Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Aku Ibumu.


__ADS_3

"Aku adalah ibumu," jawab Christina yang menahan sesak di dada.


"Apakah itu benar?" tanya Aska yang membuat bingung.


"Iya... Aku adalah Ibu kandungmu," jawab Christina lagi.


"Aku tidak percaya kalau Anda ibu saya? Anda terlalu cantik sekali menjadi ibu saya. Aku adalah pemuda yang bertubuh dekil dan kurang gizi. Aku juga tidak pantas menjadi anakmu," ucap Aska penuh kejujuran.


Christina hanya membola matanya. Ia baru tahu kalau anaknya sedang kebingungan. Begitu juga dengan dirinya, ia ingin meyakinkan Aska adalah putranya.


"Sebentar, aku benar-benar bingung. Ibuku bukan anda. Anda terlalu cantik untuk menjadi ibu saya. Saya adalah anak dari Bu Minah seorang bertubuh tambun dan bisa dikatakan sangat jelek sekali," ujar Aska yang membuat Christina menahan tawa.


Emang bener apa yang dikatakan oleh Aska. Aska tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan Minah. Namun pernyataan itu benar apa adanya. Setelah mengatakan pernyataan itu Aska menatap wajah Christina sedang menahan tawa. Dirinya semakin kebingungan sambil mengerutkan keningnya.


"Nyonya, Kenapa Anda tertawa? Apakah ada yang lucu?" tanya Aska.


"Iya... Kamu sangat lucu sekali. Bahkan Kamu adalah pria kocak yang pernah aku temui," jawab Christina yang membuat Aska menganggukkan kepala.


"Banyak orang yang mengatakan seperti itu. Aku bahkan sering menjadi penghibur mereka di saat kesusahan dan kesedihan. Oh iya... Wajah kita sangat mirip sekali," ucap Aska.


"Memang, kita sangat mirip. Wajahmu tidak ada yang membuang sama sekali. Kamu juga memiliki rambut berwarna coklat. Kulitmu bukan asli orang Indonesia. Tapi matamu tidak," ujar Christina yang mengulas senyum.


"Kenapa dengan mataku? Apakah ada yang salah?" tanya Aska.


"Tidak... Kamu tidak salah," jawab Christina.


"Sebentar... Sebelum melanjutkan pembicaraan lebih lanjut. Ada kalanya kita duduk terlebih dahulu. Tidak baik kita mengobrol sambil berdiri," sela Aska yang mengajak Christina duduk.


Sebelum Christina duduk, Aska menarik kursinya dan mempersilakan wanita cantik itu duduk. Dengan penuh kesopanan Aska memberikan buku menu untuk Christina.


"Nyonya mau pesan apa?" tanya Aska.

__ADS_1


"Bisa tidak memanggilku tanpa nyonya?" tanya Christina yang meraih buku menu itu.


"Saya tidak kenal anda. Saya tetap akan memanggil Anda nyonya," jawab Aska yang menghamparkan bokongnya di depan Christina.


"Sudah aku katakan kalau kamu adalah anakku. Mulai sekarang panggil saja saya Ibu," pinta Christina dengan lembut.


Aska terkejut mendengar permintaan Christina. Ia semakin bingung dengan pernyataan wanita di depannya. Yang ia tahu seumur hidupnya ibu kandungnya adalah ibu Minah.


"Kalau Anda ibu saya, apakah anda mengetahui saya?" tanya Aska.


"Ya aku tahu. Kamu memiliki tanda lahir di punggung bagian kanan atas. Namamu adalah Aska August Li Wicaksono. Yang artinya adalah Aska. Ibu sengaja memberikan nama itu supaya kamu terhindar dari hal-hal yang tidak berguna dari orang-orang yang ingin membuat otakmu menurut padanya."


"Maksud Anda nyonya?" tanya Aska yang semakin bingung.


"Yang artinya biar pikiranmu tetap suci. Kenapa Ibu memberikan nama seperti itu? Karena orang yang merawatmu ingin mendoktrinmu untuk menyerang ibu. Apakah kamu paham soal itu?" jawab Christina yang membuat Aska terkejut.


"Apakah itu benar?" tanya Aska.


Tiba-tiba saja Aska teringat akan kejadian pagi tadi. Pikirannya melayang dan mengingat Minah sedang membawa golok. Saat itu juga Minah menyerang Aska secara membabi buta. Hingga akhirnya dirinya kabur ke kebun Selatan.


"Apakah itu benar?" tanya Aska.


"Iya itu benar. Cepat atau lambat mereka akan membunuhmu. Karena kamu adalah ahli waris sesungguhnya di keluarga kami," jawab Christina. "Apakah kamu sudah yakin dengan jawaban Ibu tadi?"


"Anda benar sekali. Kalau aku memiliki tanda lahir di bagian sana. Bagaimana anda tahu?" tanya Aska lagi.


"Iya aku tahu semuanya. Karena aku yang melahirkanmu," jawab Christina. "Jika kamu tidak percaya maka ikutlah dengan ibu."


"Aku tidak bisa ikut. Karena barang-barang belum bongkar di gudang belakang pabrik. Lalu Bagaimana aku bisa membuat laporan ke Pak Broto? Karena setiap malam aku selalu memberikan laporan tentang pengiriman barang," tolak Aska.


Mendengar nama Pak Broto, hati Christina menghangat sempurna. Ia tahu Kalau Pak Broto itu adalah kaki tangan papanya. Kemudian Christina menatap wajah sang putra sambil mengulas senyumnya dengan hangat.

__ADS_1


"Kamu jangan khawatir. Berikan laporan itu kepada temanmu dan kamu bisa ikut ibu," pinta Christina yang membuat Aska menggelengkan kepalanya.


Di luar restoran, Maria sengaja mengundang Pak Broto dan Bu Siti ke sini. Ia ingin membuat mereka memastikan kalau Christina adalah ibunya. Sembari menunggu Maryam mengajak mengobrol Romeo.


Beberapa saat kemudian datang pak Broto dan Bu Siti. Mereka segera mendekati Maria sambil membungkukkan badannya. Namun Maria langsung menolaknya. Karena dirinya bukan seorang atasan. Mereka pun mengerti dan menyapanya tanpa harus memberi hormat.


"Selamat siang Bu Maria," sapa Bu Siti.


"Jangan panggil aku ibu nyonya. Aku belum menikah sama sekali," ucap Maria dengan lembut.


"Lalu aku memanggil anda apa?" tanya Pak Broto.


"Panggil saja saya Maria. Saya juga sama seperti anda. Anda adalah kaki tangan tuan besar. Saya adalah kaki tangan Nyonya Christina. Jadi jangan pernah panggil saya Ibu. Karena umur saya masih terlalu muda," jelas Maria yang tidak Mau dipanggil ibu.


"Baiklah kalau begitu. Kami panggil Maria saja ya?" tanya Pak Broto sambil meminta izin memanggil nama saja.


"Boleh dengan senang hati," jawab Maria dengan ramah.


"Bagaimana tuan muda sudah bertemu dengan Nyonya muda?" tanya Pak Broto.


"Sudah. Mereka saling mengobrol di dalam sana. Kelihatannya mereka sangat akrab sekali tanpa ada jarak yang memisahkan," jawab Romeo yang dari tadi menatap ibu dan anak sedang mengobrol santai.


"Ah kamu itu di sini juga rupanya," ujar Pak Broto.


"Ya iyalah Pak. Aku kan tugasnya menggiring dan mudah untuk bertemu Nyonya Christina. Jika tidak mana mungkin mereka bisa bertemu?" kesal Romeo yang membuat Pak brother menahan tawa.


"Apakah ibu dan bapak sudah siap untuk meyakinkan kalau Aska adalah anak dari Nyonya muda? Kalau aku lihat mereka sedang mengobrol santai tapi masalahnya sangat sulit sekali. Aku tahu tuan udah sangat kebingungan sekali menghadapi hanya Christina. Sepertinya mereka sedang berdebat tentang Aska," jelas Maria.


"Kalau dilihat dari wajahnya, mereka sangat mirip sekali bagai pinang dibelah dua. Tuan muda adalah fotokopinya Nyonya Christina. Hanya saja matanya tidak mirip sama sekali. Matanya sangat mirip dengan Tuan Adrian," sambung Pak Broto.


Mendengar nama Adrian, Maria dan Romeo terkejut. Ia tidak menyangka nama itu disebut-sebut oleh Pak Broto.

__ADS_1


"Adrian itu siapa ya? Kok saya baru mengenalnya? Bukankah nama suami nyonya adalah Pak Dirman?" tanya Maria.


__ADS_2