
"Nyonya Christina ada di depanku. Ada apa sebenarnya? Kenapa Nyonya Christina sampai marah begitu? Jika terjadi apa-apa Aku tidak akan membiarkan kamu hidup!" tegas Aska dengan suara membunuhnya.
"Kami butuh Nyonya Christina. Bukan anda!" jawab pria itu.
"Baiklah. Akan aku cari kamu sekarang juga! Setelah aku menemukan lokasimu! Maka aku akan menghabisimu!" tegas Azka yang mematikan ponselnya dan menaruhnya di meja.
Dengan penuh amarah dan emosi bercampur menjadi satu, Aska menatap sang ibu dan merasakan kesedihannya. Dirinya mulai mendekat ke Christina sambil meraih tisu. Tangan kekarnya itu menghapus air mata Christina. Kemudian ia menatap sang ibu sambil meminta sesuatu.
"Jangan menangis lagi Bu. Biar Aska yang menanganinya," pinta Aska.
"Apakah kamu sanggup pergi ke pabrik?" tanya Christina.
"Ada apa Bu sebenarnya?" tanya Aska.
"Makanan kaleng yang Ibu kirim melalui jalur laut mengalami kendala. Mereka menolaknya karena kaleng tersebut rusak parah. Ibu mengalami kerugian yang sangat besar sekali. Biasanya Ibu tidak pernah mengalami hal ini. Sebelum keluar barang itu sudah dicek berulang kali. Tapi kenapa hari ini Ibu mendapatkan telepon Kalau kalengnya rusak semua?" tanya Christina sambil menatap wajah Aska.
"Di mana makanan kaleng tersebut?" tanya Aska dengan serius.
"Makanan kaleng tersebut tertahan di Port of Long Beach. Tempatnya itu berada di Amerika," jawab Christina yang membuat Aska terkejut.
"Apakah kurang jauh tempatnya?" tanya Aska yang sebenarnya kesal.
"Kamu mau tahu itu di mana?" tanya Christina yang ingin tertawa karena ulah Aska.
"Berada di Amerika Bu. Meskipun aku tinggal di desa. Aku sering meminjam laptop milik Pak Broto. Di sana aku sering membaca tentang pengetahuan umum. Ditambah aku juga sering membaca bisnis dan hukum," jawab Aska yang membuat Christina bertepuk tangan.
"Ternyata pengetahuanmu banyak sekali. Kamu bisa mengurusnya?" tanya Christina.
"Kalau aku didaulat ke sana, maka aku akan ke sana. Jika Aku disuruh ke sini, maka aku tetap di sini. Semuanya perintah itu berada di tangan ibu," jawab Aska.
"Ambillah keputusanmu sendiri. Jika itu terbaik maka lakukanlah. Jika itu buruk, jangan pernah melakukannya. Karena perusahaan ini adalah milikmu," ucap Christina.
"Baiklah. Tapi," ucap Aska yang menggantung.
"Kenapa?" tanya Christina.
__ADS_1
"Aku belum memiliki paspor," jawab Aska dengan polos.
"Tenang saja. Biar ibu yang membuatkannya," ucap Christina.
"Tadi siapa yang telepon Bu?" tanya Aska.
"Entahlah. Ibu tidak tahu itu. Tapi pria itu sudah mengancam ibu," jawab Christina dengan jujur.
"Okelah. Aku tidak akan membiarkan ibu diancam seperti ini. Aku butuh laptop sebentar. Akan aku cari siapa orangnya?" tegas Aska.
"Kalau begitu pakailah sesukamu. Ibu akan mengerjakan yang lainnya," suruh Christina.
"Terima kasih Bu," sahut Aska.
Kemudian Aska mengambil laptop Christina dan duduk di sofa. Pria muda itu melacak keberadaan sang penelpon. Lalu Aska menemukan keberadaan sang pelaku. Ternyata sang pelaku adalah pegawai Aska food yang berada di pabrik.
"Namanya Jontor. Dia adalah kepala produksi," ucap Aska dalam hati. "Jika dia kepala produksi, kenapa mengancam ibu? Aku harus mencari informasi lebih lanjut."
"Apakah kamu sudah menemukannya?" tanya Christina yang membaca beberapa dokumen penting.
"Namanya Jontor. Usianya empat puluh lima tahun. Dia memiliki jabatan penting di pabrik. Jabatannya adalah kepala produksi," jawab Aska. "Tadi ibu terima telepon. Katanya barang-barang Ibu sedang ditahan di pelabuhan karena kalengnya rusak. Tapi kenapa ibu marah-marah?"
"Semakin rumit saja. Yang pertama okelah aku akan memeriksanya. Yang kedua ini nomornya Jontor. Nah ini, orang ini berkata kasar kepada ibu kan?" tanya Aska. "Aku mendengar semuanya bersama abang. Sebenarnya ini ada apa sih Bu? Kok masalah ini sangat rumit sekali? Aku sendiri bingung menghadapinya. Kenapa Jontor berbicara kasar seperti itu? Seharusnya Jontor menghormati ibu sebagai atasan? Aku tidak akan membiarkan orang-orang seperti itu bekerja dengan santai di sini. Bisa-bisa semua karyawan akan berontak dan menginjak-injak atasan!"
"Aku tidak tahu soal itu. Yang sering turun ke lapangan adalah Maria atau Romeo. Merekalah yang mengurusi semuanya," jawab Christina dengan jujur.
"Kalau begitu aku akan memanggil mereka," ucap Aska.
Lalu Christina menyanggupi permintaan Aska. Wanita paruh baya itu langsung memanggil kedua asistennya. Beberapa saat kemudian Maria dan Romeo datang menghadap Christina.
"Ada apa Nyonya kami dipanggil?" tanya Maria.
"Ibu tidak membutuhkanmu. Tapi aku yang membutuhkanmu," jawab Aska yang sedang duduk santai.
"Ada apa Tuan Muda?" tanya Maria.
__ADS_1
"Ibu lanjutkan saja pekerjaannya. Biar aku yang menanganinya. Dijamin semuanya beres," suruh Aska agar Christina tidak mencampuri urusannya.
"Baiklah,"balas Christina yang melanjutkan pekerjaannya.
"Ada apa Tuan Muda?" tanya Maria.
"Kalian berdua duduklah di hadapanku!" perintah Aska.
Tanpa menjawab Romeo dan Maria duduk di hadapan Aska. Mereka menatap wajah Aska dengan serius. Mereka berdua merasakan ada aura yang tidak mengenakkan dari diri Aska. Kemudian Romeo membuka percakapan terlebih dahulu.
"Ada apa Tuan Muda?" tanya Romeo.
"Maaf, apakah Abang mengenal Jontor?" tanya Aska.
"Iya aku mengenalnya," jawab Romeo. "Memangnya ada apa ya?"
"Baru saja Jontor menghubungi Ibu. Orang itu marah-marah kepada ibu. Katanya mau mengancam ibu dengan cara menghabisinya. Aku ingin tanya, apakah kamu tahu kebiasaan Jontor bagaimana?" tanya Aska.
"Yang aku tahu, Jontor adalah sosok pria pekerja keras. Di tangannya seluruh produksi beres semuanya. Aku sangat mengaguminya ketika bekerja," jawab Romeo.
"Baiklah kalau begitu. Aku memanggilmu kakak saja," ucap Aska kepada Maria.
"Semuanya terserah tuan muda," sahut Maria dengan serius.
"Bagaimana menurutmu tentang Jontor?" tanya Aska.
"Seperti yang dibilang Romeo. Dia adalah pria pekerja keras, baik, ulet, jujur dan murah senyum," jawab Maria dengan jujur.
"Oh... Jadi itu. Baiklah, kalian tidak memiliki kepekaan tingkat dewa. Kamu tahu kenapa aku bertanya seperti itu?" tanya Aska.
"Aku tidak tahu tuan," jawab Romeo.
"Kalau begitu, kita akan melakukan penyamaran. Aku ingin tahu Jontor di lapangan. Diam-diam kok menyerang atasan. Memakai bahasa kasar dan memaki-maki. Aku tidak mau seluruh karyawan di sini berani pada atasan. Jika ingin mengemukakan pendapat, tulis saja di email atau selembar kertas dan baru saja di meja asisten. Suatu Hari nanti jika sedang santai aku akan membacanya. Segala keluhan dan kritisi akan aku terima. Setelah itu aku akan membuat rapat untuk membahas keluhan dan kritisi mereka," terang Aska yang membuat Romeo dan Maria mengacungkan jempolnya.
"Bagus sekali rencana pertama tuan," puji Maria. "Apakah Tuan akan membuka keluhan-keluhan para karyawan?"
__ADS_1
"Seharusnya begitu. Di kebun aku sering membuat kantong yang ku gantung di pohon besar. Setiap karyawan boleh mengeluh atau memberikan krisan untuk pak Broto. Di sinilah semua karyawan sangat betah bekerja bersama Pak Broto. Itulah kenapa aku akan membuat acara seperti itu. Semoga saja mereka betah bekerja sama kita selamanya," jawab Aska yang membuat kedua asisten Christina tersenyum.
"Mulai kapan itu?" tanya Romeo.