Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Salting (Salah Tingkah).


__ADS_3

"Aku serius. Kenapa memangnya? Tuan Adrian lah yang menyuruhku untuk menghubungi pihak kepolisian," jawab Romeo.


"Kalau begitu baguslah bang. Aku nggak mau Haryadi berkeliaran di mana-mana," ucap Aska yang masih bingung motif dibalik Hariyadi.


"Apalagi aku. Orang itu terlalu obsesi terhadap Maria. Dipegang namun tidak dicintai. Dinikahi untuk disakiti. Inilah yang membuat aku bertanya-tanya. Aku sendiri juga memiliki adik perempuan sebanyak tiga orang. Aku ingin menyelamatkan Maria agar adik-adikku selamat dari orang tersebut. Kamu tahu kan apa maksudku sebenarnya?" tanya Romeo.


"Aku tahu itu. Aku sudah mendapatkan data-data dirimu dari ibu. Semoga saja keluargamu diberkahi oleh Tuhan," jawab Aska yang mendoakan Romeo.


"Amin," balas Romeo dengan sukacita.


"Semoga hari ini tidak ada lagi kasus tentang merendahkan Maria. Aku sungguh kesal dengan orang-orang seperti itu. Jujur aku sudah mengenal kedua orang tuanya yang baik hati. Mereka adalah orang tua hebat ketika aku di sekolah. Gara-gara mereka aku belajar dengan giat hingga meraih cita-citaku. Meskipun aku tidak pernah terpikirkan olehku masuk ke dalam perusahaanku sendiri," jelas Aska yang tidak mau ada drama lagi.


"Aku sudah mengunci targetnya. Kemungkinan besar aku akan menyelidikinya tentang siapa itu Welly? Jujur aku tidak begitu mengenal para anggota divisi humas. Mau tidak mau aku harus membuka divisi humas itu," jawab Romeo.


Aska menganggukkan kepalanya dan memberikan celah untuk Romeo. Kemungkinan besar Romeo akan memberikan informasi itu kepada dirinya. Setelah itu mereka langsung pergi ke dapur untuk menyantap sarapan.


Tepat pukul tujuh pagi, Romeo mengajak Aska memakai mobil terpisah. Maria bersama Christina dan Adrian memakai mobil satu lagi. Romeo mengajak Aska untuk berdiskusi ke depannya bagaimana.


"Tuan Adrian menyuruhku untuk memberikan pengawalan ketat terhadap kamu, Maria dan nyonya Christina. Aku tahu kamu tidak menginginkan pengawalan ketat seperti itu. Tapi aku harus melakukannya. Cepat atau lambat kau akan menjadi CEO. Kamu harus tahu para musuh dari dalam perusahaan maupun luar akan menyerangmu secara bertubi-tubi. Mereka tidak mau kamu sukses seperti ini. Aku akan mengatur waktumu agar kamu bisa belajar bela diri. Begitu juga dengan Maria. Maria harus ikut belajar beladiri," jelas Romeo.


"Atur saja mana yang kamu suka. Aku hanya menikmati fasilitas yang diberikan oleh ayah. Cepat atau lambat aku sadar akan hal itu. Kapan aku akan kuliah?" tanya Aska.


"Tiga bulan lagi. Tiga bulan adalah waktu yang di mana para mahasiswa masuk kampus. Kamu kuliah siang hari. Paginya pergi ke kantor untuk mengurusi pekerjaan," jawab Romeo yang sudah mengatur jadwal buat Aska.


"Baiklah aku setuju," balas Aska. "Aku juga harus belajar menyetir mobil."


"Nanti yang mengajari Kamu adalah tuan Adrian sendiri. Tuan Adrian sangat terlihat sekali membawa mobil," jawab Romeo.


Sesampainya di perusahaan, Aska masuk terlebih dahulu. Sedangkan Romeo mematikan mobil terlebih dahulu. Di saat sedang melangkah, ada seseorang yang memanggilnya. Suara itu sudah tidak asing lagi di telinga Aska.


"Tuan muda Aska... Tuan muda Aska," panggil Maria sambil mendekati Aska.


"Hai Maria.... Ayo kita ke ruanganku," ajak Aska.


Tidak sengaja Cici melihat Aska mengajak Maria ke ruangannya. Wanita itu sempat tertegun ketika Maria memanggil Aska dengan tuan muda. Lalu Cici memanggilnya Aska tanpa embel-embel tuan muda sambil mendekatinya.


"Aska," panggil Cici tanpa sopan.

__ADS_1


Saat Cici memanggil dirinya, Aska menoleh dan melihat Cici. Lalu Aska berkata, "Maaf... aku tidak mengenalmu."


Setelah itu Aska meninggalkan Cici sendirian di tempatnya. Jujur hati Aska sangat sakit ketika dirinya dibandingkan dengan juragan jengkol. Ia memang sudah melupakan Cici dan memendam rasa sakit itu di dalam hatinya. Bahkan Aska sendiri tidak akan pernah lagi atau mau berhubungan dengan Cici.


Diam-diam saat kau memegang tangan Maria sambil tersenyum. Tangan lembut itu memegang erat tangan kekar Aska. Sungguh beruntung pada pagi ini Aska mendapatkan reward untuk kesekian kalinya.


Ting.


Pintu terbuka.


Aska mengajak Maria masuk ke dalam lift. Lalu Aska menatap wajah Maria sambil berkata, "Dia hanyalah masa laluku."


"Maksud kamu?" tanya Maria.


"Wanita itu adalah masa laluku. Jika kamu ingin bertanya bertanyalah. Tapi jangan sekarang. Karena waktu sudah menunjukkan jam kerja. Aku harap kamu mengerti," jawab Aska.


Maria tersenyum sambil memandang wajah Aska. Sebenarnya di dalam hatinya itu Maria ingin bertanya tentang Cici. Namun Aska sudah membaca hatinya itu.


"Kamu bisa membaca isi hatiku?" tanya Maria.


"Berarti kamu sudah mengetahui kalau aku suka sama kamu," jawab Maria.


Di dalam otak Aska banyak sekali tanda tanya. Entah bagaimana Aska harus menjawab pertanyaan dari Maria. Sesampainya di ruangan Maria langsung mengerjakan tugas-tugasnya. Sedangkan Aska menunggu Romeo untuk mengatur jadwalnya.


Di lobby Romeo menatap wajah Cici. Ketika Cici memanggil Aska tanpa tuan muda, Romeo sudah berada di belakangnya. Romeo mendengar Cici memanggil nama Aska tidak sopan seperti itu. Kemudian Romeo memanggil Cici dan mengajaknya ke ruangannya. Mau tidak mau Cici mengikutinya sambil menggerutu.


Sepanjang perjalanan menuju lift, Cici menunduk ketakutan sambil bergumam. Dalam gumamnya Cici memaki Aska dengan kata-kata yang menyakitkan. Tanpa disadarinya Romeo mendengar dan tangannya mengepal. Jika saja Cici adalah seorang pria kemungkinan besar Romeo sudah menghajarnya. Mengingat Cici adalah seorang perempuan, Romeo harus menahan amarahnya.


Ketika sampai di ruangannya Romeo menyuruh Cici masuk ke dalam. Di sana Romeo menatap wajah Cici dengan dingin.


"Aku sudah tahu masa lalumu," ucap Romeo dingin.


"Maaf tuan, maksud Anda apa ya? Kok saya disuruh masuk ke sini?" tanya Cici yang tidak paham apa maksudnya.


"Kamu memanggil tuanku apa?" tanya Romeo.


Tak lama Maria dan Aska berpapasan untuk menuju ke ruangan Romeo. Mereka tersenyum sambil menatap. Kemudian Aska bertanya, "Kamu ngapain ke ruangan Romeo?"

__ADS_1


"Kamu juga mau ngapain ke sana?" tanya Maria.


"Aku ke sini hanya untuk meminta jadwalku siang ini sampai sore," jawab Aska. "Lalu?"


"Aku sedang mengajukan cuti selama dua minggu ke depan," jawab Maria sambil membawa surat cuti.


"Cuti apa?" tanya Aska.


"Cuti pernikahanlah. Masa aku tidak cuti sama sekali. Apalagi Nyonya Christina sudah memberikan aku tiket bulan madu ke Bali selama seminggu. Mau tidak mau aku harus mengambilnya," jawab Maria yang membuat Aska melotot.


"Apakah benar kita akan pergi ke Bali?" tanya Aska.


"Masa kamu nggak tanya sama nyonya? Harusnya kamu bertanya di mana bulan madu kita," jawab Maria yang kebingungan terhadap Aska.


"Jujur, aku nggak tahu soal itu. Aku sendiri juga tidak memperhatikan. Pokoknya setelah mengikatmu kita mengadakan resepsi lalu aku ingin mengambil libur sehari saja setelah itu aku masuk kerja mencari uang untuk kebutuhan kita berdua. Bukan berdua berlima," jelas Aska.


"Berdua! Lalu tiga orang siapa?" tanya Maria yang tidak tahu tentang teka-teki Aska.


"Masa kamu nggak tahu tiga orang itu siapa lagi. Memangnya kamu tidak ingin memiliki keturunan dariku?" tanya Aska dengan jujur.


"Astaga naga... Aku lupa soal itu. Jika tahu aku tidak bertanya lagi kepadamu," jawab Maria yang membuang wajahnya ke segala arah.


"Kalau begitu kita ke sana bersama," ajak Aska.


Sesungguhnya Maria menatap pada Aska menjadi salah tingkah. Terkadang Maria tidak mau menatap wajah Aska karena sangat tampan sekali. Entah kenapa hari ini dirinya benar-benar mati kutu. Namun bagi Aska, Maria itu sangat lucu sekali.


Ketika sampai di ruangan Romeo, mereka berdua tidak sengaja mendengar Romeo sedang marah-marah. Maria dan Aska saling memandang dan bertanya-tanya. Kemudian Aska mengeluarkan suaranya, "Kenapa Abang sangat marah sekali?"


"Entahlah. Romeo jarang sekali marah-marah seperti itu," jawab Maria yang mengerti tabiat Romeo.


Lalu ada memegang daun pintu tersebut dan membukanya. Alangkah kagetnya Cici berhadapan langsung dengan Romeo. Dirinya masuk ke dalam dan menuju ke sofa. Lalu Aska menghempaskan bokongnya di sofa empuk itu.


"Sudah berapa kali aku peringatkan tentang kamu. Kamu selalu saja membuat masalah di dalam perusahaan. Hormatilah orang-orang yang ada di sini. Jangan memanggil orang sembarangan. Panggil Azka memakai tuan muda. Kamu tahu kan maksudku apa?" tanya Romeo.


"Maksud kamu apaan? Kamu menyuruhku memanggil Aska memakai tuan muda? Nggak salah? Semua orang tahu kalau Aska itu anaknya Bu Minah yang miskin itu. Makan aja susah apalagi beli baju baru," jawab Cici dengan ketus yang tidak mau terima dengan panggilan itu.


"Aku tidak peduli soal itu. Patuhilah semua peraturan yang ada di sini! Jangan sesuka hatimu memanggil orang tanpa embel-embel di depannya!" Geram Romeo.

__ADS_1


__ADS_2