Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Rahasia Frank.


__ADS_3

"Dia sudah pergi paman. Aku tidak tahu dia pergi ke mana," jawab Aska yang menatap wajah Frank.


"Biarkan saja dia pergi. Aku sudah meminta pihak kepolisian di sini menutup semua akses atas nama Helena agar tidak bisa keluar dari kota Jakarta," jelas Adrian yang baru saja datang sambil membawa ponselnya.


"Kejadian ini sangat cepat sekali Ayah. Bagaimana bisa aku melepaskan begitu saja seorang Helena sialan itu?" tanya Aska yang begitu menyedihkan.


"Kalau yang namanya jodoh pasti akan dipertemukan kembali," ledek Frank.


"Apanya yang jodoh? Dia bukan jodohku. Tapi dia adalah wanita yang sangat menyesatkan sekali," ucap Aska yang kesal terhadap Frank.


"Lalu bagaimana dengan Jamal?" tanya Frank.


"Tenang saja. Ayah Hampir lupa dengan Jamal. Jamal tidak akan pergi jauh dari Manila. Ia bisa masuk tapi tidak bisa keluar. Pasukan Ayah sudah mengejarnya hingga ke sana. Kalaupun kabur, Ayah dengan mudahnya menghubungi pihak interpol di seluruh dunia untuk mengajaknya bekerja sama. Dia tidak akan bisa lepas dari jeratan ayah. Kamu tenang saja soal itu," jawab Adrian.


"Kenapa Jamal sangat licin sekali seperti belut?" tanya Aska.


"Yang namanya penjahat tetap aja jahat. Mau di apapun juga Jamal tidak akan bisa kabur ke mana pun," jawab Adrian.


"Kalau begitu kita pulang. Aku sudah rindu sekali pada Maria," ajak Aska yang membuat Adrian dan Frank menariknya secara bersamaan.


"Kenapa sih kalian ini? Kok kalian berdua sangat sensi sekali ketika aku berada di sini?" tanya Aska yang membuat Adrian tertawa.


"Ayolah kita pulang," ajak Frank sambil menarik Azka dan mengajaknya pulang.


Aska teringat pada Maria ketika berada di rumah. Jujur ia ketakutan karena Helena masih bergentayangan di kota Jakarta. Semoga saja Maria tidak dijadikan tawanan oleh Helena.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Aska mulai berdoa pada sang pencipta. Agar Maria mendapat perlindungan dan dijauhkan dari segala marabahaya yang sedang melanda saat ini. Sungguh gelisah hatinya, Jika saja Aska menembak jantung Helena, kemungkinan besar Aska sendiri akan terbebas dari bayang-bayang Helena. Namun ia teringat kalau Aska sedang berada di negara Indonesia. Ia tidak bisa seenaknya membunuh orang begitu saja. Namun dirinya hanya bisa pasrah dan berharap kejadian ini tidak akan terulang lagi.


"Kenapa kamu bersedih seperti itu?" tanya Frank yang sedang menyetir mobil.


"Aku sedang memikirkan nasib Maria. Aku nggak mau Helena mendekati Maria lalu membunuhnya," jawab Aska yang sudah dari tadi memilih untuk diam.


"Tenang saja. Anggota Blue Dragon sudah ku sebar untuk mengejar Helena. Mereka juga sedang bekerja sama dengan pihak kepolisian Perancis. Kamu sangat bersalah membiarkan dia terlepas?" tanya Frank yang masih fokus pada kendaraannya.


"Harusnya Aku membunuh Helena saat ini juga," jawab Aska.


"Kamu nggak bisa membunuh orang begitu saja di negara ini. Coba saja kamu berada di Prancis. Kamu bisa membunuhnya dan membuat alibi yang sangat kuat sekali. Pihak kepolisian tidak akan melacak Kamu," ucap Frank.


"Kenapa Helena bisa berkhianat kepada kita?" tanya Aska.


"Apa kamu menyesal dengan semua ini?" tanya Frank balik. "Orang yang kamu kira sebagai malaikat bisa saja menjadi jahat dalam waktu seketika. Orang yang jahat tiba-tiba saja mendadak menjadi malaikat karena berniat ingin berubah selamanya. Kamu nggak percaya dengan Helena. Itu juga dengan paman."


"Kamu mau tahu yang namanya Playboy itu seperti apa? Aku adalah playboy yang tidak mau insaf sama sekali. Biarkanlah semuanya terjadi seperti ini. Aku sendiri tidak menjadi masalah. Sekalinya tersakiti oleh wanita akan membekas sampai akhir," jelas Frank.


"Apakah Paman tidak takut penyakit? Apakah Paman tidak memiliki keturunan agar bisa melanjutkan perusahaan keluarga Agard?"


"Kamu adalah keturunanku. Meskipun kamu dibuat bersama Adrian dan juga Christina. Kamu masih memiliki darah Agard. Sedari dulu aku sudah tidak bisa memiliki seorang anak. Mungkin karena aku kebanyakan minum-minuman keras. Atau juga suka merokok habis-habisan. Itu yang membuat benih super ku rusak seketika. Dan aku sendiri tidak mau memiliki seorang anak bahkan istri. Sekarang hanya kamu menjadi tumpuanku. Aku berharap kamu bisa meneruskan impianku untuk membangun perusahaan lebih besar lagi. Aku harap kamu paham dengan semua ini," beber Frank.


Aska bingung dengan pernyataan sang paman. Kenapa sang Paman tidak ingin memiliki seorang anak? Bahkan istri dan keluarga besar. Bukankah manusia ditakdirkan untuk hidup berpasangan? Tapi kenapa sang Paman tidak ingin menikah sekali seumur hidup? Malah Frank memilih untuk hidup bebas tanpa ada beban apapun.


Naskah akhirnya memilih untuk diam dan tidak bertanya apapun. Ia menerima pesan Adrian yang berisikan sebuah link untuk melacak keberadaan Jamaludin. Dengan cepat Aska mencari keberadaan Jamaludin. Senyumnya Yang licik dan tangannya mengepal kemudian tatapannya tajam seolah-olah ingin melahap Jamaludin saat ini.

__ADS_1


"Apakah aku boleh terbang ke Manila?" tanya Aska sambil melihat Frank.


"Kenapa kamu ingin terbang ke sana? Ayahmu tidak mengijinkan ke mana-mana. Jamaludin masih berada di Manila. Orang itu memang tidak bisa tertangkap. Kabar terakhir yang aku dengar, Jamaludin ingin bekerja sama dengan para mafia di sana. Kemungkinan besar dia ingin membangun kerajaan mafia lagi," jelas Frank.


"Sial kalau begitu. Bagaimana dengan Jono?"


"Jono tidak bisa lepas dari jeruji besi. Otaknya tidak secanggih otak ayahnya. Kamu tenang saja. Mereka tidak akan bisa hidup tenang dan bahagia."


"Aku takut jika Helena bekerja sama dengan Jamaludin."


"Kenapa kamu takut sama dia? Dia sebenarnya tidak memiliki taring apapun. Jika saja ada seseorang dari kalangan atas atau sosialita. Orang itu mendekatinya dan mengajaknya kerjasama. Helena akan menjadi sombong. Dia bisa mentang-mentang menyuruh orang itu seenaknya. Kalau bekerja sama dengan Jamaludin, Helena tidak akan mau. Kamu tahu kan Jamaludin liciknya seperti apa?"


"Kan cocok paman?"


"Nggak cocok. Yang satu pengen begini. Yang satu pengen begitu. Jadinya ya habis."


"Ya kalau dipikir-pikir sih tidak ada dua kepala dipertemukan dalam satu rencana. Ujung-ujungnya mereka akan bertarung memperebutkan wilayah kekuasaan. Dan kita lebih gampang menyerangnya ketimbang harus membuat rencana."


"Tapi idemu sangat lucu juga. Kalau itu terjadi kenapa tidak. Aku tidak takut jika itu harus terjadi."


"Paman ada-ada saja. Kalau begitu kita tunggu saja nanti. Aku harap semuanya akan berakhir dan bisa hidup tenang seperti dulu."


"Rencana kamu tinggal di mana?"


"Seperti biasa di rumah utama. Di sana ada Fabian. Ibu Minah dan Paman Luke. Di rumah itu juga ada kakek dan nenek. Ayah dan ibu. Kamarku sebentar lagi diperbesar. Atau juga disekat untuk kamar bayi. Agar mereka bisa bermain dengan ceria. Aku belum berpikiran untuk beli rumah baru," jawab Aska yang tidak ingin keluar dari rumah utama.

__ADS_1


"Saranku Jangan pernah membeli rumah," pinta Frank.


"Kenapa Paman?" tanya Aska.


__ADS_2