis dan manajemen. Dirinya langsung meraih ponselnya dan menghubungi mereka untuk datang kesini besok.
__ADS_1
"Bagaimana Abang bisa memanggil mereka?" tanya Aska.
"Iya... mereka akan kesini besok pagi," jawab Romeo.
"Kalau begitu kita bekerjanya di markas besar saja. Karena disana sangat nyaman sekali," ucap Romeo.
"Kenapa di markas?" tanya Romeo.
"kalau kita menyelidikinya disini banyak orang yang curiga tentang kehadiranku. Aku ingin teliti mengerjakan semuanya," jawab Aska dengan serius.
"Ada benarnya juga," ucap Romeo yang membenarkan perkataan Aska.
"Kalau bisa kita bekerja di rumah Pak Broto. Di sana ada sebuah saung besar yang berada di pertengahan kebun," usul Aska. "Sekalian aku akan menjodohkan kamu dengan Mala."
"Kesempatan dalam kesempitan. Lalu bagaimana dengan Maria?" tanya Romeo.
"Ibu sudah bersama ayah. Ditambah lagi kakek. Aku akan berdiskusi terlebih dahulu sama mereka," jelas Aska yang kemudian berlari meninggalkan Romeo.
Romeo tersenyum melihat semangat Aska untuk memperbaiki perusahaan ini tinggi sekali. ia bisa merasakan energi positif di dalam diri Aska.
Sesampainya di bawah, Maria langsung memasuki kepala divisi satu persatu. Namun Maria mendapat perlakuan yang tidak enak. Maria baru tahu kalau kepala divisi disini sangat menyeramkan.
Dengan sikap tegasnya Mafia memaksa untuk memberikan semua laporan pada sore ini juga dan mengancam mereka dengan membuat laporan ke owner perusahaan ini. Terpaksa mereka memberikan laporan perusahaan tersebut.
Apakah mereka panik? Tidak. Mereka tidak panik sama sekali. Orang-orang yang panik itulah yang melakukan kecurangan. Ia dapat melihat siapa-siapa saja yang panik dan menandainya.
Itulah Maria yang cukup cerdas untuk menekan semua pegawai. Ditambah lagi wajah juteknya membuat semua orang ingin mengusir Maria saat itu juga.
Kembali ke Aska. Aska segera membicarakan masalah ini ke Christina. Christina mengerutkan keningnya dan tidak tahu tujuannya apa? Akhirnya Aska menjelaskan semuanya hingga Adrian paham.
"Kalau begitu lakukanlah. Jika ada kesusahan kamu bisa mengajak ayah bekerjasama!" perintah Adrian.
"Sepertinya itu nggak mungkin. Karena ayah akan stay disini bersama untuk melindungi ibu. Aku sudah mengetahui satu biang keladinya yang membuat perusahaan ini kisruh," jelas Aska yang membuat Adrian menganggukan kepalanya tanda setuju.
"Bagus itu," puji Adrian. "Ayah yakin disini banyak sekali biang keladinya. Ayah harap kamu segera menemukannya."
__ADS_1
"Bagaimana menurut ibu?" tanya Aska.
"Terserah kamu. Ibu sudah tidak sanggup memegang perusahaan ini," keluh Christina.
"Kalau terserah aku bisa merombak semuanya," ucap Aska yang tidak sengaja melihat sang ibu kelelahan dan tidak sanggup mengelola perusahaan ini.
"Kalau begitu aku keluar terlebih dahulu," pamit Aska.
Mereka menganggukan kepalanya tanpa berusaha. Mereka juga tahu kalau sang putra kecewa dengan sikapnya terutama Christina.
Wanita paruh baya itupun paham dengan perasaan Aska. Namun dirinya sudah tidak sanggup lagi mengurusi perusahaan ini. Dengan kata lain dirinya sudah siap dipecat oleh sang putra.
Satu kata buat Aska kecewa. Entah kenapa dirinya tiba-tiba saja kecewa. Apa mungkin karena sang ibu mengatakan terserah? Mungkin saja kata terserah bisa membuatnya kecewa.
"Aku tidak bisa menggunakan ibu lagi. Jika ibu terus-terusan berada di kursi CEO, kemungkinan besar perusahaan ini sudah tidak bertahan sama sekali. Bagaimana bisa perusahaan ini akan bertahan dalam jangka panjang? Dengan terpaksa aku harus menggantinya dengan ayah. Ayahlah sosok yang tegas dalam mengatur perusahaan. Apalagi ayah adalah ketua pasukan khusus. Yang dimana ayah memiliki sifat tegas dan tidak bisa dipengaruhi oleh siapapun," jelas Aska di dalam hatinya.
Sesampainya di ruangannya, Aska melihat Romeo yang sudah sedikit emosi. Pria itu bingung dengan apa yang dilakukan oleh sang abangnya. Padahal dirinya tadi meninggalkannya dalam keadaan baik-baik saja.
"Abang," panggil Aska yang membuat Romeo terkejut.
"Ada apa?" tanya Romeo.
"Sepertinya Abang sangat kesal sekali?" tanya Aska yang mengerutkan keningnya.
"Aku memang sangat kesal sekali. Bayangkan saja admin kas kecil tidak bisa menghitung," kesal Romeo.
"Jangankan kamu bang. Aku sendiri juga kesal sama mereka. Bukannya mereka memiliki pendidikan yang epic ketimbang aku? Kasus begitu kok enggak bisa dikerjakan dengan baik!" geram Aska.
"Bukan dikerjakan dengan baik. Mereka sengaja melakukan penggelapan uang kas secara besar-besaran. Makanya aku menjadi kesal sama mereka," kata Romeo yang membuat Aska dengan mata membulat sempurna.
"Apa yang Abang katakan?" tanya Aska. "Maksud abang?''
"Ya... mereka secara terang-terangan melakukan semuanya," jawab Romeo.
"Apakah Maria sudah balik?" tanya Aska sambil melihat jam tangannya.
__ADS_1