
"Nanti jam tujuh malam kita harus bersiap-siap ke ballroom hotel milik paman. Di sana banyak tamu undangan yang hadir untuk peresmian ahli waris," jawab Maria.
"Ya sudah. Aku tidak akan melakukan apa-apa kecuali dirimu yang memintanya," sahut Aska yang mulai menggoda Maria.
"Abang jangan begitu ah. Abang jangan nakal. Kalau sekalinya bertarung Abang tidak cukup untuk menghabiskan satu ronde saja. Abang kalau bermain bisa-bisa tujuh ronde sekaligus. Hingga tubuhku remuk semuanya," kesal Maria yang membuat Aska tertawa.
"Bukankah kamu juga pernah melakukannya? Setelah tujuh kali permainan, kamu mintanya lagi hingga menambah dua ronde. Semuanya itu bukan salahku," goda Aska.
Semakin merah saja wajah Maria. Ia tidak menyangka kalau sang suami sekarang sudah pandai sekali menggodanya. Awal-awal pernikahan Aska tidak tahu harus ngapain? Aska masih bingung ketika dirinya sudah berubah menjadi status sebagai suami. Mau tidak mau Aska harus mencari ilmu kepada sang ayah. Agar Maria tidak pergi jauh darinya. Bukannya mendapatkan ilmu, Aska malah mendapatkan ceramah selama satu jam lebih.
Bayangkan saja dirinya masih terlalu muda untuk menikah. Ia tidak mengetahui bagaimana dirinya memberlakukan istrinya dengan baik. Malahan Adrian memberikan ceramah panjang lebar seperti rumus balok. Dengan terpaksa Aska mendengarkannya dan terlelap tidur.
Lalu bagaimana dengan tanggapan Maria dan Christina? Kedua wanita berbeda generasi itu pun hanya mendengarkan saja. Mereka tertawa cekikikan hingga kabur dari area genting tersebut. Mereka masuk ke kamar dan tertawa terbahak-bahak. Pantas saja mereka mengakui kalau Aska masih polos.
Kembali lagi ke Aska dan Maria sekarang. Aska akhirnya mengalah dan melepaskan Maria. Namun dirinya tetap menahan tawanya. Diam-diam Aska hatinya bersorak kegirangan. Sebab menurutnya Maria itu sangat lucu sekali.
Setelah memakai baju akhirnya Aska mengisi perutnya terlebih dahulu. Namun ponselnya tiba-tiba saja berdering. Aska membiarkannya dan menyuruh Maria untuk mengangkatnya. Ketika Maria mengangkat ponsel Aska, Maria terkejut dengan suara seorang pria yang mengancam Aska. Akan tetapi Maria tidak pernah gentar untuk mengancamnya balik.
Maria yang mendapat ancaman seperti itu, dirinya tidak pernah takut sama sekali. Memang meskipun Maria hamil, namun jiwa bar-barnya masih ada dan tetap bertahan di lubuk hatinya.
Maria benar-benar memaki pria itu. Hingga pria itu benar-benar ketakutan dan mematikan ponselnya. Entah ada apa dengan pria itu sehingga dirinya ketakutan mendengar makian dari Maria. Namun Maria tidak bilang kepada Aska dan langsung melacak keberadaan orang tersebut.
__ADS_1
Selesai makan Aska melihat wajah Maria yang sedang tersenyum. Ia mulai mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Ada apa sebenarnya? Dengan siapa tadi kamu berbicara?"
Maria tidak menjawab tapi menyuruh Aska mendekatinya. Tanpa basa-basi Aska mendekati dan duduk di samping Maria. Setelah itu Maria memberikan orang yang sedang menghubunginya tadi. Ternyata Aska mengenal nomor itu. Aska memandang wajah Maria sambil tertawa. Jujur keberanian Maria membuat para musuh mundur satu-satu. Bahkan Maria sendiri adalah keberuntungan dari Aska.
"Siapa yang menghubungimu?" tanya Aska sambil menghentikan tawanya.
"Aku nggak tahu. Aku sendiri mendengar suara itu seperti orang tersedak kodok. Lagian marah-marah nggak jelas sama sekali. Aku sendiri bingung apa yang dikatakan oleh orang itu. Lalu aku tanya apa maksudnya? Dia malah ngomong terus-terusan. Tapi aku langsung mengancamnya," jawab Maria.
"Kamu mau tahu itu siapa orangnya?" tanya Aska.
"Jujur aku nggak tahu itu siapa. Pastinya suara orang itu sangat aneh sekali," jawab Maria dengan jujur.
"Dia anaknya Jamaludin. Yah begitulah... Kerjaannya menghubungiku, menyuruhku melepaskan Wicaksono Group dan mengancamku habis-habisan," jawab Aska yang membuat Maria terkejut.
"Jangan seperti itu. Biarkan saja Jono menikmati beberapa hari saat berada di dunia lepas. Ayah sudah melacak keberadaannya. Dengan kata lain ayah akan menangkapnya setelah peresmian ahli waris. Kalau aku setuju dengan keputusan ayah. Selama dia masih bebas, biarkan saja dia mengatakan semaunya," pinta Aska.
"Apakah kakak nggak sakit hati soal itu?" tanya Maria.
"Namanya Jono sama dengan Jamaludin. Di mana kedua orang itu memiliki ambisi yang besar untuk mendapatkan Wicaksono Group. Apalagi Jono sekarang dipengaruhi oleh Jamaludin dan Benjamin. Bisa dikatakan Jono hanya mampu untuk memaki orang seenaknya. Giliran ditangkap Jono akan menangis darah di dalam penjara," jawab Aska yang menjelaskan kejadian setelah Jono ditangkap.
"Berarti ini strategi Abang ya?" tanya Maria.
__ADS_1
"Bukan strategi. Begini ceritanya, jika Jamaludin tertangkap bersamaan dengan Benjamin. Seluruh barang bukti akan berada di tangan kepolisian. Cepat atau lambat Jono tidak memiliki kekuatan apapun. Seluruh pengawal yang direkrut oleh Jamaluddin semuanya memiliki catatan hitam di kepolisian. Jadinya mereka tidak akan pernah bisa keluar dari Paris. Rata-rata mereka adalah seorang pendatang. Bisa jadi aku bersama ayah dan beberapa jenderal mengurusi mereka semua dan mengembalikan ke negaranya masing-masing. Ditambah lagi dengan kekuatan mafia yang berada di tangan Jamaludin semuanya telah sirna. Mereka sudah tertangkap tangan soal penjualan organ tubuh manusia. Bisa dikatakan Jono sudah sangat lemah sekali," beber Aska.
"Oh jadi begitu ya?" tanya Maria yang paham dengan penjelasan Aska.
"Iya. Semuanya sudah tertata rapi oleh rencana ayah dan para jenderal. Setelah ini aku bersama lainnya mengurus semuanya," jawab Aska.
Meria sangat terpanas sekali dengan sang suami. Meskipun berusia muda Aska memiliki pemikiran yang sangat dalam. Sebelum melakukan hal-hal yang akan dilaksanakan, Aska lebih sering memikirkan Bagaimana kedepannya? Dengan begitu Aska sudah memperhitungkan apa saja yang akan terjadi.
"Apakah Abang sudah kenyang?" tanya Maria.
"Sudah. Aku sekarang memilih untuk memakan makanan dengan sehat. Karena aku ingin mengikuti anjuran dari Paman Frank untuk membentuk tubuh biar menjadi kekar. Masa saya dari dulu tubuhku menjadi sangat kurus sekali?" jawab Aska yang sengaja membuat tubuhnya menjadi kekar.
"Apakah itu karena diriku?" tanya Maria.
"Iyalah. Masa perempuan saja yang butuh perawatan tubuh. Begitu juga dengan pria. Semakin tubuhnya menjadi kekar, semakin pula istriku tertarik kepadaku," jawab Aska. "Oh iya... Tadi jam sepuluh orang butik datang ke sini ya?"
"Iya Bang. Baju yang Abang pilih memang bagus. Berhubung aku mencobanya dan area di perutku agak kekecilan. Maka aku meminta orang butik membesarkannya sedikit saja. Yah mereka akan membawakannya nanti pukul lima. Terus baju Abang juga sudah siap," jawab Maria.
"Maaf... Aku tidak akan membuatkan baju dengan ukuran wanita Eropa. Aku mau mintanya untuk membuat baju seperti ukuran orang lokal di negara kita. Memang tubuhmu sangat kecil dan mungil. Aku sangka cukup. Ternyata," ucap Aska.
"Mungkin karena ada Aska junior yang sedang tumbuh. Makanya aku sekarang akan memakai baju yang agak besar sedikit," sahut Maria.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Kapan-kapan kalau ada waktu kita akan berbelanja," ajak Aska.
"Kapan itu?" tanya Maria.