Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Rencana Adrian.


__ADS_3

"Di setiap jalanmu ada satu doa yang mengiringi langkahmu. Meskipun kamu tidak mencintaiku. Aku tidak jadi masalah. Aku hanya ingin memintamu saling percaya dan saling setia. Hanya itu yang aku minta," pinta Maria yang menatap wajah Aska.


"Apakah kamu nggak mengerti? Jika aku sudah memberikan satu sinyal untuk membalas cintamu itu. Aku tidak memperdulikan kamu itu bagaimana. Aku tidak memperdulikan keadaan keluarga kamu bagaimana. Aku juga tidak memperdulikan latar belakangmu bagaimana. Aku hanya ingin dicintai dan mencintai. Setiap detik maupun setiap menit aku akan selalu mengingatmu. Bahwa kamu adalah istriku. Yang di mana kamu akan selalu bersamaku hingga akhir hayat," lontar Aska yang membuat Maria terharu.


Meskipun beberapa kalimat yang dilontarkan Aska. Maria sangat bahagia sekali. Gadis berparas cantik itu menatap mata Aska. Ada tersirat rasa cinta yang dirasakan olehnya.


Tidak sia-sia cintanya terbalaskan oleh Aska. Ia sudah berjanji di hadapan Tuhan untuk selalu setia. Ia akan selalu menemani dan melayani hingga akhir hayat.


Memang usia mereka berbeda jauh. Meskipun Aska berusia 22 tahun, menurut Maria Aska adalah pria yang sangat bertanggung jawab. Berbeda dengan mantan kekasihnya yang berusia lebih tua darinya. Ia juga tidak malu menikahi pria yang masih sangat muda.


Di dalam kamar, Adrian dan Christina sedang merencanakan sesuatu. Mereka akan mengulangi pernikahannya kembali. Mereka tidak segan-segan memberitahukan kabar ini ke media. Hal ini membuat Adrian memang sengaja.


"Beberapa bulan ke depan aku akan mengumumkan pernikahan kita yang baru. Aku memang sengaja melakukannya. Demi memancing musuh. Aku ingin reaksi mereka bagaimana? Apalagi Aska sudah menabuh genderang peperangan. Sudah saatnya kita berhak hidup bahagia tanpa harus menyakiti orang lain. Cepat atau lambat kita memiliki banyak cucu dan merawatnya bersama-sama," ucap Adrian.


"Apakah kamu menerima pernikahan Maria dan Aska?" tanya Christina sambil meraih ponselnya.


"Aku akan menerima keputusan mereka. Aku lihat Maria adalah wanita yang sangat istimewa. Maria lahir dari keluarga baik. Meskipun latar belakang Maria yang di bawah kita. Aku sangat bangga kepada besan. Karena mereka sudah menjadikan Maria wanita yang sangat hebat dan mampu membantu mengurus perusahaan. Aku harap mereka sangat kompak ketika memimpin perusahaan," jawab Adrian.


"Bagaimana dengan permintaan Aska?" tanya Maria kepada Adrian.


"Aku akan membicarakan hal ini kepada papa. Akhir-akhir ini kok aku nggak pernah lihat papa ya? Di mana Papa sebenarnya? Ada apa dengan papa? Firasatku tidak enak sama sekali," jawab Adrian.


"Papa lebih memilih tinggal di keluarga Pak Broto sana. Kamu bisa menemuinya kapan saja. Aku juga merasakan firasat yang tidak enak," ucap Christina yang menghambatkan bokongnya di sofa.


"Ada yang harus aku beritahukan kepadamu. Maafkanlah jika aku menyinggung perasaanmu. Aku mendapatkan informasi dari Frank. Dia bilang kalau mama yang berada di samping papa itu adalah palsu. Dia adalah suruhan Jamaludin yang ingin merusak keluarga Wicaksono," jelas Adrian.


Christina sudah tidak terkejut lagi. Diam-diam Aska sudah memberikan informasi tentang nenek palsunya itu. Seluruh data-data yang sudah dirangkum berada di tangannya. Jadi selama ini Christina hidup tanpa kasih sayang seorang ibu.

__ADS_1


"Aku sudah mengetahuinya dari Aska. Aska sudah bilang sama aku dan memberikan sebuah informasi tersebut. Jujur aku kaget sekali. Ternyata Jamaludin telah melakukan hal yang licik untuk keluargaku. Aku akan mencari mama. Entah aku tidak tahu beliau masih hidup atau tidak. Aku sangat merindukannya," sahut Christina.


"Anakmu sudah menemukannya. Diam-diam Mama sudah memberitahukan keberadaannya melalui Aska. Aku ingin membawanya dan tinggal di sini. Kemungkinan besar Mama akan aman tinggal di sini," ucap Adrian.


"Bagaimana bisa Putraku bertemu dengan Mama? Dari mana Mama mengetahui kalau aku memiliki seorang putra?" tanya Christina bertubi-tubi.


"Tanyakan saja pada Aska. Aku tidak tahu bagaimana mereka bertemu," jawab Adrian yang tidak mengetahui tentang pertemuan itu.


"Bukankah kamu pasukan khusus? Yang di mana Kamu sangat pandai untuk menjadi mata-mata," tanya Christina yang membuat Adrian bingung.


"Aku memang memiliki tugas penting yaitu menjadi mata-mata. Memang menjadi mata-mata itu sangat asyik. Tapi aku nggak pernah memata-matai Putraku sendiri. Di mana ada Aska di situ ada Romeo. Jika aku menginginkan informasi dari Aska. Aku bisa mengorek segala informasi itu dari Romeo. Meskipun dirinya bertumbuh gempal seperti itu. Romeo sangat takut sekali kepada aku. Sekalinya gertak asistenmu itu langsung kalang kabut," jelas Adrian.


Christina menganggukkan kepalanya lalu mencari keberadaan Aska. Ia berjalan keluar dan menatap Aska sedang berduaan bersama Maria. Kemudian Christina mendekatinya, "Apakah ibu mengganggu kalian?"


"Tidak Bu. Kami sedang menikmati sore menjelang malam. Memangnya ada apa Bu?" tanya Maria dengan sopan.


"Bolehkah aku bertanya tentang keberadaan nenekmu?" tanya Christina yang menatap Aska.


"Di mana tempat tinggalnya? Ibu ingin menemuinya dan mengajaknya tinggal di sini," tanya Christina yang merasakan jantungnya berdebar.


"Mama maunya kapan? Nanti aku akan menjemputnya dan mengajaknya tinggal di sini. Bagaimana dengan kakek?" tanya Aska.


"Kakek harus tahu siapa nenek sebenarnya. Kakek sekarang tinggal di perkebunan. Kakek ingin hidup di sana dan menikmati menjadi tukang buah," jawab Christina.


Sontak saja Aska terkejut. Ia teringat akan pesan dari Damian. Dirinya belum bisa cerita karena takut sang Ibu menjadi sedih. Mau tidak mau akan mengurungkan niatnya dan menutup rahasia Damian.


"Sepertinya aku harus menemukan kakek dengan nenek di desa akhir usianya. Aku harus mengatakan sebenarnya. siapa wanita yang berada di sampingnya itu? Aku tidak mau kakek menutup matanya tanpa harus tahu rahasia ini," batin Aska.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu. Ibu tunggu kamu membawa nenek ke sini. Ibu sangat merindukan nenek kamu itu. Ibu akan masuk ke dalam dan tidak akan mengganggu kalian," ujar Christina.


"Tidak Bu. Ibu tidak akan mengganggu kami," sahut Maria. "Sering-seringlah kita berkumpul seperti ini."


"Ah benar. Apa yang kamu katakan sebenarnya itu impian ibu. Sudah lama Ibu tidak pernah memimpikan hal ini," jelas Christina.


"Kalau begitu biar aku saja yang membuatkan minuman. Ibu bisa ngobrol leluasa bersama Aska," pamit Maria yang beranjak berdiri dan meninggalkan mereka.


Setelah Maria pergi, Adrian datang menghempaskan bokongnya sofa single. Mereka berbincang mengenai permintaan Aska. Diam-diam Adrian sudah mengabulkan permintaan Aska. Adrian menghubungi pengacara yang sudah direkomendasikan oleh Frank. Cepat atau lambat pengacara itu akan segera ke Indonesia untuk membicarakan hal ini dengan serius.


Siapakah Jamaludin sebenarnya? Inilah yang menjadi pertanyaan antara Aska dan Maria. Apa maksudnya Jamaludin yang ingin merebut seluruh aset Wicaksono? Lalu apakah Christina masih memiliki hubungan darah? Entahlah... Jawaban ini masih membingungkan.


Di tempat lain Frank sedang duduk sambil menikmati Wine. Diam-diam Frank memandang Max dengan serius.


"Kenapa Tuan memandangku seperti itu? Apakah ada yang salah denganku? Apakah aku kurang tampan di mata tuan?" tanya Max dengan bertubi-tubi.


"Rasa percaya dirimu tinggi sekali. Aku tidak menyangka kalau kamu sangat narsis sekali. Sepertinya kamu terlalu sering bergaul dengan orang-orang sini," jawab Frank yang membuat Max jengah.


"Meskipun wajahmu tampan. Tubuhmu indah seperti model. Tapi sayangnya kamu itu masih jomblo hingga saat ini. Inilah yang membuat aku sangat kesal terhadapmu," ejek Frank.


"Makasih tuan. Cepat atau lambat aku akan membawa seorang gadis untuk Tuan lamar. Tuhan harus bertanggung jawab atas gadis itu untuk aku jadikan seorang Istri. Biar aku tidak menjadi bulan-bulanannya tuan agar tidak disindir menjadi jomblo," kesal Max terhadap Tuannya itu.


"Lakukanlah segera. Aku akan membiayai pernikahanmu. Jika kamu berhasil membawa seorang gadis yang mau menikahimu," Frank mulai menantang Max untuk mencari seorang wanita dijadikan istri.


"Tenang saja. Aku akan membawanya ke sini," ucap Max. "Langkah selanjutnya apa?"


"Biarkan saja keponakanku yang bekerja dulu. Aku suka dengan gayanya itu. Diam-diam dia sudah memberikan sebuah isyarat agar mengeluarkan Jamaludin dari keluarga Wicaksono," jawab Frank yang bangga kepada keponakannya itu.

__ADS_1


"Tuan muda Aska ternyata sangat serius sekali. Aku sangat mengagumi perjuangannya menjadi tukang buah selama hidup di sini," ucap Max yang membuka kartu Aska di hadapan Frank.


"Apakah itu benar?" tanya Frank.


__ADS_2