Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Mulai Terancam.


__ADS_3

"Syukurlah.. aku masih bisa selamat dan tidak tertabrak mobil," ucap Mala dalam hati


Sesampainya di mess Mala masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Wajahnya menatap langit-langit sambil merasakan hatinya sakit. Andai saja jika dahulu dirinya berkata jujur tentang perasaannya itu. Kemungkinan besar malah tidak akan sekecewa ini. Nasi sudah menjadi bubur. Mau bagaimana lagi nasibnya. Sekarang dirinya harus menatap ke depan tanpa ada Aska.


"Ternyata patah hati itu sangat sakit sekali. Kenapa aku harus mencintai seseorang? Tetapi orang itu tidak mencintaiku. Aku harus berkata apa lagi. Jika aku mengatakan perasaanku. Kemungkinan besar akan menjadi bumerang bagiku. Sepertinya calon istri bang Aska sangat baik. Aku akan merelakannya walau hati terluka," batin Mala.


Gadis berparas manis itu pun memutuskan untuk tidur sebentar. Ia bertekad akan melupakan Aska dan mendoakannya semoga bahagia. Di sisi lain malah juga bukan siapa-siapa. Jika dirinya menikah, Mala takut sang calon suaminya akan kecewa. Ia akan menyerahkan masalah ini kepada sang pencipta.


Jakarta Indonesia.


Kedua pria itu akhirnya kembali ke kantor. Mereka memasuki lobi sambil merasakan ada sesuatu yang aneh. Mata Aska tidak sengaja menangkap Cici yang sedang berdandan. Lalu Aska menatap Romeo sambil berkata, "Lain kali cari resepsionis jangan yang suka berdandan. Sore-sore begini sudah menor sekali!"


Lalu Romeo tidak sengaja memandang Cici berdandan. Jujur Aska tidak menyukai wanita berdandan menor. Dengan terpaksa Romeo menegur dan menyuruhnya bekerja dengan rajin.


"Hai kamu... Kamu di sini kerja atau apa? Bisa-bisanya kamu berdandan menor seperti itu di jam kerja! Lain kali kalau masih ada jam kerja. Jangan sekali-sekali berdandan seperti itu. Urusi pekerjaanmu hingga selesai! Apakah kamu paham soal itu!" tegur Romeo.


Dengan terpaksa Cici membereskan alat make up nya dan dimasukkan ke dalam tas. Setelah itu Romeo mengajak Aska naik ke atas. Melihat Cici berdandan, kemungkinan besar Aska akan mengubah beberapa peraturan agar tidak merugikan perusahaan.


"Siapa yang membuat peraturan di sini?" Tanya Aska.


"Manager HRD. Orang itu yang membuat peraturan di sini," jawab Romeo.


Sembari memasuki lift Aska melihat jam di tangan menunjukkan pukul 03.00 sore. Kemudian Aska menatap Romeo sambil memberikan sebuah perintah, ''Suruh manajer HRD itu menghadap ke aku sekarang juga! Sekalian suruh bawa peraturan-peraturan yang ada di perusahaan maupun di pabrik. Aku nggak mau semuanya terlewat!"


"Baiklah," balas Romeo sambil merayu ponselnya di dalam kantong dan mencari nomor telepon sang Manager HRD.

__ADS_1


Setelah menemukan Romeo langsung menghubungi Manager itu. Kemudian Romeo meminta sang manajer itu untuk menemuinya di ruangan Aska.


"Kamu kenapa kok sensi banget lihat orang dandan?" tanya Romeo.


"Aku nggak sensi bang. Aku senang melihat perempuan berdandan. Tapi lihatlah kita berada di mana. Kita berada di kantor. Kantor itu tempatnya untuk mencari uang demi menyambung hidup. Lagian sekarang masih jam tiga sore kok pada dandan seperti itu. Lama-lama para karyawati di sini belum waktunya jam pulang malah bersolek. Aku akan merubah atau menambahkan beberapa peraturan," kesal Aska.


Ada benarnya juga perkataan Aska. Mereka boleh saja berdandan tapi ingat waktu dan tempat. Lima belas menit sebelum pulang Mereka diperbolehkan berdandan. Namun Cici sudah keterlaluan sekali. Waktu belum memasuki sore hari. Jadi wajar jika Aska menegurnya. Karena waktu masih memiliki jarak dua jam.


Sesampainya di lantai atas, Aska masuk ke dalam ruangannya dan menghempaskan bokongnya. Kemudian dirinya akan menunggu kedatangan sang manajer HRD. Sambil menunggu Aska melihat beberapa berkas yang diberikan oleh Christina.


Pria muda itu pun langsung memeriksa berkas-berkas tersebut. Diam-diam Aska menemukan kejanggalan lagi. Hampir setiap hari Aska selalu menemukan hal yang aneh di dalam berkas.


"Kalau kayak gini terus... Lama-lama perusahaan bisa bangkrut. Ini semua orang bisa kerja apa nggak sih? Katanya lulusan mereka sudah tinggi. Lalu kenapa juga kasus seperti ini mereka tidak bisa menyelesaikannya. Lama-lama Aku akan melakukan rapat dadakan. Nggak bisa seenaknya begini terus. Tiket dilanjutkan kemungkinan besar perusahaanku berada di ujung tanduk," batin Aska yang kesal kepada para pegawainya itu.


Beberapa saat kemudian, Romeo dan pria paruh baya masuk ke dalam. Pria paruh baya itu pun terkejut karena baru melihat Aska. Matanya melirik seakan-akan mengejek pria muda itu.


"Oh iya maaf aku tidak memberitahukanmu. Dia adalah tuan Aska Wicaksono. Pria muda itu adalah putra dari Nyonya Christina Wicaksono," jawab Romeo yang membuat pria paruh baya itu pun kaget.


"Dengan bapak siapa ya?" tanya Aska sambil menunjukkan sisi tegasnya.


"Namanya Pak Gilang. Beliau ini adalah seorang manajer HRD di sini," jawab Romeo.


"Kalau begitu tak Gilang duduk terlebih dahulu. Ada beberapa yang saya tanyakan," suruh Aska sambil menunjuk kursi kosong yang berada di depannya itu.


Dengan berat hati tak Gilang duduk di hadapan Aska. Dalam benaknya iya baru tahu kalau Christina memiliki seorang putra. Namun Pak Gilang masih bertanya-tanya, kenapa Christina menyembunyikan putranya di hadapan para karyawan?

__ADS_1


"Selamat sore Pak Gilang," sapa Aska.


"Selamat sore Tuan," sahut Pak Gilang. "Ada apa ya Tuan memanggil saya?'


"Saya ingin melihat peraturan perusahaan ini terutama di kantornya," jawab Aska.


"Baik tuan," balas Pak Gilang. "Apa betul Anda adalah putra dari Nyonya Christina?"


"Ya.. memang betul," jawab Aska.


Kemudian Pak Gilang mulai menyerahkan beberapa map ke Aska, "Baru kali ini Anda muncul?"


"Saya sering sibuk di perkebunan. Jadi saya enggak pernah kesini sama sekali," jawab Aska yang membuat Romeo bernafas lega.


Sang asisten itupun terkejut ketika Manager HRD bertanya tentang keberadaan Aska. Namun Aska dapat menjawabnya dengan cepat dan sesuai kenyataan.


"Ada yang harus diubah?" tanya Pak Gilang.


"Sepertinya aku akan berdiskusi dengan Nyonya Christina terlebih dahulu. Ditambah lagi aku ingin melihat kebijakan-kebijakan perusahaan yang saling menguntungkan sang pemilik dan seluruh karyawan di sini,' jawab Aska.


"Jika Anda ingin merubah peraturan perusahaan. Anda harus menaati hukum yang berlaku yang ada," ucap Pak Gilang yang tiba-tiba saja lemas dengan ucapan Aska.


"Tentunya pak. Kami tahu peraturan pemerintah bagaimana. Meskipun saya di kebun setiap hari. Saya paham akan kebijakan pemerintah. Jadi bapak jangan mengajari saya seperti itu," ujar Aska yang menggertak Pak Gilang walaupun santai dan mematikan.


Entah kenapa Pak Gilang tidak bisa berkata apa-apa lagi? Dirinya langsung mengeluarkan keringat dingin dan tubuhnya bergetar.

__ADS_1


Romeo yang tidak sengaja menatap Pak Gilang langsung tersenyum kemenangan. Ia paham dengan apa yang dilakukan oleh Aska. Pria itu melipatkan kedua tangannya di dada. Ia menatap Aska sambil bertanya, "Apakah sudah selesai?"


__ADS_2