Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Bertemu Dengan Adrian.


__ADS_3

Malam pun tiba.


Aska yang sedang duduk di samping kolam renang menatap indahnya langit Kota Jakarta bertabur bintang. Ia sedang mencari jawaban menimpa dirinya. Sesekali Aska tersenyum menertawai dirinya di dalam hati. Kenapa semua ini harus terjadi pada keluarganya? Sebenarnya ada apa yang telah terjadi?


Beberapa saat kemudian datang Romeo sambil menatap wajah Aska. Kemudian sang asisten barunya itu memanggil Aska, "Aska."


Aska tersadar lalu menatap wajah Romeo. Ia berdiri sambil membuang nafasnya secara kasar, "Ada apa?"


"Apakah kamu mau ikut ke bandara? Aku ingin menyusul seseorang," tanya Romeo.


"Di mana Ibu?" tanya Aska.


"Ada bersama Winda. Sebentar lagi akan kedatangan dua orang yang akan ikut dalam kelompok kita. Seharusnya sih ada empat. Tapi yang duanya itu masih ragu untuk masuk ke dalam. Dia adalah Mr. G dan Mr. L," jawab Romeo dengan serius.


"Mr G dan Mr L?" tanya Aska sambil mengurutkan keningnya.


"Iya... Mereka adalah orang Perancis. Aku sudah menghubunginya tapi mereka masih ragu. Mereka sangat mumpuni dan membantu untuk mengajarimu mengungkap kasus ini. Jujur kasus ini sangat berat sekali. Hampir dua puluh persen banyak orang yang terlibat. Aku sudah mengirimkan nama-namanya yang terlibat. Kurang lebih seratus orang. Entah mau jadi apa ini perusahaan?" jelas Romeo.


"Itu masih lebih. Sepertinya orang yang di belakang itu sangat berpengaruh sekali. Firasatku mengatakan kalau mereka sedang dikendalikan oleh orang itu. Kemungkinan besar orang itu mengancam keluarga dari para karyawan kita. Kalau sudah fatal begini aku tidak akan membantunya lagi," imbuh Aska.


"Apakah kamu nggak penasaran sama Mr. G dan Mr. L?" tanya Romeo. "Aku ingin kita menjemputnya di Aku berharap kamu bisa meyakinkan mereka untuk ikut dalam kelompok kita."


"Kenapa aku harus meyakinkan mereka? Kenapa nggak kamu aja? Aku ini masih baru dalam dunia bisnis," ejek Aska yang membuat Romeo tertawa.


"Baru tidak baru sama saja. Jika kamu memiliki kemampuan untuk terjun ke sana. Maka kamu mempunyai kesempatan untuk belajar lebih giat," seru Christina yang membuat Aska tersenyum.


"Iya Bu. Aku masih belajar dalam dunia bisnis. Sekalinya belajar langsung praktek. Ditambah lagi banyaknya orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk menghancurkan perusahaan," kata Aska.


"Tapi firasatku mengatakan, kalau orang-orang itu tidak mau uang kita. Melainkan mereka ingin menghancurkan perusahaan ini," serum Maria yang baru saja datang.


Melihat kedatangan Maria, Aska sangat terkejut sekali. Matanya sedikit membola karena melihat kecantikan Maria. Memang Maria sedari dulu memiliki kecantikan alami. Tanpa dipoles kecantikan itu akan hadir dengan sendirinya.


"Nyonya," panggil Romeo.


"Iya ada apa?" tanya Christina.


"Aku ingin mengajak Azka untuk menyusul seseorang yang sebentar lagi pesawatnya akan mendarat. Sepertinya orang-orang itu ingin mengajak kita bekerja sama," jawab Romeo yang mencari alasan agar Aska ikut dengannya.


"Bekerja sama dalam bidang apa?" tanya Christina.


"Dalam bidang apapun di dalam perusahaan ini. Mereka berasal dari Prancis," jawab Romeo.


"Memangnya ada ya? Kita bekerja sama dengan investor dari sana. Kalau ada aku sangat bersyukur sekali," ucap Christina.


"Orang itu ceritanya ingin berliburan. Lalu mereka tidak sengaja melihat produk Aska yaitu snack sehat yang memiliki rasa keju dan sayur-sayuran. Akhirnya orang ini jatuh cinta pada snack kita. Beberapa hari terakhir orang itu selalu menghubungi kita untuk mengajaknya kerjasama. Kemungkinan besar mereka akan mendirikan pabrik di Prancis sana. Untuk memproduksi snack tersebut dalam partai besar. Orang itu yakin kalau negara-negara Eropa sangat menyukainya," jelas Romeo.

__ADS_1


"Kalau begitu ya sudahlah. Jemput mereka! Lalu rayu mereka agar bisa membangun pabrik di Prancis. Karena di sana adalah tanah kelahiranku," seru Christina yang mengulas senyumnya.


"Semoga mereka mau membangun pabrik di sana. Dan aku berencana ingin membuka beberapa pabrik di daerah Eropa. Apakah impianku tidak ketinggian?" tanya Aska yang mengambil jaketnya lalu memakainya.


"Mimpimu tidak terlalu tinggi. Itu sangat bagus sekali. Agar kamu memiliki motivasi hidup. Setiap orang hidup di muka bumi ini pasti memiliki impian yang besar. Namun impian itu tidak pernah atau jarang terealisasikan. Tapi jika itu berhasil orang itu sungguh-sungguh mewujudkan impiannya itu. Jika kamu memiliki impian, maka kamu harus bekerja keras mewujudkannya. Nantinya impianmu akan menjadi nyata. Tuhan tidak pernah tidur untuk mewujudkan impian setiap orang," jelas Maria yang tiba-tiba saja menjadi bijak.


"Tumben dirimu bijak sekali. Biasanya bak... buk... bak... buk," sindir Romeo.


Seketika Aska dan Christina tertawa gara-gara ulah Romeo. Jujur saja Romeo sering sekali menyindir Maria. Begitu juga dengan sebaliknya. Maria juga sering menyindir Romeo di depan Christina. Namun mereka tidak marah sama sekali. Karena sindiran itu menciptakan agar dirinya masing-masing untuk menjadi lebih baik lagi.


"Pergilah," usir Christina sambil mengulas senyum.


"Kami diusir sama ibu. Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu bersama abang," pamit Aska.


Sesampainya di Jakarta Adrian dan Luke sedang duduk di gerai makanan. Mereka sedang menunggu kedatangan Aska dan Romeo. Dengan wajah tampannya Adrian menatap orang-orang yang berada di sekitaran. Lalu mata Adrian beralih pada layar ponselnya. Dengan jantung berdetak pria paruh baya itu pun sangat merindukan putranya.


"Apakah kamu yakin jika Aska akan menjemputku ke sini?" tanya Adrian.


"Saya yakin tuan. Saya sudah menghubungi Romeo. Mereka berada di perjalanan menuju ke sini," jawab Luke yang tidak sengaja melihat Adrian menjadi gusar.


"Awas aja jika mereka tidak datang. Kamu yang akan aku gantung!" ancam Adrian.


"Selalu saja begitu," gerutu Luke.


Adrian tertawa kecil karena melihat sang asisten menderita. Ancaman yang dilontarkan oleh Adrian hanyalah candaan saja. Jujur, Luke sangat aneh sama Adrian. Sebab Adrian jarang sekali yang namanya bercanda.


Dengan langkahnya yang cepat, Romeo menemukan sebuah gerai makanan yang menjual masakan Padang. Di sana Romeo melihat ada dua orang paruh baya yang sedang duduk sambil menikmati minuman hangat.


"Sepertinya orang itu yang ingin membangun pabrik di Prancis," tunjuk Romeo ke arah dua orang tersebut.


"Apakah kamu yakin? Kenapa mereka mengajak kita bertemu di sini? Seharusnya kita bertemu di hotel, di restoran atau di perusahaan. Ini sangat aneh sekali Jika mengadakan pertemuan di bandara," ujar Aska yang bingung dengan Romeo.


"Ini tidak aneh sekali menurutku. Kemungkinan orang itu sangat unik sekali. Perlu kamu ketahui, kalau orang itu tidak mau dibantah sama sekali," kata Romeo.


"Ya sudahlah... Aku hanya menurut saja," sahut Aska yang mengalah pada kenyataan.


Romeo segera mengajak Aska mendekat. Tiba-tiba saja Aska merasakan jantungnya berdetak kencang. Entah kenapa dirinya merasakan ada sesuatu di dalam hatinya itu. Namun Aska masih belum mengerti.


Ketika sudah sampai di sana, Romeo membungkukkan badannya sambil menyapa, "Selamat malam Tuan Adrian dan Tuan Luke. Selamat datang di kota Jakarta ini. Saya harap anda betah tinggal di sini."


Mendengar namanya Adrian, Aska terkejut. Pria muda itu segera mendeteksi nama tersebut di dalam hatinya. Apakah Adrian itu adalah ayahnya? Atau Adrian lainnya yang ingin membuat pabrik di Prancis sana. Aska masih terdiam dan tidak menyapa mereka.


Siapa ada yang menyapa Adrian dan Luke menghentikan kegiatannya. Lalu Adrian menatap Romeo yang masih membungkuk. Setelah itu Adrian mengeluarkan suara baritonya agar Romeo tidak membungkuk lagi.


"Jangan membungkuk seperti itu! Dikira Aku orang penting saja," keluh Adrian yang tidak ingin semua orang tahu kalau dirinya adalah seorang perwira di kepolisian Perancis.

__ADS_1


Romeo berdiri sambil mengulas senyum. Tak sengaja Romeo menatap wajah Adrian yang menahan rindu pada anak istrinya itu. Kemudian Romeo menarik tangan Aska agar mendekatinya.


Aska yang melihat Romeo menariknya hanya bisa menggaruk kepalanya tidak. Kenapa dirinya disuruh mendekati mereka? Jujur Aska menjadi bingung dalam keadaan ini.


"Kenapa kamu menyuruhku mendekati mereka dengan cara mendorong seperti ini?" tanya Aska yang membuat Romeo tersenyum.


"Sudahlah... Hanya kamu yang bisa meyakinkan orang itu. Aku ingin melihat kemampuan kamu untuk merayu orang-orang tersebut," bisik Romeo yang membuat Aska menganggukkan kepalanya.


"Dasar... Dah asisten nggak ada akhlak sama sekali lu!" kesal Aska yang akhirnya turun tangan.


Adrian yang melihat keributan hanya bisa tersenyum. Tanpa melihat pun Adrian tahu itu siapa? Adrian dan Luke mengangkat kepalanya lalu melihat Aska. Dengan senyumnya yang manis Adrian berdiri dan mendekati putranya itu.


Lalu Adrian merentangkan kedua tangannya sambil berkata, "Apakah kamu tidak ingin memelukku?"


"Anda siapa?" tanya Aska dengan sopan.


"Aku adalah suami ibumu. Yang menanamkan benih super di dalam perut ibumu itu. Hingga terjadinya kamu," jawab Adrian spontan mengatakan hal itu kepada Aska.


Sedangkan Luke memutar bola matanya dengan malas. Bisa-bisanya Adrian mengatakan seperti itu kepada putranya. Ia terpaksa menghembuskan nafasnya secara berat. Jujur saja Luke sangat kesal kepada sang bosnya itu.


Bayangkan saja pada pertemuan pertama kalinya, Adrian mengatakan hal yang absurd pada putranya itu. Bukannya meneteskan air mata malah mencoba untuk melawak. Harusnya pertemuan ini menjadi pertemuan penuh haru. Namun ini sangat berbeda sekali daripada pertemuan lainnya.


Romeo yang melihatnya hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Bagaimana bisa Adrian mengatakan seperti itu? Dirinya berharap bahwa Tuan mudanya mengerti. Setahu Romeo, saat pelajaran biologi Asta tidak pernah masuk ke dalam kelas. Itu fakta yang dikatakan oleh orang terdahulunya sebelum dirinya menjadi mata-mata.


"Ini aneh sekali bagiku. Bisa-bisanya Tuan Adrian mengatakan seperti itu. Apakah Tuan Muda mengerti tentang pelajaran itu?" tanya Romeo dalam hati.


Bagaimana dengan sikap Aska? Jujur Aska sangat bingung dan mencerna kata-kata Adrian. Ada satu kalimat yang menggelitik hatinya. Kalimat itu adalah aku adalah suami ibumu. Rasanya Aska ingin tertawa terbahak-bahak. Menurutnya ini sangat lucu sekali.


"Sebentar tuan," protes Aska yang membuat Adrian menurunkan tangannya.


"Ada apa?" tanya Adrian.


Benarkah Anda adalah suami ibu saya?" tanya Aska serius.


"Ya.. aku memang suami ibumu," jawab Adrian mengulas senyum.


"Jadi anda adalah ayah saya?" Tanya Aska yang membuat Romeo geram.


Plakkkkkk!


Sebuah tangan mendarat di pundak Aska. Jujur Romeo sangat geram kepada Aska. Bisa-bisanya sang tuan muda sedari tadi otaknya tidak memiliki koneksi satupun dengan kalimat Adrian itu. Harusnya Aska langsung membuat pernyataan kalau dia adalah ayahku. Sungguh Aska mirip sekali sama Christina. Ditambah lagi dengan kekonyolan Adrian. Ternyata Romeo memberikan label pada Aska ya itu nyeleneh. Bagi Romeo tidak menjadi masalah. Jujur sikap nyelenehnya itu bisa membuat Aska berkamuflase.


"Iya... Aku adalah ayahmu. Jika kamu tidak percaya. Tanyakan saja pada ibumu itu," ucap Adrian.


"Apakah aku bermimpi pada malam ini?" tanya Aska yang membuat mereka kesal.

__ADS_1


"Maksud kamu apa?" tanya Adrian.


__ADS_2