
“Ayo dech kita bobo saja,” ajak Maria yang tersenyum manis.
Mereka berdua memutuskan untuk tidur. Mereka harus mempersiapkan tenaga yang ekstra untuk peresmian besok. Memang Aska dan Adrian sengaja melakukannya. Sebab Jamaludin sudah membuat surat pernyataan resmi ahli waris Wicaksono Group. Kalau ini dibiarkan Wicaksono terancam.
Sejam berlalu ponsel Aska berdering. Aska yang sedang tertidur membuka matanya dan meraih ponselnya.
“Siapa sih malam-malam begini telepon?” gerutu Aska.
Tanpa melihat nama yang tertera di ponselnya, Aska mengusap ikon berwarna hijau itu.
“Halo,” sapa Aska.
“Temui ayah segera!” perintah Adrian dengan tegas.
“Baik yah,” balas Aska sambil mematikan ponselnya.
“Untung saja kamu tidak terbangun,” ucap Aska ke Maria. “Aku pergi dulu ya.”
Tidak sengaja Maria mendengar apa kata Aska walau itu samar-samar. Sebelum Aska berdiri, Maria berkata, “Iya... jangan selingkuh ya.”
“Aku enggak selingkuh. Tapi aku bertemu dengan ayah di taman belakang,” ucap Aska yang tersenyum manis.
“Baiklah... awas saja kalau bajumu tercium aroma parfum milik wanita,” pesan Maria.
Aska keluar dari kamar sambil membawa ponselnya. Ia segera menuju ke taman dan melihat sang ayah sedang duduk sendirian.
“Ayah belum tidur?” tanya Aska.
“Belum,” jawab Adrian. “Di ruangan kerja ada Luke dan Minah.”
“Bukankah Minah berada di hotel?” tanya Aska yang mengerutkan keningnya.
“Ibumu ingin bertemu dengan Minah,” jawab Adrian.
“Semoga saja Ibu tidak emosi saat bertemu dengan Minah,” ucap Aska yang berdoa agar tidak terjadi angkara di antara Christina dan Minah.
“Beberapa bulan lagi Luke akan menikahi Minah,” sahut Adrian.
“Apakah itu benar?” tanya Aska dengan mata berbinar.
__ADS_1
“Iya... Paman kamu itu sudah memendam rasa semenjak sekolah. Makanya dia sangat menginginkan Minah menjadi istrinya,” jawab Adrian yang membuat Aska tersenyum manis.
“Syukurlah... aku berharap semuanya baik-baik saja,” ujar Aska dengan lega.
“Pesawat kamu sudah mendarat dengan selamat di bandara sejam yang lalu. Bu Tanti dan Pak Budi sudah sampai bersama Mala dan Fabian,” Adrian memberitahukan kedatangan pesawat Aska.
“Apa?” pekik Aska. “Mala?”
“Iya,” jawab Adrian. “Ditambah lagi dengan Bu Siti.”
“Waduh,” ujar Aska yang tersenyum.
“Memangnya kenapa? Bu Siti akan tetap ikut. Tapi bagaimana dengan Mala? Gadis itu sendirian di rumah.”
Aska teringat akan keselamatan Maka. Jika saja tidak ada Bu Siti di sana. Kemungkinan besar pamannya Mala akan mengejarnya dan melecehkan seenaknya saja.
“Ayah benar. Mala harus diajak. Di sana Maka tidak aman sebab pamannya sudah lepas dari penjara. Sebelum dibawa ke penjara, pamannya sudah bersumpah akan membuat Mala menderita,” kata Aska.
“Apakah kamu sudah cerita tentang keadaan Mala ke Maria?” tanya Adrian yang tidak ingin Mala menjadi penghalang pernikahan putranya itu.
“Sudah yah. Semuanya sudah beres. Aku sudah mengatakan sejujurnya. Sebenarnya Mala sudah aku anggap sebagai adikku. Tapi Mala meminta lebih dari hubungan ini. Aku berharap Mala akan mendapatkan seseorang yang akan menjaganya,” ucap Aska dengan tulus sambil mendoakan kebahagiaan Mala. “Ayah.”
“Ada apa?” tanya Aska sambil memasukkan kedua tangannya di kantong celananya.
“Kamar bekas dipakai Julia, bolehkah aku memakainya?” tanya Aska yang meminta izin untuk membuka kamar bekas Julia.
“Memangnya kamu apa?” tanya Adrian yang mengerutkan keningnya.
“Entah kenapa suara hatiku ingin membukanya. Aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres,” jawab Aska yang melihat para bintang yang menghiasi langit.
“Kalau kamu penasaran buka saja,” sahut Adrian yang memberikan izin kepada Aska.
“Apakah kakek enggak marah?” tanya Aska.
“Lusa kamar itu mau dibersihkan. Kakekmu sudah melupakan masa lalunya bersama Julia. Sekarang kakek sedang berada di zona aman bersama nenek,” jawab Adrian.
Semenjak Stefanie menampakkan dirinya di hadapan Damian, Damian sekarang hidupnya semakin berwarna. Bahkan Damian sekarang banyak tersenyum dan kesehatannya semakin membaik. Untunglah, di Indonesia Damian langsung mengecek kesehatannya. Maka dokter langsung menanganinya dengan baik. Aska sempat drop saat itu. Baru dekat beberapa bulan, Damian tidak sehat. Setelah sehat Aska berjanji akan memberikan cicit yang lucu buat Damian. Di situlah Damian berusaha untuk sembuh.
Beberapa saat kemudian datanglah kepala pengawal. Pria yang berusia enam puluh lima tahun itu membungkukkan badannya sambil mengucapkan salam hangat kepada Aska dan Adrian.
__ADS_1
“Selamat malam tuan,” ucap sang kepala pelayan.
“Malam Pak Rendy,” sahut Adrian.
“Ada apa Tuan Adrian?” tanya Pak Rendy.
“Bisakah aku meminta kunci kamar bekasnya Julia?” tanya Adrian dengan serius.
Pak Rendy langsung menganggukan kepalanya sambil menjawab, “Baik Tuan.”
Pak Rendy akhirnya pergi meninggalkan mereka. Ia segera menuju ke suatu tempat.
Hanya dalam waktu lima menit, Pak Rendy kembali dan menyerahkan sebuah kunci.
“Ini tuan kuncinya,” ucap Pak Rendy.
“Terima masih,” ucap Aska yang mengambilnya. “Apakah kamar itu sering bapak buka?”
“Semenjak Julia di sini kami tidak berani membukanya. Karena Julia sendiri pernah mengatakan bagi siapa saja membuka pintu kamarnya akan mendapatkan hukuman bahkan dipecat,” jawab Pak Rendy yang masih ketakutan.
Aska terjun mendengar apa yang dikatakan oleh Pak Rendy. Mengapa Julia sangat memiliki sifat kejam sekali kepada pelayan.
Jujur baru menginjakkan kakinya masuk ke sini, Aska sudah mendengar desas-desus pelayan. Mereka mengatakan kalau Julia sangat kejam sekali. Banyak sekali pelayan diberhentikan tanpa ada sebab. Hingga akhirnya Aska hanya bisa mengelus dada saja.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan membukanya sekarang,” pinta Aska yang membuat Adrian menyetujuinya.
“Saya temani tuan,” ucap Pak Rendy yang meminta izin kepada Aska.
“Ya sudah pak. Mari,” anak Aska yang ramah.
Aska bersama Pak Rendy langsung menuju ke kamar bekasnya Julia.
Tiba-tiba saja Pak Rendy ketakutan dan mengingat kata-kata dari Julia tadi. Lalu ia menatap wajah Aska sambil bertanya, “Apakah tuan muda tidak takut dengan apa peraturan Julia tadi?”
“Aku tidak pernah takut pak. Yang memiliki rumah di sini kan kakek sama nenek. Aku berhak membukanya. Sebab sekarang Julia berada di penjara,” jawab Aska yang memberitahukan keberadaan Julia.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Aska, hati Pal Rendy sangat lega. Ia tidak menyangka kalau Julia sudah berada di penjara.
Pak Rendy harus senang apa sedih untuk saat ini. Sebab mimpi buruk selama bekerja di sini membuatnya ketakutan. Begitu juga dengan para pelayan lainnya yang sudah mengabdi kemungkinan lega juga.
__ADS_1
Sesampainya di depan pintu kamar, Aska langsung membuka pintu tersebut. Ia akhirnya masuk ke dalam dan melihat kamar Julia seperti kamar pecah. Ia hanya menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Ini mau bukan kamar. Tapi kapal yang kebanyakan muatan lalu oleng dan akhirnya pecah. Banyak barang-barang material yang hancur,” ucap Aska yang menggelengkan kepalanya berkali-kali.
“Tuan Aska rupanya bisa bercanda ternyata?” tanya Pak Rendy.