Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Masalah Mertua Sudah Terpecahkan.


__ADS_3

"Secepatnya yah. Habis gini aku ingin mengevaluasi perusahaan," jawab Aska yang masih berkonsentrasi. 


"Baiklah. Ayah tidak akan memaksa kamu," ucap Adrian. 


"Kapan kamu pergi ke Jakarta?" tanya Adrian. 


"Beberapa hari lagi," jawab Aska. 


"Saran ayah, ajak juga Maria. Kamu harus paham dengan perasaan Maria," ucap Adrian.


"Tapi ayah, Maria sedang hamil muda. Aku tidak bisa mengajaknya kemana-mana," sahut Aska yang tidak ingin Maria kenapa-napa.


"Pergilah ke dokter. Konsultasikan semuanya. Kamu pengen Maria stres karena kamu ke Jakarta? Maria tahu kalau di sana ada mantanmu yang bernama Cici. Ayah tahu titik akan melakukan segala cara apapun untuk mendapatkan kamu," ujar Adrian yang memperingatkan Aska agar tidak pergi ke Jakarta sendirian.


Aska menganggukkan kepalanya dan membenarkan perkataan Adrian. Aska masih ingat kalau Cici itu akan melakukan hal apapun. Selain itu juga Aska tidak mau melakukan hal-hal yang aneh dengan Cici. 


"Tapi ayah dia sudah aku pecat?" tanya Aska.


"Meskipun sudah dipecat, dia akan berbuat hal yang gila. Kemungkinan besar dirinya akan menunggumu di Jakarta. Ditambah lagi merebaknya kamu sebagai ahli waris. Wanita itu akan semangat sekali mengejarmu," jawab Adrian.


"Baiklah. Nanti aku ajak Maria ke Jakarta. Kasihan juga dia di sini tidak memiliki siapapun kecuali aku," ucap Aska yang wajahnya berseri jika mengingat Maria. 


"Kamu sudah benar-benar jatuh cinta kepada istrimu itu. Ayah tahu ini adalah pernikahan yang tidak kamu harapkan. Tapi sekarang kamu sudah paham. Cepat atau lambat Maria akan setia mendampingimu. Ditambah lagi Dia memiliki nilai plus-plus di mata kamu. Jangan pernah kamu ceraikan dia. Jangan pernah kamu sakiti dia. Dia mirip sekali sama seperti ibumu," jelas Adrian. 


"Kalau begitu Ayo kita pulang. Aku sudah rindu pada Maria," ajak Aska. 


Adrian menganggukkan kepalanya lalu Aska menyalakan mobil. Aska melesat jauh ke rumah utama milik Wicaksono Group. 


Sementara di rumah Maria tidak henti-hentinya melemparkan senyumnya kepada kedua orang tuanya. Maria sangat bersyukur atas kehidupannya yang sekarang. Merias segera mendekati Bu Tanti dan duduk di sampingnya. 

__ADS_1


"Syukurlah kalau kamu bahagia disini. Ibu sudah tenang sekarang," ucap Bu Tanti. 


"Apakah ibu mau tinggal di sini?" tanya Maria sambil memegang tangan Bu Tanti. 


"Yang dikatakan Maria benar. Apakah ibu mau tinggal di sini dengan kami atau tinggal beda rumah?" tanya Christina sambil memberikan bantuan.


"Ibu masih ingin tinggal di Jakarta. Tapi bagaimana nasib ibu nanti jika tinggal di Jakarta?" tanya Bu Tanti soal keselamatan hidupnya di Jakarta.


Sebenarnya Bu Tanti tidak jadi masalah jika soal materi. Bu Tanti dan Pak Budi bisa mencarinya. Sebab dirinya bisa membuka tempat les buat anak-anak sekolah. Namun di sisi lain Bu Tanti tidak merasa aman di dalam rumahnya sendiri. Sebab masalah keluarga belum selesai. Apalagi ditambah dengan keluarga Pak Budi yang ini mengambil rumah itu secara paksa. Oleh karena itu Bu Tanti meminta Maria untuk diizinkan tinggal di sini sementara. 


Sebelum Maria mengambil keputusan, Aska dan Adrian masuk ke dalam rumah. Aska melihat Bu Tanti sangat ketakutan akhirnya mendekatinya. Ia sudah mengetahui seluk beluk masalah tersebut. Akhirnya Aska duduk di hadapan Bu Tanti. 


"Ibu boleh tinggal di sini untuk selamanya. Karena Maria sendiri tidak akan kembali lagi ke Jakarta. Kemungkinan kembali ke Jakarta untuk beberapa tahun ke depan," jelas Aska. 


"Lalu bagaimana dengan rumah itu?" tanya Pak Budi.


"Lebih baik dilepaskan saja. Percuma rumah itu akan menjadi sengketa untuk selamanya. Biar aku jual rumah itu ketimbang menjadi rebutan. Kalau bapak mengizinkan," jawab Aska yang mengambil jalan tengahnya. 


"Aku tahu masalah sebenarnya di keluarga kamu. Lebih baik kamu tinggal bersamaku saja di desa. Di sana banyak sekali fasilitas yang akan kuberikan pada kalian. Ditambah lagi kalian bisa bertemu dengan cucu dan juga Maria," pinta Damian.


"Apakah tidak merepotkan?" tanya Pak Budi.


"Yang dikatakan kakek benar. Kakak ingin kalian hidup bersama di desa. Di sana ada satu rumah kecil di samping rumah kakek. Kalian bisa menempatinya dan menghabiskan waktu di usia senja kalian. Kalian juga tidak perlu jauh-jauh menempuh jarak bermil-mil untuk bertemu dengan Maria dan anak-anak kami," jawab Aska yang memberikan solusi dengan tepat. 


Mereka masih bimbang dengan penawaran Aska dan Damian. Jujur mereka sangat malu sekali ketika membicarakan soal keselamatan. Akhirnya Aska memberikan kode kepada Maria untuk membujuk kedua orang tuanya. 


Bagaimana dengan Christina? Christina sangat bahagia sekali mendapatkan solusi dari anak dan papanya. Ia juga berharap bisa berdekatan dengan besannya itu. Di sisi lain Christina sudah menjadikan mereka sebagai saudara. 


Aska memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Aska berharap mertuanya bisa tinggal di sini bersamanya. Aska akan kembali ke Indonesia dalam beberapa tahun kedepan.  

__ADS_1


Akhirnya Aska melepaskan bajunya dan menghempaskan tubuhnya di ranjang. Sejenak Ia berpikir tentang masa depan anak istrinya itu. Ditambah lagi dengan perusahaan Wicaksono akan melakukan perbaikan besar-besaran. Inilah yang membuat Aska harus memiliki waktu ekstra.


Aska memutuskan untuk tidur terlebih dahulu. Jujur penangkapan Benjamin tidak membutuhkan waktu banyak. Bahkan Benjamin sendiri memutuskan untuk menyerahkan dirinya kepada mereka.


Selain itu juga hubungan Aska dan Minah akhirnya membaik. Mereka akan menjadi tetangga sebelahan. Aska berharap untuk kedepannya tidak akan terjadi huru-hara lagi.


Waktu bergulir hingga malam. Maria sedang menunggu sang suami bangun. Namun Aska tidak bangun-bangun juga sedari tadi. Memang Aska memiliki hobi tidur. Maka dari itu Maria sering kesal terhadap Aska jika sudah tidur.


"Abang," panggil Maria sambil menggoyang-goyangkan tubuh kekarnya Aska.


Mata Aska membuka perlahan. Aska melihat Maria sudah bersiap untuk tidur. Aska mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Kamu sudah siap tidur? Kan sudah pagi neng kok tidur lagi?" 


"Yeh Abang… Abang tahu nggak ini jam berapa?" tanya Maria balik.


"Sudah memasuki subuh neng," jawab Aska dengan serius.


"Dari mana hari ini sudah subuh? Bahkan hari ini saja belum berganti," ucap Maria yang menggelengkan kepalanya.


"Kan Abang sudah bangun dari tidur," ujar Aska yang meregangkan otot-ototnya ketika masih di atas ranjang.


"Abang ini aneh sekali. Abang mah pulang-pulang ngobrol sebentar langsung kabur ke kamar. Ditungguin nggak keluar-keluar ternyata bergelut dengan guling. Ya sudahlah kalau begitu aku tidur dulu udah malam," pamit Maria yang menghempaskan tubuhnya di samping Aska.


"Apakah benar hari ini belum berganti?" tanya Aska sambil memandang wajah Maria.


"Iya abangku sayang. Masak neng bohong sama abang sih. Kan nggak boleh bohong sama suami sendiri," jawab Maria yang mencium pipi Aska.


Wajah Aska tiba-tiba saja memerah. Jujur malam ini Aska sangat malu sekali kepada Maria. Lalu Aska merangkul Maria sambil melihat ke arah jendela.


"Bener juga ya. Kalau hari ini sudah sangat gelap sekali," celetuk Aska.

__ADS_1


"Dibilangin sama neng juga nggak percaya Abang itu," kesal Maria. 


__ADS_2