
“Amin,” balas mereka serempak.
“Kalau begitu aku berangkat dulu ya,” pamit Winda.
“Jangan lupa beli baju buat tuan muda Aska,” ucap Maria yang mengingatkan Winda.
Winda hanya memberi kode tanda sebagai setuju. Winda akhirnya meninggalkan ruangan itu dan beranjak pergi menjauh dari kantor. Sementara Roni masih berada di ruangan itu. Roni memberikan beberapa foto atas kekejaman Minah terhadap Aska. Di foto itu Aska mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan. Dimarahin, dilabrak sampai dimaki-maki di depan umum. Betapa malunya Aska saat itu karena sifat Minah semena-mena.
“Coba lihatlah foto-foto ini yang aku dan beberapa pengawal yang mengambilnya,” pinta Roni yang menyodorkan foto-foto tersebut ke arah Maria.
“Foto apa?” tanya Maria sambil meraih foto-foto tersebut.
“Foto-foto bukti kekejaman Minah terhadap Aska,” jawab Roni. “Itu hanya sebagian saja. Masih banyak di rumah. Jika kamu ke rumahku, kamu akan melihatnya secara langsung bagaimana Minah memperlakukan tuan muda dengan kejam.”
“Sekejam apa Minah memperlakukan tuan muda?” tanya Maria sambil melihat foto-foto tersebut. “Oh... Iya... Minah kabarnya gimana?”
“Masuk penjara,” jawab Roni. “Pak Broto sengaja memasukkan Minah dalam penjara. Karena Minah sudah keterlaluan sekali dan ingin membunuh tuan muda Aska.”
“Oh My God... Betapa kejamnya Minah terhadap Tuan Muda Aska. Aku tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi. Kalau itu terjadi maka Bagaimana dengan Nyonya Christina?”
Maria tidak bisa membayangkan jika seandainya Minah melakukan hal tersebut. Iya tidak bisa melihat Nyonya Christina bersedih. Karena Maria sudah menganggap Christina adalah seorang wanita yang sangat baik sekali.
Di dalam perjalanan Aska dan Romeo sedang menikmati suasana kota Jakarta yang sedang macet. Mereka mengobrol tentang kehidupannya masing-masing. Menurut Romeo, Aska adalah seseorang yang sangat baik dan mudah bergaul. Tuan mudanya itu tidak pernah memilah-milah orang-orang yang ingin berteman dengannya. Bahkan Aska sangat akrab sekali terhadap orang-orang kampung di sana.
__ADS_1
“Aku tidak mengira Kalau tuan muda sangat nyaman ketika hidup seperti ini. Tuan muda tidak pernah mengeluh dan marah sama sekali. Inilah yang membuat aku salut terhadapnya. Aku sangat respek terhadap Tuan mudaku sendiri. Karena tidak ada orang yang sangat ramah seperti ini. Bahkan aku menyebutnya orang yang super ramah sekali. Aku berharap kebaikannya itu tidak dimanfaatkan oleh banyak pihak. Aku harus meminta pendapat ke Tuan besar,” ucap Romeo dalam hati ketika sedang menyetir.
“Bang,” panggil Aska.
“Ada apa?” tanya Romeo.
“Abang bisa bahasa Inggris nggak?” tanya Aska.
“Bisa,” jawab Romeo yang masih fokus dalam menyetir.
“Kalau begitu ajarin bang. Aku mau menjadi TKI di negara Eropa sana,” jawab Aska seketika Romeo mengerem mendadak.
Cittttt!!!
“Ada apa bang?” tanya Aska terkejut.
“Aku bingung sama kamu,” jawab Romeo.
“Kenapa bingung bang? Emangnya aku salah ya... meminta Abang untuk mengajarkan aku bahasa Inggris?” tanya Aska..
*Nggak salah sih. Tuan muda memang harus belajar bahasa Inggris. Dan Tuan Muda harus mempelajari beberapa bahasa. karena tuan muda adalah seorang ahli waris sesungguhnya di perusahaan Wicaksono Group Internasional. Jika tuan muda menjadi TKI, bagaimana dengan tuan besar?” batin Romeo.
Melihat sang sopir sedang diam mendadak, aku hanya menghembuskan nafasnya. Apakah dirinya salah meminta belajar bahasa Inggris? Jujur saja Aska ingin sekali belajar bahasa Inggris maupun bahasa lainnya. Cepat atau lambat dirinya harus pergi dari kampung itu. Alasannya hanya simpel saja, ia ingin hidup mandiri tanpa gangguan siapapun.
__ADS_1
Lalu, bagaimana dengan Minah? Aska sudah memikirkan masalah ini beberapa bulan yang lalu. Namun dirinya tidak tega karena melihat sang ibu sudah tua dan bertubuh tambun. Akan tetapi ia seolah-olah merasa dirinya tidak bebas sama sekali. Setiap temannya bermain ke rumah pasti ada saja suara panci melayang. Ditambah suara lengkingan keluar dari mulut Minah. Kalau perkataannya halus Aska tidak menjadi masalah. Sering sekali Minah melontarkan kata-kata kasar dan membuat temannya tidak betah.
Bukankah rumah adalah tempat yang nyaman untuk berkumpul bersama teman? Itu sangat dibenarkan sekali. Semua orang ingin memiliki suasana rumah yang nyaman untuk hidupnya. Bisa dikatakan rumah itu adalah tempat berkumpul tanpa mengeluarkan uang banyak. Akan tetapi bagi Aska rumah itu tidak nyaman sama sekali. Di sana Aska merasakan sesak di dalam dada. Ketika hari libur Aska ingin bangun siang seperti yang lainnya. Namun Aska selalu diberi hadiah panci melayang. Inilah yang membuat Aska tidak betah di rumah.
“Kenapa kamu pengen jadi TKI? Bukankah di sini masih banyak pekerjaan yang baik buatmu?” tanya Romeo..
“Banyak sih banyak. Tapi tidak sesuai dengan jurusanku. Aku ingin duduk di kantor. Tapi lulusanku hanya SMA,” jawab Aska lemah.
“Kalau begitu kamu bisa kok duduk di kursi kantoran. Apalagi kamu memiliki potensi besar untuk membangun perusahaan,” ucap Romeo dengan jujur.
“Mimpiku ketinggian bang. Aku tidak sanggup melakukannya. Jika aku ke sana maka harus kuliah jurusan bisnis dan manajemen. Uang saja nggak punya apalagi kuliah,” ujar Aska secara blak-blakan.
“Bukankah kamu bisa mendaftar kuliah pakai jalur beasiswa? Memang sih pembayarannya setiap semester hanya separuh saja. Tapi kamu bisa kuliah sambil kerja,” saran Romeo.
“Itu keinginanku sebenarnya. Aku tidak peduli dengan biaya mahal atau murah. Yang aku butuhkan adalah materi pembelajaran yang kubutuhkan untuk kontribusi perusahaan. Tapi apa dayaku, ibuku nggak pernah dan melarangku untuk kuliah. Terkadang juga ibuku sering memaki-maki aku karena menghabiskan waktu untuk belajar. Padahal aku ingin sekali menjadi orang pintar dan cerdas. Lalu, Apa salahku jika belajar siang malam dilarang?” ucap Aska yang membuang seluruh emosinya di dalam hatinya.
“Ini sangat aneh sekali. Jujur saja baru kali ini ada orang tua yang melarang anaknya belajar. Di negara manapun setiap orang tua pasti berlomba-lomba menginginkan anak-anaknya pintar, cerdas dan berkualitas. Apalagi zaman sekarang adalah zaman yang sangat canggih dengan teknologi. Ibumu itu sangat aneh sekali. Kamu dilarang sekolah tinggi-tinggi,” jelas Romeo.
“Masalahnya itu. Sepertinya Ibu sangat membenci aku untuk menjadi orang sukses,” ungkap Aska yang penuh dengan kekecewaan.
“Bukankah jadi orang sukses itu enak?” tanya Romeo yang menancapkan gasnya menuju ke pabrik Aska Food Internasional.
__ADS_1