
"Ya... aku sudah selesai," jawab Aska. "Pak terima kasih atas semuanya. Jika ada perubahan yang signifikan. Nanti saya beritahukan dan akan ada rapat."
Dengan terpaksa Pak Gilang langsung berdiri sambil tersenyum mengejek. Aska tahu kalau dirinya sedang diejek sambil menjabat tangannya, "Jaga sikap dengan atasan pak. Jika karir bapak tetap langgeng bekerja disini."
Pak Gilang langsung terdiam dan memasang wajah pucat. Di dalam dirinya ia tidak terima kalau Aska mulai mengatur perusahaan. Ia akan mencari cara agar Aska tidak ikut dalam perusahaan ini.
"Selamat sore tuan," pamit Pak Gilang yang pergi meninggalkan Aska dan Romeo yang masih dalam posisi yang sama.
Melihat kepergian Pak Gilang, Aska merasakan ada sesuatu. Ia menatap wajah Romeo sambil berucap, "Aku merasakan ada sesuatu di diri Pak Gilang."
"langkahmu sudah tepat bro," puji Romeo yang mendekati Aska sambil menghempaskan bokongnya di kursi hadapan Aska.
"Maksud kamu apa?' tanya Aska yang mengerutkan keningnya.
"Kamu tahu apa maksudku?" tanya Romeo balik.
"Iya. Aku enggak ngerti apa maksud kamu," jawab Aska.
"Pak Gilang adalah orang yang menguasai kantor selama ini. Nyonya Christina sang pemilik tunduk sama Pak Gilang," ucap Romeo.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Aska.
"Aku berkata sesuai dengan kenyataan. Perusahaan ini dikuasai oleh Pak Gilang bersama kroni-kroninya," jawab Romeo yang memberikan sebuah fakta yang membuat Aska terkejut.
"Jadi selama ini?" tanya Aska. "Apakah dia yang membuat perusahaan ini sakit?"
"Ya... Aku sudah sering sekali memperingati nyonya. Tapi Nyonya hanya mendengarkan aku saja," jawab Romeo.
"Yang dimana berhubungan dengan Jontor?' tanya Aska.
"Salah satunya itu," jawab Romeo.
"Kenapa kok aku teringat dengan Jontor ya?" tanya Aska sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa kamu mengingat Jontor?" tanya Maria yang tiba-tiba saja mendekati Maria sambil memberikan beberapa map dari Adrian.
"Entahlah. Apakah si Jontor itu masih bekerja di pabrik?' tanya Aska yang membuat Romeo terkejut.
"Nyonya sudah memecatnya pas ketahuan memukul Wahyu dari belakang," jawab Maria.
Sontak saja Aska dan Romeo terkejut dengan pernyataan Maria. Aska menatap Shah Maria lalu bertanya, "Apa yang kamu katakan?'
"Iya itu benar. Pas kalian berada di gudang di kebun Pak Broto. Aku bersama nyonya Christina sedang melakukan penyelidikan di pabrik. Jontor langsung memukul tengkuk Wahyu. Untung saja saat itu Wahyu tidak mati," jelas Maria.
"Sial! Aku hampir saja melupakan Jontor!" geram Romeo.
"Sepertinya kita harus ke kantor kepolisian untuk mengecek keberadaan Jontor," celetuk Aska.
"Apakah itu harus?" tanya Maria yang mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Iya... aku hanya mengeceknya saja di kantor polisi," jawab Aska yang melihat jam di ponsel.
"Lalu?" tanya Romeo.
"Tiba-tiba saja aku memiliki firasat kalau Jontor itu kabur pass penggrebekan gudang itu," jawab Aska dengan serius.
"Berarti kita harus ke Karawang?" tanya Maria.
"Iya... tapi enggak sekarang. Kemungkinan besok pagi aku akan kesana," jawab Aska. "Apakah kamu mau ikut denganku besok pagi?'
"Dengan senang hati," jawab Maria.
"Aku butuh supir," jawab Aska.
"Kalau begitu aku yang akan menjadi sopir kalian," sahut Romeo.
"bagaimana dengan ibu? Jika kedua asistennya aku ajak ke Karawang?" tanya Aska.
"Tenang saja. Nyonya Christina sedang memiliki satu asisten pribadi. Dia adalah tuan Adrian," jawab Maria.
"Kamu serius?' tanya Aska yang bingung akan jawaban Maria.
"Ya... Sekarang Nyonya Christina sudah mengangkat Tuan Adrian resmi menjadi asisten pribadinya di hadapan Tuan Damian," jawab Maria dengan jujur.
Mata Aska seakan membulat sempurna. Bagaimana bisa sang ibu mengangkat ayahnya sebagai asisten pribadinya? Tanpa banyak bicara Aska meninggalkan mereka dan melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Christina.
Brakkkkk!
"Pelan-pelan Aska," tegur Christina.
"Ibu," panggil Aska sembari mendekati Christina.
"Ada apa?' tanya Christina yang menaruh pulpennya.
"Aku ingin bertanya sesuatu kepada ibu," jawab Aska yang menatap wajah Christina.
"Tanya apa sayang? Sepertinya kamu serius sekali dengan pertanyaan kamu?" tanya Christina.
"Apakah ibu memecat Maria?" tanya Aska.
"Apa maksud kamu?" tanya Christina.
"Maria mengatakan kalau ayah menjadi asisten ibu," jawab Aska yang menatap ke arah Adrian.
"Memangnya kenapa? Ayah sekarang sedang membutuhkan pekerjaan," jawab Adrian.
"Hmmp... sepertinya ibu dan ayah sedang melakukan konspirasi," ucap Aska yang membuat Christina tertawa tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana bisa ibu melakukan konspirasi sayang?" tanya Aska.
__ADS_1
"Diam-diam ibu inggin bersama ayah?" tanya Aska sambil meledek Adrian.
"Memangnya ibu enggak boleh bersama ayah?' tanya Christina.
"Boleh sih Bu. Tapi bagaimana dengan nasib Maria?" tanya Aska yang bingung dengan nasib Maria.
"Ya... kamu atur sendiri. sebentar lagi perusahaan ini kamu yang pimpin," jawab Christina dengan tersenyum puas.
"Okelah Bu. Maria akan menjadi asistenku setelah Romeo," ucap Aska yang tidak ingin kehilangan Maria di perusahaan.
"Bicarakan dulu dengan Maria enaknya bagaimana? Jangan mengambil keputusan secara sepihak," balas Christina.
"Pastinya Bu," ucap Aska sambil mencari keberadaan Damian. "Dimana Kakek Bu?"
"Kakek sedang beristirahat di dalam kamar,' jawab Adrian yang sedari tadi bingung dengan laporan divisi keuangan.
"Apakah kamu sudah memeriksa berkas-berkas yang ibu berikan? tanya Christina.
"Aku merasa aneh dengan berkas-berkas itu," jawab Aska yang memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya.
"Syukurlah... berarti ibu normal," ucap Christina.
"Maksud Ibu?" tanya Aska.
"Beberapa dokumen memiliki kejanggalan dengan data-data yang ibu terima," jawab Christina.
Aska menganggukan paham sambil mengusap wajahnya secara kasar, "Sepertinya aku harus merombak besar-besaran."
"Lakukanlah apa yang menurut kamu terbaik. Ayah dan ibu tidak akan tinggal diam. Jika kamu membutuhkan bantuan hubungi ayah dan ibu!" titah Adrian yang mengerti perasaan sang putra sedang gundah gulana.
"Baiklah. Sepertinya aku harus kembali ke ruanganku," pamit Aska.
"Ambilah keputusan dengan cepat. Bagaimana nasib Maria,' pinta Christina yang membuat Aska menganggukan kepalanya.
Kemudian Aska pergi meninggalkan ruangan Christina sambil menghela nafasnya. Sungguh berserat beban yang akan di hadapinya. Semakin hari perusahaan ini tidak beres. Ada apa sebenarnya?
Pertanyaan itu selalu membuat Aska bertanya-tanya. Apakah masalah ini bisa bisa berakhir dengan sendirinya?
Aska teringat dengan peristiwa tadi. Peristiwa yang dimana pemanggilan terhadap Pak Gilang. Entah kenapa dirinya seakan tidak percaya, Kalau Pak Gilang ikut terlibat.
Terlihat dari senyumannya, sepertinya Aska tidak diizinkan mengelolah perusahaan ini. Padahal sudah jelas perusahaan ini adalah milik Christina.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Maria yang sedang mengecek beberapa dokumen dari Adrian menemukan suatu kejanggalan. Ia tidak mengerti mengapa ini terjadi? Padahal dokumen yang dipegang itu berhubungan dengan uang.
"Ibu telah memberikan nasib kamu ke tanganku," ucap Aska yang membuat Maria terkejut.
__ADS_1
"Apa maksudnya?" tanya Maria.