
"Sialan lu," jawab Frank dengan tertawa terbahak-bahak. "Aku masih hidup dan sehat."
"Kemana aja kamu?" tanya Adrian.
"Bisakah kita enggak disini?" tanya Frank balik. "Aku akan menceritakan sesuatu tentang diriku."
"Ayo... kita pergi ke restoran yang buka dua puluh empat jam," ajak Adrian.
""Memangnya ada ya restoran disini yang buka dua puluh empat jam?" tanya Frank yang tidak tahu dengan tempat ini.
"Ada. Kamu kira enggak ada?" tanya Adrian.
"Jujur semenjak aku disini tidak menemukan restoran seperti itu,' jawab Frank.
"Kamu belum tahu dimana tempat itu," ucap Adrian.
Setelah mereka bertemu dengan Frank, Adrian mengajaknya makan di restoran. Tempat itu tidak jauh dari hotel. Sehingga mereka bisa berjalan kaki sebentar agar tidak kejauhan.
Nama restoran itu adalah Rich Dad Poor Restaurant. Yang dimana restoran menyajikan makanan tradisional. Adrian sering sekali kesini bersama Christina selesai habis pulang kerja. Ia sangat menyukai rasakan disana.
Sebelum bercerita, mereka memesan beberapa menu makanan. Karena mereka penyuka makanan. Disisi lain mereka suka sekali kulineran. Selesai memesan makanan, Adrian memandang wajah Frank.
"Kemana saja kamu sekarang?' tanya Adrian.
"Aku masih berada di bumi," jawab Frank yang menjawab sekenanya.
Plaaaaak.
Adrian kesal dengan jawaban sang kakak. Bisa-bisanya Frank menjawab sekenanya seperti itu. Jujur ia ingin menghajar Frank hingga masuk rumah sakit. Akan tetapi Frank tidak bisa melakukannya. Malahan Adrian sendiri sangat kasihan kepada sang kakak.
"Aku nggak bisa cerita disini. Jika aku cerita, hidupmu dan keluargamu dalam bahaya," ucap Frank.
"Kenapa?' tanya Adrian.
"Semuanya rumit. Aska juga harus mendengarnya. Aku tidak mau keponakanku tidak tahu masalah ini," jawab Frank.
"Maksud kamu apa?" tanya Adrian.
"Kamu tahukan kalau para pengawal Jamaludin sudah menyebar di kota ini. Bahkan mereka sedang mengintai gerak-gerik kalian?' tanya Frank yang berbalik bertanya.
__ADS_1
"Aku tahu itu," jawab Adrian yang membenarkan posisi duduknya.
"Jika kamu tahu itu. Aku menyuruh kamu diam. Jangan bertanya apapun. Kecuali kita di markas," ucap Frank dengan serius.
"Apakah kamu di sini membuka markas?" tanya Adrian yang mengerutkan keningnya.
"Aku tidak membangun markas di sini. Aku membangun markas di Singapura. Kamu harus sering-sering berkunjung ke sana," jawab Frank.
"Oke," balas Adrian yang kesal.
Melihat Adrian yang kesal, Frank terdiam dan menoleh ke ke sekelilingnya. Jujur saja Frank tidak bisa cerita tentang keadaannya. Jika harus cerita maka ia harus mencari tempat tersembunyi.
Saat ini para pengawal Black Crossover sudah menyebar ke seluruh kota di sini. Mereka ditugaskan untuk mengintai keberadaan Frank dan juga Adrian. Ditambah lagi keluarga Wicaksono.
Memang saat ini sungguh mengerikan bagi Adrian maupun Aska. Entah kenapa mereka harus berhubungan dengan mereka? Jika bisa memilih mereka memutuskan untuk hidup penuh dengan kedamaian.
Satu kata buat mereka yaitu sulit. Ya... satu kata itu yang membuat mereka tidak bisa tenang untuk menjalani hidup.
"Kecelakaan di Roma adalah sabotase dari Julia. Istri palsu dari Papa Damian. Lalu kematian kedua orang tua kita sudah direncanakan oleh Julia. Wanita itu bukan ibu mertuamu," bisik Frank yang sengaja memajukan kepalanya.
"Apa yang kamu katakan?' tanya Adrian.
"Nanti aku akan memberikan sebuah fakta sebenarnya. Ibu mertua kamu yang asli itu masih ada. Bahkan beliau tinggal disini ingin bertemu dengan istrimu itu. Kemungkinan besar ibu mertuamu itu sudah bertemu dengan Aska dan juga Maria. Bahkan Romeo pun juga tahu masalah itu," jawab Frank. "Aku hanya bisa memberikan sebuah informasi seperti itu. Jika kamu ingin bertemu denganku. Ajak sekalian Aska."
Pagi yang cerah di kota Jakarta. Aska membuka mata dan melihat seorang gadis yang cantik di disampingnya. Ia melihat gadis itu yang memiliki mata sipit. Wajahnya juga sangat menggemaskan bagaikan boneka. Akan tetapi gadis itu sangat galak ketika sedang bekerja.
"Aku enggak percaya ini. Bahwa usiaku yang ke dua puluh dua tahun sudah memiliki seorang istri. Tuhan bimbing aku agar bisa menjalani hidup rumah tangga ini bersama gadis ini," ucap Aska dalam hati sambil berdoa.
Ketika sinar matahari telah masuk ke dalam kamar itu, Maria terusik dengan cahaya itu. Ia membuka mata dan melihat Aska sedang duduk santai di ranjang. Ia langsung mengambil bantal dan menutup wajahnya.
Tidak sengaja Aska melihat sang istri menyembunyikan wajahnya itu. Ia tersenyum manis sambil menarik bantal milik Maria. Lalu Maria memegangnya dengan erat. Namun apa daya Maria tidak bisa menahan bantal itu. hingga terlepas dari tangannya.
"Bangun," ucap Aska dengan suara seraknya.
"Jam berapa ini?" tanya Maria.
"Jam delapan pagi," jawab Aska yang mengarahkan tubuhnya di hadapan Maria.
"Sudah pagi ya sekarang?" tanya Maria yang merenggangkan tubuhnya.
__ADS_1
"Sudah pagi neng. Masa mau malam terus," jawab Aska yang melihat wajah Maria yang sangat mirip dirinya.
"Kenapa kamu tidak membangunkan aku jam enam pagi?" tanya Maria.
"Aku baru bangun dari tidurku," jawab Aska yang tersenyum manis hingga membuat Maria jantungnya berdetak.
"Kenapa ya aku menikahi bocah seperti ini?' tanya Maria dalam hati.
"Bisakah kamu tidak mengumpatiku?" tanya Aska yang mendengar apa isi hati Maria.
"Ha," jawab Maria yang menatap Aska yang sangat tampan sekali. "Ya... aku sedang menikahi bocah.''
"Bocah dengan sejuta pesona yang bisa membuat kamu jatuh cinta," ucap Aska dengan penuh kenarsisan.
"Cih... Abang Aska ternyata narsis juga," kesal Maria.
"Kan benar. Kalau aku adalah seorang bocah penuh dengan sejuta pesona," jawab Aska dengan jujur yang semakin membuat sang istri kesal.
"Ah... rasanya kita sudah ketinggalan sarapan bersama mereka," ucap Maria yang mulai bangun dan duduk tegak.
"Biarkan saja. Kita masih bisa sarapan berdua saja," sahut Aska sengaja melemparkan selimutnya.
"Aku mau mandi dulu. Jika ada yang menghubungiku. Nanti aku hubungi balik!" perintah Aska.
"Apakah Abang tidak mengajakku mandi bersama?' tanya Maria yang bingung harus berkata apa-apa.
Mendengar pertanyaan Maria, Aska tersenyum manis. Jujur ia tidak bisa menolaknya. Karena ajakan seperti itu bisa membuat hubungan mereka intim.
"Apakah kamu sudah siap melakukannya?" tanya Aska sambil menggoda Maria.
"Eung... Enggak sih," jawab Maria.
"Kenapa enggak?' tanya Aska yang masih menggoda Maria.
"Ah... Jangan diteruskan," seru Maria sambil menutup wajahnya karena malu.
"Boleh kok. Jika kamu tidak keberatan. Kenapa kamu menjadi malu seperti itu? Bukankah kita sudah resmi menjadi pasangan suami istri?" tanya Aska yang menahan tawanya.
"A-aku belum siap," jawab Maria.
__ADS_1
"Mulai sekarang kamu mulai mempersiapkan diri kamu. Cepat atau lambat kamu akan mendapat serangan bertubi-tubi dari aku. Jika sedang khilaf," ucap Aska.
"Serangan apa?" tanya Maria dengan polos namun sangat menggemaskan bagi Aska.